Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
344. Diskusi


Selepas makan siang, Reno dan Ammar berdiskusi secara empat mata di ruangan kerja milik Anggara yang terletak di lantai tiga. Ruangan ini sering dalam keadaan terkunci, karena biasanya berkas-berkas penting ditempatkan di sini. Mariah sendiri menggunakan ruangan ini sebagai ruang untuk mengelola segala urusan yang berkaitan dengan kastil. Dua orang polisi ini membahas tentang kondisi ruang bawah tanah yang membingungkan, padahal di bawah sana ada Niken yang harus diselamatkan, dan juga Aditya  serta Stella yang kemungkinan masih hidup, dan perlu diselamatkan juga.


"Jadi, menurut Jeremy, ia sempat bertemu Niken di bawah sana dalam keadaan disekap di salah satu bilik. Waktu aku mengecek ke sana, tenyata Niken sudah tidak ada. Kemungkinan besar dia dipindahkan. Tadi Juned juga sempat menemukan sebuah tas di dekat kolam renang. Setelah dicek, tas itu memang benar milik Niken. Jadi mungkin Niken sudah datang ke kastil sejak semalam. Mobilnya juga terlihat diparkir di luar. Sayangnya, sebelum sempat masuk ke kastil, dia sudah disergap duluan," terang Reno.


"Hmm, polisi wanita yang malang. Aku tidak mengerti. Siapa yang mengirim Niken ke sini? Maaf, Ren. Bukannya aku meremehkan Niken, tetapi polisi wanita itu sering gagal dalam melaksanakan tugasnya. Aku memang tidak mengenal dia secara pribadi, tetapi kinerjanya aku tahu. Mungkin kamu juga belum tahu, mengapa dia dimutasi di kantor kita. Niken juga banyak bermasalah di kantor lamanya, oleh karena itu dia dimutasi ke tempat kita," terang Ammar sambil menghela napas.


"Astaga! Tetapi ... tetapi Niken bilang kalau dia mendapat banyak penghargaan dan .... " Reno merasa bingung, sehingga menghentikan kalimatnya.


"Sudah seharusnya kamu meneliti kebenarannya dulu, Ren. Reputasi Niken memang awalnya kurang baik. Semua kenal, bahwa Niken mempunyai sikap arogan dan ceroboh. Seharusnya ia tidak dipercaya untuk mengusut kasus-kasus besar. Tapi ya sudahlah. Biar bagaimanapun, dia adalah rekan kita. Jadi kita harus bantu dia keluar dari ruang bawah tanah itu. Masalahnya adalah siapa yang tahu di mana tempat dia disekap?" gumam Ammar.


"Itulah yang ingin kubicarakan sekarang. Mengingat ruang bawah tanah itu sudah macam labirin yang membingungkan. Di dalamnya penuh lika-liku yang membingungkan. Pelaku yang kita cari ini rupanya sudah sangat mengenali ruangan itu. Padahal kalau dipikir, Mariah saja yang mempunyai kastil ini, tidak juga sedetail itu. Ini yang kadang aku berpikir kalau pelaku ini mungkin mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan penghuni terdahulu, entah itu Helen, Rania, atau Yoga atau yang lain. Yang jelas, ia tidak mungkin baru tahu tentang kastil ini," ungkap Reno.


"Bisa jadi juga, Ren. Kita juga tidak tahu silsilah keluarga mereka kan? Atau bisa jadi juga, mungkin salah satu pengunjung kastil ini yang tengah berwisata. Kan kastil ini sempat dibuka untuk umum. Dan kabarnya, beberapa bulan lalu, pernah ada kabar bahwa beberapa wisatawan dilaporkan tersesat di kastil ini. Jangan-jangan, bukan tersesat, tetapi sengaja menyesatkan diri," kata Ammar.


"Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Nah, sekarang kita harus memikirkan langkah apa yang harus kita ambil, agar kita bisa turun ke bawah, segera menemukan bilik-bilik itu. Sebab, personel kita sangat sedikit di sini. Hanya bersisa Juned. Kalau kita nunggu lagi bantuan dari kota, tentu akan membutuhkan  waktu lagi," terang Reno.


