Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
242. Ikatan


Riky terhenyak ketika mendengar suara yang tidak asing memanggilnya. Ia segera memalingkan muka, menatap seorang pria yang baru saja keluar dari lemari pakaian. Kemudian ia beralih menatap ke arah Melani. Wanita muda itu hanya menggeleng cepat, seolah mengatakan bahwa ia tidak ada sangkut-pautnya dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Kamu nggak akan pergi kemana-mana Riky! Kamu harus selesaikan dulu urusan antara kita, baru setelah itu kau bisa pergi dengan bebas. Sebab kalau tidak, aku akan buatmu menyesal selamanya!" ucap Faishal dengan paars garang.


Riky terdiam sejenak. Ia tidak menyangka kalau kedatangannya di kamar hotel ini adalah jebakan belaka. Ia juga tidak menyangka kalau Melani melakukan hal itu padanya, padahal sebelumnya ia sangat percaya pada wanita itu. Pikirannya segera menangkap bahwa antara Faishal dan Melani ada hubungan khusus, tetapi ia tidak mau tahu ada hubungan apa di antara mereka. Sebenarnya ia juga sudah bisa mengendus hal itu sejak lama. Ia  segera memutar otak agar ia bisa pergi dari kamar hotel itu.


""Bang Faishal ... ja-jadi aku di sini karena jebakan. Hmm, nggak nyangka saja kalau kamu tega lakuin itu, Mel!" ucap Riky.


Ia menatap tajam ke arah Melani yang seperti merasa bersalah. Rasa simpati yang ia bangun sejak masih berseragam putih abu-abu perlahan sirna, tergantikan dengan kebencian yang meraja. Ia hampir saja tak dapat menahan emosi, tetapi ia berusaha menarik napas dalam.


"Bukan! Bukan begitu, Rik! Dengerin penjelasanku. Aku sama sekali nggak ada maksud begitu aku hanya .... "


"Hanya apa? Kamu masih saja berkilah! Seharusnya aku tak percaya dengan mulutmu yang penuh racun itu!" dengkus Riky.


"Aku ... aku nggak ada maksud begitu. Aku hanya .... "


"Sudah cukup! Aku nggak mau mendengar drama di antara kalian. Sekarang bukan waktunya untuk adegan dramatis. Rik, aku mau apa yang kuminta kamu kembalikan atau kamu harus membayar senilai yang sama! Melani kamu diam dan jangan bersuara. Urusan kita akan kita selesaikan setelah ini semua selesai!" ucap Faishal sembari beralih menatap tajam ke arah Melani.


Melani terdiam, ia merasa menyesal dengan semua yang telah terjadi. Ia menyesal mengikuti perintah Faishal yang akibatnya malah berakibat buruk padanya. Ia merasa telah terjatuh dan kini tertimpa tangga pula.


"Maaf, Bang! Aku kesini karena jebakan. Jadi aku tidak siap dan tidak membawa apa yang Abang maksud. Aku sudah bilang bahwa aku akan memberikan pada Abang, tetapi tidak sekarang. Aku perlu waktu.Bagaimana kalau besok pagi-pagi sekali? Aku janji akan memberikannya pada Abang," karta Riky, mencoba bernegosiasi.


"Kamu telah banyak berjanji, Rik! Aku sama sekali nggak percaya dengan ucapanmu! waktu yang kuberikan padamu sudah lebih dari cukup!"


"Kali ini aku akan tepati janjiku, Bang! Kalau memang aku mangkir, maka aku siap terima konsekuensi apa pun.  Aku bukan pendusta dan aku akan tepati janjiku!"


Riky berusaha meyakinkan Faishal. Untuk sejenak, Faishal berpikir, mencoba menimbang-nimbang perkataan Riky.


"Mengapa harus besok pagi? Mengapa tidak nanti malam?" tanya Faishal.


"Aku butuh waktu, Bang! Tidak bisa secepat itu. Berilah waktu lagi, Bang! Kali ini aku janji akan tepati janjiku!"


"Bukankah aku sudah memberikan waktu yang tidak sebentar untukmu?"


"Iya Bang! Kali ini adalah waktu yang terakhir. Aku ada urusan nanti malam yang harus kuselesaikan. Jadi kumohon berilah waktu sampai besok pagi! Kali ini aku benar-benar berjanji"


Faishal manggut-manggut kemudian berkata," Oke, Oke, waktumu besok pagi sampai pukul 07.00 pagi. Temui aku di kamar ini lagi. Lewat dari itu, jangan salahkan aku! Aku terpaksa akan memburumu sampai ujung dunia dan aku akan buat kamu menyesal karena kamu telah kenal denganku!"


"Baik Bang! Aku akan berusaha tepat waktu. Dan kau, Melani!"


Tiba-tiba Riky menunjuk ke arah Melani. Wanita muda itu hanya terdiam, tak bisa berkata apa pun.


"Kamu nggak usah hubungi aku lagi! Ya, aku memang pernah suka padamu, tetapi rasa suka itu sudah musnah. Jandi jangan coba-coba manfaatkan aku dengan kata-kata manis dan wajah lugumu itu!


