Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
319. Kejutan Malam


Malam mulai menyelimuti kawasan kastil dan sekitarnya. Kegelapan bercampur rasa takut yang mendalam, merayapi seluruh penghuni kastil. Apalagi di luar sana, terdengar lolongan anjing liar dari areal perkebunan. Selepas makan malam, mereka berkumpul di beranda depan dengan perasaan tegang dan gelisah. Yang paling gusar di antara mereka adalah Jeremy dan Ryan, karena istri-istri mereka belum ditemukan. Sementara yang lain juga ikut cemas, karena ternyata Maya dan Farrel belum kembali dari air terjun. Mereka bertanya-tanya, kemana perginya Maya, Nadine, Stella, dan Farrel?


"Empat orang hilang dalam waktu satu hari. Ini sungguh buruk. Sangat buruk! Air terjun itu bukanlah tempat yang aman untuk bersenang-senang," geram Reno.


"Apakah aku akan dipersalahkan karena ini?" tanya Lily sambil merapatkan mantel rajutnya.


"Untuk saat ini, kita tidak usah mencari kesalahan siapa-siapa. Dari awal pun, rencana reuni ini sudah salah. Tetapi kita tidak bisa menyesali ini. Besok pagi-pagi, selepas sarapan, aku dan Dimas akan kembali menyusur hutan dan sekitar air terjun untuk mencari keberadaan mereka. Demi keamanan kalian, jangan ada seorang pun yang ikut. Kalian tetap tinggal di dalam kastil, sementara ada Bang Ammar, Ramdhan, dan Juned yang akan menjaga kalian. Aku harap semua bisa berjalan lancar, dan menemukan teman-teman kalian dalam keadaan hidup," papar Reno.


Semua yang hadir di situ hanya bisa terdiam. Pikiran mereka masih kacau, tak tahu apa yang harus dilakukan. Demikian juga Dimas. Peristiwa pembunuhan ini terasa tak menyisakan petunjuk apa pun, karena semua seolah dilakukan secara acak, berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya yang mempunyai keterkaitan satu sama lain. Ia berpikir, mungkin ia harus bekerja ekstra keras untuk memecahkan kasus ini.


Mereka masih duduk di beranda depan, sementara jarum jam kian merapat menuju dentang dua belas. Belum ada yang merasa mengantuk, walau lelah terasa mendera. Tiiba-tiba, Ammar berdiri dari tempat duduknya, menatap paras-paras yang ada di tempat itu dengan saksama.


"Lebih kita istirahat. Hari ini cukup melelahkan. Lebih kita persiapkan stamina agar besok pagi kta bisa fit dan berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Ammar.


Mereka semua setuju dengan ucapan Ammar, walau sebenarnya mereka merasa berat untuk memejamkan mata. Namun, mereka tak bisa menuruti itu. Mereka harus menunaikan hak tubuh mereka untuk beristirahat. Satu-persatu mereka masuk ke dalamnkastil melalui lorong yang menghubungkan dnegan ruang makan, menuju ke kamar masing-masing. Namun, baru beberapa orang yang masuk, tiba-tiba dari luar kastil terdengar suara pekikan yang sayup-sayup terdengar.


"Kalian dengar sesuatu nggak sih? Seperti teriakan minta tolong," ucap Edwin tak yakin.


"Kalian tetap di dalam! Biar aku dan Dimas yang memeriksa!"


Reno dan Dimas segera bertindak. Mereka segera keluar kastil menuju halaman depan, arah sumber suara yang berteriak minta tolong. Halaman depan sangat gelap, sehingga Dimas menggunakan senter untuk menerangi area sekitar. Di kegelapan malam, di antara pepohonan, mereka melihat sesosok perempuan yang berjalan dengan sempoyongan. Mereka segera mendekati perempuan itu. Dimas mengarahkan cahaya senter ke muka si perempuan untuk mengenali sosoknya.


"Maya?" ucap Dimas.


Perempuan itu ternyata adalah Maya. Ia memicingkan mata karena merasa terganggu dengan cahaya senter yang diarahkan oleh  Dimas. Ia menutup muka dengan jari-jarinya.


"Kamu kemana saja?" tanya Reno.


"Aku ... aku tadi berjalan ke arah persimpangan jalan tetapi ada seseorang yang memukul kepala belakangku, sehingga aku tak sadar. Ketika aku bangun, tiba-tiba hari udah gelap. Aku bingung, sehingga aku mencaro-cari jalan ke arah kastil. Aku ... aku takut sekali," ucap Maya dengan paras ketakutan.


"Apa kamu melihat sosok pemukulmu?" tanya Reno lagi.