Ammar terdiam sejenak, sembari berpikir, ia mengusap janggutnya beberapa kali. Sungguh kasus ini sedikit pelik. Lokasi kastil ini berpengaruh besar terhadap penyelidikan. Walau dalam satu tempat, tetapi banyak tempat tersembunyi yang menyulitkan untuk dilacak. Lagipula, munculnya korban-korban yang begitu cepat, seolah memaksa mereka untuk bergerak cepat. Ritme teror ini serasa berjalan begitu cepat. Dalam satu hari saja bisa terjadi beberapa teror, sehingga mereka harus berkejaran dengan waktu.


"Kalau menurutku, kita harus benar-benar cari data, semacam peta atau rancangan kastil ini saat dibuat. Semacam cetak biru dari bangunan ini. Mungkin Pak Anggara menyimpan dalam ruangan ini, atau mungkin Mariah tahu? Paling tidak kita tahu denah area bawah tanah itu. Sebab kalau kita kesana tanpa itu, bisa-bisa kita nggak bisa keluar," ucap  Ammar.


"Cetak biru? Kastil ini termasuk gedung kuno. Aku tidak yakin gedung ini mempunyai cetak biru. Tetapi untuk memastikan, coba kau tanyakan ke Mariah terkait dengan hal ini. Sebab ini penting, dan kita harus cepat pula. Kalau kita mengulur waktu, bukan tidak mungkin si pelaku menghabisi Niken atau Aditya. Jadi semakin cepat semakin baik!"


"Baiklah, kutanyakan sekarang juga pada Mariah. Mungkin dia tahu tentang denah kastil atau apa saja yang bisa digunakan untuk menjelajah ruang bawah tanah,"  kata Ammar


Reno mengangguk tanda setuju, seraya menghabiskan sisa kopi dalam cangkirnya.


***


Maya dan Mariah membereskan sisa perlengkapan makan di meja makan, untuk selanjutnya dibawa ke dapur. Hari ini Maya cukup senang, karena  masakannya cukup bisa diterima oleh lidah para penghuni kastil. Ia merasa bangga dengan dirinya sendiri, padahal selama ini ia merasa kurang pandai memasak. Pengalaman memasak hari ini membuat rasa percaya dirinya meningkat berkali lipat.


"Besok mau memasak lagi?" tawar Mariah sambil tersenyum.


Ia menumpuk piring-piring kotor ke dalam sebuah ember, kemudian mengangkat ke wastafel. Sebentar lagi ia akan mencuci piring-piring kotor ini.


"Sebetulnya bukan masalah mau atau nggak mau sih Mariah. Tapi kan Rosita dan Nadine udah baik kondisinya. Sekali-sekali mereka juga disuruh memasak buat kita," saran Maya.


"Iya nanti aku akan bicara pada mereka. Oya, aku tadi sempat mengecek lemari es, dan kulihat banyak bahan makanan yang habis. Mau tidak mau besok harus ada yang ke kota untuk berbelanja kebutuhan. Sebetulnya aku sudah menitip kepada Ramdhan, hanya saja Reno bilang bahwa Ramdhan mengalami kecelakaan, jadi kiriman bahan makanan itu tertunda," kata Mariah.


"Kalau boleh, biar aku saja yang berbelanja ke kota ya?" tanya Maya.


"Wah kalau masalah itu aku tidak bisa menjawab ya May. Masalah perizinan aku tidak ada kewenangan. Mungkin kau langsung bisa tanyakan pada Reno atau suamiku. Kurasa asal ada pengawalan, boleh saja berbelanja di kota, kata Mariah.


"Iya sih. Kamu bener Mariah Kurasa nggak mungkin kita akan dibiarkan ke kota tanpa pengawalan. Masalahnya kan personel yang bertugas mengamankan kastil ini kan sedikit. Semoga aku berkesempatan untuk dikawal oleh Reno. Entah mengapa aku sangat kagum pada polisi itu. Ia tidak terlalu tampan, tetapi ia punya kharisma. Kurasa aku menyukai dia, Mariah," ucap Maya dengan mata berbinar-binar.


"Hati-hatilah dalam bicara, Maya. Reno itu sudah punya istri. Jangan mudah tertarik dengan pria yang sudah beristri. Seperti yang kamu lakukan sekarang ini," tandas Mariah.