"Cukup, aku nggak mau mendengar penjelasanmu. Aku harus pergi sekarang!"


"Sampai ketemu besok, Rik!" ucap Faishal.


***


Renita memarkir kendaraan di garasi. Ia merasa sangat lelah hari ini, dan ingin segera beristirahat. Hari sudah mulai gelap, tetapi belum terlalu larut. Namun, karena ia tinggal di kawasan elit, suasana sekitar sangat sepi karena masing-masing rumah tertutup rapat, tidak berurusan dengan tetangga. Di lingkungan rumahnya memakai sistem perumahan tanpa pagar, jadi setiap orang bisa mengakses ke dalam lingkungan rumah dengan mudah. Warga hanya mengandalkan dari keamanan sekuriti yang dibayar tiap bulan. Sayangnya, kadang sekuriti sendiri lalai dengan tugasnya, malah banyak nonton TV sambil minum kopi di pos penjagaan.


Niken hampir saja kehilangan jejak ketika Renita masuk ke dalam rumah, namun ia bisa memantau keberadaan aktris horror itu. Niken memarkir kendaraan di seberang jalan, tak jauh dari kediaman Renita. Ia berencana tidur di mobil saja malam ini, karena Renita tak mengizinkan menginap. Renita merasa aman akrena dia tinggal bersama adik perempuannya, sehingga ia merasa tak perlu bantuan Niken.


Niken sudah mempersiapkan perbekalan untuk tidur di mobil, yakni selimut dan bantal kecil berwarna hijau muda. Tentu saja ini bukan kali pertama ia harus tidur di mobil. Dalam beberapa kasus yang ia tangani, ia harus tidur pula di dalam mobil karena harus menyusup atau mengawasi seseorang. Tidur di mobil memang tidak nyaman, tetapi ia tidak punya pilihan. Niken selalu menyiapkan bantal dan selimut, serta sebungkus keripik kentang rasa original kesukaannya.


Ia hendak merebahkan diri, sambil terus mengawasi kediaman Renita yang tampak lengang dan tak mencurigakan.Dari pemutar musik di mobilnya, ia memutar lagu-lagu romantis tahun 90-an yang terasa lembut di telinga. Malam ini sepertinya semua berjalan dengan aman dan damai. Paling tidak, itu lah yang diharapkannya.


Sementara, Renita hendak masuk ke dalam rumah. Biasanya jam seperti ini Rani, adiknya, masih asyik nonton TV atau bermain game di kamarnya. Suasana senyap sekali. Lampu ruang tamu dalam keadaan mati. Memang, biasanya sengaja dimatikan kalau tidak ada tamu berkunjung. Ia membuka pintu, tetapi merasa heran karena pintu depan tidak dikunci.Padahal biasanya Rani rajin mengunci pintu depan. Apakah mungkin Rani lupa?


Ia tidak menaruh kecurigaan apa-apa, sembari langsung masuk rumah. Ia ingin segera beristirahat karena besok masih ada jadwal syuting pagi-pagi. Namun, saat ia melewati ruang tengah, ia heran karena tak menemukan keberadaan Rani di sana. Biasanya ia asyik menonton TV. Renita berpikir bahwa mungkin Rani berada di kamarnya. Sebelum ia masuk ke kamarnya sendiri, ia menghampiri kamar Rani.


"Ran ... Ran. Kamu sudah tidur?" tanya Renita.


Panggilan Renita terabaikan. Ia tak emndengar suara apa pun dari dalam kamar Rani. Semua terdengar hening dan senyap. Renita merasa heran. Tak biasanya Rani mengabaikan panggilannya walau ia sedang bermain game. Ia buka pintu kamar Rani, tetapi ternyata kamar itu dalam keadaan kosong.


Renita semakin bertanya-tanya, kemana Rani pergi? Tak biasanya ia meniggalkan rumah dalam keadaan tak terkunci seperti ini. Ia bergegas menuju ke dapur. rasa cemas mulai menyergap.


"Ran! Rani! Kamu ada di mana?" panggil Renita.


"Mmmh ... mmmh!"


Tiba-tiba Renita mendengar suara aneh di lantai dua. Pikirannya langsung tidak enak. Ia bergegas menuju lantai dua untuk memastikan apa yang  sebenarnya terjadi di sana.Ia naik tangga dengan tergesa, kemudian ia mendapati seluruh ruangan di lamtai dua dalam keadaan gelap, karena lampu dimatikan.


"Ran!" panggil Renita lagi.


"Mmmmh!"


Renita segera menyalakan lampu yang dimatikan, dan ia pun mendapati pemadangan mengejutkan di ruang terbuka yang berada di lantai dua. Ia melihat Rani yang mulutnya diplester dengan lakban hitam, kemudian tangan dan kakinya diikat pada sebuah kursi. Paras gadis belia itu sangat ketakutan, tetapi ia tak bisa bergerak dan tak bisa berbuat apa-apa!


***