Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
273. Foto Lama


Selepas sarapan pagi, Reno menemui Gilda dan Wandi yang tertahan di gerbang depan, karena Pak Paiman tak mengizinkan masuk begitu saja. Gilda tampak gelisah. Ia ingin masuk ke dalam rumah isolasi itu segera, sementara Wandi sedang mengambil gambar suasana di sekitar rumah isolasi yang terlihat sunyi. Gilda tampak gembira melihat kedatangan polisi itu.


"Kita berjumpa lagi, Pak Reno," sapa Gilda dengan tersenyum lebar, namun Reno mengabaikannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Gilda? Bukankah kamu tahu area isolasi ini adalah area terbatas, tak seorang pun boleh mendekat apalagi masuk ke dalam sini," ucap Reno tegas.


"Aduh, Pak Reno masih pakai nanya lagi. Pastinya saya kesini bukan tanpa alasan dong Pak. Saya kesini untuk meliput berita utama yang lagi viral akhir-akhir. Pembunuhan para artis. Pasti itu akan menjadi judul yang spektakuler. Boleh kan saya masuk? Toh saya sudah pernah tahu dalamnya. Kalau perlu, boleh dong saya ikut menginap bersama mereka. Semalam aja Pak," rayu Gilda.


"Tak sedetik pun kuizinkan kamu masuk kemari, Gilda. Maaf. Kamu memang pernah ikut dalam isolasi kasus sebelumnya, tetapi kehadiranmu bukannya membantu tapi malah merepotkan. Kamu belum jera diikat dalam gudang? Untung kamu nggak dihabisi. Bagaimana kalau pelaku pembunuhan kali ini lebih sadis daripada yang kamu duga? Kamu mau mengambil risikonya?" tanya Reno.


Gilda berpikir sejenak. Memang, dalam isolasi sebelumnya banyak kejadian tak terduga yang menimpa dirinya. Beruntung ia masih bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, jiwa ambisiusnya memaksa dirinya untuk tetap berusaha mendapatkan berita, apa pun caranya.


"Saya siap menanggung segala risiko, Pak. Saya yakin aman-aman saja kok, Pak!" ucap Gilda enteng.


"Kamu tidak bisa meremehekan seperti itu, Gilda. Kamu belum tahu yang kamu hadapi seperti apa. Jangankan dirimu, bahkan nyawaku juga terancam. Sekali lagi kutegaskan, kamu tak boleh masuk ke dalam rumah isolasi. Apa pun alasannya! Sekarang pergilah, dan jangan mendekati rumah ini lagi!" tandas Reno.


Gilda terdiam. Semangatnya untuk mendapat berita redup seketika, tetapi bukan Gilda kalau menyerah begitu saja. Ia masih berusaha melakukan negosiasi dengan polisi itu.


"Oke, oke. Tapi boleh dong Pak saya tanya-tanya dikit tentang kasus ini. Nanti saya janji, nggak akan sebarkan lokasi tempat isolasi ini ke publik. Boleh ya Pak?" rayu Gilda.


"Oh, kamu mengancam untuk menyebarkan lokasi isolasi ini ke publik? Kalau itu sampai terjadi, maka aku nggak segan-segan menjebloskanmu ke penjara karena sudah menyebarkan rahasia kepolisian! Aku tak mau bernegosiasi denganmu Gilda. Pergilah!" usir Reno.


Nyali Gilda kendur juga, tetapi ia tetap mencari celah agar Reno mau bersuara perihal kasus ini. Ia masih berdiri di luar pagar, sementara Wandi memlih menyingkir sambil mengambil gambar-gambar di sekitar lokasi. Pia itu memilih untuk tidak ikut campur, karena ia sudah tahu watak Gilda seperti apa. Jadi, ia memilih jalur aman.


"Iya deh Pak, maaf. Nanti saya akan pergi setelah ini. Jadi siapa saja Pak yang mengkuti program isolasi ini?" tanya Gilda.


"Maaf, untuk siapa-siapa yang ada di dalam rumah ini juga kami rahasiakan dan kamu tak berhak tahu. Aku tak akan menjawab pertanyaan itu," jawab Reno tegas.


"Tapi publik berhak tahu Pak!" paksa Gilda.


Reno merasa gemas dengan sikap Gilda yang terus memaksa. Ia hanya menghela napas, kemudian ia berbalik untuk kembali ke rumah. Tak ada gunanya menghadapi Gilda yang terus menggila seperti itu. Gilda juga terlihat gusar, karena Reno meninggalkannya begitu saja. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Wandi! Wandi!" panggil Gilda.


"Eh, iya Mbak!"


Wandi buru-buru mendekat. Kalau Gilda sudah bertingkah gusar seperti itu, berarti suasana hatinya sedang tidak baik. Artinya, Wandi harus siap dengan omelan-omelan dan perintah yang tidak masuk akal dari Gilda. sayangnya, ia juga tidak bisa menolak.


"Bagaimanapun caranya, pokoknya aku harus bisa masuk ke dalam rumah ini!" ucap Gilda.


"Ta-tapi Mbak .... "


"Tidak tapi-tapi, Wandi. Aku bilang bagaimanapun caranya!"


