Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXVII. Waterfall


Elina masih sibuk mencari objek-objek foto yang menarik ketika akhirnya menyadari bahwa ia sendirian di tepi kebun teh yang luas. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tak seorang pun di sekitarnya. Suasana hening. Elina merasa cemas, Aldo pun juga tak ada di tempat. Elina berjalan perlahan menuruni tanah yang agak menurun, menuju penggiran hutan di bawah sana.


“Aldooo!” pekiknya.


Ia berharap agar pekikan itu berbalas. Sayangnya ia tak mendapat balasan dari pekikan itu. Wajahnya berubah cemas. Padahal beberapa menit lalu ia masih bercanda-canda dengan kekasihnya. Matahari kian meninggi, perlahan sinarnya menjilat kulitnya yang putih. Elina masih berputar-putar di sekitar tempat itu. Ia memutuskan untuk tidak pergi terlalu jauh, khawatir nanti Aldo akan mencari.


Tiba-tiba ia merasakan, sepasang tangan mencengkeram bahu dan mengguncangnya.


“Ha! Kubunuh dirimu!” ucap suara itu terdengar jelas di telinganya.


Bukan main terperanjat Elina mendengar suara itu, ia berbalik dan mendapati wajah Aldo berubah konyol, seolah-olah benar-benar hendak membunuhnya.


“Apaan sih kamu! Nggak lucu tau!” ucap Elina kesal, sambil memukul lengan Aldo.


“Maaf, Sayang. Aku tadi hanya bercanda!” Aldo berkata sambil menahan senyum.


“Itu nggak lucu. Di saat seperti ini, candaan seperti itu bisa menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung. Kalau ada apa-apa, kamu mau tanggung jawab? Pikir dong sebelum bercanda!” omel Elina.


“Iya ... iya. Kan aku sudah minta maaf tadi. Nggak lagi diulang deh. Janji!” bujuk Aldo berusaha menenangkan sambil mengangkat dua jari.


Elina masih memasang tampang kesal, ia berjalan mendahului Aldo.


“Jangan cepat-cepat, Elin! Hans dan Maira sudah meninggalkan kita. Masa iya kamu mau ninggalin aku juga?” pinta Aldo.


Perkataan Aldo tak digubris. Ia berjalan agak cepat menuju pinggiran hutan. Suasana pinggiran hutan lebih sunyi dari kebun teh. Banyak pohon mengepung, dan semak- belukar yang tumbuh rimbun.


Sementara jauh di dalam hutan, rombongan anak muda, bersama Hans dan Maira telah menemukan tempat yang disebut air terjun oleh Antony. Sebenarnya bukan air terjun, hanya sebuah aliran air cukup jernih, jatuh melalui bebatuan yang cukup tinggi, kemudian mengalir melalui sebuah anak sungai yang airnya begitu jernih dan sejuk.


Walaupun air terjun itu tidak besar, tetapi memang cukup indah dipandang. Apalagi suasananya juga sangat teduh, banyak dinaungi pohon-pohon besar. Kicau burung bersahut-sahutan di segala penjuru, berpadu dengan suara gemericik air yang tak begitu deras, menambah damai suasana. Sungguh suatu tempat yang sempurna untuk bersantai.


Rombongan itu masih terkagum dengan pemandangan yang disajikan. Maira bahkan segera menaruh tas ransel di bawah pohon, kemudian tiba-tiba saja ia membuka baju, hingga menyisakan sebuah swimsuit begitu seksi berwana biru. Tanpa komando apa pun, dia langsung menceburkan diri ke dalam air.


Byuuurr!


“Yuhuuu! Betapa sejuk airnya! Kalian rugi kalau tidak coba. Ayo cepat! Kalian harus nyemplung!” ajak Maira.


Semua mata pria di situ seakan tersihir oleh kemolekan tubuh Maira. Sedangkan para gadis tampak tidak nyaman. Ia tidak menyangka kalau Maira akan tampil begitu berani di depan para pria. Para gadis belia itu masih belum siap membuka baju di hadapan para pria.


Kecuali Ben, para pria sudah melepas baju dan ikut terjun ke dalam air bersama Maira. Mereka bergembira bermain air di bawah sana, sambil saling menyiprat.


