Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
358. Ciuman Terakhir


Perlahan Maya mendekati suara yang memanggil namanya. Ia penasaran, ingin mengetahui siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik patung Zeus itu. Namun, belum sampai ia melihat siapa yang sebenarnya berada di sana, tangannya tiba-tiba ditarik, dan tubuhnya dihimpit. Ia merasakan ciuman bertubi-tubi mendarat di wajahnya. Maya meronta, berusaha menolak. Ia mendorong tubuh yang merengkuhnya dalam pelukan.


"Hentikan, Ryan! Hentikan!" ucap Maya.


"Aku rindu kamu, Maya. Aku merindukanmu!"


Ryan terus berusaha mencium Maya secara membabibuta. Maya yang sedang tidak dalam keadaan baik hari itu kembali mendorong Ryan kuat-kuat.


"Hentikan, Ryan! Waktunya nggak tepat! Gimana kalau ada orang yang tahu? jangan sampai kebodohan ini membawa petaka bagi kita. Mariah udah tahu hubungan kita, dan sementara ini aku harus menjauh darimu. Kamu jangan mengacaukan segalanya!" ucap Maya.


"Ma-maksudmu apa?" tanya Ryan.


"Mariah menegurku agar aku menghentikan ini semua. Dia memintaku berhenti untuk menemuimu. Aku sendiri juga heran mengapa Mariah tahu ini semua? Mungkin dia pernah memergoki kita pas ketemu malam-malam. Entahlah. Kita tidak boleh terlihat lagi bersama," ucap Maya.


"Sama Maya. Mariah juga pernah menegurku mengenai perkara ini. Aku sendiri juga tidak tahu darimana dia tahu. Aku tak berkomentar apa-apa. Jadi kubiarkan saja, tak bisa berkomentar apa-apa. ia menyuruhku kembali pada Nadine," terang Ryan.


"Kastil ini adalah miliknya, Ryan. Jadi walau kita sembunyi di mana pun, ya pasti ketahuan. Makanya kita harus menahan diri dulu. Kamu uruslah dulu Nadine, Ryan. Aku nggak akan kemana-mana kok!" ucap Maya.


Paras Ryan tampak sedih. Ia menggelengkan kepalanya. Setelah menghela napas. ia siap berrcerita.


"Mungkin ini adalah pertemuan kita terakhir, May. Ketika aku mencium kamu, mungkin itu adalah ciuman terakhir buatmu.  Jujur saja, pikiranku tetap ada pada Nadine. Entah kenapa aku tidak bisa lagi mengkhianati Nadine. Aku mencintai dia, Maya. Dan yang kita lakukan ini adalah suatu kesalahan, jadi harus kita hentikan." ucap Ryan


"Apa maksudmu? Kamu mau lari dari semua ini? Jangan gara-gara ucapan Mariah kamu akan meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku Ryan!" pinta Maya dengan paras cemas.


"Tidak Maya. Maaf kalau semua ini buat kamu kecewa. Keputusanku bulat. Aku akan kembali ke Nadine, dan aku akan meninggalkanmu. Kita harus mengakhiri ini. Aku tahu, kamu suka aku sejak dulu, tetapi Nadine yang berhasil memenangkan hatiku. Segala yang kita lakukan ini salah. Aku nggak boleh sakiti dia lagi. Maaf, May!" ucap Ryan tergas.


"Kamu nggak bisa seenaknya sendiri seperti itu, Ryan. Setelah kamu melakukan semuanya padaku, lalu kamu mau pergi begitu saja? Jangan egois! Kamu pikir aku nggak punya perasaan? Tidak Ryan! Atau perlu aku yang mengatakan langsung pada Nadine tentang hubungan kita?" Maya mulai emosi.


"Kamu jangan gila, Maya! Kamu tahu sekarang ini waktunya nggak tepat. Kita semua di sini sedang terancam keselamatannya. Kita nggak boleh buat ini tambah kacau!" kata Ryan.


"Pokoknya aku tidak mau kamu pergi Ryan. Kamu harus mempertangungjawabkan semua yang telah kamu lakukan padaku. Jangan seenaknya kamu permainkan hatiku, lantas sekarang kamu mau balik ke istrimu. Aku nggak bisa terima itu! Nggak bisa!" ucap Maya setengah terpekik.


"Diam Maya! Nanti ada yang dengar!" Ryan mengingatkan sambil berusaha menutupi mulut Maya.


"Biar aja semua dengar! Biar mereka tahu kejahatanmu! Kamu pikir aku nggak sakit hati dengan semua ini. Asal kamu tahu ya, Ryan. Dua pekan ini ku sudah berhenti haid. Kamu harus pertanggungjawabkan semua itu!"


"Ma-maksudmu ... kamu?" tanya Ryan dengan paras pucat.


"Iya, Ryan. Aku hamil!"


***


Setelah menyelesaikan segala urusan di kota, Mariah kembali ke kastil siang itu juga. Mariah mengendarai mobil melewati kawasan perbukitan yang ditumbuhi tanaman teh yang menghijau. Jalanan agak berkelok dan naik-turun, sehingga Mariah harus meningkatkan kewaspadaan. Cuaca di luar terasa panas, karena matahari bersinar sempurna, seolah memamerkan kegagahannya sebagai penguasa siang. Mariah meminum jus jeruk dingin dalam botol, yang ia beli dari sebuah supermarket. Sementara di dalam mobilnya terdengar lagu lawas tahun 90-an milik Phill Collins yang sengaja ia putar untuk mendinginkan suasana.


