
Ammar memasuki kembali ruang kerja milik Anggara Laksono di lantai tiga. Ia ingin mencari denah kastil seperti yang pernah diceritakan Tiara. Ia berpikir, bahwa kastil sebesar ini seharusnya punya denah, sehingga memudahkan untuk mengetahui ruangan-ruangan apa saja yang ada di kastil. Saking luasnya kastil, Ammar sendiri juga tidak hafal ruangan-ruangan yang ada, karena jumlahnya ada puluhan. Ia hanya menghafal ruang-ruang penting yang biasa dipakai. Ia sendiri juga baru sadar kalau di kastil ini terdapat tiga ruang makan dengan ukuran berbeda, yang mungkin fungsu penggunaannya juga berbeda pula. Hanya saja, memang ada ruang makan utama yang biasa dipakai sehari-hari.
Ammar mulai mencari keberadaan denah ruangan itu di lemari kerja milik Anggara yang terbilang cukup besar. Di situ terdapat buku-buku tebal tentang filosofi dan dokumen-dokumen kerja yang tersusun dalam binder-binder. Ia membuka satu-persatu binder itu, berharap menemukan denah yang ia cari. Hal itu bukanlah pekerjaan mudah, karena dokumen yang ada memang sangat banyak. Jumlah binder yang berderet juga cukup banyak, tentu hal itu akan sangat menyita waktu. Ammar mendesah hampir putus asa melihat deretan binder itu semua,
Satu-persatu ia buka binder itu. Ia sudah membuka binder keenam, tetapi dokumen yang ia cari belum ketemu juga. Namun, saat ia membuka binder keenam, ia sangat antusias ketika melihat bahwa isi binder ini khusus berisi tentang seluk-beluk dan sejarah kastil pada saat didirikan, status kepemilikan, hingga penjelasan ruang-ruang yang ada di dalam kastil. Hingga matanya tertuju pada sebuah keterangan di salah satu halaman yang terbaca 'lihat denah di halaman terakhir'. Buru-buru Ammar membuka binder itu sampai halaman terakhir, karena ia langsung berpikir bahwa denah itu memang diletakkan di halaman terakhir. Setelah ia buka halaman terakhir, ia terkejut karena ia mendapati bahwa lembaran itu sudah dalam keadaan robek. Seseorang telah mengambil lembaran itu secara paksa.
"Siapa yang mengambil lembaran ini?" gumam Ammar.
Ia menutup kembali binder itu dengan kesal. Ia mencoba mencari di binder lain, siapa tahu ada informasi lagi mengenai kastil ini. Ia berpikir, yang mengambil denah itu pasti si pelaku yang selama ini berkeliaran dengan mudah di kastil, dan tahu seluk-beluknya.
Pada binder kesembilan yang ia buka, ada hal lain yang membuatnya tertarik. Anggara Laksono menuliskan silsilah keluarga yang sepertinya Ammar kenal. Dalam silsilah itu, jelas Anggara menuliskan nama Anastasia Pratiwi sebagai istri sah, bukan Anjani yang mempunyai anak kembar itu. Nama mereka bahkan tidak tercantum dalam silsilah itu. Segera Ammar menutup binder itu. Masa lalu paman Mariah itu memang sungguh kelam. Ia tidak ingin mengetahui lebih banyak, karena peristiwa pembunuhan para penulis beberapa waktu menyisakan kenangan yang begitu kelam baginya.
Ia beralih ke ruang baca untuk mencari informasi yang perlukan. Anggara mempunyai ribuan koleksi buku dengan berbagai kategori. Hal ini juga menambah kemisteriusannya. Ia hendak masuk ke dalam ruang baca ketika ia berpapasan dengan Nadine yang tampak baru keluar dari ruangan itu pula.
"Pak Ammar, mau ke mana?" sapa Nadine ramah.
"Oh, aku hendak ke ruang baca sebentar, ada buku yang hendak aku cari. Kamu sendiri dari mana?" tanya Ammar.
