Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
238. Mengawasi Renita


Niken berjalan menyusuri trotoar yang menghubungkan dengan sebuah tempat yang agak sepi, ditumbuhi banyak pepohonan. Untuk lokasi syuting outdoor, tempat ini memang sangat cocok, karena banyak pemandangan bagus dari tempat ini. Lokasi yang dituju berada agak menanjak, sehingga apabila melihat ke sisi bawah akan terlihat pemandangan sebagian wilayah kota. Dari trotoar itu ada sebuah tangga kecil yang menuju ke bawah, tempat syuting dilaksanakan. Apabila dilihat dari jalan raya, maka tak terlihat.


Di sekitar tempat itu terdapat tempat parkir mobil, sehinga mobil tidak berderet di sepanjang sisi jalan. Niken mememarkir kendaraannya di sekitar tempat itu, kemudian menuruni tangga menuju tempat syuting. Sesuai informasi yang didapat dari Widya, Renita melaksanakan syuting di tempat ini.


Niken tiba di sebuah tempat lapang yang berumput. Di tempat itu sudah ada beberapa kru film dan artis yang sudah siap melaksanakan syuting. Sementara sang sutradara sudah duduk di bawah payung sambil meneriakkan instruksi yang harus dilaksanakan. Niken mengamati foto Renita yang dibawanya, kemudian melayangkan pandangan sekeliling, mencari keberadaan aktris itu.


Di antara kerumunan kru, ia melihat Renita sedang berbaur dengan artis lain untuk pengambilan gambar. Tentunya ini bukan saat yang tepat untuk melakukan wawancara dengan Renita. Niken memilih menunggu dari tempat agak jauh agar keberadaannya tidak terlalu kentara. Ia bosan menjawab pertanyaan mengapa ia berada di tempat itu. Lebih baik ia menunggu sejenak sampai Renita benar-benar siap diwawancara.


Sambil menunggu, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat sejenak, dan mendapati nama Dimas sedang menelepon. Tadi malam ia tidak sempat bertemu dengan Dimas karena polisi itu sedang ada tugas yang harus ia selesaikan. Segera ia angkat panggilan dari Dimas itu.


"Niken, kamu di mana?" tanya Dimas.


"Hei Dim, sori tadi malam aku tak bisa ketemu. Aku lagi menemui Renita. Tapi dia sedang syuting jadi aku di sini nungguin dia," kata Niken.


"Kamu lagi ada di studio film?" tanya Dimas lagi.


"Oh,nggak. Kebetulan hari ini jadwalnya adalah pengambilan gambar di ruang terbuka. Jadi sekarang aku lagi nungguin di bawah pohon. Nggak tau sampai kapan selesai syutingnya," kata Niken.


"Semua aman aja kan di situ?"


"Semua aman. Tenang aja. Cuaca juga cerah, tapi nggak panas banget. Jadi aku bisa menikmati suasana di sini. Nggak ada yang mencurigakan di sekitar tempat ini. Eh, kamu lagi di dalam mobil?" tanya Niken lagi.


"Iya aku lagi ada di dalam mobil bersama Reno," kata Dimas.


"Baiklah, selamat bertugas. Kalian tak perlu mencemaskanku. Aku pasti bisa mengatasi ini," ucap Niken.


Pembicaraan itu terputus. Niken kembali fokus melihat jalannya syuting. Masing-masing orang di sana tampak serius mengikuti jalannya syuting. Ia tak melihat ada keganjilan di sekitar tempat itu. Semuanya berjalan normal, tak ada yang aneh dan mencurigakan.


"Break lima menit!"


Terdengar sayup-sayup teriakan sang sutradara. Para kru menghentikan aktivitasnya sementara. Dari kejauhan, Niken mengamati Renita yang tampangnya sedang kesal. Mungkin dia sedang ada dalam masalah atau seperti apa, Niken tidak tahu. Hal yang tak diduga, tiba-tiba Renita berjalan menjauhi tempat syuting sambil melangkah tergesa. Terlihat beberapa kru sedang menenangkannya. Aktris itu seperti marah dan kecewa.


Niken ingin mendekat ke sana, tetapi sepertinya waktu break yang singkat itu membuatnya menahan diri. Ia memilih mengamati jalannya syuting dari kejauhan, dan bergerak ke sana apabila waktu sudah tepat.


***


Reno menyetir mobil dengan sambil mengikuti alunan musik yang diputar dari pemutar musik di mobil. Kepalanya terangguk-angguk, sambil melihat suasana kota yang tak seberapa padat pagi itu. Aktivitas masyarakat kota berjalan normal, seoolah tak terpengaruh dengan berita-berita pembunuhan yang terjadi belakangan ini. Mungkin mereka sudah kebal dan bosan dengan berita-berita semacam itu, sehingga memilih untuk menutup telinga rapat-rapat.


"Jadi kemana kita akan pergi hari ini?" tanya Dimas yang duduk di sampingnya.


"Entahlah. Aku hanya ingin menikmati kota pagi ini dan berpikir tentang apa yang harus kita lakukan," jawab Reno.


"Mengapa aku mengkhawatirkan Niken ya?" ucap Dimas.


"Hmm, jangan-jangan ...."


"Jangan-jangan apa?"


"Kau mulai menyukainya?" tanya Reno sambil memalingkan muka ke arah Dimas.


