
Pagi terlihat muram. Suasana kastil masih diliputi kecemasan yang mendalam dengan hilangnya dr. Dwi. Selepas sarapan pagi, para penulis yang tersisa memilih untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang membuat mereka sedikit terlupa dengan segala kejadian buruk yang terjadi.
Di ruang tengah, Hans memainkan piano dengan sangat baik. Tangannya begitu piawai menekan tuts-tuts piano, menjadikan sebuah rangkaian nada indah yang menenangkan. Ia memilih memainkan nada lagu legendaris ‘Can’t Help Falling in Love’ dengan sangat apik. Permainan nada itu membuat pendengarnya terlarut dalam memori kisah masa lalu yang penuh romansa.
Setelah satu lagu selesai, Maira yang tengah mendengarkan segera berdiri dan bertepuk-tangan. Ia tak menyangka Hans begitu berbakat bermain piano. Maira selalu berpendapat, bahwa pria yang pandai bermain alat musik apa pun, pasti juga seksi. Ditatapnya Hans dengan paras berseri-seri.
“Tak kusangka kamu begitu berbakat, Hans!” puji Maira.
“Terima kasih, Maira. Aku belajar secara otodidak. Aku punya banyak teman pemusik, dan konyolnya aku selalu melihat mereka saat bermain musik. Pada saat itulah, keinginanku untuk bisa bermusik menjadi sangat besar. Aku benar-benar belajar mulai dari angka nol!”
“Ternyata kau tak hanya hebat di ranjang!”
Maira tersenyum menyiratkan sesuatu yang aneh, segera dibalas dengan seringai Hans. Maira menatap Hans seolah hendak menelan hidup-hidup. Permainan piano Hans sangat memabukkan, sehingga secara tak sadar ia ikut bernyanyi kecil dan menggoyangkan bahu.
Suara dentingan piano terdengar pula di bagian lain rumah, tepatnya di ruang baca. Sayangnya dentingan itu tak berpengaruh terhadap Elina. Gadis belia itu berdiri mematung memandang ke arah luar jendela. Pikirannya kacau, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Untuk kembali pulang ke kota tentu sudah sangat terlambat. Bagaimanapun ia tak boleh menyesali apa yang sudah menjadi keputusannya. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali pasrah dengan segala apa yang terjadi.
Ia masih tenggelam dalam alam khayalnya, ketika ia merasakan seseorang memegang bahunya. Ia terhenyak karena kaget. Perlahan ia membalikkan badan, menjumpai sosok pria muda tampan yang sangat dikenalnya.
“Tak baik sendirian di sini,” tegur Aldo Riyanda yang tiba-tiba hadir di belakangnya.
“Kamu mengagetkanku,” ucap Elina sambil menghela napas. Kembali ia membuang muka ke arah jendela.
“Bagaimana tidurmu semalam? Aku semalam tak bisa tidur karena memikirkanmu. Sampai dengan pagi ini, keberadaan dr.Dwi masih misterius dan itu membuatku sedikit khawatir. Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Kuharap kamu bisa segera mengemasi pakaianmu dan pergi dari tempat jahanam ini.”
Aldo berkata dengan perasaan sedikit gelisah. Ia memeluk Elina dari belakang, berharap agar gadis belia itu akan lebih tenang.
“Sejujurnya, aku juga susah tidur tadi malam. Entahlah. Suasananya sangat sepi dan menyeramkan. Aku tak habis pikir mengapa kau terlihat begitu tenang menghadapi semua kegilaan ini. Apa kamu nggak nyadar kalau kematian bisa mengintaimu kapan saja. Aku nggak mau terjadi apa-apa denganmu, Sayang!” ucap Elina.
Aldo Riyanda mempererat dekapannya, agar Elina lebih merasa aman.
“Aku janji, sepulang dari kastil ini. Ketika semua urusan selesai, aku akan menghadiahimu sebuah cincin berlian dan kita akan segera meresmikan hubungan kita.”
“Tetapi bukankah dirimu juga tersangka pembunuhan di tempat ini? Bagaimana jika ternyata aku menikahi seorang pembunuh?”
“Kamu tidak percaya padaku?” Aldo memperat pelukannya, sehingga Elina sedikit sesak napas. Ia melepaskan diri dari pelukan pria muda itu.