Ucapan Mariah tadi sepeti sebilah pisau yang menohok  hatinya. Bagaimana mungkin Mariah tiba-tiba menuduh hal seperti itu kepadanya? Ia berusaha untuk waspada dengan ucapan Mariah yang tiba-tiba menyinggung masalah itu. Mukanya yang berbinar-binar pada awalnya, sontak berubah menjadi merah. Namun, sangat kentara ia menutupi kegugupannya.


"Eh, apa maksudmu, Mariah? Aku tidak mengerti!"


Ia khawatir kalau ada salah satu temannya yang memata-matai atau mengetahui apa yang sedang ia lakukan, makanya ia langsung bertanya pada Mariah untuk memastikan.


"Sudahlah, Maya! Aku bukan anak kecil yang mudah kamu bodoh-bodohi. Pikirmu aku tidak tahu kalau sedang menjalin hubungan rahasia dengan .... "


Maya mulai gusar ketika Mariah mulai mengulik kehidupan pribadinya. Walau ia merasa apa yang diucapkan Mariah benar, ia tidak mungkin serta-merta mengiyakan. perkataannya. Ia berubah menjadi semakin gugup, padahal beberapa detik sebelumnya ia tampak ceria. Ia mulai kelihatan tak nyaman, setelah Mariah menyinggung masalah pribadinya dengan gamblang.


"Aku tidak pernah memata-mataimu, tetapi bukan berarti aku nggak tahu. Kamu pikir aku nggak tahu kamu kadang mengadakan pertemuan rahasia dengan seseorang? Maaf Maya, bukan aku nggak suka. Aku melakukan ini karena aku temanmu. Aku berusaha mengingatkanmu. Jangan sampai kejadian masa lampau terjadi pada kita kembali!" ucap Mariah.


Maya merasa mati kutu. Sepertinya kartu As yang selama ini ia simpan, telah terbuka oleh Mariah. Ia hanya bisa diam, tetapi benar-benar tidak nyaman dengan kondisi itu. Ia sadar, bahwa sejak dulu Mariah memang terlihat paling peduli dengan teman-temannya, sehingga terlihat seperti tukang turut campur dengan masalah pribadi orang lain.


"Maaf, Maya. Aku ... aku tidak berniat mencampuri urusanmu. Lupakan saja kalau kamu nggak suka. Aku hanya sarankan untuk lebih berhati-hati. Ingat, kita semua dalam incaran seseorang yang sampai saat ini kita nggak ketahui pelakunya. Jadi kusarankan, kurangi keluar kamar di malam hari!" saran Mariah.


Maya mengangguk pelan, Ia tidak mau berargumentasi lagi. Mariah meninggalkannya dalam keadaan gusar. Piring kotor tadi yang jumlahnya segunung, sudah diselesaikan oleh Mariah. Kini ia termenung gelisah di dapur, sama sekali tidak menyangka bahwa rahasia yang selama ini simpan rapat-rapat, ternyata bocor juga. Maya sebenarnya merasa kesal, tetapi berusaha melupakan teguran dari Mariah.


***


Dimas langsung duduk, dan tidak terlalu mempedulikan kehadiran Gilda. Entah mengapa, otak Dimas seakan didoktrin bahwa kehadiran Gilda selalu membawa hal-hal yang tidak baik. Beberapa hari lalu, ia memang menghubungi Gilda, terkait berita pembunuhan kastil tua yang ia siarkan tiba-tiba. Namun, beberapa kali panggilan teleponnya tidak diangkat. Sekarang, Gilda telah benar-benar hadir di hadapannya. Sayang, Dimas sudah tak terlalu peduli dengan kehadiran Gilda.


"Lain kali jangan masuk sembarangan kalau aku tidak ada di tempat Gilda. Di sini banyak berkas-berkas penting dan aku tidak mau ada apa-apa. Kalau memang kamu mau mencari aku, silakan tunggu di luar saja!" tegur Dimas tegas.


"Eh, datang-datang kok marah? Emang lagi ada masalah berat? Atau ... lagi menyelidiki kasus di kastil tua itu ya?" sindir Gilda sambil tersenyum.


