Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
307. Investigasi Pertama


Hari sudah mulai malam ketika Mariah hendak melanjutkan perjalanan ke kastil. Malam itu ia ditemani oleh dua orang polisi yaitu Ramdhan dan Juned, yang bertugas membantu penyelidikan di tempat kejadian perkara, serta mencegah hal-hal yang tak diinginkan di kastil. Nama Niken tidak termasuk dalam daftar nama polisi yang ikut serta dalam penyelidikan kasus ini. Pihak kepolisian menilai bahwa Niken harus ditugaskan dalam kasus-kasus ringan atau pun sedang terlebih dahulu. Kasus pembunuhan di kastil ini, termasuk kasus berat. Otomatis nama Niken tercoret.


Selain tim penyelidik, sejumlah tim peremedis juga diterjunkan untuk mengevakuasi jenazah Lidya yang masih dibiarkan begitu saja. Mereka menggunakan sebuah ambulans yang segera melaju cepat ke arah kastil, beriringan dengan mobil penyidik. Mengetahui para tim berangkat malam itu juga, Niken segera bertindak.


Pencoretan nama itu membuat Niken kecewa dengan keputusan yang telah dibuat. Diam-diam, ia berpikir bahwa dia akan pergi ke kastil secara sembunyi-sembunyi, untuk menyelidiki kasus itu secara independen, sekaligus pembuktian pada para polisi yang memandang remeh keberadaannya. Malam itu juga, ia menyiapkan mobil untuk menyusul Mariah yang sedang melaju menuju kastil.


Mobil Niken melaju beberapa ratus meter di belakang mobil yang ditumpangi Mariah dan rombongan yang menuju kastil tua. Ia berusaha menajamkan pandangan, agar tidak kehilangan jejak. Ia sadar, bahwa reputasinya kini sedang dipertaruhkan. Ia harus bisa menunjukkan pada mereka bahwa dirinya bisa ikut serta memecahkan kasus ini dengan baik.


Sedangkan Reno dan Dimas akan menyusul belakangan, karena ada sesuatu yang mereka harus persiapkan, sebelum mereka terjun langsung dalam kasus pembunuhan itu. Reno terkejut dengan kejadian di kastil tua seperti yang telah diceritakan Mariah. Padahal semenjak kejadian mengerikan itu, nyaris tak terjadi apa-apa lagi di kastil. Namun, rupanya ada kejadian yang berulang, seolah memang sudah disiapkan jauh hari.


"Siapa nama korban itu?" tanya Reno sambil menyiapkan berkas yang hendak dibawa ke kastil.


"Lidya Kumalasari, 26 tahun, seorang teller di sebuah bank swasta. Menurut keterangan Mariah, ia ditemukan tewas di toilet kolam renang dalam keadaan mengenaskan. Di tubuhnya terdapat banyak luka bacokan, dan sepertinya ia kehilangan banyak darah. sampai saat ini mayat wanita itu masih berada di lokasi kejadian. Mungkin kita harus cek langsung keadaannya," terang Dimas.


Reno mencatat keterangan Dimas tersebut dalam sebuah buku agenda.Ia berusaha mengumpulkan keterangan-keterangan awal, untuk memulai penyelidikan.


"Nanti kita akan minta data tertulis siapa-siapa saja yang  berada di kastil itu. Arsip mereka sepertinya ada di bank data kepolisian," ujar Ammar.


"Untuk siapa-siapa saja yang berada di kastil, mending kita tanya langsung mereka nanti. Menurut Mariah ada 11 orang yang berada di sana, belum termasuk Mariah dan suami. Yang jelas, antara satu orang dengan satu orang yang lain saling mengenal, karena mereka adalah teman di masa SMA," terang Dimas.


"Baik. Sepertinya kita kembali dihadapkan dengan kasus serius. Malam ini juga kita harus segera berangkat ke kastil itu. Jangan sampai kejadian beberapa waktu lalu kembali berulang. Ayo, kita harus segera ke sana!" ajak Reno.


"Siap!"


***


Hari sudah mulai larut ketika rombongan penyidik dan paramedis tiba di lokasi kastil. Mereka segera bekerja secara profesional dengan arahan dari Ammar. Lokasi kejadian langsung ditelusuri dan disterilkan Seluruh penghuni kastil langsung diambil sampel sidik jari. Mereka tidak diperkenankan pergi kemana-mana selama penyelidikan berlangsung. Kastil itu terlihat lebih sibuk dari biasa. Para penyelidik masih mondar-mandir di sekitar kolam renang, demikian juga dengan paramedis.