“Aku hampir tak percaya padamu. Ada yang masih kamu sembunyikan. Kudengar gadis yang mati itu juga mencoba merayumu! Apakah itu benar?” tanya Elina.
“Gadis yang mati? Apakah maksudmu itu adalah Rania? Tentu saja itu tidak benar. Dari siapa kamu mendengar gosip itu? Rania sudah mempunyai kekasih, dan sebenarnya kekasih Rania sudah tewas terlebih dahulu. Apa yang kamu dengar itu sama sekali sekali tidak benar!”
Aldo berusaha membela diri, dipegangnya bahu Elina sambil menatap matanya dalam-dalam. Elina mengelak. Ia menggeleng.
“Kamu meragukan kesetiaanku?”
Hening beberapa saat ketika pasangan itu saling memandang. Elina kehilangan kata-kata. Tatapan Aldo menggetarkan jantung dan melumpuhkan segenap urat nadinya. Aldo segera memeluk Elina, seraya berbisik pelan,”Aku mencintaimu!”
“Maaf, apakah aku mengganggu?”
Tiba-tiba terdengar suara menyapa. Aldo segera melepas pelukannya, mengarahkan pandangan kepada seorang gadis yang baru datang ke ruang baca. Tiara Laksmi, memasuki ruang baca dengan senyum mengembang. Elina menjadi salah tingkah.
“Tentu saja tidak, Tiara. Maaf kami terlalu emosional. Silakan mencari buku yang kamu sukai. Kami akan segera pergi dari sini. Ayo sayang!” Aldo menarik lengan Elina untuk segera keluar dari ruangan itu.
“Oh, kalian boleh saja di sini. Maaf, aku tidak bermaksud mengusir kalian. Mungkin aku datang di saat yang tidak tepat tadi!” cegah Tiara.
“Tidak, Tiara. Kami memang berencana untuk berjalan-jalan sebentar tadi. Silakan dilanjut saja!”
Aldo segera meninggalkan ruang baca bersama Elina. Mereka berencana mencari objek foto yang bagus untuk dijadikan koleksi. Mereka hendak menyiapkan segala peralatan pemotretan seperti kamera dan tripod ang disimpan dalam kamar Elina.
“Gadis itu juga menyukaimu kan?” bisik Elina.
“Tiara? Dia Cuma teman biasa ....”
“Jangan berbohong! Aku bisa melihat dari tatapannya kepadamu. Aku seorang perempuan, tentu tidak bisa dibohongi. Aku sangat mengenal arti tatapan itu,” ujar Elina.
“Entahlah! Aku tidak peduli, Elina. Mungkin kamu benar, Elina. Banyak gadis menyukaiku, tetapi selama aku tidak memberi harapan apa pun kepada mereka, tentu itu bukan suatu masalah. Lagipula aku juga tidak menyukai mereka. Aku hanya mencintaimu, Elina!”
Aldo mempertegas ucapannya dengan mencuri kecup pada pipi gadis belia itu. Sontak Elina terkejut. Ucapan Aldo begitu manis terdengar di telinga. Ya, ia pun sangat mencintai Aldo. Sayangnya kondisi dalam kastil sangat tidak menguntungkan. Entah kapan mereka bisa keluar dari kastil ini, dalam keadaan hidup tentu saja.
Mereka sampai di depan kamar Elina, tetapi Aldo tidak ikut masuk. Bagaimanapun ia harus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh Helen bahwa mereka tidak boleh berdua dalam satu kamar. Padahal pada kenyataannya, Hans pernah menyusup ke kamar Maira dan Tiara.
“Kamu tunggu di sini, aku menyiapkan peralatan fotografiku dulu,” kata Elina.
Gadis belia itu masuk ke dalam kamar, untuk mengambil alat yang dibutuhkan. Namun ia sangat terperanjat, ketika mendapati kameranya sudah berada di atas tempat tidur. Siapa yang meletakkan di situ? Adakah yang menyusup ke kamarnya?
Ia merasa was-was. Ia periksa peralatan memotretnya yang lain, ternyata tidak ada yang hilang. Jadi apa siapa yang telah meminjam kameranya tanpa izin? Di sebelah kamera itu terdapat dua lembar foto dan sebuah catatan kecil yang ditulis dalam sobekan kertas.
Dengan perasaan berdebar Elina mengambil foto yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia terpekik pelan.
“Astaga! Siapa yang melakukan ini?”
***