Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
125. Karung Berlumur Darah


Mobil Reno dan Dimas berhenti di tepi trotoar, di depan bangunan besar yang berjajar satu kilometer sepanjang jalan. Bangunan itu berjarak lebih kurang seratus meter dari jalan raya, menjorok ke dalam menuju sebuah kompleks pergudangan yang luas. Saking luasnya, bahkan dilengkapi dengan jalan raya sendiri, dan lampu-lampu penerang yang menyala redup. Sementara di sisi lain, terdapat tumpukan peti kemas yang menjulang hingga beberapa tingkat. Kompleks pergudangan ini berisi aneka barang dari pelabuhan, ditimbun sebelum didistribusikan.


Di antara deretan gudang-gudang itu, ada beberapa di antaranya yang kosong dan terbengkalai. Karena kosong, tempat itu sangat tepat untuk dijadikan tempat persembunyian, karena lokasinya yang dekat hutan dan agak jauh dari pusat kota.


“Dari mana kita mulai?” tanya Dimas.


Ia merasa sangsi harus menyisir dari mana, karena saking luasnya kompleks pergudangan itu. Di area parkir juga terlihat puluhan mobil diparkir. Beberapa di antaranya berwarna putih, sehingga semakin menyulitkan penyelidikan.


“Aku juga tidak tahu. Ini benar-benar membuatku buntu. Pembunuh itu bisa saja berada di tempat lain. Ini benar-benar seperti mencari kutu dalam jerami. Kurasa sebaiknya kita kembali ke kantor saja.”


Reno terlihat putus asa, sambil mengembuskan napas.


“Jadi kita pasrah dan siap menerima berita buruk besok, dan menerima kenyataan bahwa gadis yang kita cari sudah ditemukan tewas di tepian sungai, seperti isi pesan yang kamu terima?” ucap Dimas.


“Aku sudah meminta bantuan beberapa unit lain untuk bersiaga di sepanjang tepian sungai kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Kurasa si pembunuh tidak akan gegabah begitu saja.”


Tiba-tiba, mata Reno menangkap sebuah bayangan hitam di kejauhan, di dekat rimbunan pohon. Sosok hitam itu tampak mengendap sambil melihat situasi sekitar. Lokasinya tepat di dekat kompleks gudang yang terbengkalai dan kosong. Biasanya gudang yang masih dipakai akan dijaga oleh satpam, tetapi kompleks gudang kosong dibiarkan tak terawat begitu saja.


“Dim! Coba kamu lihat sosok hitam itu!” bisik Reno.


“Iya, aku juga lihat. Mau apa dia malam-malam begini? Tingkah lakunya mencurigakan,” ucap Dimas.


“Mari kita samperin dia! Siapkan pistolmu!”


Reno keluar dari mobil dengan perlahan, diikuti dengan Dimas. Mereka mengendap menuju ke arah sosok hitam yang terlihat aneh di dekat pepohonan. Mereka melangkah hati-hati sambil terus mengintai agar buruan tidak lolos. Sayangnya, ketika mereka sampai di lokasi, sosok yang mereka intai sudah tak terlihat.


“Kemana dia pergi?” tanya Dimas.


“Pasti di sekitar sini! Ayo kita cari! Tetap waspada!” perintah Reno.


***


Braak!


Klik!


Sosok berbaju hitam itu menutup pintu gudang, sembari menguncinya.


“Sial! Seperti dugaanku, kedua polisi itu akhirnya mengendus keberadaanku. Jangan menimbulkan suara apa pun! Karena mereka sedang menyisir sekitar tempat ini. Kalau mereka menemukanmu, maka terpaksa aku akan membunuhmu sekarang juga!” ancam sosok itu.


Nayya hanya menatap sosok itu dengan tatapan marah dan kesal. Sebenarnya ia ingin berteriak keras-keras agar orang tahu keberadaannya. Sayangnya dengan kondisi mulut disumpal seperti ini tentu sangat sulit. Jangankan berbicara, untuk bernapas pun juga agak sulit.


“Besok pagi-pagi sebelum matahari terbit, kita harus meninggalkan tempat ini, karena aku tidak mau ada seorang pun melihat pergerakan kita. Rencananya malam ini aku akan keluar lagi untuk berburu anjing. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Kuharap polisi-polisi itu segera menyingkir dari tempat ini!”


“Setelah itu, aku akan bawa kamu pergi ke suatu tempat yang mungkin nggak diduga oleh siapa pun. Aku belum memutuskan apakah sebaiknya aku menghabisimu atau membiarkan kamu hidup. Sekalipun aku membiarkan kamu hidup, aku pastikan kamu akan bungkam selamanya. Atau bisa jadi aku potong lidahmu!”


