Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
355. Rahasia Baru


Setelah menemui Dimas di kantornya, Mariah tidak ingin langsung kembali ke kastil. Ia menyempatkan pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan. Selain itu, harus diakui ia sungguh rindu dengan suasana rumahnya. Ia rindu saat duduk di teras sambil minum teh bersama suaminya, atau saat menyiram bunga-bunga hias koleksinya di taman depan. Ia mulai bosan dengan suasana kastil yang mencekam dan penuh teror.


Sayangnya ia tak bisa berlama-lama di rumah. Ia khawatir hari semakin siang, dan mungkin akan terlalu sore tibadi kastil. Urusan makan di kastil sudah sepenuhnya ia limpahkan pada Maya dan Lily, jadi ia bisa sedikit tenang. Ia akan menyelesaikan segala urusan di kota.


Setelah menyambangi rumahnya sejenak, ia segera meluncur ke tempat lain. Sebuah tempat yang sebenarnya ia tak rencanakan sebelumnya, tetapi ingin ia kunjungi hari itu. Tempat itu agak terpencil di dalam sebuah gang yang lumayan sempit. Sebuah rumah kusam yeng terlihat sepi. Mariah turun dari mobil, melihat ke sekeliling. Ia memang tak pernah ke rumah itu sebelumnya, jadi ia merasa agak canggung.


Ia mengetuk pintu dengan ragu-ragu. Setelah beberapa lama, seorang wanita paruh baya membuka pintu. Ia langsung mengernyitkan dahi, seolah mengumpulkan memori, untuk mengingat wajah Mariah. Ia memang seperti pernah mengenal Mariah. tetapi entah kapan dan di mana, ia tidak mampu mengingat dengan baik.


"Siapa?" tanya ibu itu dengan curiga.


"Saya Mariah, Bu. Teman Suci," jawab Mariah.


"Teman Suci? Maaf, sepertinya Anda salah alamat. Suci tidak pernah punya teman dalam hidupnya. Semua teman mengkhianati dan mencelakainya." jawab ibu itu dengan nada dingin.


Mariah merasa tidak enak mendapat jawabannya. Ia hanya menunduk, menghindari tatapan mata si ibu yang begitu tajam, seolah menumpahkan segala kesalahan padanya. Bagaimanapun, Mariah turut merasa bersalah dengan apa yang menimpa Suci. Untungnya ibu itu tak bisa mengingat paras Mariah, sehingga ia masih berasa agak tenang. Memang, sebelumnya mereka tidak pernah bertemu.


"Maafkan aku, Bu," gumam Mariah dengan suara pelan.


"Jadi siapa Anda ini?" tanya ibu Suci.


"Saya ... saya teman Suci waktu SMA, Bu. Nama saya Mariah. Saya sangat berduka dengan kematian Suci, dan sangat berharap agar arwah Suci bisa tenang. Saya ke sini untuk mengunjungi makamnya dan ...."


"Teman SMA? Apakah kamu sahabat Suci seperti yang pernah ia tulis dalam buku hariannya?" potong ibu Suci.


"Sahabat Suci? Memangnya Suci menulis tentang apa Bu?" tanya Mariah penasaran.


Ibu Suci hanya menghela napas sejenak. Ia menatap Mariah dalam-dalam, mencoba menyelami perasaan Mariah. Setelah ia yakin bahwa Mariah orang baik-baik, ia mempersilakan Mariah masuk ke dalam ruang tamunya yang tertata rapi.


"Sebenarnya aku sudah tidak mau lagi membahas ini, tetapi kenangan itu selalu datang tiba-tiba. Sampai sekarang kenangan itu datang begitu saja, dan aku merasa seolah Suci masih hadir di rumah ini. Aku masih membersihkan kamarnya seperti biasa, menyimpan boneka-bonekanya. Ia selalu menuliskan kesedihannya dalam buku harian. Kesedihan saat teman-teman dalam grup yang menyakiti hatinya .... "


Ibu Suci bercerita dengan suara serak, sehingga menitikkan air mata. Mariah semakin merasa bersalah mendengar penuturan ibu itu. Sungguh, dia dahulu tak pernah berpikir panjang ketika berbuat kenakalan-kenakalan atau gurauan yang menyudutkan Suci. Ia bahkan tidak peduli dengan latar belakang Suci, sehingga ia merasa apa yang dilakukan teman-temannya waktu itu juga biasa saja. Ada rasa penyesalan yang menggumpal. Ia hanya bisa terdiam mendengar ibu Suci bercerita.


"Ia juga menuliskan tentang seseorang yang telah menjadi sahabatnya, tanpa menyebut identitasnya secara pasti. Ia juga menuliskan tentang pria yang telah menarik perhatiannya, tetapi kemudian menipu dan mencampakannya. Begitu pedih kehidupan yang ia lalui, dan aku merasa tak berguna sebagai seorang ibu, karena tak bisa melindunginya," ungkap Ibu itu.