"Tidak Pak! Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu aku merasa ada pukulan di kepala, dan aku merasakan nyeri luar biasa. Pandanganku menjadi sangat gelap, dan aku merasa diseret di suatu tempat yang aku nggak tahu. Aku terbangun, mendapati sekitar yang gelap. Aku sangat takut, sehingga aku mencari jalan sendiri ke kastil. Untunglah aku sampai di simpang empat itu, sehingga aku bisa langsung menuju ke sini," papar Maya.


"Hmmm."


Reno manggut-manggut sambil mengernyitkan dahi. Dilihatnya paras Maya dalam-dalam, sehingga wanita muda itu terlihat salah tingkah dan menunduk. Wajahnya yang cantik berusaha ia sembunyikan. Reno segera mempersilakan Maya untuk masuk ke dalam kastil dan membersihkan diri. Tanpa menunggu lama, perempuan itu segera masuk ke dalam, menuju kamarnya. Selepas kepergian Maya, Dimas terlihat merenung, kemudian menatap ke arah Reno.


"Entahlah. Aku hanya berpikir bahwa, kalau ia memang dipukul seseorang di bagian kepalanya, mengapa juga ia tidak sekalian dibunuh, malah diseret ke tempat lain. Lantas apa tujuannya? Ada satu pembohong di sini. Entah apakah dia berada di dlam kastil atau berada di luar sana, entahlah. Ini kasus yang rumit, karena tak ada petunjuk apa pun yang kita miliki," Reno balik bertanya.


"Itu yang akan kita cari tahu. Mungkin aku akan cari tahu latar belakang masing-masing orang ini dan hubungannya di masa lampau," kata Dimas.


"Besok tugas kita menemukan yang tersisa, yaitu Farrel, Stella, dan Nadina," ucap Reno.


"Semoga mereka ditemukan dalam keadaan hidup!"


***


Malam kian larut. Semua penghuni kastil beranjak menuju peraduan masing-masing. Suasana kastil begitu lengang dan sepi, hanya suara lolong anjing di kejauhan membuat hati semakin kecut. Di salah satu kamar dalam kastil, Mariah tak bisa sedikit pun memejamkan mata. Ia tak habis pikir, mengapa urusan reuni ini menjadi runyam seperti ini? Ia duduk di depan meja rias, menatap bayangan dirinya. Ia merasa tak tenang, memikirkan nasib Stella, Farrel, dan Nadine yang masih berada di luar sana.


Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah amplop kecil yang diletakkan di atas meja rias, ditindis dengan sebatang lipstik. Amplop itu mirip amplop yang biasa digunakan untuk mengisi uang. Ia penasaran, apakah gerangan isi amplop ini? Ia buka perlahan, mendapati secarik kertas di dalamnya. Secarik kertas surat berwarna merah muda, seperti kertas yang biasa digunakan untuk menulis surat cinta.


Ia membuka perlahan kertas itu, mendapati isinya yang terdapat tulisan singkat.


"Peristiwa lama akan berulang. Sebuah De Ja Vu. Sebuah dandam lama yang terpendam."


Mariah membaca tulisn pendek itu dengan gemetar. Dalam hatinya bertanya-tanya, peristiwa buruk apakah yang akan berulang kembali? Apakah pembunuhan para penulis itu? Bukankah peristiwa itu sudah dikubur dalam-dalam tak diungkit lagi? Lalu siapa yang ingin kembali menghidupkan kisah seram itu lagi?


Belum lagi ia tersadar dengan isi surat itu, tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk. Sejenak ia ragu untuk membuka, karena hari telah larut. Jangan-jangan suaminya yang mengetuk pintu. Mariah memilih untuk waspada, seraya bertanya.


"Siapa di luar?"


Pertanyaan Mariah tak terjawab, sehingga Mariah memutuskan untuk mendiamkannya. Namun lima menit kemudian, ia merasa penasaran, sehingga dengan menguatkan hati, ia membuka pintu kamar. Tak ada siapa pun di luar kamar, hanya lorong kamar yang gelap dan sepi. Mariah dapat melihat hal-hal tak terlihat di sekitarnya, tetapi malam ini, bahkan hantu pun enggan menampakkan diri.


Mariah tiba-tiba terkejut, karena melihat ada karung bekas beras yang diikat tali rafia di depan kamarnya. Ia penasaran, apa isi karung beras itu. Jantungnya berdegup kencang, perlahan ia membuka karung beras itu. ikatan tali rafia ia lepas perlahan, sampai mulut karung tebuka.


Ia membuka karung itu, dan ia pun hampir pingsan saat melihat isi karung beras itu!


***