
Ryan membuka matanya perlahan, karena merasakan sinar matahari yang menyaput wajahnya. Rupanya ia tak sengaja tertidur di sebuah tempat beralaskan dedaunan di depan tenda darurat itu. Tubuhnya terasa sangat letih, tulang-tulang seakan lepas dari tubuhnya, dan otot juga terasa kaku. Ia segera duduk untuk memulihkan kesadaran. Di sekitar tempat itu tampak sepi, hanya terlihat sisa-sisa kayu yang dibakar masih mengepulkan asap. Di mana sosok asing yang membawanya ke sini? Ia tidak melihatnya lagi.
Di sampingnya telah tersedia air minum yang diisikan pada sebuah botol plastik bekas air minum mineral yang sudah penyok. Mungkin ditemukan begitu saja dari tempat sampah. Namun, ia tak peduli apakah air itu higienis atau tidak. Ia meneguk sedikit untuk menghilangkan rasa dahaga yang membuat kerongkongannya terasa kering. Selain air minum, ia juga melihat beberapa buah-buahan aneh dan daging yang baru saja dipanggang. Mungkin sosok itu sengaja menyiapkan makanan ini untuknya. Tapi kemana dia berada? Mengapa ia pergi meningalkannya?
Tak ada alasan untuk tidak memakan makanan itu, walau semua yang ada di matanya terlihat menjijikkan. Ia harus makan agar mempunyai energi, atau bahkan bertahan hidup, Ia mulai makan beberapa buah asing yang rasanya sangat masam. Lambungnya terasa menjerit saat buah itu mulai masuk. Ia hanya makan dua butir karena rasa perih mulai mencubit lambung. Warna buah itu biru kehitaman, bentuknya seperti buah anggur, tetapi lebih besar sedikit. Rasanya asam dan sepat. Ia juga makan daging yang sepertinya dipanggang secara asal-asalan tanpa bumbu. Rasanya hambar dan tentu saja berbeda dengan daging stik yang biasa ia makan di restoran. Namun, ia tak punya pilihan lain. Ia tidak mau mati kelaparan begitu saja.
Setelah di rasa cukup, ia berdiri mengitari tempat itu, mencari informasi apa saja yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk. Bagian hutan ini terlihat sunyi dan sepi, hanya ada suara burung-burung hutan di dahan-dahan pohon yang tinggi. Ryan tak pernah tahu tempat ini sebelumnya. Semua terlihat asing. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara air mengalir. Mungkin tempat ini dekat dengan sungai, sehingga memudahkan untuk mencari sumber air. Ryan berpikir, kalau ia mengikuti aliran sungai ini, mungkin ia akan sampai di air terjun. Namun, ia tak bisa memperkirakan jarak antara tenda dengan air terjun.
Ia merasa heran, sepertinya sosok itu tinggal di tempat ini selama beberapa lama. Ia melihat sisa-sisa tulang di bawah pohon besar. Ia bersyukur, karena tulang-tulang itu adalah tulang hewan, bukanlah tulang manusia seperti yang ia pikirkan. Ia masih terbayang dalam salah satu adegan film Wrong Turn yang pernah ia tonton, di mana beberapa psikopat pemangsa manusia tinggal di dalam hutan dan suka memburu manusia. Ia masih saja bergidik apabila teringat kejadian itu.
Rasa penasaran membuatnya memasuki tenda darurat yang terbuat dari ranting-ranting dan daun-daun. Tak ada yang istimewa di dalamnya, sepertinya tempat ini hanya digunakan untuk istirahat. Tiba-tiba. ia melihat sebuah kalung digeletakkan begitu saja di dalam tenda. Ryan mengambil kalung itu sambil mengernyitkan dahi. Ia seperti pernah melihatnya, tetapi lupa entah di mana dan kapan. Kalung itu bukanlah kalung emas, tetapi kalung imitasi dengan liontin berbentuk hati. Ryan terkejut, karena ternyata liontin itu dapat dibuka. Saat membuka liontin itu, ia lebih terkejut karena ia mengenal foto yang ada di dalam liontin tersebut.
***
Juned dan Jeremy telah berhasil menemukan terowongan bawah kastil yang menghubungkan dengan kawasan hutan. Mereka terus menyusur terowongan. menuju ke arah cahaya terang yang berasal dari ujung terowongan. Dari arah cahaya itu mereka dapat merasakan aliran udara yang cukup segar. Setelah berjalan beberapa saat, sampai juga mereka di ujung terwongan. Untuk sejenak, mereka berhenti di depan gerbang yang berbentuk seperti jeruji penjara itu. Jeremy melihat ke arah hutan dengan takjub, sama sekali tidak menyangka kalau di bawah kastil ada sebuah terowongan rahasia yang terhubung dengan hutan.
"Pantas aja ya," gumam Jeremy.
"Pantas kenapa?" tanya Juned.
"Pembunuh itu dapat leluasa pergi ke hutan dengan aman, lalu balik ke kastil tanpa sepengetahuan yang lain. Semoga kita mendapat petunjuk penting di sekitar sini," ucap Jeremy.