Beberapa lama ia menyetir, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tak biasa. Sesosok manusia tampak terkapar di tepi jalan, di bawah terik matahari. Mariah terkejut dengan penemuan itu. Lokasinya tak seberapa jauh dari kastil, sehingga ia berpikir jangan-jangan orang ini adalah korban pembunuhan. Segera Mariah menepikan mobil, tak jauh dari sosok yang terbaring itu. Ia turun dengan cepat menghampiri sosok itu.


Ia memegang pergelangan tangan pria yang terbaring itu untuk merasakan denyut nadinya. Rupanya masih terasa detaknya, walau sedikit lemah. Saat Mariah hendak memeriksa bagian leher, barulah ia sadar ternyata sosok yang terbaring adalah pria yang tak asing baginya.


"Edwin ... astaga! Apa yang terjadi? Win! Win! Bangun!"


Mariah berusaha membangunkan sosok pria yang tak lain adalah Edwin. Ia menepuk-nepuk pipi pria itu agar lekas tersadar, tetapi ia tetap terdiam. Mariah memutar otak, apa yang harus ia lakukan untuk membuat Edwin sadar? Sesaat kemudian ia ingat bahwa ia tadi berbelanja banyak kebutuhan di supermarket. Tanpa membuang waktu, Mariah segera mengambilse botol air mineral dari dalam mobil, kemudian mengambil sedikit untuk dipercikkan di wajah Edwin. Ia berharap agar percikan air membuat Edwin tersadar.


"Edwin bangun!" bisik Mariah.


Usaha Mariah membuahkan hasil. Percikan air yang membasahi mata Edwin, membuat pria itu perlahan membuka mata. Ia melihat ke sekeliling, tetapi terlihat masih kabur. Tak lama berselang, Edwin mendapati sosok Mariah yang tiba-tiba berada di hadapannya. Ia merasa gembira, karena sebelumnya ia berpikir kalau ia sudah mati. Kehadiran Mariah membuat ia merasa sangat yakin kalau ia masih hidup.


"Mariah .... "


"Syukurlah kamu masih hidup, Win. Apa yang terjadi?" tanya Mariah sambil menyodorkan botol air minum kepada Edwin.


Rasa haus sangat mencekik kerongkongan, sehingga Edwin segera menerima botol pemberian Mariah. Ia langsung menenggak air dalam botol seperti seekor unta yang sedang haus. Setelah sedikit tenang, ia mulai bercerita.


"Aku ... aku tadi tak sadarkan diri. Jatuh begitu saja. Aku sedang mencari botol minum yang jatuh, sementara Rosita ... oh iya, aku tadi bersama Rosita. Di mana Rosita? Apa dia baik-baik saja? Tolong dia ... aku takut ada yang mengincarnya! Mana Rosita?"


Edwin terlihat panik dan mencoba untuk bangun. Ia melihat berkeliling, tetapi yang ia lihat hanya hamparan kebun teh yang menghijau. Mariah berusaha memegangii agar Edwin tenang.


"Lebih baik kamu tenang, Win. Ayo masuk ke mobil, dan kita cek Rosita di kastil. Mungkin istrimu sudah sampai duluan ke sana!" ajak Mariah.


"Tidak! Tadi Rosita berjalan bersama denganku, kemudian botol minumnya menghilang sehingga aku mencari. Namun belum sampai ketemu botol itu, ada yang memukul kepalaku. Aku ... aku mengkhawatirkan keadaan Rosita!"


"Aku yakin Rosita baik-baik saja. Sekarang atur napasmu dulu, setelah ini kita kembali ke kastil!" ajak Mariah.


"Aku ... aku masih ingat. aku dan Rosita menyusur jalan setapak .... "


"Jalan setapak yang mana? Kamu posisi di mana waktu itu, Win?"


"Aku dan Rosita berjalan-jalan menikmati pagi di perkebunan teh menuju bukit. Kepalaku dipukul dengan keras, tetapi aku tidak dapat mengetahui si pemukul itu. Aku jatuh tak sadarkan diri, karena kepalaku terasa pening. Pandanganku berkunang-kunang, kemudian aku diseret ke tempat lain. Setelah aku sadar, aku tak tahu berada di mana. Kemudian aku mencari jalan raya, karena aku tahu arah kastil apabila sampai di jalan raya. Hanya saja, panas matahari membuatku sangat haus dan jatuh pingsan," terang Edwin.


"Okelah kalau begitu. Kalau kamu sudah merasa enakan, mari kita kembali ke kastil, dan kita cari tahu keberadaan Rosita," ujar Mariah.


"Aku sudah enakan, mari kita ke kastil segera!"


Tanpa menunggu waktu lama, Edwin langsung terlihat berdiri, walau masih sedikit sempoyongan. Mariah membantu Edwin untuk masuk ke dalam mobil, untuk selanjutnya mereka kembali ke kastil yang letaknya tak jauh dari tempat itu.


***