Nayya bergidik. Entah makhluk sadis macam apa yang ia hadapi saat ini. Ia hanya ingin bebas. terbayang wajah ayah dan ibunya yang sedang menunggu di rumah. Pasti mereka cemas karen menunggu dirinya yang tak kunjung pulang. Ia mendengar ponselnya berdering dari tadi, tetap sengaja dimatikan oleh sosok itu. Kini ia tak mendengar dering ponsel itu lagi.


“Aku mengerti apa yang kamu pikirkan, Nay. Aku pun pernah merasakan ketakutan dan sendirian. Tapi aku bisa melewati itu. Kalian, adalah gadis-gadis populer yang mengandalkan kemolekan tubuh, tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Kini, semua yang kalian banggakan itu akan segera berakhir!”


Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki dan orang yang bercakap-cakap dari luar gedung. Sosok itu memicingkan mata, sembari mengisyaratkan agar Nayya tak bersuara. Ia masih bersikap waspada sampai suara itu benar-benar menghilang.


***


Pagi menyapa kota yang terlihat muram itu. Orang-orang sudah memulai aktivitasnya sejak dini hari tadi. Di bantaran sungai yang membelah kota, terdapat taman yang penuh bunga, dilengkapi dengan jogging-track yang nyaman, serta kursi-kursi taman yang menarik. Banyak warga kota yang memanfaatkan tempat itu untuk sekadar berjalan-jalan atau berolahraga.


Namun, beberapa orang yang sedang berolahraga di pinggir bantaran sungai dikejutkan dengan penemuan sebuah karung yang berlumuran darah. Mereka berkerumun sambil berbisik-bisik. Rupanya berita pembunuhan dua orang gadis yang terjadi sebelumnya, membuat mereka was-was, jangan-jangan karung ini berisi korban pembunuhan!


“Panggil polisi aja! Sepertinya ada yang tak beres dengan karung ini!” ucap seorang bapak berkacamata.


Segera salah seorang yang berkerumun itu menghubungi polisi dengan telepon genggam yang dibawanya.


***


Reno sedang tertidur di kursinya, karena ia kembali ke kantor menjelang dini hari. Ia memutuskan untuk tidur di kantor daripada harus pulang ke rumah. Sedangkan Dimas memilih untuk pulang ke rumah. Belum lagi rasa kantuknya hilang, pagi ini ia sudah dibangunkan karena penemuan di bantaran sungai oleh orang-orang yang kebetulan berolahraga di sana.


Sebenarnya ia malas untuk bangun , karena kepalanya masih berdenyut akibat kurang tidur. Ia menatap bayangan dirinya di kaca wastafel. Parasnya tampak lesu. Bagaimanapun, ia tidak boleh mengabaikan berita ini. Setelah mencuci muka, dengan ditemani beberapa personel polisi yang piket, ia melarikan mobil ke lokasi bantaran sungai tempat penemuan karung berlumuran darah itu.


Warga kota sudah berkerumun, tetapi tak berani mendekati karung yang terlihat berlumuran darah. Mereka penasaran dengan sesuatu yang mungkin berada dalam karung tersebut.


“Semuanya tolong mundur!”


Seorang personel polisi segera memberi perintah, sembari memasang garis polisi di tempat kejadian agar warga kota tak terlalu dekat. Reno melihat karung itu dengan perasaan gelisah. Akankah kekhawatirannya semalam berubah menjadi nyata?


Di antara deretan penonton, ia melirik ada sosok Gilda Anwar yang lagi-lagi selalu datang paling duluan. Reno membuang pandangan. Kini ia tidak peduli lagi. Ia kini fokus dengan dua orang anggota kepolisian yang sudah siap membuka isi karung mencurigakan tersebut.


“Pemirsa, seperti yang Anda lihat, kami sedang berada di lokasi penemuan karung misterius yang berlumuran darah. Karung ini ditemukan salah seorang warga yang sedang berolahraga tadi pagi. Saat ini polisi akan membuka apa yang sebenarnya berada di dalam karung itu. Mari kita ikuti siaran langsungnya!”


Gilda Anwar memulai siarannya, sementara Wandi mengambil gambar. Kemudian, Wandi mengalihkan kamera untuk menyorot ke arah karung yang akan dibuka oleh petugas kepolisian. Reno melihat detik-detik pembukaan karung dengan jantung berdetak hebat.


Tak lama kemudian, karung terbuka! Semua orang yang ada di situ menahan napas melihat isi karung tersebut!


***