Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
368. Presentasi Dimas.


Tiga cangkir teh mengepulkan uap panas, disajikan di sebuah meja bulat di dalam ruang baca. Jam antik yang berdiri anggun di sudut ruangan menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Di luar masih sedikit gelap, karena matahari belum menampakkan diri, sementara udara juga masih terasa dingin menggigit kulit, tetapi tiga pria terlihat nyaman duduk mengelilingi meja bulat tersebut. Dimas sudah siap dengan setumpuk berkas dan bukti-bukti yang ia peroleh dari hasil penyelidikannya selama beberapa hari di kota, sementara Ammar dan Reno tak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari Dimas.


"Sebenarnya aku ingin segera bicara tadi malam, tetapi aku sampai ke kastil terlalu larut, sehingga aku memilih menunda, dan aku putuskan untuk berbicara pagi ini. Aku sudah membawa setumpuk berkas pendukung. Dalam data pendukung ini mungkin kita akan menemukan fakta baru yang akan mendekatkan kita pada tersangka kasus ini," terang Dimas.


Reno dan Ammar mengangguk, mempersilakan polisi muda itu untuk memulai presentasi terkait hasil temuannya selama beberapa hari di kota. Dimas menarik napas sebentar, menyiapkan mental. Baginya, mempresentasikan hasil temuan di hadapan dua orang polisi senior membuatnya merasa sedikit gugup.


"Jadi aku akan mengawali dari foto ini," ucap Dimas.


Ia mengeluarkan sebuah foto lama milik Mariah dari sebuah map, yang memperlihatkan gambar The Girl Squad, beserta foto Suci yang masih ada di dalamnya. foto itu terlihat sedikit buram, tetapi masih cukup jelas untuk dilihat.


"Aku yakin Bang Ammar tahu siapa yang ada di dalam foto ini. Ini adalah foto masa muda Kak Mariah bersama teman-temannya yang sekarang berkumpul di kastil ini. Kalian bisa mengenalinya kan? Mereka cantik-cantik dan populer saat SMA. Mereka membentuk sebuah grup kecil bernama The Girl Squad. Tentunya hal itu biasa bagi kalangan gadis-gadis kan? Namun sekarang mari kita fokus pada gambar seorang gadis hitam manis di sudut foto ini. Ia agak terkucilkan dari yang lain kan? Inilah yang membuatku bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis ini, dan mengapa ia tidak ikut bergabung bersama teman-temannya di kastil ini." papar Dimas.


Reno dan Ammar masih antusias mendengarkan penjelasan Dimas, sambil mengamati foto yang ditunjukkan Dimas dengan saksama. Sesekali mereka meneguh cangkir berisi teh untuk menghangatkan badan.


"Gadis ini bernama Suci Andriani. Dia sebenarnya bukan member dari geng mereka, tetapi ia sangat berharap untuk bisa menjadi bagian dari geng. Hal ini sangat ditentang oleh para anggota geng dengan alasan yang mengarah ke penghinaan secara fisik dan mental. Namun, ada satu anggota geng yang merasa bersimpati pada Suci. Secara diam-diam ia bersahabat dengan Suci, mendengar keluh-kesah Suci, dan mungkin menjalin semacam persaudaraan rahasia di antara mereka. Ia juga mengajak Suci untuk berfoto bersama, tanpa sepengetahuan yang lain.  Sampai saat ini pun, mungkin mereka juga tak ada yang tahu siapa yang telah berkhianat," lanjut Dimas.


"Lalu apa hubungannya Suci dengan kasus ini?" tanya Reno tak sabar.


"Tunggu, Ren! Aku belum selesai menjelaskan. Aku telah mendatangi kediaman Suci bersama ibunya. Suci adalah anak tunggal yang dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Hal buruknya, rupanya Suci telah meninggal karena bunuh diri. Menurut ibunya, Suci mendapat tekanan psikologis yang amat berat. Selain ia mendapat perlakuan kasar dari anggota geng, rupanya dia sedang hamil akibat diperdaya seorang pria yang identitasnya juga belum diketahui. Setidaknya ini lah yang dapat digali dari buku harian. Pasti kalian masih bertanya, apa hubungannya dengan kasus ini? Ternyata kematian Suci tidak serta-merta semua juga ikut selesai. Kematian Suci membawa bekas luka mendalam untuk keluarga yang ditinggalkan dan sahabatnya. Si sahabat ini rupanya hendak menuntaskan dendam dan membalaskan apa yang dialami oleh Suci. Ancaman itu nyata, dibuktikan dengan beberapa ancaman yang ada."


Dimas menghentikan kalimatnya sejenak, ketika dilihatnya Ammar juga hendak berbicara.