***


Dimas melanjutkan penyelidikan ke sebuah rumah super megah milik Daniel Prawira. Pria itu tinggal sendirian di rumahnya yang mirip istana. Saat Dimas kesana, rumah itu alam keadaan tertutup. Pagar depannya menjulang tinggi, seolah tak mengizinkan siapa pun mengakses ke dalamnya. Dimas memencet bel yang ada di dekat pagar, berharap ada seseorang membukakan pintu.


Berkali-kali ia memencet bel, sampai pintu gerbang raksasa itu terbuka. Seorang pria paruh baya berkaos oblong membuka pintu pagar dengan paras bingung. Kelihatannya ia bingung melihat kedatangan Dimas di rumah itu.


Dimas sebenarnya malas untuk menjelaskan siapa dirinya tiap kali bertemu orang. Ia hanya menyerahkan kartu identitas kepada pria itu, tanpa berucap sepatah kata pun. Pria itu segera mengizinkan Dimas untuk masuk, tetapi tetap saja ia merasa bingung, karena ia tinggal harus berbuat apa.


"Bapak sama siapa di rumah ini?" tanya Dimas sambil melayangkan pandangan di sekitar rumah yang super megah itu.


Teras rumah itu ditopang dua buah pilar raksasa, dan di bagian taman ada sebuah air mancur dengan hiasan patung kuno bergaya Yunani. Sungguh, rumah bergaya Eropa kuno ini pasti bernilai puluhan milyar. Ia juga melihat tiga mobil mewah terparkir di garasi yang super luas.


"Sa-saya sendirian aja sih Pak. Semenjak Pak Daniel meninggal, saya ditugasi sama Ibu Jessica Prawira untuk merawat rumah ini. Begitu sih," papar si bapak paruh baya.


Dimas hanya mengangguk-angguk. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, sementara pria paruh baya itu mengikuti dari belakang. Ia pernah mendengar dari Reno, perihal nama Jesicca Prawira, adik kandung Daniel Prawira.


"Oya, Bapak namanya siapa?" tanya Dimas.


"Saya Husin Pak. Biasanya dipanggil Mang Husin," jawab bapak itu.


"Jadi begini Mang Husin. Saya kesini untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang berkaitan dengan Pak Daniel. Mungkin ada sesuatu di barang-barang Pak daniel yang terlewat kami periksa. Boleh kan saya masuk dan memeriksa isi rumah?" tanya Dimas.


"Oh, silakan saja, Pak! Saya juga nggak bisa menolak untuk urusan kepolisian. Bapak mau saya buatkan kopi atau bagaimana Pak?"


"Tak perlu repot, Mang! Terima kasih!"


Selesai berbasa-basi sebentar, Dimas segera melaksanakan tugasnya. Ia masuk ke dalam rumah besar bak istana itu. Ruang tamunya begitu lapang, tak banyak pernak-pernik, hanya lukisan-lukisan besar dan guci-guci mahal tersusun rapi dan artistik. Dimas bingung hendak memulai dari mana. Di ruang dalam semua perabot tampak berkelas dan mahal. Ia melihat sebuah tangga melingkar berukuran besar menghubugkan dengan lantai dua.


"Di mana kamar Pak Daniel?" tanya Dimas.


"Di lantai dua, mari saya antar!" ucap Mang Husin.


Dimas diantar ke sebuah ruangan kamar yang juga lapang, berkali-kali lipat dengan ukuran kamar tidurnya. Kamar itu begitu elegan, dengan perabot yang serba mahal. Di sana terdapat sebuah lemari pakaian dengan empat pintu yang tertempel di dinding, serta meja rias milik perempuan. Tak ada yang terlihat aneh di sana. Dimas sempat melihat foto-foto Daniel bersama almarhum istrinya. Sepertinya , mereka cukup berbahagia walau tak dikaruniai keturunan.


Kemudian Dimas beralih ke ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar tidur utama. Ruang kerja ini juga cukup luas, ditata bak sebuah kantor, terlihat bersih dan rapi. Banyak buku dan catatan ditata di lemari kaca ukuran besar. Dimas memeriksa semua isi laci dan lemari, berharap menemukan petunjuk penting yang bisa dijadikan kunci pemecahan kasus ini.


Di laci meja kerja yang terbuat dari kayu dipelitur, ia menemukan foto Anita Wijaya saat masih remaja di sana. Ia mengernyitkan dahi. Apakah Daniel Prawira mengenal Anita sejak masih remaja? Banyak juga foto Daniel bersama artis-artis lain. Beberapa di antaranya tampak foto Daniel berfoto bersama dengan Renita, Rianti, Henry, Ollan, dan bahkan Laura.


Dimas membuka dokumen-dokumen yang mungkin berisi data mengenai sutradara kaya itu. Bahkan ia sempat melihat surat nikah Daniel Prawira. Tak ada yang janggal. Namun, ia agak terkejut melihat sebuah foto yang menurutnya aneh. Dalam foto tersebut terlihat Daniel berada di sebuah tempat yang tak asing. yakni sebuah kamar yang interiornya seperti pernah ia lihat. Daniel terlihat bertelanjang dada. tidur di balik selimut, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, seolah menolak untuk diambil gambarnya.


"Aku kenal kamar ini .... "


Dimas bergumam. Pikirannya langsung ke bergerak cepat untuk menelisik lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi dibalik kisah pelik ini.


***