Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
131. Pria Garang


Tari berjalan mendekati pintu, kemudian membukanya. Seseorang berdiri di depan pintu dengan tatapan beringas, menatap Tari lekat-lekat. Tari bergeming, ia tidak mengenal orang yang berdiri di depannya.


“Siapa kamu?” tanya Tari penuh selidik.


“Mana gadis itu?” tanya orang itu.


“Gadis? Gadis yang mana? Satu-satunya perempuan di rumah ini adalah aku. Jadi gadis mana yang kamu maksud?” Tari balik bertanya.


“Kamu jangan bohong! Aku melihat kalian membawa gadis itu masuk ke dalam rumah ini. Jangan main-main denganku! Aku akan masuk untuk mencari gadis itu!”


“Maaf. Kamu nggak bisa masuk ke dalam rumah orang sembarangan. Pergilah! Atau aku akan panggilkan orang-orang untuk menangkapmu!” ancam Tari.


“Jangan menggertakku, bodoh! Kamu pikir aku nggak tau siapa kamu! Ini rumah Raymond Brothers kan? Mereka sedang keluar dan kamu sendirian di rumah ini. Kusarankan lebih baik kamu minggir dan biarkan aku masuk ke dalam. Aku nggak ada urusan sama sekali dengan kamu. Jangan kamu campuri urusanku!”


“Aku tidak mengizinkan kamu masuk!”


Sosok itu terlihat gusar mendengar penolakan Tari. Wanita muda itu berniat menutup pintu, tetapi ditahan oleh sosok tersebut.


“Kamu akan menyesal atas perbuatanmu!”


Pintu itu tiba-tiba didorong dengan kuat, sehingga Tari ikut terdorong ke belakang. Kini sosok itu masuk ke dalam rumah. Ia melangkah ke dalam dengan waspada.


“Aku tahu dia ada di dalam sini! Jadi jangan coba-coba membohongiku!”


Tari tak tinggal diam melihat itu. Ia menerjang sosok itu dari belakang. Sayangnya, yang diterjang sudah waspada, sehingga ia bisa menepis terjangan Tari. Pergumulan tak bisa dihindarkan. Tari terus memegang badan sosok tersebut agar tak masuk lebih dalam.


“Kurang ajar!”


Sosok itu meronta berusaha melepaskan diri. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah belati dari balik bajunya, dan menghunjamkan benda tajam itu ke perut Tari.


Jleeb!


“Aaah!”


Tari terhuyung ke belakang. Sebilah belati menancap di perutnya. Darah berceceran di lantai, sementara sosok itu menyeringai melihat Tari yang terhuyung hendak roboh.


“Sudah kuingatkan jangan turut campur! Dasar keras kepala!”


Tari kini benar-benar roboh di lantai. Darah mulai muncrat. Sosok itu kembali mendekati Tari, kemudian mencabut belati dari perutnya. Untuk memastikan wanita muda itu sudah tewas, ia kembali menghunjamkan belati beberapa kali ke tubuh Tari. Wanita muda itu kini benar-benar tewas dalam keadaan mengenaskan!


Di dalam kamar, Nayya mendengar semua keributan di luar dengan perasaan ketakutan. Ia mengkhawatirkan keadaan Tari, tetapi ia juga tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya. Ia masih meringkuk di kolong ranjang, sambil memejamkan mata.


Braak!


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dari bawah ranjang ia bisa melihat kaki si pembunuh itu masih terpercik darah. Nayya menahan napas, sambil menutup mulut, agar tidak ketahuan. Dalam hati ia merasa sangat takut, karena ia yakin telah terjadi apa-apa dengan Tari. Ia menyesali semua yang terjadi.


Sosok itu masih berkeliling kamar, membuka lemari, dan memeriksa semua yang tersembunyi di sana. Nayya berharap agar sosok itu tidak memeriksa kolong ranjang!


***


Setelah makan siang, Gilda dan Wandi meluncur ke arah Kampung Hitam. Ada perasaan was-was saat mobil mereka berhenti di depan kampung yang agak tersembunyi dari hiruk-pikuk kota. Awalnya mereka tidak yakin, apakah benar mereka berada di sekitar kampung itu.


“Kamu yakin ini kampungnya?” tanya Gilda.


“Mungkin. Aku juga belum pernah ke sini. Tetapi kalau dilihat dari penampakan yang ada, sepertinya memang ini yang dinamakan Kampung Hitam. Mbak Gilda lihat saja gang itu! Sepi sekali. Nyaris nggak ada orang yang lewat. Padahal kalau kita masuk ke dalam, banyak orang juga. Begitu sih ceritanya,” kata Wandi.


