
Hermaphrodite kembali ke istana dewa-dewa, menghilang bersama sang penegak. Kisah baru kembali dibuka, saat ratu kegelapan akan binasa. Dua siang dua malam, saat pertengahan gelap, dalam tunggangan, kesepian dan merana. Maka dewi kegelapan akan kehilangan jemarinya.
Reno kembali memeriksa kertas teka-teki yang dibawa oleh Niken. Kini, ia baru menyadari arti sepenuhnya dari teka-teki itu. Hermaphrodite yang dapat diartikan sebagai Ollan, telah kembali ke istana dewa-dewa, atau kembali dalam pengamanan polisi. Reno kini memahami bahwa Ratu Kegelapan di sini adalah Renita Martin. Ia dibunuh, kemudian mayatnya dimasukkan dalam mobil, yang artinya tunggangan. Dewi Kegelapan akan kehilangan jemarinya, hal ini juga sangat sesuai dengan isi teka-teki. Mayat Renita ditemukan dalam keadaan terpotong jari-jarinya. Semua seolah diungkap jelas dalam teka-teki keempat itu.
Namun, Reno menyesal karena terlalu lambat memecahkan isi teka-teki itu. Bukan karena ia terlambat, tetapi karena ia mempercayakan teka-teki itu kepada Niken. Alhasil, bukannya pembunuhan itu dapat dicegah, tetapi sebaliknya, si pembunuh bahkan dapat menghabisi Renita dengan cukup mudah, sekaligus dapat menculik Niken, yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.
Sementara, di tengah situasi pelik ini Dimas lebih memilih menyingkir, seolah protes karena Niken dibiarkan menangani kasus pembunuhan berantai ini sendirian. Reno menghela napas. Ya, kini ia merasa sendiri. Bahkan Dimas pun meninggalkan ia sendirian. Perlahan, diambilnya kertas yang ia temukan di samping jari-jari Renita yang terpotong. Ia menduga isinya adalah teka-teki kelima. Namun, ia ragu untuk memecahkan teka-teki itu, karena ia khawatir akan gagal lagi. Kertas teka-teki masih berada di dalam plastik, bahkan masih ada noda darah di kertas itu. Ia tahu, bahwa dalam kertas itu ada petunjuk tersirat mengenai korban berikutnya.
"Ini harus dihentikan! Tidak boleh ada korban lagi!" geramnya.
Ia menduga, bahwa pelaku pembunuhan itu telah membuat daftar korban jauh-jauh hari sebelumnya. Ia juga menduga daftar korban ini dibuat secara random, bukan mengikuti pola tertentu. Dimulai dari Daniel, Anita, Ollan, dan kemudian Renita. Reno tidak melihat pola apa pun terkait korban-korban pembunuhan ini. Hanya saja, memang korban terlihat berseling, pria dan wanita. Korban pembunuhan pertama adalah Daniel Prawira, seorang pria, lalu lanjut ke Anita Wijaya, seorang wanita, setelah itu korbannya adalah Ollan, seorang pria, walaupun pada akhirnya gagal. Korban terakhir adalah Renita. Jadi apakah korban berikutnya seorang pria?
Reno tidak berani memastikannya, Mau tidak mau, ia harus membaca kertas teka-teki yang berisi petunjuk. Ini adalah kertas teka-teki kelima sejak terbunuhnya Daniel Prawira. Si pembunuh selalu saja meninggalkan kertas teka-teki di tempat yang mudah terlihat atau tempat yang mudah dijangkau. Reno merasa was-was mengeluarkan kertas itu dalam bungkus plastik. Ia berharap agar teka-teki itu bukanlah teka-teki sulit. Perlahan, ia membaca teka-teki itu.
Romeo dan Juliet, romansa mereka berakhir dengan racun. Romeo dan Juliet berakhir dalam pelukan gelap, terbungkam tanpa suara, dalam kebekuan malam yang jahanam. Romeo dan Juliet, kisah yang berakhir dalam dua hari. Romeo dan Juliet, akan berakhir dalam kejutan, menyisakan tulang hangus dan kulit legam.
Reno menahan napas membaca tulisan itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia punya waktu dua hari ke depan untuk kembali memecahkan teka-teki misterius ini. Romeo dan Juliet? Apakah korbannya suami istri? Atau sepasang kekasih? Ini berarti ada dua orang yang terancam pembunuhan.
