
Aliran darah Melani seakan berhenti. Gelap pekat menyelimuti seluruh ruangan. Ia berusaha mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja, kemudian menyalakan senter dari ponsel. Perlahan, ia berusaha membangunkan Faishal dengan cara menggoyang-goyangkan badannya.
"Shal ... Shal, bangun dong! Lampunya mati nih!" bisik Melani lirih.
"Hmm .... "
Faishal hanya bergumam, sambil menggeliat, merebahkan badan ke samping kiri, membelakangi Melani. Wanita itu kembali mengguncang pundak Faishal dengan agak keras. Ia semakin takut. Sejak kecil, ia memang agak takut dengan kegelapan.
"Shal, bangun dong! Aku takut nih!" ucap Melani.
Setelah beberapa kali diguncang, akhirnya Faishal membuka mata. Ia terkejut mendapati ruangan sekitarnya gelap gulita, ia baru sadar kalau lampu di villa itu mati. Ia duduk dan menatap sekeliling yang gelap.
"Kok gelap banget?" kata Faishal.
"Kan udah kubilang lampunya mati. Nggak tau juga kenapa tiba-tiba begini. Tiba-tiba aja lampu mati. Mungkin diesel-nya bermasalah. Kamu tadi udah isi solar belum sih?" tanya Melani.
"Sudah kok! Masa mati sendiri?"
"Coba cek dong, Shal! Aku takut banget," ucap Melani.
Faishal menguap. Sebenarnya ia malas untuk mengecek kondisi diesel di luar. Kepalanya masih pusing karena dibangunkan secara paksa. Namun, ia tak boleh juga membiarkan villa dalam keadaan gelap seperti ini. Bagaimanapun ia adalah seorang pria, jadi sudah menjadi tanggung-jawabnya untuk melindungi wanita.
"Oke, aku akan lihat dulu ke belakang. Kamu berani kan di sini sendirian? Nanti kalau ada apa-apa teriak saja, atau kalau ada yang masuk kamar selain aku, jangan diizinkan. Pintu kuncinya ya. Aku mau cek diesel di belakang, mengapa kok tiba-tiba mati," ujar Faishal sambil bangkit dari tempat tidurnya.
"Shal, aku takut .... "
"Nggak usah takut. Nggak ada apa-apa kok. Aku juga nggak bakalan lama-lama. Kalau diesel-nya nggak dicek, maka sepanjang malam bakalan gelap. Kamu tenang aja ya!"
Faishal mengambil lampu senter dari tas perbekalannya. Ia memang sudah mengantisipasi hal ini, jadi ia selalu sedia senter. Sementara, paras Melani masih terlihat ketakutan. Ia hanya biasa diam tak berkata apa-apa. Faishal melangkah perlahan keluar dari kamar. Suasananya sangat gelap dan pekat, hampir tak bisa melihat apa-apa tanpa bantuan senter.
Diesel terletak di belakang dapur, harus melewati teras belakang dan gondola yang diapit tanaman-tanaman hias bersulur-sulur untuk menuju tempat diesel. Sebenarnya, Faishal agak merinding juga, karena suasana begitu sepi. Ia melangkah waspada menuju area belakang rumah.
Ia melangkah perlahan, sambil menyorotkan senter ke segala arah. Parasaan was-was menyeruak, sementara suara jangkrik mengerik dengan nyaring di sekitar villa. Kini ia berada di teras belakang. Suasana di tempat ini begitu menyeramkan. Agak ragu ia meneruskan langkah, tetapi ia mengumpulkan segenap nyalinya.
Sekonyong-konyong ia melihat sesosok bayangan berkelebat tak jauh di depannya. Bayangan itu begitu cepat menghilang di balik kegelapan malam.
"Astaga! Siapa itu?"
Spontan Faishal menghentikan langkah dan mengarahkan senter ke arah bayangan hitam yang berkelabat , tetapi begitu cepat bayangan itu menghilang, seolah tak terjadi apa-apa.
"Mungkin perasaanku saja," gumam Faishal.
ia melanjutkan langkah menuju diesel yang berada di sebuah ruangan kecil di belakang villa. Suasana villa saat mati lampu begini sungguh meyeramkan. Ia tak bisa melihat apa pun karena gelap.
Sementara di dalam kamar, Melani masih dalam keadaan cemas. Sesuai anjuran Faishal, ia mengunci pintu agar tak dimasuki orang lain. Ia menggunakan penerangan hanya menggunakan sorotan lampu ponsel. Melani naik ke atas ranjang, sembari mengambil selimut. ia duduk sambil memeluk lututnya, matanya tak lepas menatap arah pintu, khawatir pintu itu akan terbuka, dan bukan Faishal yang masuk.
"Semoga nggak ada apa-apa," gumam Melani.
Untuk mencegah segala kemungkinan terjadi, Melani menggenggam erat pisau kiecil yang biasanya dipakai untuk untuk mengupas buah.
Byaar!
Tiba-tiba lampu menyala. Melani menghela napas lega, karena kini kondisi kamar sudah terang. Ia Tiba-tiba terdengar suara yang hampir mengagetkannya. Suara pintu diketuk berulang-ulang. Apakah itu Faishal? Ia agak ragu untuk membuka.