Dimas tertawa mendengar itu sambil menggeleng.


"Tidak secepat itu, Ren. Ya, harus kuakui dia memang perempuan yang menarik, tetapi untuk menyukai seseorang, tidak bisa secepat itu. Aku tahu karakter Niken. Ia sedikit terlalu percaya diri, sama seperti Gilda. Wanita-wanita seperti itu mirip sebuah tantangan yang harus ditaklukkan kan? Posisinya selalu lebih dominan dan memegang kendali," kata Dimas.


"Hato-hati dengannya, Dim!"


Kini ganti Reno yang tertawa. Ia melajukan mobil dalam kecepatan sedang menuju ke arah yang sepertinya belum pernah disinggahi, sehingga membuat Dimas sedikit heran.


"Kita akan kemana?"


"Rumah?" Dimas semakin bingung.


Reno membelokkan mobil ke sebuah halaman rumah di kawasan perumahan elit yang terlihat sepi. Dimas tak pernah tahu ini rumah siapa. Reno bahkan tak memberitahu dirinya tentang keberadaan rumah itu. Ia hanya mengikuti langkah Reno manuju teras rumah, sembari melayangkan pandangan berkeliling.


"Ini rumah siapa?" tanya Dimas.


"Menurutmu siapa? Kita akan periksa kemungkinan yang akan terjadi di rumah ini. Kita harus bergerak lebih cepat daripada sang pembunuh, serta kita harus bisa berpikir seolah-olah kita ini pembunuhnya. Pembunuh itu adalah manusia biasa,sama seperti kita. Dia bukan pembunuh seperti film horror atau novel karya Michael Smith, yang selalu memang di akhir episode. Aku benar-benar akan membekuknya sebelum jatuh korban baru," papar Reno.


"Oke ... oke aku setuju. Jadi apa yang harus kita lakukan itu mencegah korban baru?"


"Kurasa langkah kita sudah tepat. Kita kemarin bergerak cepat sehingga Ollan berhasil kita selamatkan, dan saat ini Niken harus melindungi Renita. Kita akan bantu itu. Tak boleh ada lagi korban jatuh setelah ini," ucap Reno.


"Aku ikut alurmu saja, Ren! Kita akan biarkan Niken bekerja dengan caranya, dan kita akan bekerja dengan cara kita sendiri!"


***


Riky berjalan tergesa turun dari mobil, di sebuah tempat parkir studio film lain yang terletak di sisi kota berbeda. gedung studio film ini jauh lebih besar daripada milik Daniel Prawira. Sayangnya kondisinya sedikit tak terurus. karena memang jarang film diproduksi di studio film ini karena membutuhkan biaya yang mahal. Hari ini, Riky mempunyai janji bertemu dengan seorang sutradara lain yang menawari kerja sama baru. Reputasi Riky sebagai asisten sutradara telah dikenal dengan baik, sehingga ia tak kesulitan dalam mencari pekerjaan.


Ia baru saja hendak melangkah masuk ketika langkahnya dicegah oleh seorang perempuan muda berpakaian seksi mendekati sambil memanggil namanya.


"Rik!"


Riky menoleh, memicingkan mata. Lamat-lamat ia mengembalikan ingatannya yang berserak beberapa tahun silam, Ia ingat perempuan ini adalah kawan SMA nya. Terakhir mereka bertemu di pemakaman Daniel, saat Melani hadir menemani Faishal Hadibrata.


"Melani?" jawab Riky.


"Masih ingat aku kan?" tanya Melani, teman SMA Riky.


"Ya, tentu aku ingat lah. Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Ada sesuau yang penting yang ingin kubicarakan denganmu. Kamu ada waktu?"


"Sebenarnya aku ada janji dengan seseorang jadi mungkin setelah aku menemui orang itu, kita bisa makan siang bareng dan bicarakan masalah penting itu. Bagaimana?"


"Oh, jadi nggak bisa sekarang ya?"


"Maaf, Mel. Sepertinya tidak bisa sekarang!"


Melani mengangguk-angguk. Parasnya terlihat kecewa, tetapi sejenak kemudian ia tampak tersenyum.


"Oke, Rik! Ini nomor ponselku, nanti kamu hubungi saja aku kalau sudah selesai dengan urusanmu. Tetapi aku tidak mau makan siang bersamamu," ucap Melani sambil menyerahkan selembar kertas berisi nomor telepon Melani.


"Jadi ... apa yang kamu inginkan?"


Riky menerima kertas itu, menatapnya sekilas dengan bingung. Ia memang hampir tidak pernah berkomunikasi dengan gadis itu, sehingga wajar lah kalau ia merasa semua ini agak janggal.


"Aku yang menentukan tempatnya di mana kita akan bertemu!"


Riky mengernyitkan dahi, karena sebenarnya ini makin aneh. Ya, memang kenal Melani, tetapi tidak terlalu akrab juga. Ia pernah mengagumi gadis cantik itu, tetapi segera sadar diri bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Melani adalan seorang gadis kelas atas yang cinta akan kemewahan. Riky tak memberikan itu, jadi ia memutuskan untuk mundur teratur sebelum ia didepak.


"Jadi di tempat mana kita akan bertemu nanti?" selidik Riky.


"Aku akan mengabarimu via telepon!"


***