Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
219. Pemakaman Daniel


Areal pemakaman yang terletak agak jauh dari pusat kota itu sudah mulai ramai didatangi oleh para pelayat yang ingin mengantarkan Daniel Prawira ke peristirahatan terakhirnya. Puluhan mobil mewah berjajar memdati tempat parkir dan sepanjang jalan menuju areal pemakaman. Tak dapat dipungkiri, tamu yang beradatangan adalah kalangan selebritas terkenal di negeri itu. Mereka datang dengan berbagai alasan, bukan hanya turut mengucapakan rasa belasungkawa. Kebanyakan dari mereka hanya mencari popularitas, dan berharap mendapat sorotan lebih dari para wartawan hiburan.


Di pintu masuk pekuburan, puluhan karangan bunga berjajar-jajar, dikirim oleh berbagai kalangan. Ada yang mengatasnamakan pribadi atau perusahaan tertentu. Masing-masing berusaha menonjolkan eksistensinya, dengan menulis nama pengirim memakai huruf besar dan warna menyolok mata.


Gilda dan Wandi tak meliput secara khusus kegiatan pemakaman itu, karena mereka lebih fokus di berita-berita kriminal, bukan berita hiburan yang hanya sekedar mencari sensasi. Mereka tak sabar menunggu penyataan resmi dari kepolisian yang rencananya akan digelar siang ini, selepas acara pemakaman Daniel Prawira. Sambil menunggu, mereka sengaja bersiaga di sekitar rumah sakit, kalau-kalau ada berita mengenai kondisi jenazah artis AW yang sedang diotopsi.


Di suasana pemakaman sendiri, prosesi pemakaman diatur oleh pihak keluarga dekat Daniel Prawira. Dua adik Daniel yaitu Jessica Prawira dan Christopher Prawira juga tampak hadir dalam pemakaman itu. Jessica Prawira diperistri oleh seorang diplomat dan menetap di Italia, sedangkan Christopher Prawira menjadi seorang pengusaha di Batam. Keduanya nyaris tak pernah berkomunikasi dengan kakaknya,sehingga berita kematian sang kakak sangat mengejutkan.


Tamu-tamu yang lain juga mulai berdatangan. Renita Martin datang dengan elegan, mengenakan setelan serba hitam, topi lebar dan kacamata, bak bangsawan Inggris. Sementara rombongan Riky, Guntur, dan Widya sudah terlebih dahulu datang. Mereka dikenal sebagai orang-orang dekat Daniel Prawira, karena selalu dilibatkan dalam setiap proyek film yang digarap oleh Daniel.


Di sisi lain, tampak Rianti Tobing yang tak kalah glamour. Parasnya tampak gelisah, melayangkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Biasanya ia ditemani sang suami, tapi kini ia berangkat sendiri ke pemakaman. Ia hanya melihat Ollan yang tampak berbaur dengan artis-artis lain. Ia gelisah, karena suaminya pergi sejak semalam dan tidak pulang ke rumah. Ia juga tidak melihat ada Laura di pemakaman. Pikirannya langsung tidak tenang.


Tampak pula Faishal Hadibrata yang kelihatan gagah dengan setelan jas yang elegan dan berkacamata hitam. Ia tampak didampingi seorag gadis yang tidak dikenal di kalangan selebritas, tetapi kecantikannya menyamai para selebritas. Mereka datang berdua dan langsug mengambil tempat agak menjauh dari tamu-tamu lain sambil berbisik-bisik.


Dimas sengaja hadir mendampingi Reno untuk melihat tamu-tamu yang datang sekaligus mencari informasi tersembunyi yang mungkin bisa didapatkan dari prosesi pemakaman ini. Mereka sudah berdiri di dekat tenda untuk melihat tamu-tamu yang datang. Sedangka Niken memilih untuk menenangkan diri di apartemen, karena ia masih merasa bersalah atas terbunuhnya Anita Wijaya.


“Daniel Prawira benar-benar dikenal di dunia hiburan. Kau lihar sendiri, hampir semua tamu yang datang berasal dari kalangan atas. Orang-orang pemuja harta dan popularitas,” ucap Reno.


“Sayang .... “ gumam Dimas.


“Sayang kenapa?”


“Aku dari tadi tak melihat Laura Carmellita? Di mana dia? Bukankah dia pemeran utama di film terbaru Daniel Prawira?” tanya Dimas sambil melayangkan pandangan ke sekitar.


“Tak tahu juga sih. Acara pemakaman seperti ini kan kondisional saja, jadi tak wajib juga harus datang. Mungkin dia ada pekerjaan lain, Entahlah!” ucap Reno.


“Iya juga, dan aku juga berharap Gilda tak hadir di sini,” harap Dimas.


