
Maira memilih untuk mengikuti langkah sosok hitam itu ke ruang baca. Sejenak ia merasa takut. Bagaimanapun, ruang baca ini menyisakan segumpal rasa trauma yang begitu mendalam, saat ia hampir meregang nyawa karena lehernya dijerat dengan seutas kabel. Sampai kini, ia masih merasakan sakit di lehernya. Ruang baca ini seolah mimpi buruk. Ia enggan berlama-lama di dalam sana. Apalagi sosok itu demikian cepat menghilang.
Buru-buru ia keluar dari ruang baca, hingga hampir menabrak seseorang di koridor. Hans, tiba-tiba muncul di koridor itu pula, menatap Maira dengan heran.
“Kenapa kamu terlihat takut?” tanya Hans.
“Hans? Apakah kamu memainkan piano di ruang tengah tadi?” tanya Maira.
“Aku memang mendengar denting piano itu, kemudian datang memeriksa. Tapi kulihat tak ada seorang pun di sana,” ucap Hans.
“Aku mengira pemain piano itu dirimu,” kata Maira.
“Bukan. Bukan aku. Memang, dari gaya bermainnya seperti aku. Atau seseorang yang memang meniru aku bermain piano?” Hans terlihat heran.
“Baiklah, kalau begitu lupakan saja. Aku kembali ke kamar saja!” ucap Maira, segera bergegas pergi meninggalkan Hans.
“Tunggu!”
“Maaf Hans, aku lelah. Aku hanya ingin istirahat setelah seharian berada di air terjun.” Maira menghela napas.
“Yakin tak ingin bercinta?”
“Kurasa tidak, Hans. Maaf, aku harus beristirahat!” tolak Maira.
“Sepertinya ada hal lain yang kamu sembunyikan. Kamu melihat sesuatu?” tebak Hans.
“Sesuatu? Ya. Aku melihat seseorang menyelinap di ruang baca, kemudian ia menghilang begitu saja. Entahlah. Itu membuatku sedikit takut. Aku akan kembali ke kamar dan mengunci pintu. Jujur, kamu membuatku takut, Hans.” Ucap Maira.
“Kamu mencurigai aku?” tanya Hans.
“Untuk hari ini, iya! Kamu pergi begitu saja dari air terjun tanpa berpamitan. Itu membuatku cemas. Kemudian kudengar kamu memainkan piano di ruang tengah, tetapi setelah kuperiksa dirimu tak ada di sana. Siapa lagi yang mahir bermain piano di kastil ini selain dirimu? Ketika aku mencari pemain piano itu, kamu tiba-tiba muncul. Sungguh, ini sangat mencurigakan. Maaf, untuk sementara kamu nggak perlu dekat sama aku dulu!” ucap Maira tegas.
“Maira! Kamu jangan gila! Aku nggak melakukan apa-apa. Ada banyak yang harusnya lebih kamu curigai di kastil ini. Michael, misalnya. Atau Aldo, Adrianna, Tiara atau siapa pun. Aku tidak pandai dalam hal membunuh, Tak perlu curiga berlebihan padaku!” Hans berusaha meyakinkan Maira.
“Maaf, Hans. Untuk sementara silakan menjauhi aku!”
Maira segera berjalan meninggakan Hans yang masih gusar dengan sikap Maira. Wanita muda itu memasuki kamar, kemudian duduk di tepi ranjang. Ia khawatir kalau Hans memang benar-benar pelaku dari segala kekacauan ini.
Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah tulisan warna merah di cermin riasnya. Tulisan itu ditulis dengan lipstik, terbaca jelas. Ia bergidik saat membaca perlahan tulisan itu.
YOU WANNA DIE OR NOT?
***
Elina dan Aldo baru saja menghabiskan teh, ketika mendengar sebuah mobil memasuki halaman kastil. Adrianna sudah kembali ke kamarnya, karena mengeluh tidak enak badan. Derum mesin mobil terdengar jelas. Tiba-tiba paras Elina berubah senang.
“Itu pasti Cornellio. Ia membawa alat medis dan obat-obatan yang kamu butuhkan!” ucap Elina.
Keduanya segera bergegas menuju halaman kastil untuk menyambut kedatangan Cornellio.Ternyata, ada dua mobil yang masuk ke halaman. Satu mobil dikemudikan oleh Cornellio dan satu lagi oleh Arvan, sahabat Cornellio yang diminta untuk membawa balik ke kota. Cornellio turun dari mobil kemudian menyerahkan dua kotak besar berisi alat medis dan obat-obatan kepada Aldo.
