Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
268. Persiapan Berangkat


Petang berangsur tenggelam berganti malam. Pak Paiman sudah menyiapkan segala kebutuhan para tamu yang direncanakan akan datang malam ini. Kamar-kamar sudah disiapkan dan ditata rapi. Menurut informasi yang didapat dari Pak Reno, akan ada enam orang yang akan datang. Mereka adalah orang-orang yang dicurigai terlibat dalam kasus pembunuhan yang sedang viral belakangan ini.


Di kantor polisi sendiri, Reno sudah menunggu para artis yang hendak dibawa ke rumah isolasi. Laura Carmellita datang pertama kali, langsung menemui Reno di kantornya. Parasnya tampak gelisah.


"Ini adalah debut karirku  bermain di film horror pertama kalinya. Belum juga aku memulai syuting, sudah mendapat panggilan isolasi. Kuharap ini bukan akhir dari karirku ya Pak," ucap Laura sedikit sewot.


"Aku sudah bicara dengan produsermu, dan dia setuju untuk menunda pengambilan gambar yang melibatkan dirimu, sampai kasus ini benar-benar tuntas. Ini hanya masalah waktu Laura. Kalau kau buka pembunuhnya, maka kau tak perlu khawatir," terang Reno.


"Aku bukan pembunuhnya, Pak! Tetapi  tetap saja semua ini membuatku tidak nyaman," keluh Laura.


"Aku paham, Laura. Tidak ada seorang pun yang nyaman dengan situasi ini. termasuk si pembunuh sekalipun. ia akan terus mencari cara agar dia bisa memuaskan ambisinya. Di rumah isolasi ini akan terbongkar semua karakter asli kalian semua. Kami berharap, cara ini akan membuat lebih mudah membekuk si pelaku," ujar Reno.


"Semoga rencana ini akan berjalan lancar ya, Pak. dan bukan sebaliknya," kata Laura.


"Apa maksudmu?"


"Semoga rumah ini tidak menjadi ajang pembantaian baru. Bukankah di kasus yang sebelumnya, ada seorang gadis terbunuh di kamarnya sendiri?" tanya Laura.


Reno hanya menghela napas. Di kasus sebelumnya, memang terbunuhnya Miranti dalam kamarnya sendiri beredar luas di kalangan masyarakat. Beberapa kalangan bahkan menyalahkan polisi dalam hal ini. Dari kasus Miranti tersebut, sebenarnya Reno sudah bisa mengambil pelajaran, sehingga untuk ke depan, diperlukan penjagaan dan pengamanan lebih ketat.


Reno belum sempat menjawab pertanyaan Laura, ketika Rianti tiba juga di kantor polisi. Seperti biasa, ia sendirian tanpa ditemani oleh Henry. Wanita itu tahu kalau ada Laura di dalam kantor Reno, jadi ia hanya duduk di lobby, tanpa berniat bertemu dengan Laura. Perasaannya masih belum bisa menerima kalau Henry tidak mencintainya lagi, dan lebih memilih Laura. Itu bukan gosip, tetapi fakta. Bukan karena media-media hiburan yang memberitakan kedekatan mereka, tetapi Rianti melihat dengan mata dan kepalanya sendiri..


Laura yang sudah selesai mengobrol dengan Reno. keluar dari kantor. Sekilas dilihatnya ada Rianti di ruang lobby. Ia juga merasa canggung dengan keadaan itu. Jelas ia merasa bersalah dan malu, walau sebenarnya ia tidak ingin Henry mendekati dirinya. Namun, namanya terlanjur terkenal sebagai orang ketiga yang merusak hubungan Henry dan Rianti.


"Boleh aku berada duduk di kantor Pak Reno saja?" ujar Laura sambil berbalik, hendak masuk kembali ke ruangan Reno.


"Kenapa? Kau canggung bertemu dengan Rianti? Bukannya setelah ini kalian akan tinggal serumah?  Saranku, dekati dan ajak ngobrol. Mungkin dia terlampau percaya dengan media, sehingga ia merasa sangat cemburu denganmu," kata Reno.


"Pak Reno percaya kalau saya perebut Henry dari tangan Rianti?" tanya Laura.


"Entahlah, Laura. Itu sama sekali bukan urusanku. Sekalipun aku percaya atau tidak, toh nggak ada bedanya juga. Ranahku tidak mengurusi rumah tangga artis, jadi ya aku tidak begitu peduli dengan itu. Maaf ya Laura," kata Reno.


Laura hanya manggut-manggut. Ia menuruti saran Reno. Ia melangkah menuju ruang lobby dengan ragu-ragu, kemudian menemui Rianti yang pura-pura tidak melihat kehadirannya.  Awalnya Laura merasa canggung, tetapi diberanikannya untuk duduk di sebelah Rianti. Tentu saja, hal ini membuat Rianti kaget luar biasa.


"Ma-maaf Mbak. Boleh kan saya duduk di sini?" ucap Laura sambil tersenyum.


"Boleh aja, silakan! Tapi saya yang akan pergi!"