“Jangan khawatir. Dia tak muncul di acara pemakaman ini. Dia tak terlalu tertarik dengan acara seperti ini. Dia kan wartawan kriminal. Acara pemakaman seperti ini tentu sedikit membosankan buat dia,” kata Reno.


Acara prosesi pemakaman dimulai dengan khidmat. Angin pagi berhembus lembut, seolah turut menyaksikan prosesi itu. Semua larut dalam suasana sedih, tetapi hanya sejenak saja. Selepas prosesi, semua harus kembali ke tempat aktivitas masing-masing.


Reno dan Dimas sengaja mendekati dua adik Daniel yang masih berada di pemakaman. Mereka tak heran dengan kehadiran Reno dan Dimas, karena memang Daniel meninggal dalam keadaan tak wajar. Jadi polisi pasti akan menyelidiki kasus ini.


Jessica dan Christopher Prawira hanya terdiam memandang makam kakaknya yang masih merah. Reno meminta izin untuk bertanya-tanya, dan langsung disetujui. Mereka sepakat untuk melakukan wawancara di taman yang tak jauh di areal pemakaman.


“Kami tidak bertanya banyak. Hanya menanyakan keseharian Pak Daniel secara umum. Apakah kalian sering berkomunikasi dengan dia?” tanya Reno.


“Dulu iya, tetapi semenjak kami terpisah-pisah di lain kota, kami nyaris tidak pernah bertemu, bahkan berkomunikasi. Kami juga sangat sibuk, jadi kadang tak sempat menelepon. Namun, bukan berarti kami bermusuhan. Kadang kami masih bertemu di hari raya,” terang Jessica, dan langsung disetujui oleh Christopher.


“Apakah setahu kalian Pak Daniel mempunyai musuh, atau setidaknya pernah bercerita pada kalian tentang hal-hal yang mencemaskan belakangan ini?”


“Tidak ... tidak. Kakak kami bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah pribadi ke orang, walau itu keluarga dekat. Kami tidak pernah bertukar masalah dan menjalani hidup masing-masing. Tapi walaupun begitu kami selalu menonton film buatan Daniel selalu box-office. Bakatnya memang terlihat sejak kecil, jadi kami sangat mendukung profesi dia sebagai sutradara,” terang Jessica lagi.


“Hmm ... satu lagi pertanyaan. Apakah dalam silsilah keluarga, Anda mengenal Margareth Prawira?”


“Margareth Prawira? Kami baru dengar nama itu ... tak ada nama Margareth Prawira dalam keluarga kami. Ya, Daniel memang pernah menikah, tetapi istrinya bukan bernama Margareth. Ia juga tidak punya anak yang bernama Margareth. Jadi siapa perempuan ini?” sambung Christopher.


“Maaf, mengapa Anda menanyakan hal itu Pak? Apakah ini ada hubungannya dengan kematian kakak kami?” tanya Jessica.


“Ya, kami pernah membaca sebuah polis asuransi yang menyebutkan nama Margareth di dalamnya. Saya kira itu adalah salah seorang anggota keluarga kalian, jadi kami tertarik untuk menanyakan. Sampai sekarang kami masih penasaran dengan nama Margareth ini,” terang Reno.


“Jadi maksud Bapak, kakak kami mewariskan hartanya ke perempuan bernama Margareth Prawira ini?”


“Kami akan menghubungi kantor asuransi yang bersangkutan mengenai polis ini, dan melacak keberadaan alamat Margareth. Kami ingin tahu siapa sebenarnya Margareth yang disebut dalam polis ini,” ucap Reno.


Kedua adik Daniel itu mengangguk-angguk. Walau hubungan kekerabatan antara Daniel dan adik-adiknya tak begitu dekat, bagaimanapun ikatan darah terasa kuat. Jessica dan Christopher berharap agar polisi bisa menuntaskan kasus pembunuhan kakaknya.


Suasana pemakaman telah sepi. Para petugas membersihkan areal makam dari karangan-karangan bunag yang jumlahnya puluhan tersebut. Reno dan Dimas juga segera pergi ke kantor untuk menyiapkan acara konferensi pers yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Walau kasusnya masih belum terungkap secara jelas, publik perlu tahu berita sebenarnya untuk menghindari kesimpang-siuran yang berada di kalangan masyarakat.


Jessica dan Christopher sendiri langsung kembali ke kediaman mereka , tanpa berniat lama-lama singgah di kota itu. Tugas mereka telah selesai, yakni menyelenggarakan pemakaman untuk sang kakak dan mengurus segala urusan yang berkaitan dengan itu. Untuk urusan pribadi, mereka tidak tahu-menahu, sehingga semua langsung diserahkan pada pengacara dan notaris.


***