
Raymond melajukan mobil ke arah pinggiran kota dengan cepat. Arland yang menjadi penunjuk jalan, berkali-kali mengarahkan. Raymond tampak gusar, berkali-kali ia harus menginjak rem karena hampir menabrak kendaraan lain.
“Sabar, Bang! Jangan sampai kita celaka duluan,” tegur Nayya.
Gadis itu merasa cemas, karena Raymond mengemudi di luar batas normal. Arland tiba-tiba menunjuk arah depan, ke sebuah jalan yang lumayan sepi, dengan kontur berbukit-bukit.
“Rumah isolasi itu sudah nggak jauh lagi. Mungkin satu kilo di depan sana. Pelan saja, Bang!”
Arland mengarahkan. Raymond memperlambat mobil, sambil mengawasi sekitar. Yang terlihat hanya deretan bukit dan kebun-kebun, tak ada rumah penduduk.
“Itu! Itu ada mobil di depan. Itu pasti mobil polisi. Kita parkir di belakangnya saja, Bang!” ucap Arland.
Beberapa ratus meter di depan, mereka melihat sebuah mobil yang diparkir di tepi jalan. Raymond hendak memarkir mobil beberapa ratus meter di belakang mobil itu, tetapi tiba-tiba mereka melihat seseorang yang keluar dari sebuah jalan kecil dengan tergesa, menarik seorang gadis. Sudah dapat dipastikan sosok itu adalah Ferdy yang sedang menyandera Adinda. Mereka terlihat buru-buru masuk ke dalam sebuah mobil.
“Lihat ... lihat! Bukankah itu sosok pembunuh Tari yang kita cari?” tanya Arland.
“Iya benar! Itu memang dia. Dia menyandera seorang gadis. Mau kemana dia? Arland, kamu turun dan kamu cari Badi, aku akan buntuti manusia itu,” ucap Raymond.
“Baik, Bang!” jawab Arland.
Raymond menepikan mobil tak jauh di belakang mobil yang hendak ditumpangi Ferdy dan Adinda. Setelah Ferdy dan Adinda masuk mobil, mereka melaju meninggalkan tempat itu. Arland segera turun, kemudian Badi hendak mengejar mobil. Namun, tiba-tiba Reno hadir pula di tempat itu. Dia segera menghentikan mobil Raymond. Langkahnya begitu terburu-buru, sambil menggenggam pistol.
“Tunggu ... tunggu! Aku polisi! Cepat ikuti mobil itu!” perintah Reno.
Tak membuang waktu, Raymond segera membuka pintu mobil, mempersilakan polisi itu ikut dalam pengejaran mobil yang ditumpangi Ferdy. Reno terkejut, karena ia mendapati Raymond dan Nayya dalam mobil yang hendak ditumpanginya. Ia tak menyangka kalau Nayya masih hidup, dan saat ini gadis itu tengah bersama Raymond.
“Kalian ...?” tanya Reno.
“Nanti saya ceritakan, Pak! Kita fokus mengejar mobil itu dulu!” kata Raymond.
Kedua mobil itu melaju saling berkejaran menuju arah luar kota yang kondisi jalannya agak sepi. Tak banyak mobil melintas, sehingga kedua mobil itu makin leluasa menguasai jalanan. Makin jauh ke luar kota, kondisi jalan makin tidak baik. Terkadang ada tikungan tajam dengan jurang di samping kanan-kiri, sehingga mau tidak mau, mereka harus mengurangi kecepatan.
***
Arland telah tiba di rumah isolasi yang gerbangnya tak dikunci. Dia segera masuk ke halaman samping, sambil mencari-cari, kalau-kalau menemukan seseorang atau sosok Badi di situ. Sementara penghuni rumah isolasi masih terlihat syok dengan kejadian yang barusan terjadi. Rasty dan Lena masih duduk diam tanpa kata, sedang Alex juga berdiri di dekat jendela. Gerry juga berdiri tanpa suara. Orang yang ia kira adalah keluarga, ternyata adalah musuh dalam selimut.
“Aku sama sekali tidak menyangka,” gumam Alex lirih.
“Yah, aku sedih karena Ferdy seperti itu, tetapi itu adalah harga yang pantas ia terima,” sambung Gerry.
Sementara, Dimas dan Pak Paiman, dibantu dengan Wandi, segera pergi ke gudang untuk mencari keberadaan Gilda. Mereka berdiri di depan pintu gudang yang masih dalam keadaan tergembok.
“Kita harus buka paksa gembok ini, Pak!” kata Dimas.
“Baik, Pak. Kita bisa memakai linggis!”
