Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
293. Dua Batang Cokelat


Setelah Reno mengumumkan perpindahan kamar bagi sebagian penghuni rumah isolasi, kesibukan terlihat di beberapa kamar. Pak Paiman tengah merubah tata letak kamar, agar bisa ditempati berdua. Ia menambahkan sebuah ranjang tambahan di dua kamar yang rencananya akan ditempati. Guntur sepakat dengan Riky, bahwa yang akan pindah adalah Guntur. Perpindahan itu tak banyak masalah, karena mereka cukup lama berteman, sehingga tak ada banyak drama dalam prosesnya. Bahkan, mereka terlihat saling membantu dan bercanda.


Namun, hal berbeda mewarnai perpindahan Laura ke kamar Rianti. Laura harus mengemasi barang-barangnya karena Rianti tak mau pindah ke kamar Laura. Bagaimanapun, ia tetap bertahan dalam kamar yang sudah ditempatinya. Laura mencari aman. Ia tak mau banyak berdebat, sehingga ia menuruti saja apa yang kemauan Rianti. Lagipula, ia sama sekali tak merasa bersalah dalam keretakan hubungan Rianti-Henry. Ia merasa tak pernah merebut siapa pun.


Laura sedang memasukkan alat-alat kosmetik di meja rias, ketika Bu Mariyati masuk untuk mengganti seprai dan sarung bantal. Ia memperhatikan Laura yang sedang mebereskan barang-barang kecilnya.


"Jadi Neng Laura yang akan pindah?" tanya Bu Mariyati.


Laura mengangguk sambil tersenyum kecil. Setelah semua beres, ia sudah siap pindah dengan tas dan beberapa barang kecil lainnya.


"Dahulu kamar ini ditempati oleh mahasiswa cantik dan baik hati, seperti Neng Laura," ucap Bu Mariyati.


"Oya, Bu. Siapa yang dulu menempati kamar ini?" tanya Laura.


"Namanya Neng Adinda. Dia dulu di isolasi di kamar ini pada kasus sebelumnya," jawab Bu Mariyati sambil mengganti sarung bantal.


Laura hanya mengangguk. Ia sudah siap untuk meninggalkan kamarnya untuk menuju kamar Rianti. Sebenarnya ada perasaan enggan untuk pindah ke sana, tetapi ia berusaha untuk lebih tenang. Ia berdiri di depan kamar Rianti, kemudian mengetuk pintu.


Tok ... tok ...tok!


Tak perlu menunggu lama, pintu kamar Rianti terbuka. Tentu saja, seperti yang ia duga sebelumnya, sambutan dari Rianti terlihat kurang bersahabat. Wanita itu tak berkata sepatah kata pun, hanya duduk di tepi ranjang sambil menunjukkan paras tidak senang. Laura merasa sedikit tidak enak. Ia melihat ranjangnya berdampingan dengan ranjang Rianti. Namun, hanya ada satu meja rias dan lemari. Mau tidak mau, mereka harus berbagi menggunakan itu.


"Maaf Mbak. Semua ini bukan kemauanku," gumam Laura.


Rianti tidak menanggapi ucapan Laura. Ia malah beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah pergi keluar kamar. Laura hanya menghela napas. Rupanya Rianti masih merasa kesal dengannya, tetapi ia berusaha untuk mengerti. Rasanya memang tidak nyaman apabila mereka berdua di dalam ruangan yang sama. Laura hanya bisa berharap, agar ia tidak terlalu lama di rumah isolasi ini.


***


Hari menjelang siang, mendekati jam makan siang. Para penghuni rumah isolasi tak banyak beraktivitas. Para pria sedang bermain billyar dengan santai di ruang santai, sedangkan Rianti memilih untuk berjalan-jalan di sekitar rumah isolasi. Laura masih berada di kamar barunya, bingung  tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Ia hanya berbaring sambil merenung, menatap langit-langit kamar.


Sementara, Dimas mengecek seluruh kondisi rumah, untuk memastikan tidak ada celah yang bisa dipakai untuk keluar-masuk dengan bebas.Ia memeriksa sampai ke area halaman belakang ditemani oleh Pak Paiman. Mereka sedang pagar pembatas yang memisahkan area rumah dengan kebun belakang.


"Aku rasa pagar ini kurang tinggi, wajar saja kalau Gida bisa menyusup pagar ini," kata Dimas.


"Bukan kurang tinggi sih, Pak kalau menurut saya. Tetapi karena ada tumpukan barang bekas di situ, jadi memudahkan seseorang untuk memanjat dan melompat ke dalam sini," ucap Pak Paiman sambil menunjuk ke arah tumpukan barang-barang yang tak terpakai, seperti meja, kursi, dan lemari bekas.


"Mungkin ke depannya, barang-barang bekas ini harus disingkirkan, Pak!" kata Dimas.


"Iya, Pak. Nanti saya akan singkirkan barang-barang ini," jawab Pak Paiman.