"Sejujurnya, Mariah juga menceritakan hal yang sama kepadaku. Apa yang diceritakan Dimas ini benar. Ternyata Mariah menyimpan masa lalu kelam yang sama sekali enggak bisa kubayangkan. Mariah menangis dan meminta maaf, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Ya, semua orang pernah berbuat kesalahan, tetapi kali ini kesalahan tak cukup dengan permohonan maaf. Mariah juga telah mendapat ancaman pembunuhan secara langsung. Selama ini ia merasa cemas, karena kejadian buruk bisa terjadi kapan saja, tapi untunglah bisa kutenangkan," tambah Ammar.


"Jadi bagaimana langkah kita sekarang? Apa kita di sini juga mempunyai petunjuk yang mengarah ke pelaku? Perlu diketahui, semakin lama, korban yang jatuh akan semakin banyak. Kemarin ada laporan bahwa Ryan, suami Nadine juga menghilang. Kita harus cepat menyelesaikan ini. Jadi aku menyuruh Juned untuk bergerak pagi ini juga. Juned bilang dia menemukan sebuah terowongan di bawah kastil yang menembus hutan. Ia juga mempunyai petunjuk bahwa Niken juga disekap tak jauh dari terowongan. Biar dia menyelidik ditemani oleh Jeremy, sekaligus mencari Ryan!" ucap Reno.


"Aku sudah mengantongi sebuah nama. Setelah aku telusuri dari rentetan peristiwa yang telah terjadi, ternyata memang saling berkaitan satu sama lain. Nama ini mempunyai latar belakang yang hampir sama dengan Suci. Aku melihat sebuah kebohongan besar dan topeng yang dimainkan secara sempurna dan sistematis. Kita akan ungkap ini segera! Kita perlu panggil semua penghuni dan kita akan mengadakan sidang seperti biasa," ucap Dimas.


"Siapa nama yang kau maksud?" tanya Reno.


Dimas tersenyum seraya menunjukkan sebuah foto kepada dua rekannya.


***


Mariah masih merasa mengantuk ketika ia membuka mata. Dilihatnya ke arah jam dinding antik yang berada di kamarnya. Masih pukul lima lebih sedikit, tetapi ia tak melihat keberadaan Ammar. Kemana suaminya? Sejujurnya ia merasa sedikit lega, karena ia telah mengungkapkan semua yang membebani pikirannya kepada Ammar. Ia duduk di atas ranjang sambil menguap. Udara dingin menyergap tubuhnya. Ia masih mengantuk, mungkin tidur beberapa menit lagi akan menghilangkan rasa kantuk yang menggantung di matanya.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Siapa yang sepagi ini mengetuk pintu? Bukankah Ammar biasanya langsung masuk begitu saja, tanpa perlu mengetuk pintu? Mariah mengenakan kimono berbunga-bunga miliknya kemudian bergegas membuka pintu kayu ukir di kamarnya.


Ia membuka pintu mendapati temannya yang berdiri di depan pintu, dalam keadaan telah berbaju rapi. Mariah merasa heran, mengapa ia sudah serapi itu di pagi buta seperti ini?


"Kamu kok rapi sekali? Ada apa pagi-pagi begini?" tanya Mariah dengan heran.


"Mariah ... "


Sosok perempuan itu terlihat gelisah sambil meremas tangannya. Ia tampak menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mencari-cari sesuatu. Mariah bertambah heran dengan gelagat aneh ini.


"Ada apa?"


"Ada yang harus kutunjukkan padamu. Gawat!" ucap perempuan itu.


"Gawat? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mariah.


"Kamu harus lihat, Mariah. Ayo cepat!"


Mariah agak ragu, tetapi kemudian ia mengangguk. Ia mengikuti langkah teman perempuannya yang berjalan tergesa menuju ruang belakang, melewati dapur, dan ia mulau membuka tingkap ruang bawah tanah. Dari tingkap yang terbuka itu, Mariah dapat melihat ruangan yang begitu gelap dan sunyi. Mariah merasa pusing seketika. Bayangan trauma tiba-tiba membayang memenuhi pikirannya.


"Maksudmu kita akan masuk ruang bawah tanah?" tanya Mariah dengan suara bergetar.


"Ya Mariah. Ada sesuatu yang harus kamu lihat di dalam sana!"


"Nggak, maaf. Aku nggak bisa masuk ke dalam ruang bawah tanah. Kamu tau kan kalo aku mengalami trauma berat setiap kali masuk ruang bawah tanah. Maaf, akan kusuruh orang lain saja untuk...."


"Masuk atau kurobek perutmu!"


Perempuan itu berbisik pelan di telinga Mariah, sambil menempelkan sebilah benda tajam ke perut Mariah bagian samping. Mariah bergidik. Ia masih bingung, karena tidak menyangka temannya akan melakukan hal itu padanya. Jantungnya berdegup kencang, tetapi sepertinya sia-sia melakukan perlawanan saat ini. Kalau pun ia berteriak, tentu pisau juga akan menancap di perutnya. Ia hanya pasrah ketika teman perempuannya itu mendorongnya masuk ke ruang bawah tanah.


"Masuk ikan besar! Kamu sudah masuk ke dalam perangkap!"


***