“Terus bagaimana ini? Apakah kita akan masuk ke dalam kampung?”


“Lah kamu ini bagaimana, Wan? Wajahku kan sering muncul di TV. Ya pasti mereka tahu lah kalau aku reporter TV. Jadi bagaimana ini? Atau kamu aja yang masuk ya Wan?” tanya Gilda.


“Sebentar Mbak. Sebelum kita masuk, kita harus tetapkan tujuan kita dulu. Kita masuk kampung ini tujuannya apa, dan siapa yang kita tuju? Jangan sampai kita sudah masuk, terus bingung dan nggak bisa keluar. Kan malah repot nanti,” kata Wandi.


Gilda termenung. Apa yang dikatakan Wandi memang benar. Sebenarnya, ia juga tidak mempunyai tujuan jelas masuk ke dalam kampung itu. Hanya saja ia mendengar rumor bahwa ada sebuah sedan putih yang diparkir di dekat kampung itu, yang kemungkinan mobil itu digunakan untuk menculik Nayya.


“Bisa jadi informasinya salah juga, Wan. Kita nggak mungkin menyisir kampung ini secara menyeluruh. Salah-salah kita yang diinterogasi para preman yang menghuni kampung ini,” ucap Gilda.


“Jadi bagaimana? Kita balik ke kantor aja?”


Braaak!


Tiba-tiba mereka mendengar sisi mobil digebrak dari luar. Sesosok pria berwajah kasar melongok dari luar jendela mobil. Gilda berusaha untuk tidak gugup. Ya, sebagai seorang reporter berita-berita kriminal dituntut untuk bisa mengendalikan rasa takut. Ia berusaha tenang menghadapi segala kemungkinan.


Tok ... tok ... tok!


Jendela depan diketuk keras. Wandi menurunkan kaca, berusaha tersenyum kepad pria kasar yang mengetuk jendela.


“Mau apa kalian di sini?” tanya sosok pria berwajah kasar itu.


“Eh ... anu, Bang. Kebetulan cuman lewat aja. Ini ... ini istri saya, dari tadi kebelet pengen pipis. Di mana ya bisa pipis?” ucap Wandi dengan terbata.


Gilda sengaja hanya menunduk agar tak terlalu kelihatan oleh pria berawajah garang itu. Si pria mengenyitkan dahi, kemudian ia mengangguk.


“Ikuti aku!”


Wandi menoleh ke arah Gilda sambil mengangguk. Wanita itu agak ragu, tetapi pada akhirnya ia mengikuti juga ajakan Wandi. Untunglah pria garang itu tak mengenali wajah Gilda Anwar. Mereka mengikuti langkah pria itu menyusur gang yang diapit rumah-rumah kumuh di kanan kiri.


Gilda tak berani jelalatan, ia hanya menunduk sambil sesekali melirik melihat keadaan sekitar. Memang ada beberapa penduduk kampung itu. Rata-rata mereka berawajah garang. Ada pula anak-anak tak berpakaian yang kelihatan tak terurus, sementara para wanita berpakaian seronok duduk-duduk bersama para pria.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman yang agak luas. Pria garang itu menyuruh Wandi dan Gilda untuk masuk ke dalam rumah.


“Kamar mandi ada di ujung. Kamu terus aja ke sana. Sedangkan kamu tunggu aja di sini!” perintah si pria garang kepada Wandi.


Gilda yang sebenarnya tak ingin buang air kecil, terpaksa menuruti perintah. Ia langsung menuju ke arah yang ditunjukkan. Kali ini matanya melihat sekeliling. Kamar mandi itu terletak terpisah dari ruang utama, di halaman belakang dekat dengan kebun pisang.


Sementara Wandi menunggu di ruang depan dengan cemas, karena pria garang itu terus menatap keberadaan dirinya dengan tatapan tak bersahabat. Tiba-tiba pria garang itu mendekati Wandi.


“Dompet!” katanya.


“Do-dompet?” Wandi berkata ragu-ragu.


“Serahkan dompetmu!” perintah si pria garang.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Wandi terpaksa mengeluarkan dompet dari saku, kemudian menyerahkan pada si pria garang. Pria itu mengambil dengan kasar, kemudian mengeluarkan lima lembar uang ratusan ribu yang bersemayam di dalam dompet.


“Hanya ini?” ucap pria garang itu.


“i-iya, Bang. Hanya itu saja uang saya,” jawab Wandi takut-takut.


“Hmm. Lumayan!”


Pria garang itu menyerahkan kembali dompet beserta surat-surat penting di dalamnya. Ia hanya menginginkan uangnya saja. Dalam hati, Wandi hanya bisa pasrah. Tak apa uangnya diambil, asal bukan nyawanya diambil juga.


***