Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
109. Identitas


Dimas membaca bekas–berkas di tangannya dengan saksama. Ia baru saja menerima laporan hasil forensik sosok gadis yang terapung di danau tempo hari. Identitasnya belum diketahui secara jelas, tetapi dapat dipastikan bahwa sosok yang terapung itu adalah seorang gadis berusia 20-an, tewas karena dibunuh dengan tusukan benda tajam di bagian perut dan dada, sehingga menyebabkan ia kehilangan banyak darah.


Selain informasi tersebut, data juga menyebutkan bahwa adanya kandungan obat bius jenis GHB atau Gamma Hydorxybutyrate dalam darahnya. Rupanya si pembunuh sengaja mencampurkan obat bius ini dalam minuman hingga korban tak sadarkan diri. Tak ada bekas kekerasan fisik atau pemerkosaan pada korban. Laporan forensik juga menyatakan bahwa korban dalam keadaan hamil 9 minggu. Melihat dari luka tusukan, korban ditikam dari jarak dekat.


“Kurasa motif pembunuhan ini adalah asmara. Mungkin pacarnya tak mau ia hamil, kemudian dihabisi begitu saja,” ucap Reno berpendapat, setelah mengamati laporan forensik tersebut.


“Kita belum bisa menyimpulkan, Ren. Bisa jadi alasan lain. Aku belajar dari kasus kastil tua. Siapa yang menyangka motif pembunuhan para penulis itu? Ternyata lebih dari sekedar dendam, si pembunuh melakukan hanya untuk bersenang-senang,” papar Dimas.


“Itu mengerikan. Yang terpenting kita tahu terlebih dahulu identitas korban, baru setelah itu kita telusuri seluk-beluk kehidupan pribadinya,” ucap Reno.


“Saat ini sidik jari sedang diperiksa, untuk dicocokkan dengan data identitas SIM di kepolisian. Sayangnya, hal ini agak lama mengingat kondisi jari yang mulai menggembung dan rusak. Semoga mereka bisa menemukan identitas korban segera,” ujar Dimas.


“Kerja bagus, Dim! Aku yakin setelah ini namamu akan melambung seperti Ammar Marutami!” puji Reno.


“Aku tidak butuh popularitas, Ren. Aku rasa semua polisi akan mempunyai insting yang sama dalam memecahkan suatu kasus.”


Tiba-tiba seorang polisi wanita masuk ke dalam ruangan membawa sebuah berkas. Ia menyerahkan berkas itu pada Dimas.


“Makasih ya Fani!” ujar Dimas sambil menerima berkas itu.


Polisi wanita bernama Fani itu mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan, tanpa sepatah kata terucap.


Dimas mengamati berkas itu dengan saksama, kemudian tersenyum lebar. Ia jentikkan jari segera.


“Mereka sudah menemukan kecocokan sidik jari mayat gadis itu. Agak susah, tetapi mereka bilang pola sidik jari itu ada kesamaan dengan SIM C atas nama Jenny Veronica Lubis. Ada data lengkapnya di sini, termasuk alamat. Sore ini kita bisa meluncur untuk mengecek alamat yang tertera, apakah ada laporan kehilangan atau nggak, dan kita bisa segera menangani kasus pembunuhan ini!”


“Menurutmu kasus ini bakalan serumit kasus kastil tua?”


“Menurutku ini kasus biasa saja, Ren. Kastil tua terlihat rumit karena ada beberapa pembunuhan yang terjadi dan sengaja ditutupin. Selain itu lokasi kastil tua yang terpencil, sangat menyulitkan penyelidikan. Kita sekarang berada di tengah kota dengan akses yang begitu mudah. Aku yakin, kasus ini dapat segera kita pecahkan!” ucap Dimas dengan optimis.


“Semoga saja begitu! Sayangnya aku mempunyai opini yang agak berbeda denganmu. Justru letak kastil tua yang terpencil dengan akses yang sulit, kita bisa membekuk pelaku karena dia tidak bisa kabur ke mana-mana. Sedangkan kali ini kita berada di kota yang luas, dengan masyarakat yang heterogen, tentunya itu tantangan yang tak bisa kita anggap remeh!” Reno memberi tanggapan.


“Ada benarnya. Semoga dengan teknologi yang kita punyai, kita bisa segera meringkus si pembunuh gadis itu,” kata Dimas.


Keduanya segera mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk proses penyelidikan selanjutnya. Dimas merasa antusias karena dipercaya untuk menangani kasus-kasus menarik seperti ini. Pengalamannya di kastil tua, membuat ia semakin percaya diri untuk memecahkan kasus pembunuhan yang lain.


