Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XCI. Trap


Lama menunggu di gazebo dekat kolam renang, Sonya dan Melly merasa bosan. Teh yang katanya akan dibuatkan oleh Helen nyatanya tak kunjung datang. Mereka berdua gelisah. Apalagi Antony dan Ringo tak kunjung menampakkan diri. Melly mulai tak sabar.


“Lama banget sih Antony dan Ringo,. Aku khawatir mereka kenapa-kenapa,” gumam Melly.


“Gimana kalau kita kembali ke sana saja?” usul Sonya.


“Nggak ah! Kamu gila. Dibayar berapa pun aku tak sudi kembali ke sana. Di sini aku merasa lebih aman,” ucap Melly.


“Kalau begitu bersabarlah! Jangan mengeluh!”


Melly terdiam. Ia tak dapat menyembunyikan rasa gelisah yang makin menghebat. Rasa tegang memicu rasa ingin buang air kecil. Ia mendesis, menahan rasa sesuatu yang mendesak di bawah perutnya.


“Kamu kenapa Mel?” tanya Sonya.


“Toilet di mana ya? Aku mau kencing!” desis Melly.


“Waduh, ada-ada saja kamu! Coba kamu masuk ke dalam lewat pintu belakang itu. Siapa tahu di dalam ada seseorang yang bisa nolongin kamu,” usul Sonya.


“Oke, oke. Aku beneran nggak tahan. Kamu tunggu di sini sebentar ya?”


Sonya mengangguk.


Melly setengah berlari menuju ke dalam kastil melalui pintu belakang. Pintu itu langsung terhubung dengan dapur, tapi tak ada seorang pun di sana. Melly memberanikan diri untuk masuk lebih dalam kastil. Di sebuah lorong, ia melihat Helen hendak masuk ke kamar Arvan. Wanita paruh baya itu tampak gelisah.


“Maaf Bu! Maaf, aku mau bertanya!”


Tanpa berpikir panjang Melly langsung berbicara dengan gugup, karena ia hampir tak bisa menahan hasrat ingin buang air kecil.


“Siapa kamu?” Helen menatap curiga pada Melly.


“Aku Melly, yang nitip mobil itu. Ibu pengurus rumah ini kan? Maaf ya Bu. Aku sangat ingin buang air kecil. Bisa minta tolong ditunjukkan di mana tolietnya?”


Helen mengernyitkan dahi. Dalam hati ia merutuk, sebab ia hendak masuk ke dalam kamar Arvan untuk menghabisi pria yang sedang terluka itu. Kedatangan Melly sungguh di waktu yang tidak tepat. Untuk mengurangi kecurigaan, Helen berusaha tenang.


“Kamu teman Ben?” tanya Helen.


“Oh iya bener banget, Bu. Aku teman Ben. Wah, di mana ya dia sekarang?” jawab Melly.


Helen tidak menjawab. Mungkin ia harus membereskan gadis ini dulu, sebab bisa saja aksinya terbongkar kalau dia masih ada di sini. Otak Helen berputar. Niat jahat mulai muncul. Yang ada di otaknya adalah batangan emas yang disimpan di brankas Anggara Laksono.


“Hmm. Aku akan tunjukkan toilet buatmu. Ikuti aku!” ucap Helen.


Kehadiran Melly yang tak diduga, membuatnya mengurungkan niat masuk ke kamar Arvan. Ia berjalan menuju lorong lain, sementara Melly mengikuti dari belakang.


***


Dimas akhirnya sampai di atas, di bagian dapur. Ruangan dapur terlihat sepi. Awalnya ia bingung harus kemana. Segera saja ia pergi ke beranda depan hendak menemui Reno. Sayangnya, ketika sampai di sana, ia tidak menemukan partner-nya itu. Ia mendengkus kesal.


“Kemana pula Reno ini?” gumamnya.


Setengah berlari ia pergi ke halaman depan, memeriksa kalau-kalau Reno sudah ada di mobil, namun ternyata dugaannya salah. Tak ada Reno di mobil. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pria di pinggir jalan raya, di luar pagar. Hal itu menarik perhatiannya, sehingga ia menghampiri.


Ia terkejut. Sosok pria itu tak asing lagi baginya. Ia adalah Ammar Marutami, sedang berjalan tertatih sambil berpegangan pada sebuah pohon.


“Ammar?” tanya Dimas.


Ammar rupanya sedang berlatih berjalan untuk menggerakan syaraf kakinya. Ia tidak ingin nantinya syaraf menjadi kaku, sehingga ia mencoba berjalan di sekitar kastil. Ia terkejut melihat kehadiran Dimas.


“Loh, Dimas? Kok kamu ada di sini?” tanya Ammar.