"Sudahlah Gilda! Jangan pancing aku untuk membicarakan hal yang nggak ada hubungannya denganmu. Nah, sekarang kamu di sini tanpa merasa bersalah, Aku hari ini banyak urusan, dan sekarang dalam waktu lima menit sampaikan saja keperluanmu, setelah itu silakan keluar!" tegas Dimas.


"Lima menit? Baiklah Pak Polisi yang terhormat. Aku kesini sebenarnya membawa info penting, tetapi karena kamu hanya memberiku waktu lima menit, aku jadi berpikir ulang. Padahal kupikir kita bisa membicarakan ini sambil makan siang atau suatu tempat yang lebih nyaman daripada di sini," ucap Gilda.


Dimas yang sudah hafal dengan lagak dan lagu Gilda, tak terlalu terpengaruh dengan ucapannya. Bahkan ia tidak terlalu mendengarkan segala ocehan Gilda. Ia hanya ingin belalang kebun ini segera berlalu dari hadapannya. Ia memang pernah dekat dengan Gilda, dan ia sudah sangat hafal dengan kelakuan wanita ini.


"Waktumu kurang empat menit, Gilda! Silakan sampaikan cepat-cepat!" Dimas memberi peringatan.


"Eh, jadi kamu serius ini, Dim? Jangan gitulah. Setidaknya izinkan aku menyampaikan sesuatu dengan lebih santai karena aku membawa sesuatu yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya," lanjut Gilda.


"Tiga menit lagi!" ucap Dimas.


Gilda merasa salah tingkah, tidak menyangka kalau Dimas akan bersikap serius, memberinya waktu hanya lima menit. Dan sekarang, Dimas tak segan-segan memberi peringatan bahwa waktu kunjungnya tersisa 3 menit. Namun, bukan Gilda kalau tidak nekat. Ia ingin membuktikan apakah Dimas ini serius atau hanya sekedar menggertak.


"Jadi beneran nih kurang 3 menit?  Kalau lebih nggak boleh? Padahal untuk menyampaikan sesuatu ini. dibutuhkan paling kurang 10 menit. Masa cuma 3 menit? Kayak orang ejakulas*i dini dong!" ucap Gilda sambil tertawa lebar.


"Dua menit, Gilda. Gurauanmu sama sekali nggak lucu!"


"Oke, oke. Dua menit waktu yang sangat singkat Dimas. Kurasa aku tidak akan menyampaikan berita ini hari ini. Mungkin besok, besok lusa, atau kapan-kapan saja. Jadi mari kita manfaatkan dua menit ini untuk santai. Jadi hari ini aku akan membawa berita  tentang ...."


"Satu menit. Gilda!


"Hmm. oke ... oke. Nggak perlu memakai hitungan konyol seperti itu, Dim! Aku akan pergi kok. Tapi izinkanlah aku menyampaikan sesuatu sebentar. Aku mempunyai informasi penting mengenai kastil tua. Semua udah kurangkum dalam buku kecil ini. Kalau kau masih berminat, kau boleh telepon aku kapan saja. Kalau tidak, maka aku akan tawarkan ini kepada yang lain dan ...."


"Waktu habis. Gilda! Silakan keluar!" perintah Dimas.


Kali ini ia tidak main-main. Dimas berdiri, dan secara tegas mempersilakan Gilda untuk keluar dari ruangan. Gilda merasa agak canggung, tak percaya kalau Dimas berlaku seperti itu. Sepertinya Dimas sedang berada di kondisi yang kurang baik, sehingga ia harus menunda pertemuan itu. Gilda berusaha tersenyum pahit sambil mengangkat bahu.


"Oke Dimas! Selamat siang! Aku pergi kok!"


Gilda sepertinya tak punya pilihan lain yang lebih baik. Ia bangkit dari tempat duduknya, kemudian pergi begitu saja dari ruangan Dimas. Sepeninggal Gilda, Dimas hanya bisa menghela napas lega. Sebenarnya bukan ia tidak suka dengan kehadiran Gilda, tetapi ia merasa hari ini ia sedang kehilangan semangat dan perlu fokus untuk menyelesaikan segala data yang telah ia kumpulkan. Ia khawatir kalau pembicaraan dengan Gilda akan membuat suasana hatinya bertambah buruk, dan merusak konsentrasinya. Ia harus menyelesaikan segera urusan-urusan data ini.


***