Jenazah Lidya yang bersimbah darah dinaikkan ke dalam tandu dan ditutup dengan selimut putih, kemudian diangkut ke dalam ambulans.Sementara, Mariah berusaha menenangkan diri dengan membuat kopi di dapur, sembari melihat aktivitas para polisi dari jendela dapur. Malam ini terasa lain dari biasa. Ia merasa tegang dan khawatir.


"Semua akan baik-baik saja."


Sebuah suara menyadarkan Mariah. Ia memalingkan muka ke belakang, mendapati Ammar Marutami sudah berdiri di belakangnya.


"Ini akan jadi peristiwa yang berulang," gumam Mariah.


"Kuharap ini adalah pembunuhan pertama dan terakhir," ucap Ammar.


"Kurasa tidak. Ada sesuatu yang kutemukan di mobil saat aku berangkat ke kota. Dua buah gelang emas dengan tulisan Adit dan Lidya terukir di sana. Juga sebuah tulisan De Javu. Menurutmu, apa artinya itu?" tanya Mariah.


"De Javu?"


"Iya, bukankah itu artinya pengulangan?"


Ammar mengangguk. Mendadak ia menjadi cemas. Kalau benar ini adalah pembunuhan berulang, maka ia harus waspada. Ia masih melihat para penyelidik itu bekerja.


"Ammar dan Dimas belum tiba?" tanya Ammar kemudian.


Ammar mengangguk, kemudian keluar dari dapur menuju area kolam renang. Ia melihat lokasi pembunuhan itu dari dekat. Bercak darah masih tercecer di mana-mana, sungguh mengerikan. Ia hanya bisa menahan napas. Seorang polisi tiba-tiba mendekatinya sambil menyerahkan sesuatu yang berkilau.


"Cincin?" tanya Ammar.


"iya, pak. Saya menemukan di dekat kolam renang. Sepertinya cincin seorang wanita," kata polisi itu.


Ammar mengamati sebuah cincin emas dengan mata berlian di tangannya. Cincin itu sepertinya cukup mahal. Ada petunjuk apa sebenarnya di balik cincin ini? Ammar mengamankan cicin itu segera. Ia berharap agar Reno dan Dimas segera datang malam ini, karena ada hal-hal yang ingin ia segera diskusikan.


Di beranda depan, penghuni kastil tampak harao-harap cemas, melihat beberapa polisi dan paramedis yang hilir-mudik. Mereka duduk melingkari sebuah meja, dengan sajian teh terhidang di atasnya.


"Kita akan jadi yang berikutnya," gumam Nadina dengan paras cemas.


"Diam! Jangan ngomong sembarangan. Nggak ada yang bakal jadi berikutnya. Kita semua pasti bisa keluar dari kastil ini dalam keadaan selamat. Jangan berpikir yang nggak-nggak! Lidya emang agak norak dan sombong, pantaslah kalau ia mendapat hukuman setimpal!" oceh Rosita.


Tiba-tiba dari dalam ruangan, muncul Aditya melangkah pelan mendekati mereka. Sontak semua yang ada di ruang tamu terdiam. Mereka terkejut dengan kemunculan Aditya yang sama sekali tak diduga. Parasnya masih menunjukkan kesedihan yang mendalam. Sejenak kemudian ia pandangi raut muka semua yang hadir di situ, dengan tatapan mengancam.


"Kalian puas?" tanya Adit tiba-tiba.


"Eh, Dit. Mending kamu kuantar ke kamar saja. Sepertinya kamu harus istirahat dulu," ucap Edwin.


"Tidak! Aku tahu salah satu dari kalian di sini telah membunuh istriku. Aku bersumpah, akan menangkap dengan tanganku sendiri! Aku nggak akan biarkan siapa pun itu berkeliaran kemana-mana. Aku akan balsakan setiap kesakitan yang dialami istriku pada kalian! Jangan anggap aku orang bodoh!" Aditya mulai meracau dengan amarah.


Semua terdiam mendengar ucapan Aditya, tak ada yang memberi respon, hanya menunduk lesu. Mereka percaya, bahwa apa yang dilakukan Aditya adalah spontanitas, karena ia merasa tertekan kehilangan sang istri. Sebenarnya mereka merasa kasihan, tetapi taka da yang bisa dilakukan, kecuali membiarkan pria itu melampiaskan emosinya.


"Aku sudah tahu pembunuhnya!" ucap Aditya tiba-tiba.


Semua saling berpandangan mendengar ucapan itu. Benarkah apa yang diucapkan Aditya? Paars Aditya semakin memerah, kemudian ia berdiri dari tempat duduknya. Ia mendekati Rosita, kemudian menunjuk paras wanita itu dengan telunjuknya.


"Kau pembunuhnya!"


***