Setelah berkata begitu, Rianti melengos, berpindah ke kursi lain yang agak jauh. Perasaan Laura menjadi semakin tidak enak. Rupanya Rianti sudah benar-benar membenci keberadaannya. Kini, ia hadir tak lagi berniat intuk mendekati Rianti. Ia hanya duduk terdiam di sofa.


Tak lama, Riky tiba pula di kantor polisi. Seperti biasa, parasnya tampak gelisah. Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangannya, sembari melayangkan pandangan ke sekeliling. Ia hanya mendapati Rianti dan Laura berada di situ.


"Entahlah. Aku nggak peduli mereka kesini atau tidak kok!" jawab Riky sekenanya.


Laura hanya manggut-manggut. Jawaban Riky tadi  sedikit mengejutkannya. Padahal dulu, Riky yang ia kenal dahulu adalah seorang yang berwatak ceria, tetapi kini ia melihat Riky sebagai sosok yang jutek dan pemarah.  Diliriknya ke arah Rianti. Wanita itu mengeluarkan kotak rias dan mulai menyaput pipi, agar terlihat lebih bersinar malam ini. Laura benar-benar merasa canggung duduk sendirian.


Kedatangan Riky, disusul secara bertutur-turut oleh Widya dan Guntur. Masing-masing orang yang di sana sudah siap dengan perbekalan. Mereka membawa kopor-kopor besar berisi pakaian dan perlengkapan lainnya. Kedatangan Widya disambut hangat oleh Laura. Mereka mengobrol akrab sampai sampai Reno keluar dari ruangan untuk menemui mereka.


"Siapa yang belum hadir?" tanya Reno.


"Bang Henry belum kelihatan," kata Laura sambil menatap berkeliling.


Laura tiba-tiba menyadari kalau ucapannya itu bisa menimbulkan polemik.  Ia tak sengaja menyebut nama Henry, sehingga Rianti merasa tidak nyaman.


"Oke, sambil menunggu, mari kita bahas tentang program isolasi ini. Tentunya ini kami lakukan untuk melindungi kalian semua, siapa pun pelakunya, baik dari kalian sendiri atau mungkin orang lain, yang jelas program isolasi kami pakai selama mencari identitas pelaku. Aturan-aturan sudah jelas, dan kami harap kalian tidak terlalu tegang, santai saja, mungkin tidak lama .... "


Ucapan Reno terhenti ketika melihat Henry tergopoh memasuki lobby dengan barang bawaan yang cukup banyak. Napasnya terengah, peluh menetes di keningnya.


"Maaf ... maaf aku datang terlambat. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan, jadi aku harus buru-buru sampai ke sini. Tadinya aku khawatir sudah ditinggal ternyata belum. Sekali lagi maaf," ucap Henry sambil menyeka peluh yang menetes di kening.


Reno melanjutkan penjelasannya mengenai program isolasi yang akan dilalui oleh para artis itu. Sat itu, Reno harus mencoret beberapa nama yaitu Ollan dan Faishal. Ollan sedang berada di Kampung Hitam, dan Reno yakin bahwa pria gemulai itu tak terlibat dengan kasus ini. Kalau ia berada di dalam rumah isolasi, kemungkinan Ollan akan diincar pula oleh sang pembunuh.


Sedangkan Faishal sudah barang tentu tak bisa dibawa ke rumah isolasi. Saat ini ia tengah dijaga ketat oleh pihak kepolisian di sebuah ruangan rumah sakit. Tak ada seorang pun yang boleh menjenguk karena belajar dari pengalaman pizza beracun kemarin.


"Ah, tidak!" ucap Widya sambil menatap layar ponselnya lekat-lekat.


Paras Widya tiba-tiba berubah panik, sehingga semua yang ada di situ terheran. Mereka menatap Widya dengan penuh tanya. Widya menyerahkan ponsel kepada Reno, karena sepertinya ada sesuatu yang penting di situ. reno menerima ponsel Widya, menatap layarnya dengan teliti.


"Astaga!" gumam Reno.


Dalam layar ponsel itu jelas Widya mendapat sebuah ancaman dari nomor tak dikenal.


Pikirmu isolasi ini akan membuatmu lolos dari kematian? Sampai jumpa nanti di rumah isolasi!


"Kamu baru saja baca ini?" tanya Reno kepada Widya.


"Ya, aku saja buka ponsel dan mendapati pesan ini," kata Widya sedikit gugup.


"Pesan ancaman ini dikirim sekitar satu jam yang lalu, sebelum kalian semua berada di kantor polisi. Aku tahu salah satu dari kalian telah mengirim pesan ini pada Widya. Atau bahkan Widya sendiri yang berpura-pura mendapat pesan misterius ini, seperti yang dilakukan Ferdy di kasus sebelumnya. Apapun itu, pesan ini berarti menantang kepolisian. Jadi kutegaskan pada kalian, polisi akan menerima tantangan ini. Kita akan bertemu di rumah isolasi dan kita lihat siapa yang akan dibekuk di antara kalian atau mungkin orang lain di luar. Mari kita lihat!"


***