Setahu Reno, Romeo dan Juliet adalah pasangan epik karya Shakespeare yang berakhir tragis. Apakah ini artinya akan ada pembunuhan lanjutan yang akan pula berakhir tragis? Reno direjam ketakutan dengan bayangannya sendiri.
Pikiran Reno langsung tertuju pada pasangan Henry dan Rianti. Hanya mereka yang berpasangan dalam kasus ini. Sedangkan yang lain, ia tak menemukan ada korelasi. Namun, ia tidak boleh langsung memutuskan bahwa pasangan suami istri itu adalah korban selanjutnya. Mungkin ada pula calon korban yang lain yang tak ia ketahui. Ia sadar, pembunuh ini sangat pintar dan licik dalam bermain kata. ia tak boleh terkecoh. Sebelum ia memutuskan siapa korban kali ini, ia harus mendiskusikan ini dengan Dimas.
***
Rani kembali terbangun ketika sinar matahari menerobos jendela kaca, mengenai wajahnya. Ia merasakan ikatannya masih terasa kuat. Ia berusaha menggerak-gerakan tangan, tetapi tetap saja sulit. Ia melihat ke arah Niken. Polisi wanita itu duduk, tetapi parasnya lebih tenang. Rani ingin menyampaikan sesuatu pada polisi wanita itu, tetapi sayang mulutnya masih terbungkam dengan plester.
Niken juga ingin menyampaikan sesuatu pada gadis belia itu, tetapi sayang keadaannya pun sama dengan Rani. Mereka hanya bisa menggerak-gerakan mata sebagai isyarat. lewat isyarat mata, mereka sepakat untuk saling mendekat, agar bisa melepas tali ikatan pada tangan dengan cara duduk saling membelakangi. Mereka mencoba bergeser, tetapi itu tidak mudah. Rani merasakan nyeri luar biasa pada tangannya. Ia menyerah dan menggeleng-gelengkan kepala.
Niken tidak bisa berkata apa-apa. Terpaksa ia yang menggerak-gerakkan badannya menuju ke tempat Rani. Sebagai seorang polisi, ia mempunyai daya tahan fisik yang lebih kuat. Ia masih bisa menahan rasa sakit yang ada di tangannya. Bukan sesuatu yang mudah, tetapi ia berupaya sekuat tenaga agar bisa mendekat ke arah Rani. Ia sadar, bahwa mereka harus saling membantu agar bisa lolos dari tempat ini.
Mereka tidak melihat keberadaan sosok itu. Mungkin dia sedang keluar melaksanakan aktivitasnya, atau berbaur dengan orang lain, layaknya orang biasa yang tiada berdosa. Niken menyadari, betapa berbahayanya orang ini, sehingga ia harus segera dihentikan. Nalurinya sebagai seorang penegak hukum menggeliat melihat kejahatan terjadi di depan mata. Sayangnya, ia dalam keadaan terbelenggu.
Masih teringat tahun-tahun kejayaannya saat ia mengungkap banyak kasus pembunuhan. Namun, kali ini terasa berbeda karena biasanya ia menangani pembunuhan tunggal. Sedangkan ini pembunuhan berantai. Ia harus berkejaran dengan waktu agar si pembunuh ini bisa dihentikan. Niken sangat menyesal dengan kondisinya saat ini. Ia merasa tak berguna dan gagal.
***
Rianti memelototi berita di televisi itu dengan antusias. Berita kematian Renita Martin itu begitu masif ditayangkan. Saat itu ia sedang berada di pusat perawatan rambut. Seorang penata rambut sedang menata rambutnya agar tampak menawan. Berita di televisi yang diletakkan di atas ruangan membuat Rianti terkejut.
"Mbak Rianti kenal sama artis yang terbunuh itu?" tanya Joni, si penata rambut yang berdandan mirip perempuan itu.
"Kenal, aku kenal banget, Jon. Aku sangat terpukul. Oh Tuhan, aku hampir nggak percaya Renita mati. Bagaimana mungkin ada orang yang tega membunuh Renita? Dia kan orang baik," kata Rianti.