“Banyak sekali!” kata Aldo.
“Jarak kota dan kastil ini jauh. Maka kubelikan banyak sekalian agar tidak bolak-balik. Dengan peralatan sebanyak itu, kamu bisa membuka praktik di kastil ini,” ucap Cornellio.
“Aku nggak yakin apa ada pasien yang membutuhkan jasaku di tempat seperti ini,” Aldo berkata sambil tersenyum.
Ia bergegas masuk ke dalam, menyimpan peralatan medis ke dalam kamarnya. Sementara Elina juga harus kembali ke kamar untuk bersiap makan malam.
Di halaman depan, Arvan menunggu Cornellio sambil menghisap rokok di dalam mobil. Sebenarnya ia merasa keberatan menjemput Cornellio. Kastil terlihat angker di matanya, bahkan ia menduga tak ada kehidupan di sekitar sini. Ia melihat menara kastil yang menjulang puluhan meter, tampak seram. Sepi sekali suasana di sekitar kastil. Suara jangkrik mulai berderik-derik. Cornellio sudah berjanji tak akan lama, hanya berkemas sebentar. Ia juga berkata bahwa akan melewatkan acara makan malam, karena ingin segera meninggalkan kastil.
Untuk mengurangi rasa bosan, Arvan memutar musik yang lumayan rancak dari radio mobil. Ia mendengar sambil menggoyang kepala ke kiri dan ke kanan mengikuti irama. Sementara dari mulutnya tak henti menghembuskan asap rokok, bergulung kemudian menghilang tertiup angin malam yang mencengkeram. Ia berharap agar Cornellio segera keluar.
Sementara di dalam kastil, kedatangan Cornellio disambut hangat oleh Adrianna. Bahkan sebelum masuk ke kamar, Adrianna sudah menghadang di ruang tengah. Wanita bertampang oriental itu mengalungkan syal di leher, karena merasa tidak enak badan sejak sore tadi.
“Kamu pergi begitu lama, Cornell,” ucap Adrianna, sembari menatap tajam ke arah Cornellio
“Iya, maafkan aku Adrianna. Banyak yang harus kubeli di kota. Aku harus membuat sebuah keputusan penting hari ini,” ucap Cornellio. Ia berusaha menghindari tatapan Adrianna.
“Keputusan macam apa?” tanya Adrianna penasaran.
“Aku akan meninggalkan kastil malam ini juga. Temanku sudah menunggu di depan. Dia akan membawaku kembali ke kota. Sekarang aku mau berkemas sebentar,” ucap Cornellio.
“Apa? Tega sekali kamu meninggalkan aku, Cornell. Aku takut di sini sendirian. Kumohon jangan tinggalkan aku. Bawa aku pergi bersamamu!” Adrianna terlihat gelisah.
“Maafkan aku, Adrianna. Kini aku bukan tersangka lagi. Jujur, kastil ini membuatku hampir gila. Paling tidak biarkan aku menenangkan diri. Kelak apabila semua masalah di sini selesai, akan kujemput dirimu. Maafkan aku sekali lagi, Adrianna!” desah Cornellio.
“Cornell! Aku juga hampir gila di sini. Kumohon! Aku butuh seseorang, Jangan tinggalin aku!” pinta Adrianna memelas.
Air mata hampir luruh menuruni pipi. Ia merasa tak sanggup apabila berpisah dengan Cornellio.
“Aku harus pergi, Adrianna! Kawanku sudah menunggu. Pasti kita bertemu lagi. Jangan khawatir!” Cornellio mengusap pipi Adrianna yang mulai memerah.
Adrianna mengelengkan kepalanya, tetapi Cornellio tak mau berlama-lama bermain perasaan. Dikecupnya dahi Adrianna dengan cepat, kemudian bergegas meninggalkan Adrianna. Wanita itu hanya berdiri tertegun dengan perasaan hancur. Ia baru saja merasakan manisnya cinta, tetapi kali ini luruh begitu saja.
Cornellio sebenarnya juga berat meninggalkan Adrianna, tetapi ia tak punya pilihan lain. Ia segera masuk ke kamar untuk mengemasi pakaian yang ada di dalam lemari. Pikirannya berputar tak menentu. Perasaannya terombang-ambing. Ia hanya ingin tetap hidup. Untuk itulah ia harus segera keluar dari kastil.
Klik!
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu dikunci. Ia memalingkan badan, melihat ke arah pintu. Sesosok manusia berjubah hitam berdiri dengan mengenggam sebilah golok di tangannya!
***