“Harusnya aku yang menanyakan itu. Apa yang terjadi dengan kakimu?” Dimas melihat ke arah kaki Amar yang masih diperban.


“Aku mengalami kecelakaan dan sedang menjalani perawatan. Berada dalam kamar waktu yang lama membuatku bosan, jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan di luar,” kata Ammar.


Ammar mengernyitkan dahi. Ia segera paham dengan arah pembicaraan Dimas. Sontak ia bersikap waspada.


“Kamu kesini untuk menyelidiki kematian Anggara?” tanya Ammar.


“Astaga! Aku malah baru tahu kalau Anggara sudah mati. Asisten itu bilang kalau Anggara keluar kota. Ini sangat mengejutkanku! Apalagi dengan banyak peristiwa yang terjadi di bawah tanah!”


“Bawah tanah?”


“Ya. Aku harus bergerak cepat. Ada orang-orang yang nyawanya terancam di sana. Sayangnya kondisimu seperti ini. Tentu akan sulit sekali,” ujar Dimas.


“Begini Dimas. Bisa nggak kita bicarakan ini di luar kastil saja! Kondisiku sedang buruk, nyaris tak bisa berjalan. Kamu tahu, kondisi kastil sangat tidak aman. Aku hampir menemukan pelaku itu, tetapi sebaiknya kita bicarakan ini di ....”


Ammar terdiam sejenak, melihat berkeliling. Ia sedang berusaha mencari tempat yang nyaman mengobrol, selain di dalam kastil tentunya. Yang ada hanya hamparan kebun teh.


“Aku nggak bisa menunggu terlalu lama, Ammar. Kondisimu seperti ini, jadi aku harus mencari orang lain yang berkomitmen dengan kasus ini. Aku butuh seseorang yang bisa bergerak cepat. Tadinya aku bersama Reno, tetapi dia pergi entah kemana. Waktu kita sempit. Lebih baik kamu mencari tempat aman,” ucap Dimas.


“Aku mengerti. Sebenarnya kasus ini adalah tanggung jawabku dari awal, tetapi sayangnya fakta berkata lain. Aku mengalami kecelakaan sialan itu. Tapi, sebenarnya aku sudah mengantongi beberapa nama yang sudah masuk daftarku. Hanya saja aku belum bertemu dengan orangnya langsung. Ia seperti menghilang!” geram Ammar.


“Oke. Biar kami yang ambil alih kasus ini. Sungguh, yang kau hadapi adalah orang yang sangat berbahaya. Sebenarnya aku menemukan banyak hal di ruang bawah tanah, tetapi sebaiknya kuceritakan nanti saja. Waktuku tidak banyak. Aku akan berusaha menyelamatkan orang-orang yang di kastil ini. Ayo kuantar ke kamarmu!” ajak Dimas.


***


Tok ... tok ... tok!


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Adrianna baru selesai menulis di buku hariannya. Ia memalingkan muka ke arah pintu. Jantungya mendadak berdegup kencang. Semenjak kematian Cornellio, ia seolah malas keluar kamar. Ia merasa kematian bisa mengintai kapan saja. Sejenak ia ragu, apakah ia harus membuka pintu atau tidak?


“Siapa?” tanya Adrianna.


“Adrianna, ini aku, Tiara!” jawab suara dari luar pintu.


“Tiara?” Adrianna agak ragu.


Bukankah Tiara sempat menghilang beberapa waktu? Apakah ia sudah lolos dari penculikan? Sedikit bimbang, tetapi Adrianna memutuskan untuk membuka pintu kamar.


“Tiara?” sapa Adrianna dengan paras bingung.


“Boleh aku masuk, Adrianna? Aku takut berada di luar sini. Kurasa aku tadi dibuntuti seseorang,” ucap Tiara sedikit gugup.


“Siapa yang membuntutimu, Tiara? Kamu jangan buat aku takut!”


“Beneran Adrianna. Boleh aku masuk ya?”


Adrianna berpikir sejenak. Hubungannya dengan Tiara cukup akrab, apalagi mereka pernah tinggal sekamar. Tak ada alasan tepat bagi Adrianna untuk menolak Tiara.


“Cepat masuk!”


Tiara tersenyum. Wanita muda itu segera masuk ke dalam kamar. Adrianna tiba-tiba melihat bercak darah di pergelangan tangan Tiara. Ia melihat ada luka goresan di sana.


“Tiara? Kamu nggak apa-apa kan? Tanganmu terluka?” tanya Adrianna dengan cemas.


“Aku tadi sempat dikejar sosok berjubah itu. Lihat! Ia berhasil menggores lenganku!”


“Oh Tuhan! Apakah pelakunya Maira ya?”


“Bisa jadi, Adrianna. Kita semua tahu siapa


dia!”


***