Menjelang siang, Dimas dan Reno hendak mengisi perut terlebih dahulu, karena lambung sudah menjerit kelaparan. Mereka sengaja memilih sebuah warung makan langganan yag terletak di dekat pusat kota.


Sebuah warung makan yang lumayan lengkap, menyediakan berbagai masakan Indonesia. Mereka baru turun dari mobil, ketika seorang wanita muda dengan rambut ditata rapi setengah berlari menghampiri. Wanita itu berdandan rapi, dengan blazer warna abu-abu serta sebuah microphone tergenggam di tangan. Ia datang dengan seorang pria yang membawa kamera.


Gilda Anwar, seorang reporter cerdas berparas jelita yang sangat populer di dunia pemberitaan. Ia dikenal masyarakat luas karena sering meliput berita-berita kriminal yang sensasional. Ia juga dikenal berani dalam mencari sumber berita, sampai harus menerobos TKP yang seharusnya tak boleh dikunjungi. Reno dan Dimas sudah sangat hapal dengan Gilda Anwar, karena reporter ini sering mengejar untuk mendapat informasi.


“Gilda Anwar! Kamu buntutin kami ya tadi?” tanya Reno.


“Mohon maaf, Pak. Karena kami tidak diperbolehkan untuk masuk kantor polisi, jadi kami terpaksa melakukan itu,” kata Gilda Anwar.


“Gilda, kami hendak makan siang karena sudah sangat lapar siang ini. Jadi dengan sangat terpaksa kami menolak wawancara denganmu. Sebaiknya menunggu keterangan resmi dari kepolisian saja. Karena kami juga sama sepertimu, masih tidak bisa berkata apa-apa mengenai kasus ini!” tolak Reno.


“Tapi apakah sudah ada identitas mayat itu, Pak?” tanya Gilda lagi sambil menyorongkan pengeras suara ke arah Reno.


Ia juga mengisyaratkan agar si pembawa kamera segera mengambil gambar.


“Loh, kan sudah kubilang kami tidak menerima wawancara? Kok masih tetap nekat?” Reno mulai gusar.


“Mungkin sedikit keterangan untuk pemirsa di rumah, Pak?” desak Gilda.


“Nanti kalau ada informasi pasti akan kami sampaikan ya. Mohon maaf, tapi nggak sekarang. Jadi kuharap kamu cari berita yang lain dulu. Seperti pernikahan artis misalnya. Untuk kasus ini, kami memilih untuk tidak berkomentar. Selamat siang!”


Reno tidak peduli. Ia dan Dimas segera memasuki warung makan. Gilda Anwar terdiam dengan perasaan kecewa. Terpaksa ia kembali ke dalam mobil liputan bersama juru kameranya.


“Susah banget sih polisi itu diajak kerjasama. Sial!” keluh Gilda.


“Ya semua polisi memang seperti itu, Mbak!” si juru kamera menanggapi.


“Aku harus mendapatkan laporan eksklusif tentang kasus ini. Kemarin kasus kastil tua kita gagal mendapatkan berita esklusif karena saluran TV sebelah sudah meliput duluan. Kali ini kita nggak boleh kalah cepat, Wandi. Ayo kita bergerak! Walaupun polisi itu tidak meberi keterangan apa pun, kita akan cari sendiri berita mengenai kasus pembunuhan ini!” ujar Gilda bersemangat.


“Tapi dari mana mulainya, Mbak. Kan kita nggak tahu identitas mayat itu?” tanya Wandi.


“Aku akan cari informasi dari kepolisian. Hmm. Biasa, kan kita punya seseorang yang bisa bantu di sana,” ujar Gilda sambil tersenyum.


“Fani? Mbak Gilda mau minta keterangan dari Fani?” tanya Wandi.


Gilda mengangguk. Profesinya sebagai reporter berita-berita kriminal mengharuskan ia untuk berpikir kreatif. Di kantor kepolisian, Gilda mempunyai seorang informan bernama Fani. Biasanya Fani membocorkan sedikit tentang hal-hal rahasia di kepolisian yang belum boleh diungkap ke publik. Memang tidak gratis. Gilda harus menyediakan sejumlah uang untuk memaksa Fani bersuara. Namun, hal itu tak menjadi soal, mengingat persaingan dunia pemberitaan begitu ketat. Informasi yang akurat dari sebuah pemberitaan akan menaikkan rating secara tajam.


***