"Tapi kok orang-orang banyak yang nggak suka sama dia ya, Mbak? Kata mereka sih Renita itu artis sombong dan jutek gitu," kata Joni sambil menyisir rambut Rianti.
"Jangan sembarangan ya, Jon. Emang kamu kenal sendiri dengan Renita? Kalau kamu dekat dengan Renita, nggak mungkin kamu ngomong begitu. Aku ini kenal dekat dengan Renita, jadi aku tahu banget kesehariannya. Kalau nggak kenal langsung jangan sembarangan ngomong ya Jon!" ucap Rianti.
"Yah, maaf. Aku kan cuman denger kata orang. Tapi kalau menurutku pribadi sih, akting Renita ini juga nggak terlalu bagus Mbak. Pamornya sebagai Ratu Horror itu hanya kebetulan saja, karena ia memang sering main film horror. Aktingnya biasa saja, kalah jauh dengan artis yang sedang naik daun sekarang ini," ucap Joni.
"Emang siapa yang kamu maksud?" desak Rianti.
"Laura Carmellita. Dia kan artis yang sangat bagus. Aku loh ngefans sama dia!"
Rianti merasa geram mendengar pengakuan jujur Joni. Ia ingin mendamprat si penata rambut itu, tetapi ditahan rasa emosinya. Ia tidak suka mendengar nama Laura disebut-sebut. Ia hanya geram, menahan rasa jengkel yang bergejolak di dadanya.
"Maaf ya, Jon. Aku nggak tertarik mendengar nama Laura. Jadi mending kamu nggak usah sebut nama itu!" ketus Rianti.
Joni menahan senyum. Ia tahu, Rianti mengucap itu karena rasa cemburu yang dalam. Joni juga selalu mengikuti berita bahwa Laura menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Henry dan Rianti.
"Eh, rambutnya mau diwarna apa nih, Mbak?" tanya Joni, mencoba mengalihkan perhatian.
"Merah, kan sudah kubilang tadi!"
"Iya Mbak, ngomongnya biasa aja dong," ucap Joni.
Rianti makin kesal. Ia biarkan saja Joni mengacak-acak rambutnya karena ia ingin tampil berbeda kali ini. Ia ingin tampil menarik di hadapan Henry walaupun suaminya itu jarang berada di rumah. Namun, ia tak peduli. Ia hanya ingin tampil berbeda.
Setelah mendapat perawatan rambut ini, rencananya ia akan menghadiri kegiatan sosialita di sebuah hotel bintang lima. Namun, baru saja ia mendapat kabar kalau pertemuan para sosialita itu ditunda karena kabar duka dari Renita Martin. Untuk menghormati Renita, sekaligus turut berdukacita, maka kegiatan sosialita akan diganti dengan acara doa bersama.
Rianti menghela napas. Ia agak kecewa karena acara itu dibatalkan, karena ia terlanjur menata rambutnya sebaik mungkin, agar menjadi pusat perhatian, tapi kini malah acara ditunda. Ia sedikit kesal.
***
"Bang," ucap Ollan.
"Hmm, apa lagi yang ingin kau sampaikan?" ucap Raymond sambil membaca koran pagi.
"Abang yakin tempat ini aman?" tanya Ollan.
"Aku sangat yakin. Kenapa? Kau takut?" tanya Raymond balik bertanya.
"Bukan begitu, Bang. Abang tahu kan kalau baru saja terjadi pembunuhan terhadap artis Renita Martin. Aku takut kalau-kalau pembunuh itu bisa mencium jejak persembunyianku. Itu saja sih, Bang!" kata Ollan.
"Sudahlah, nggak usah berpikir yang bukan-bukan. Di sini aman. Kalau memang si pembunuh tahu lokasi ini, ya nggak apa-apa. Toh semua orang di kota ini juga tahu Kampung Hitam seperti apa. Jadi kamu nggak usah khawatir. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kembali ke kamarmu. Kalau kamu masih takut, kunci pintu saja. Biar aku yang jagain kamu, dijamin tak ada yang berani sentuh kamu!" ucap Raymond.
Ollan tak berani membantah. Sebenarnya ia merasa bosan di tempat itu, dan ingin kembali berkomunikasi dengan dunia luar. Ia sudah sangat rindu dengan sahabat-sahabatnya. Ia kembali ke kamar dengan gelisah. Diam-diam, ia menghubungi Henry melalui telepon.