Mariah merasa sangat sedih, tetapi ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya terdiam, bersimpati mendengar segala apa yang dituturkannya.


"Ia menuliskan keunikan sahabatnya itu, menggambarkan sebagai seorang yang tutur katanya lembut, seorang yang penakut tetapi cerdas, dan mempunyai latar belakang keluarga yang hampir sama dengan dirinya. Yah, Suci adalah anakku satu-satunyal dan dia kubesarkan sendiri tanpa campur tangan siapa pun. Aku adalah orang yang sangat dicintai satu-satunya dalam hidup Suci," terang ibu Suci sambil menahan tangis yang hendak meledak.


"Kemungkinan begitu, karena Suci mempunyai hubungan emosional yang dekat dengan dia, karena persamaan nasib dan latar belakang," lanjutnya.


Mariah terdiam mendengar itu. Ia harus segera menginformasikan kepada Dimas agar segera memeriksa latar belakang masing-masing temannya itu. Mariah memang kenal dekat selama bertahun-tahun dengan para anggota The Girl Squad, tetapi mereka tak pernah peduli dengan latar belakang keluarga masing-masing. Jadi pantaskah ini disebut persahabatan?


***


Reno dan Rosita menyusur ke jalan setapak yang dikelilingi tanaman teh. Reno melangkah dengan penuh waspada, memeriksa tiap jengkal jalan yang tadi dilalui Rosita dan Edwin menuju ke atas bukit. Reno memeriksa jalan setapak, kalau-kalau menemukan hal yang aneh.


"Setelah itu kami naik ke atas bukit itu," ucap Rosita sambil menunjuk arah puncak bukit.


Reno hanya mengangguk, sembari terus mengawasi jalan setapak itu. Tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat beberapa batang pohon teh yang rantingnya patah, serta daun-daun teh yang berjatuhan, seperti habis dilewati sesuatu secara paksa.


"Seperti ada sesuatu terjadi di sini," gumam Edwin sambil memungut sehelai daun yang berserak di atas tanah.


"A-apakah ... maksud Pak Reno, Edwin hilang di sekitar sini?" tanya Rosita.


"Entahlah. Tapi kamu lihat bekas-bekas tanaman teh yang rusak itu, seperti habis dilewati seseorang dengan cara diseret. Aku akan periksa sekitar tempat ini, siapa tahu aku mendapatkan petunjuk. Kau boleh tunggui di sini saja!" perintah Reno.


Rosita tidak menjawab, hanya mengangguk. Matahari semakin meninggi, sehingga suasana makin terasa gerah. Namun, Reno tidak menyerah begitu saja. Ia terus mengurut deretan pohon-pohon teh yang daunnya rusak. Sepertinya memang membentuk pola dan mengarah ke sisi perkebunan yang lain. Rosita hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tidak berani ikut serta ke dalam petualangan Reno. Ia terus mengawasi Reno, hingga polisi itu menghilang di telan kerimbunan pohon teh.


Reno berhenti di suatu tempat, ketika semua tanda mencurigakan itu berakhir. Ternyata ia sudah berjalan cukup jauh dari tempat asal. Bahkan Rosita pun sudah tak terlihat. Namun, ia tidak melihat siapa-siapa di sana. Reno juga bingung melihat ini. Apakah sosok itu telah membunuh Edwin atau belum? Kalau memang Edwin terbunuh, ia harus bisa segera menemukan jasadnya. Kalau Edwin masih hidup, kemana perginya pria itu gerangan?


Sebenarnya, Edwin telah berjalan cukup jauh meninggalkan kebun teh. Ia melihat ke arah puncak bukit yang terlihat kecil. Dalam pikirannya, semakin jauh dari puncak bukit, maka akan semakin dekat dengan jalan raya. Ia terus menyusur jalan setapak menjauhi bukit. Matahari yang terik membuatnya sangat haus, tetapi ia tak boleh menyerah begitu saja.


Beberapa saat kemudian, ia melihat jalan raya dengan jarak sekira lima ratus ratus meter di depan. Aspal jalan itu tampak berkilat-kilat ditimpa sinar matahari yang terik. Harapannya langsung tumbuh, ia ingin berlari menuju ke sana, tetapi kakinya terasa penat. Energinya seolah terkuras, belum lagi rasa dahaga yang terasa mencekik leher. Yang jelas, ia gembira bisa menemukan jalan raya, tinggal bagaimana caranya untuk bisa segera kembali ke kastil. Namun, baru saja ia mecapai jalan raya, tiba-tiba ia merasakan kepalanya pening, serta pandangan matanya berkunang-kunang. Dalam hitungan detik, ia jatuh tersungkur di atas tanah!


***