"Aku tadi merasa tidak enak badan, merasa bosan di dalam kamar, kemudian kuputuskan untuk ke ruang baca mencari novel yang sesuai dengan mood-ku," ucap Nadine sambil tersenyum.
Ammar mengangguk sambil tersenyum. membiarkan wanita muda itu pergi meninggalkannya. Di tangan Nadine tergenggam dua buah novel yang siap untuk dibaca. Ammar sempat melirik sekilas. Ia mengenal novel yang dibawa oleh Nadine.
***
Reno kembali menemui Rosita yang masih menunggu di tepi jalan setapak dengan paras cemas. Rosita tak melihat Reno kembali bersama Edwin. Polisi itu hanya berjalan sendirian dengan paras lunglai, terlihat putus asa.
"Mana Edwin Pak?" tanya Rosita,
Reno hanya menggelengkan kepala, sembari membuang pandanga ke sekitar. Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan tanaman teh yang menghijau. Ia bingung harus berkata apa kepada Rosita, karena tidak berhasil menemukan Edwin.
"Pak Reno nggak berhasil menemukannya?" tanya Rosita lagi.
"Astaga! Aku tidak bisa membiarkan dia sendiri di perkebunan ini, Pak. Mari kita cari dia!" cemas Rosita.
"Ros, kamu hendak mengitari kebun teh yang luasnya tak terkira ini? Kita boleh khawatir, tetapi kita harus menggunakan akal sehat kita. Sampai malam pun kita nggak akan tuntas mengelilingi tempat ini. Sebaiknya kita pulang dulu dan beristirahat. Besok aku akan minta bantuan Juned, Jeremy, atau siapa saja yang bisa bantu untuk mencari Edwin. Kalau kita gegabah, hal itu akan dengan mudah dimanfaatkan oleh si pelaku, sehingga kita akan mudah diperdaya," tegas Reno.
Rosita terdiam. Ia tidak membantah apa yang diucapkan oleh Reno. Ia hanya mengangguk. Reno kemudian melangkah meninggalkan kebun teh, menyusur jalan setapak yang menurun. Langit siang tampak cerah, dengan cahaya matahari yang memancar sempurna. Dua orang itu berjalan perlahan menjauhi perkebunan teh, menuju kastil yang menaranya sudah terlihat berdiri menjulang dengan gagah.
***
Sebelum kembali ke kastil, Mariah langsung menelepon Dimas terkait informasi yang ia dapatkan dari ibunda Suci. Mariah merasa ini adalah informasi penting yang harus segera ia sampaikan, mengenai latar belakang sahabat Suci yang saat ini keberadaannya masih misterius. Ia menggarisbawahi bahwa sahabat Suci itu kemungkinan besar mempunyai orang tua tunggal, dan mungkin berasal dari keluarga yang kurang bahagia.
Dimas segere merespon info sekecil apa pun. Ia langsung bergerak mencari data-data terkait latar belakang orang-orang yang berada di kastil. Ia memulai dari data yang sudah terekam di kepolisian. Setidaknya ada data awal yang ia kumpulkan, sebelum ia beralih mencari data lain. Rencananya, besok pagi ia harus segera kembali ke kastil untuk mengurai rangkaian benang kusut ini. Namun, sebelum ia memutuskan untuk kembali, setidaknya ia harus mengantongi nama-nama yang mungkin dicurigai.
Berdasarkan data yang ia kumpulkan, sudah dapat dipastikan bahwa pelaku kekacauan ini adalah seorang perempuan yang jelas-jelas ada hubungan erat dengan Mariah dan teman-temannya. Hanya saja, ia belum bisa memastkan siapa sebenarnya perempuan itu. Ada beberapa data penting yag sudah ia kantongi, hanya tinggal menambahkan data pelengkap saja.
Setelah selesai dengan data dari kepolisian, rencananya ia akan mengumpulkan data keluarga dari kantor kependudukan. Dari data-data yang dihimpun itu, ia berusaha menyimpulkan data yang paling mendekati dengan identitas para teman Mariah, yang mungkin adalah pelaku dari segala kekacauan.
***