Mereka berdua segera keluar, langsung melangkah menuju hutan yang cukup sunyi. Sambil berjalan, mereka terus mengawasi sekeliling. Pohon-pohon yang tumbuh cukup tinggi dan rapat. Mereka belum pernah melewati kawasan ini sebelumnya, tetapi mereka yakin bahwa kalau mereka berjalan terus, maka akan berujung pada air terjun.
"Jer ...."
Tiba-tiba Juned mengendus-endus seperti mencium bau sesuatu. Jeremy juga melakukan hal yang sama. Mereka menghentikan langkah segera, sembari bersikap waspada. Rupanya mereka mencium bau yang teramat busuk, bahkan membuat mereka mual. Bau busuk itu menusuk cukup kuat indra penciuman mereka.
"Bau apa ini? Seperti bangkai," ucap Jeremy.
"Iya, aku mencium bau yang sama. Mari kita periksa sekitar area ini. Firasatku nggak enak. Jangan-jangan orang-orang yang kita cari ini sudah mati," kata Juned.
"Jangan ngomong sembarangan! Aku yakin Stella masih hidup. Aku kenal dia. Pasti dia nggak mati begitu saja," potong Jeremy.
Mereka segera mencari-cari sumber bau yang menyengat tersebut. Mereka berpencar, agar pencarian lebih efektif. Juned mencari-cari di sekitar semak dan di balik bebatuan yang ada di sekitar situ, karena bau yang ada kian menyengat dari tempatnya berdiri. Sedangkan Jeremy bergerak lebih ke depan, menerobos ilalang yang banyak tumbuh di sekitar.
Beberapa saat kemudian, Juned mendengar teriakan Jeremy tak jauh dari tempatnya berdiri. Juned langsung berbuat sigap, mencari keberadaan Jeremy. Ia segera mengambil pistol dalam rompinya, dan memeriksa sekitar. Kejadian buruk bisa terjadi tak terduga. Bagaimanapun ia harus bertanggungjawab dengan keselamatan Jeremy.
"Ada apa ... ada apa, Jer? Apa yang kamu temukan?" tanya Juned.
"Aku ... aku melihat polisi wanita itu terikat di sebuah pohon, tak bergerak. Mungkin sudah mati. "
"Astaga!"
Pikiran Juned langsung tertuju kepada Niken. Siapa lagi kalau bukan dia? Kedua pria itu segera berlari ke tempat Jeremy menemukan sosok perempuan yang terikat pada sebuah pohon besar. Memang, wanita tak bergerak, dengan kepala terkulai menghadap ke bawah itu adalah Niken. Juned segera bertindak sigap. ia memeriksa denyut nadi yang ada di leher Niken. Juned menempelkan jarinya di sana.
"Masih hidup," gumam Juned.
Jeremy segera membuka ikatan yang membelenggu tubuh Niken. Walau masih hidup, wanita itu sudah kehilangan energi dan tenaganya. Ia lemas dan nyaris tak bisa berdiri. Mereka meletakkaan begitu saja tubuh Niken di atas tanah.
"Kita harus bawa segera ke kastil. Dia masih hidup dan membutuhkan pertolongan segera!" ucap Juned.
"Tapi .... "
"Kita abaikan dulu pencarian Ryan. Misi utama kita adalah menemukan Niken. Nyawa wanita ini dalam bahaya dan ada di tangan kita. Kalau kita terlambat, dia bisa mati. Kita kembali dulu saja ke kastil. Aku akan gendong dia di belakang karena dia nggak mungkin bisa berjalan. Kamu lindungi aku kalau ada apa-apa," ucap Juned sambil melemparkan pistol kepada Jeremy.
"Tapi aku .... " Jeremy menangkap pistol dari Juned.
"Sudahlah jangan banyak membantah! Kita harus cepat!"
Juned segera mengangkat tubuh Niken dengan dibantu oleh Jeremy. Ia meletakkan tubuh Niken dipunggungnya sedemikian rupa, agar mudah digendong. Sebenarnya Jeremy merasa agak keberatan, karena misi pribadinya untuk menemukan Stella belum terpenuhi.
"Juned ... tunggu sebentar!" ucap Jeremy.
"Kau mau ke mana?" tanya Juned.
Sayup-sayup Jeremy mendengar suara dengungan lalat yang beterbangan di sekitar tempat itu. Bau bangkai yang tercium juga semakin menguat. Jeremy meninggalkan Juned sejenak, mencari sumber lokasi lalat yang beterbangan. Sepertinya, memang tak jauh dari situ. Ia melangkah sambil menutup hidung, karena aroma busuk makin menusuk. Ia curiga ketika melihat lalat semakin banyak beterbangan berasal dari balik sebuah semak yang cukup rimbun. Mendadak jantungnya berdegup makin kencang. Perlahan ia sibak semak itu, untuk melihat apa yang tersembunyi di baliknya.
"Uuugh!"
Perut Jeremy mual seketika melihat pemandangan menggidikan di depan matanya!
***