Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
292. Membongkar Fakta


Setelah dirasa cukup mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan, Dimas segera memacu mobilnya menuju rumah isolasi. Dari beberapa bukti yang ia bawa, pelaku pembunuhan berantai yang selama ini terjadi sepertinya mengarah ke satu orang. Dimas tak sabar membongkar kasus ini. Namun, segala keputusan harus didiskusikan dengan Reno terlebih dahulu. Apalagi ada Ammar juga. Paling tidak, polisi senior itu bisa memberi pertimbangan.Yang jelas, kasus ini harus segera diungkap agar korban baru tak lagi jatuh.


Untunglah suasana pagi tidak begitu ramai, sehingga Dimas bisa memacu dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke rumah isolasi. Setelah sampai di lokasi, ia segera memarkir kendaraan di tepi jalan. Namun, matanya tertuju kepada seorang wanita muda yang berdiri di pinggir jalan. Parasnya tampak gelisah, seperti menunggu seseorang. Dimas jelas mengenalinya, tetapi sebenarnya ia malas untuk menyapa. Sayangnya ia tak punya pilihan lain.


"Gilda," gumam Dimas sambil keluar dari mobil.


Sebenarnya Dimas sedikit heran. Bukankah seharusnya saat ini Gilda berada di dalam sumur tua itu? Lalu mengapa ia bisa keluar dan berdiri di tepi jalan seperti ini? Ia masih teringat, bahwa ia lah yang menggiring Gilda malam itu ke dalam sumur tua, kemudian mendorong tubuhnya ke dalam sumur.


"Gilda, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dimas.


Gilda yang sedang berdiri di tepi jalan itu terkejut melihat kehadiran Dimas. Sebenarnya, ia sedang mencari tumpangan ke kota. karena Reno tak mengizinkan lagi ia berada di rumah isolasi. Ia sedang mencari-cari mobil atau apa pun yang mengarah ke kota. Kehadiran Dimas benar-benar di luar ekspektasinya. Rasa kesalnya tiba-tiba muncul, karena ia masih ingat raut wajah Dimas, saat polisi itu mendorongnya ke sumur tua.


"Dimas ... aku nggak nyangka kamu akan datang rumah isolasi sepagi ini," ucap Gilda tak acuh.


"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan, Gilda. Kau hendak kemana? Bukankah seharusnya kau .... "


"Seharusnya aku berada di dalam lubang jahanam itu kan? Aku nggak nyangka, Dim. Kamu bisa berbuat setega itu padaku. Bisa-bisanya kau dorong aku ke dalam lubang dan membiarkan aku sendiri melewati malam di dalam lubang. Bagaimana kalau ternyata di dalam lubang itu ada binatang berbahaya? Kamu mau bunuh aku? Untunglah ada saja yang menolong orang baik seperti aku!" cecar Gilda.


Dimas hanya menghela napas. Seperti biasa, Gilda bersikap seperti ini. Ia sangat hapal perilaku wanita muda ini, jadi percuma saja ditanggapi. Ia tak tertarik untuk beradu argumen. Ada urusan yang lebih penting yang harus ia selesaikan, daripada harus mengurusi seorang Gilda. Ia menduga, Gilda sedang mencari tumpangan ke kota. Namun, Dimas tak mau menanyakan, takut urusannya tambah rumit. Ia tinggalkan saja wanita muda itu berjuang sendirian di pinggir jalan.


"Semoga sukses, Gilda!" pesan Dimas sambil melambaikan tangan.


Gilda merasa gusar karean keluhannya tak ditanggapi. Namun, ia juga tak berani protes kepada polisi yang pernah mengisi hatinya itu. Ia hanya bisa mengeluh dalam hati, sambil melihat kepergian Dimas yang begitu tergesa menuju rumah isolasi.


***


Reno sedang mengobrol di teras depan, sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Dua cangkir teh juga disajikan di atas meja, menemani obrolan itu. Mereka berdiskusi tentang siapa sebenarnya yang menjadi dalang pembunuhan para artis. Tiga nama sudah diajukan oleh Ammar berdasarkan gerak-gerik dan raut muka mereka. Tentunya, Ammar mengambil tiga nama itu tanpa dasar. Ammar mencatat, bahwa tiga nama yang telah ditandai itu mempunyai perilaku yang cukup aneh.


"Kalau aku melihat urutan tiga nama ini, memang kurasa si pembunuh itu ada di dalam satu dari tiga nama ini. Setiap kamu menyampaikan aturan, atau fakta terbaru, sosok ini menunjukkan kecemasan yang ia simpan dalam hati, tetapi bahasa tubuh tentu tak bisa berdusta, walau mereka berusaha terlihat tenang," ucap Ammar.


"Dimas mengirimkan pesan padaku bahwa ia menemukan fakta-fakta baru yang penting. nanti kita akan cocokkan dengan data-data itu apakah ada kaitannya. Ini penting, karena kita membutuhkan data yang lebih akurat. Terutama kita akan analisis kasus per kasus. karena semua ini ada korelasinya," kata Reno.