"Bang .... " bisik Ollan, karena ia takut kedengaran Raymond.
"Lan, kamu di mana?" tanya Henry di seberang.
"Bang, bisa jemput aku kah? Aku bete banget di tempat ini. Tempat ini membosankan, banyak orang barbar. Sumpah, aku nggak betah. Abang jemput aku yah? Nanti aku janji akan bekerja sepenuh hati dengan Abang. tolong ya Bang! Aku udah mau mati saja rasanya di sini. Aku nggak bisa, Bang. Ini bukan duniaku. Aku nggak bisa tinggal dengan orang-orang seperti mereka. Tolongin ya, Bang!" rayu Ollan.
"Emang kamu di mana, Lan? Aku akan jemputin kamu!"
"Aku di Kampung Hitam, Bang. Tapi kalau Abang ke sini pasti ngak diizinkan bertemu sama aku. Jadi begini saja ya Bang. Abang tunggu di depan gang, nanti aku izin keluar sebentar beli apa gitu. Semoga saja diizinkan. Nanti begitu aku keluar rumah, aku akan segera ke mobil Abang dan kita bisa pergi dari tempat ini. Sungguh Bang, aku nggak betah di sini. Tolongin aku ya Bang!" ucap Ollan.
"Oke ... oke. Kamu nggak usah khawatir, Lan. Aku akan tolongin kamu. Tapi kapan kita akan pergi?"
"Siang ini bisa kah, Bang?"
"Siang ini? Kok kamu mendadak sekali, Lan! Tapi oke lah. Kamu siap-siap saja. Nanti aku hubungi kamu kalau aku sudah siap di depan gang. Bagaimana?"
"Oke Bang!"
Ollan segera menutup pembicaraannya dengan Henry. Tak ada yang harus disiapkan hari itu. Ia tak peduli dengan barang-barangnya yang ada di kamar itu. Yang penting, ia bisa menghirup kebebasan udara luar. Namun, untuk keluar dari rumah itu bukanlah perkara mudah mengingat Raymond selalu mengawasinya. Bahkan ke kamar mandi pun, ia seperti diawasi, sehingga ia merasa tidak nyaman.
Kembali ia mendekati Raymond yang masih membaca koran dengan takut-takut. Ia hendak meminta izin untuk keluar. Raymond masih asyik membaca, tak peduli dengan kehadiran Ollan di belakangnya.
"Bang .... "
"Apa lagi?" ucap Raymond.
"Mmm, saya izin keluar sebentar saja ya," kata Ollan takut-takut.
Raymond meletakkan koran yang dibacanya, seraya menatap tajam ke arah Ollan dengan tatapan curiga.
"Mau ke mana kamu?" tanya Raymond.
"Ke depan bentar aja, Bang. Mau beli obat pusing di warung depan sana, Bang. Dari tadi malam aku merasa pusing!" ucap Ollan takut-takut.
"Kamu nggak usah khawatir, biar aku yang belikan!"
Ollan gelagapan. Ia tidak mau rencananya terbongkar. ia bingung harus berkata apa.
"Ti-tidak usah, Bang. Nanti malah merepotkan. Biar aku sendiri saja yang beli. jangan khawatir, aku cepet pulang kok Bang. Nggak apa-apa ya, Bang?" rayu Ollan.
"Tidak Ollan! Kamu tetap di dalam rumah!" tegas Raymond.
Ollan mendengkus kesal. ia merasa kesal karena tidak diizinkan keluar, padahal ia sudah membuat janji dengan Henry. Ia sedang memikirkan cara lain agar bisa keluar dari rumah itu. Beberapa saat kemudian, ia mendapat ide baru. Ia akan membiarkan Raymond pergi obat untuk dirinya, sementara ia akan menyelinap ke pintu belakang.
Di belakang rumah ini ada kebun pisang yang tembus dengan jalan raya. Tentu kalau ia sedikit hati-hati, ia bisa kabur tanpa sepengetahuan Raymond. Ia tinggal merusak sedikit pintu rumah, kemudian menyelinap.
"Kamu di rumah sebentar. Jangan buka pintu sebelum aku pulang! Aku akan belikan obat untukmu!" ucap Raymond.
"Baik Bang!"
***