“Sonya! Melly! Ayo turun! Airnya beneran sejuk banget! Sumpah!” ajak Antony.


Sonya dan Melly saling memandang, seolah minta pendapat satu sama lain.


“Gimana Mel? Kamu mau turun?” tanya Sonya kemudian.


“Terserah kamu aja deh. Kalau kamu turun, aku juga turun. Gimana?” Melly balik bertanya.


“Aku mau sih turun, tetapi aku nggak mau pakai bikini kayak dia. Kita pakai kaos sambil pake celana pendek aja ya!” ajak Sonya.


“Okay!” jawab Melly memberi persetujuan.


***


Adrianna merasa cemas mendengar teriakan Tiara. Mau tidak mau, ia turun juga ke dalam ruang bawah tanah walaupun batinnya melakukan penolakan. Ia melangkah dengan hati-hati, menyusur lorong gelap yang ada di sana. Rasa takut mulai menyelinap.


“Tiara di mana kamu?” tanya Adrianna.


“Aku di sini, Adrianna. Cepat tolong aku!”


Adrianna bergerak ke arah sumber suara. Suara Tiara terdengar dari salah satu bilik yang berderet di sepanjang lorong. Adrianna merasa bingung, karena semua bilik terlihat sama. Kemudian ia berhenti di sebuah bilik yang pintunya berjeruji seperti penjara. Tiara di dalam berada dalam jeruji itu dengan kesal.


“Tolong aku, Adrianna! Seseorang membanting pintu dan mengunciku dalam bilik ini. Aku tadi penasaran dengan bagian dalam bilik. Ternyata saat aku berada di dalam, seseorang mengunciku. Tolong aku!” pinta Tiara dengan cemas.


“Bagaimana cara aku menolongmu? Aku tidak tahu. Pintu ini digembok,” ucap Adrianna.


“Gembok itu bisa dibuka dengan linggis. Kemarin Cornellio juga seperti itu kan?”


“Iya, tetapi aku nggak cukup kuat untuk itu. Harus ada seorang pria yang melakukannya!”


“Naiklah ke atas dan panggil Michael. Dia pasti bisa melakukan. Tolong aku, Adrianna. Aku takut di sini. Pembunuh itu bisa datang kapan saja dan membunuhku. Kamu harus segera tolong aku,” pinta Tiara.


“Baik Tiara. Kamu tenang saja. Aku akan segera ke atas dan mencari pertolongan. Kamu tenang saja ya!”


Adrianna segera kembali, menuju tingkap. Langkahnya semakin dipercepat, takut kalau-kalau si pembunuh itu membuntuti. Ia semakin takut, karena pembunuh itu telah berhasil memerdaya Tiara. Ia harus segera mencari pertolongan.


Ia segera naik ke atas, sampai ke ruang dapur. Helen sedang mengiris sayuran di atas meja, ketika Adrianna muncul dari ruang bawah tanah.


“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Helen.


“Helen. Kamu tahu di mana Michael? Katakan cepat!” ucap Adrianna dengan panik.


“Michael? Aku seharian tak melihatnya. Mungkin ada di kamarnya. Entahlah. Ada apa sebenarnya?” tanya Helen.


Adrianna tak menggubris pertanyaan Helen. Ia segera masuk ke dalam kastil dan menuju kamar Michael. Pikirannya tak tenang. Khawatir dengan keselamatan Tiara. Sesampai di depan kamar Micahel, ia mengetuk dengan tergesa.


Tok ... tok ... tok!


Untunglah, sosok Michael segera menyembul dari balik pintu dengan paras yang sedikit kacau, seperti baru bangun dari tidur. Ia terkejut melihat Adrianna yang tampak panik di depan pintu kamarnya.


“Ada apa, Adrianna? Kamu mengganggu istirahatku!” ucap Michael.


“Maafkan aku Michael! Tapi aku butuh bantuanmu segera!” kata Adrianna.


“Bantuan? Bantuan macam apa?”


“Tiara! Tiara terperangkap dalam bilik di ruang bawah tanah. Seseorang menguncinya saat dia masuk ke dalam bilik. Kita harus cepat sebelum pembunuh itu kembali,” kata Adrianna.


“Astaga! Mengapa Tiara sebodoh itu? Ini gila! Ayo kita ke sana!”


***