Dari arah halaman depan, Dimas berjalan menuju teras menghampiri kedua polisi yang sedang berdiskusi ini. Kehadiran Dimas yang memang sudah dinanti, tentu saja segera disambut dengan antusias oleh Reno. Mereka segera mendiskusikan kasus ini secara lebih mendetail, tanpa menunggu waktu lebih lama. Mereka mencari tempat yang lebih kondusif, yakni ruang baca.


Sementara, penghuni rumah isolasi yang lain tengah sibuk memindahkan barang-barang ke kamar yang disepakati. Walau dengan sedikit menggerutu karena tidak puas, toh mereka tetap melaksanakan keputusan dari Reno tersebut. Pak Paiman dan Bu Mariyati mondar-mandir, membantu segala keperluan yang mereka butuhkan.


"Sosok yang kita cari itu adalah alumni dari sebuah rumah sakit jiwa. Dia memang tidak gila, tetapi ia mempunyai kepribadian yang mengerikan. Ia bisa melukai siapa saja yang dianggap merebut haknya. Bukan hanya melukai, tetapi tak segan-segan membunuh. Ia sudah dinyatakan normal oleh dokter, dan ia dijamin oleh seorang sahabat dekatnya," terang Dimas.


"Nah, berarti sudah ada titik terang dari kasus ini. Aku sudah bisa menemukan keterkaitan antar kasus pembunuhan ini. Nama dia memang ada di salah satu daftar dari 3 orang yang kusebutkan tadi. Ya, dia memang terlihat paling tenang, bahkan nyaris tak terlihat kalau dia seorang pembunuh. Tapi bagaimanapun juga, aku dapat menilai kalau dia seorang pembunuh berdarah dingin," tambah Ammar.


Reno mengernyitkan dahi. Ia sedang mengamati foto yang diberikan Dimas, foto tentang dua orang yang berfoto bersama saat masih muda. Foto itu memang agak buram, tetapi wajah kedua orang itu mudah dikenal.


"Ya, aku memang melihat keterkaitan dari masing-masing kasus pembunuhna yang terjadi. Tapi ada satu kasus yang mungkin tidak terkait, yaitu Faishal dan Melani," gumam Reno.


"Melani terbunuh karena ia pacar Faishal. Sebenarnya Faishal hendak dibunuh juga, tetapi kau keburu datang ke villa, sehingga pembunuh itu tak sempat beraksi. Aku menanyai beberapa teman Faishal, bahwa Faishal dan si pelaku ini pernah terlibat beberapa masalah, seperti cekcok dan sebagainya. Hanya saja kebanyakan mereka tak menduga akan berakhir seburuk ini. Ingat, si pelaku ini menderita semacam depresi akut, tetapi tidak gila. Ia melakukan pembunuhan secara sadar dan normal, jadi ia bisa kita jerat dengan hukum. Aku sudah menanyai pula Niken tentang deskripsi dari si pembunuh ini, ternyata memang sangat sesuai dengan dugaanku. Kalau kau masih ragu, kita tinggal menunggu keterangan dari Widya, siapa yang masuk ke dalam kamarnya dan membawakan dia air mineral berisi obat bius itu," ucap Dimas.


"Ada satu lagi bukti yang sedang kutunggu pula, yakni data dari toko online tempat menjual obat-obat bius yang banyak beredar. Tak banyak toko seperti itu, dan pihak mereka berjanji akan segera memberikan data pada kita identitas si pembeli," tambah Reno.


"Jadi apa lagi yang kita tunggu? Aku yakin, setelah ini si pelaku akan mengincar semua penghuni rumah isolasi, karena hampir semua bermasalah dengan dia. Walaupun aku sadar, yang bermasalah sebenarnya adalah dia sendiri, yang merasa insecure dengan orang-orang di sekitarnya. Mari segera kita ringkus pembunuh itu, jangan sampai korban baru jatuh. Malam ini juga kita harus kumpulkan semua penghuni untuk membeberkan fakta-fakta yang kita kumpulkan," saran Dimas.


"Aku setuju dengan Dimas. Kita tak boleh menunggu besok, karena malam masih sangat panjang, dan pembunuh itu bisa saja membunuh teman sekamarnya di saat kita lengah. Ingat, dia bisa melewati dua polisi tanpa kesulitan berarti. Itu berarti yang kita hadapi ini bukan sembarang pembunuh. Otaknya sudah dijejali bagaimana cara melukai orang lain dengan terstruktur. Kita harus waspada itu!" tambah Ammar.


Reno manggut-manggut mendengar saran kedua rekannya itu. Ia mondar-mandir sambil memegang janggutnya. Ya, ia harus cepat membuat keputusan, jangan sampai ada korban baru jatuh.


"Aku sudah memulangkan Ollan dan Gilda, jadi kurasa tugasku akan bertambah ringan. Oke, anti akan ungkap selepas makan malam. Jangan sampai diskusi kita ini bocor, sehingga si pelaku sudah antisipasi dan bertindak nekat duluan!" kata Reno.


Kedua rekannya segera menyetujui, bahwa selepas makan malam akan diadakan pertemuan seluruh penghuni  rumah isolasi.


***