
Ollan berlari menerobos kebun pisang tanpa menoleh ke belakang. Ia khawatir kalau-kalau Raymond mengejarnya. Di sekelilingnya, ia hanya melihat pohon pisang di mana-mana, tetapi ada jalan setapak yang menuju jalan raya. Ia yakin, Raymond akan kebingungan mencarinya. Bagaimanapun, ia harus segera pergi dari rumah itu. Ia merasa terasing dari peradaban di sana.
Ia merasakan ponselnya bergetar. Rupanya Henry sudah menelepon. Buru-buru ia angkat panggilan dari Henry.
"Kamu di mana? Aku udah nyampe di depan gang," ucap Henry.
"Tunggu bentar ya Bang! Aku nanti samperin Abang. Aku lagi OTW nih!" kata Ollan.
Ollan tidak mau berlama-lama, ia segera menyusur jalan setapak kecil yang dikelilingi pohon pisang itu. Lamat-lamat ia sudah bisa mendengar suara kendaraan, yang menandakan bahwa jalan raya sudah dekat. Ollan semakin bersemangat meneruskan langkah. Ia tahu, bahwa perbuatannya ini salah. Namun, ia akan mengambil risiko itu. Ia tidak tahu sampai kapan ia akan dikurung dalam rumah milik Raymond.
Sejenak kemudian, ia telah sampai di pinggir jalan. Banyak kendaraan berlalu-lalang siang itu. Ia mencari-cari mobil Henry yang berada di sekitar Kampung Hitam. Ia melangkah dengan waspada, takut menarik perhatian orang. Yang jelas, ia hanya ingin segera pergi dari kampung itu.
Setelah mencari-cari, Ollan melihat sebuah mobil warna hitam yang sangat ia kenal. ya, itu adalah mobil Henry. Ollan segera mendekati mobil itu dengan bersemangat. Ia membuka pintu depan mobil. segera duduk ke kursi depan.
"Maaf ya Bang. udah lama nunggunya?" tanya Ollan.
"Nggak juga sih. Oya, aku ada undangan jam 4 nanti. Setelah ini aku tinggal kamu di villa aja ya. Kamu tinggal di sana saja sementara," kata Henry.
"Di villa? Nggak! Jangan Bang! Aku lihat villa itu sudah trauma luar biasa. Di villa itu aku hampir mati, Bang. Nggak mau! Aku nggak mau tinggal di villa!" tolak Ollan.
"Lah terus di mana? Nggak mungkin juga kamu tinggal di rumahku. Atau kamu mau balik ke apartemenmu?" tawar Henry.
Henry mulai melajukan mobil menjauhi kawasan Kampung Hitam. Ollan bernapas lega, sembari melihat kaca spion. Ia masih khawatir kalau-kalau Raymond mengejarnya.
"Siapa yang kamu lihat?" tegur Henry
"Oh nggak kok, Bang. Sebenernya aku khawatir sih, Bang. Kan saat ini aku dalam incaran si pembunuh, karena dia gagal mengeksekusiku. Gini aja deh Bang, aku di rumah Abang aja ya sementara ini. Nanti aku akan pikirkan di mana sebaiknya aku tinggal, sampai kondisi ini membaik. Bu Rianti baik-baik aja kan? Kuharap dia nggak marah kalau aku tinggal sementara di rumah Abang," ucap Ollan.
"Nggak usah peduliin Rianti. Aku yang beli rumah itu, jadi aku punya hak memasukkan siapa saja yang boleh tinggal di sana. Iya, kamu ke rumahku saja sampai semua aman. Lagian, enak juga suasana rumah kalo ada kamu, jadi nggak panas," ucap Henry sambil tersenyum.
"Abang masih perang dingin dengan Bu Rianti?" tanya Ollan.
"Nggak juga sih. Cuman kadang dia ngejengkelin banget. Ya udah aku keluar aja kalau sudah seperti itu. Aku lelah dengan cara dia," ucap Henry.
Ollan manggut-manggut. Kini rasa khawatirnya mulai menghilang sedikit demi sedikit, karena ia mendapat tempat tumpangan sementara, sampai masalah ini tuntas. Namun, ada yang sedikit mengganjal. Ia tidak yakin Rianti berkenan menerima kehadirannya di rumah Henry. Walau Henry sudah berusaha menenangkannya, ia tetap merasa tidak enak.