Tok ... tok ... tok!
"Siapa?" tanya Melani.
Tak ada jawaban. Melani makin cemas.
Tok ... tok ... tok!
"Shal? Itu kamu kah?" tanya Melani.
***
Di kegelapan malam yang sunyi, dua perempuan terikat dalam rumah kosong duduk sambil bersandar di tembok. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam yang tertunda, setelah seharian kelaparan. Mereka menyerah, karena perut memang harus diisi. Setelah makan, tangan mereka kembali diikat, tetapi mulut mereka tak dibekap dengan plester lagi. Sosok misterius itu kembali meninggalkan Niken dan Rani dalam rumah megah kosong itu.
"Maafkan aku," ucap Niken dengan nada lemah.
"Maaf untuk apa?" tanya Rani.
"Aku ... aku terlambat untuk menyelematkan kakakmu. Harusnya aku datang lebih cepat, dan menyadari bahwa ada orang lain di dalam rumah. Aku sangat menyesal," ucap Niken.
Rani menggeleng. Parasnya berubah sedih. Masih tergambar di pelupuk matanya ketika sang kakak dihabisi di depan matanya. Walau saat itu ia memejamkan mata, masih terdengar suara jerit kesakitan kakaknya ketika meregang nyawa. Penyesalan juga tergambar dalam parasnya. Ia sempat mengabaikan peringatan polisi, dan menganggap
"Tolong jangan bahas itu lagi," lirih Rani.
"Maafkan aku, Rani. Kita harus bisa lepas dari ikatan ini. Kalau kita bisa kabur, semuanya akan dipermudah. Si pembunuh itu bisa kita tangkap segera," kata Niken.
Tampaknya ucapan Niken sama sekali tak membangkitkan semangat Rani. Ia hanya menggelengkan kepala dengan putus asa. Ia tidak yakin bisa keluar hidup-hidup dari rumah ini.
"Kamu menyerah?" tanya Niken.
"Percuma juga aku keluar dari tempat ini. Aku tak punya siapa-siapa. Si pembunuh itu sudah membunuh kakakku, jadi buat apa aku tetap bertahan? Harusnya dia membunuhku sekalian!" keluh Rani dengan pilu.
Niken menghela napas. Ia merasa prihatin dengan kondisi ini. Ia mlayangkan pandangan sekeliling, berpikir bagaimana caranya agar bisa lolos dari tempat ini.
"Rani ... "
Rani menoleh ke arah Niken dengan tatapan sayu. Semangat hidupnya telah luluh-lantak. Ia tak ada keinginan untuk tetap bertahan hidup.
"Kamu harus bantu aku! Setidaknya, biarkan aku menyelamatkan nyawa yang lain. Kalau aku tetap bertahan di sini, maka akan da korban lain yang jatuh. Maukah menolongku?" tanya Niken.
"Apa yang bisa dilakukan seorang gadis remaja yang terikat seperti ini? Menggerakan tanganku sendiri saja tak sanggup, bagaimana bisa aku menolongmu?" tanya Rani.
"Berusahalah melepas ikatan yang ada tanganku ini! "
"Tapi ... tapi bagaimana caranya? Untuk bergerak saja kita sulit, bagaimana mungkin kita bisa melepas itu?"
"Oke, oke. Biar aku saja yang melepas ikatanmu. Yang harus kamu lakukan cukup diam di situ, sementara aku akan menggerakan badanku kesitu. Bagaimana?"
"Terserah dirimu saja!" ucap Rani.
Perlahan. Niken menggerser posisi duduknya mendekati Rani. Tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan, karena posisi yang terikat. Susah-payah ia terus beringsut sedikit demi sedikit, tetapi kemudian ia berhenti karena lelah. Ia merasa jengkel dengan dirinya sendiri, karena tak bisa melakukan itu dengan cepat.
"Sial!" umpatnya.
"Sebaiknya kita istirahat dulu malam ini. Siapa tahu besok kamu punya rencana yang lebih baik," saran Rani.
Niken mengangguk-angguk. Ia menyetujui saran itu. Malam ini, seolah seluruh energinya terkuras gara-gara belenggu yang mengikat tubuhnya. Ia kembali mencari cara yang lebih cepat, sebab ia khawatir si pembunuh akan datang kembali esok hari.
"Bu ... " Rani berbisik lirih kepada Niken.
"Iya Rani, ada apa?"
"Maukah ibu menolongku?"
"Aku akan tolong kamu, Rani!"
"Bukan ... bukan! Maksudku bukan menolongku untuk lepas dari ikatan sialan ini. Jika aku tak selamat, mohon ibu menyampaikan kepada keluarga kami dengan hati-hati, dan katakan bahwa aku sangat menyayangi mereka," ucap Rani dengan sedih.
Niken merasa tersentuh medengar itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tetapi ia hanya bisa mengangguk sembari menatap kosong ke depan. Ia teringat akan neneknya yang sendirian di apartemen. Ia khawatir, kalau terlalu lama disekap, tak akan ada yang mengurusi sang nenek.
***