Dimas berjalan mengitari seluruh halaman, kemudian beralih ke halaman samping yang masih cukup luas. Halaman itu banyak ditanami tanaman hias oleh Bu Mariyati, serta dilengkapi dengan tempat untuk duduk yang artistik. Suasananya menjadi mirip taman. Ia melihat Rianti sedang duduk di sana, sambil merenung. Dimas menghampiri perempuan itu.


"Kok di sini, Mbak?" tanya Dimas.


"Eh, iya Pak. Sekedar mencari udara segar saja," ucap Rianti sambil tersenyum.


"Kalau dibilang kerasan sih, tentu tidak ya, Pak. Tapi bagaimana lagi? Kan ini dilakukan untuk mengungkap rahasia  dibalik kasus yang sedang terjadi ini. Saya sangat stres dengan keadaan ini, Pak. Sungguh," keluh Rianti.


"Kita harus bekerjasama agar bisa membekuk pelaku sebenarnya," kata Dimas.


"Saya siap membantu semampu saya, Pak!" kata Rianti.


"Terima kasih, nanti saya akan infokan kalau saya membutuhkan bantuan Mbak Rianti," ujar Dimas.


Polisi muda itu berlalu dari halaman samping, menuju halaman depan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Sekilas kalau dari luar memang rumah isolasi ini seolah tak berpenghuni, lebih mirip benteng kosong yang angker. Untunglah, dalam kasus ini tak ditemukan gangguan-gangguan aneh seperti yang terjadi di kasus kedua.


Di dalam rumah, Reno juga mengecek kamar-kamar yang ditempati oleh penghuni rumah isolasi.. Semua ruangan ia dapati dalam keadaan beres, baik perlengkapan atau kesiapannya. Kamar Guntur dan Riky tak ada masalah walau sedikit berantakan, karena memang kamar laki-laki. Beberapa barang bahkan masih tergeletak di lantai begitu saja. Sedangkan kamar Rianti terlihat lebih rapi. Laura yang masih berada dalam kamar itu sedikit terkejut melihat kehadiran Reno.


"Bagaimana hari pertama di kamar baru?" tanya Reno.


"Oh, ya begitulah, Pak. Dibilang senang ya nggak juga. Kuharap ini hanya sementara saja," ucap Laura,


"Rianti masih belum bisa menerimamu?" tanya Reno lagi.


"Sepertinya begitu, tetapi aku berusaha memakluminya. Aku berusaha menepatkan poisisku apabila berada di posisinya. Jadi ya, aku berusaha mengerti dia saja," jawab Laura.


"Jawaban yang bagus, Laura. Hubungi aku kalau ada apa-apa!"


Laura mengangguk, sementara Reno pergi meninggalkan kamar Rianti. Ia berjalan menuruni tangga, menuju ke arah dapur. Di sana terlihat Bu Mariyati sedang sibuk menyiapkan makan siang. Reno tak ingin mengganggu aktivitas wanita paruh baya yang rela menghabiskan waktu untuk mengurus kebutuhan makan para penghuni rumah. Namun, tiba-tiba dia melihat dua batang cokelat dengan merek yang sudah tak asing, tergeletak di atas meja dapur. Sontak Reno teringat dengan beberapa kejadian sebelumnya. Bungkus cokelat ini sering ditemukan di berbagai tempat kejadian perkara. Siapa yang meletakkan cokelat  di atas meja dapur?


"Bu Mar, ini cokelat siapa?" tanya Reno sambil mengambil cokelat itu dari atas meja.


Bu Mariyati yang sedang mengaduk sup, memalingkan muka ke arah Reno, seraya tersenyum.


"Itu tadi saya dikasih, Pak. Tapi belum sempat saya makan. Tadi saya kan bersih-bersih kamar, terus dikasih cokelat itu. Kalau Pak Reno mau, ambil satu Pak," ucap Bu Mariyati.


"Siapa yang memberi cokelat ini, Bu?" Reno bertanya.


"Pak Henry, Pak! tadi kan saya sempat mengepel kamarnya. Lalu dia memberi saya cokelat itu. Padahal dia kan tak perlu repot-repot begitu," jawab Bu Mariyati.


"Maaf Bu Mar, bukan saya ingin makan cokelatnya, tetapi tolong Bu Mar hati-hati ya kalau menerima makanan dan minuman dari penghuni rumah ini. Kita kan tidak kenal mereka secara dekat. Jangan sampai kejadian buruk berulang, seperti Widya kemarin. Atau seperti Rudi dulu yang sempat keracunan," tegur Pak Reno.


Paras Bu Mariyati langsung berubah takut. Sungguh, pikiran sebelumnya tak sampai ke arah situ. ia merasa senang, karena dikasi cokelat, itu saja. Ia tidak berpikir negatif kalau ada orang hendak berniat buruk kepadanya.


"Aduh, untung belum saya makan cokelat itu, Pak. Kalau begitu bawa saja Pak, cokelatnya. Saya takut!" ucap Bu Mariyati.


"Bu Mariyati nggak usah khawatir. Saya bawa cokelatnya ya! Kita akan periksa cokelat ini dulu!"


***