***
"Bukankah Laura Carmellita sudah dihubungi untuk menggantikan Renita?" tanya Guntur setelah proses casting selesai.
Sang sutradara muda masih tampak gusar. Ia tak menjawab pertanyaan Guntur, melainkan langsung meninggalkan Guntur sendirian. Penulis naskah itu mengangkat bahu, kemudian melangkah pergi. Widya yang melihat itu hanya tersenyum.
"Kamu yakin Laura Carmellita cocok untuk peran ini? Mengapa tiba-tiba kamu yang bernafsu untuk menjadikan Laura Carmellita sebagai pemeran utama film ini?" cecar Widya.
"Ya, aku yakin Laura itu bisa berakting bagus di film ini! Dibanding Renita, Laura punya segalanya. Bahkan nggak mungkin film ini akan laris apabila diperankan oleh Laura!" Guntur berargumen.
Widya menghela napas sambil menggut-manggut. Sebenarnya ia penasaran dengan kehidupan pribadi Guntur, karena pria ini sangat tertutup. Ia jarang menceritakan kehidupan pribadinya pada orang lain. Widya juga tak pernah melihat Guntur bersama wanita. Bahkan teman pria pun, Guntur hampir tak punya. Ia suka menyendiri dan kelihatan aneh.
Pernah suatu kali Widya menanyakan hal ini pada Guntur, mengapa ia suka menyendiri, tidak suka bergabung dengan yang lain.
"Aku seorang penulis naskah film, Wid. Butuh ketenangan. Jadi obrolan-obrolan yang tak berguna kulewati begitu saja. Jadi kalau aku sendirian, itu artinya aku sedang konsentrasi," jawab Guntur waktu itu.
Siang itu, Guntur terlihat lelah, karena seharian mengurusi pekerjaan yang sebenarnya bukan pekerjaannya. Ia duduk termenung sambil memikirkan sesuatu, membuat Widya ingin tahu lebih dalam tentang pria ini.
"Aku mau makan siang di luar. Kamu mau ikut nggak? Kutraktir!" ucap Guntur.
Widya menggeleng, menolak ajakan Guntur. Bukannya ia tidak mau, tetapi memang ada yang sedang dikerjakan di kantor. ia lebih memilih memesan makanan melalui jasa pengantaran. Lagipula, Widya agak pemilih dalam hal makanan sehingga tak heran badannya agak kurus.
Pada dasarnya, Widya adalah seorang vegetarian, tetapi kadang ia makan daging juga untuk menghormati orang lain. Ia melihat Guntur pergi keluar tergesa untuk makan siang, sementara Widya merapikan peralatan kosmetiknya. Diam-diam, ia ingin menyelidiki siapa sebenarnya Guntur ini. Saat Guntur sudah benar-benar pergi, ia menyelinap ke ruang kerja Guntur, untuk memeriksa rahasia apa yang mungkin disembunyikan pria itu.
Widya memasuki ruangan Guntur yang agak gelap. Entah mengapa ia merasakan aura tidak nyaman setiap memasuki ruang kerja Guntur ini. Ia melihat beberapa tumpukan buku di atas meja, tak ada yang aneh. Sementara, di rak buku terdapat buku-buku tebal yang berisi banyak pengetahuan seputar film. dan juga kliping guntingan-guntingan koran di pajang di dinding. Widya sama sekali tak mau menyentuh itu.
Ia membuka laci meja Guntur, tak ada yang aneh pula di situ. Padahal, beberapa hari lalu ia menemukan borgol di laci. Namun, tiba-tiba matanya tertarik dengan sebuah buku tebal bersampul biru. Buku ini mirip sebuah catatan harian. Ia buka perlahan mulai dari halaman pertama. Foto Guntur tertempel di sana.Widya merasa sedikit cemas, karena membuka buku yang sama sekali bukan urusannya.
"Maafkan aku, Gun!" gumamnya.
Buku itu berisi tulisan-tulisan harian biasa, sehingga Widya langsung membuka agak cepat. Namun di pertengahan buku, ia tertarik pada sebuah foto masa kecil Guntur. Foto hitam putih itu memperlihatkan Guntur sedang berdiri bersama seorang gadis kecil. Widya mengenyitkan dahi, siapa gadis kecil ini? Apakah adik Guntur?
"Apa yang kamu lakukan di sini, Wid!"
***