Pak Paiman segera bergerak. Mereka segera membuka paksa pintu gudang yang digembok itu. Sedikit bersusah-payah, karena memang gembok berukuran besar. Beberapa menit kemudian, gembok itu terlepas dari engselnya. Pintu gudang mereka buka, dan terlihat sosok lelaki dan perempuan dalam keadaan terikat dalam kondisi lemas tak bergerak.
“Astaga!”
Dimas, Wandi, dan Pak Paiman segera membuka ikatan. Dimas memeriksa apakah Badi dan Gilda masih hidup. Sepertinya mereka kehabisan tenaga, sehingga menjadi lemas. Dimas memeriksa denyut di sekitar leher.
“Mereka masih hidup!” ucap Dimas.
Arland yang telah tiba di tempat itu, sangat terkejut melihat keadaan Badi.
“Astaga! Badi ... Badi! Apa yang terjadi?” tanya Arland dengan panik.
Dimas hanya bergumam sedikit,” Kami pun tak tahu kalau ada Badi di rumah ini.”
Badi dan Gilda segera mendapat pertolongan pertama. Mereka membawa ke dalam rumah, kemudian Bu Mariyati memercikkan air ke mata mereka agar segera sadar. Badi yang pertama kali membuka mata, mendapati banyak orang di sekelilingnya. Ia terkejut.
“Aku ... aku sudah mati?” tanya Badi.
“Tidak, Badi! Kamu masih hidup. Ini aku Arland!” ucap Arland yang juga hadir di situ.
“Arland?”
Sementara, Gilda juga sudah mulai sadar, tetapi kondisinya masih lemah. Ia masih enggan mengucap sepatah kata pun. Penyekapan dalam gudang itu telah membuatnya sangat terpukul. Ia mengira dirinya sudah mati.
Bantuan paramedis segera tiba tiga puluh menit kemudian. Badi dan Gilda segera dipindahkan ke dalam ambulans untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Wandi dan Arland menemani mereka menuju rumah sakit. Sementara, Dimas tetap berada di rumah isolasi, untuk menjaga suasana agar tetap kondusif.
***
Di dalam mobil yang ditumpangi Ferdy, Adinda duduk terdiam di samping pria psikopat yang sedang menyetir di sampingnya. Ia hanya menatap lurus jalanan ke depan, saat Ferdy menyetir dengan kecepatan tinggi.
“Mengapa, Fer? Mengapa kamu lakukan itu padaku?” tanya Adinda dengan lemah.
Dalam hati yang terdalam, sebenarnya ia sangat sayang sama Ferdy. Ia menyesal ketika Fedry bukanlah sosok seperti yang diharapkannya. Perangai malaikatnya seolah berubah menjadi iblis yang amat buas. Ferdy tampak konsentrasi menyetir.
“Tenang, Din! Tenang! Setelah kita lolos, aku janji akan nikahi kamu, dan kita akan kabur sejauh-jauhnya dari kota ini. Aku janji, akan memulai dari awal bersamamu. Kamu bersedia kan?” tanya Ferdy.
“Bukankah kamu bilang kamu tidak pernah menyukaiku?”
“Aku tidak sungguh-sungguh, Adinda. Kamu tahu aku sangat sayang sama kamu!”
“Tidak! Kamu ucapkan hal yang sama pada Jenny, Alma, dan yang lain, setelah itu kamu habisi mereka juga. Aku nggak mau jadi korbanmu berikutnya, Fer. Lebih baik kamu menyerah saja, Fer. Itu jauh lebih baik daripada kabur seperti ini. Hentikan mobil ini, dan menyerahlah!” pinta Adinda.
“Tidak! Lebih baik aku mati daripada menyerahkan diri pada mereka!” bentak Ferdy.
“Aku akan menghentikanmu, Fer!”
Tiba-tiba Adinda menyerang Ferdy, sehingga Ferdy kehilangan konsentrasi menyetir. Mobil itu kini bergerak zig-zag di jalan raya, sambil mengeluarkan suara berdecit karena Ferdy harus menginjak rem. Mereka sedang melintasi daerah yang berjurang-jurang.
“Kamu jangan gila, Dinda! Kita bisa mati!” pekik Ferdy sambil terus menyetir, dan menhindari serangan Adinda.
“Aku tidak peduli! Biar saja kita mati!” ucap Adinda.
“Kamu gila! Aku tidak mau mati! Aaah ...!”
Mobil tiba-tiba oleng ke samping kiri, menabrak pembatas jalan. Mobil mereka terperosok ke dalam sebuah lereng yang lumayan curam dengan kemiringan sekitar lima puluh derajat. Ferdy tidak dapat mengendalikan mobil lagi. Mobil itu terus meluncur turun dengan kecepatan tinggi!
***