Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
301.Kembali ke Kastil Tua


Kabut menyelimuti kota, berbulan-bulan setelah berbagai kejadian buruk yang menimpa kota itu. Warga kembali beraktivitas dalam dunia masing-masing. Seperti biasa, jalanan dipadati kendaraan dan orang yang berlalu-lalang, hendak melaksanakan aktivitas masing-masing. Setelah kejadian pembunuhan para artis. hampir tak pernah ada lagi kejahatan yang berskala serius. Penduduk kota menjalani hari-harinya dengan aman dan tenteram.


Di sebuah kompleks perumahan, Ammar Marutami duduk di teras depan rumahnya sambil menikmati secangkir kopi yang masih hangat. Rasa percaya diri yang sempat terjun bebas setelah peristiwa kastil tua, kini kembali pulih. Ia siap bertugas dan terjun dalam investigasi kasus baru. Istrinya, Mariah Alray sangat mendukung apa pun yang suaminya lakukan.


Pagi ini, Mariah membawakan semangkuk bubur ayam kepada sang suami yang sedang duduk di teras, karena Ammar ingin sarapan di teras sambil menikmati udara pagi. Mereka tinggal di kawasan yang agak jauh dari keramaian, sehingga udara pagi masih banyak mengandung oksigen, Cuitan burung juga masih bisa didengar di pepohonan. Sarapan di dekat alam terbuka seperti ini tentu akan menimbulkan sensasi rasa yang istimewa.


"Sebuah surat datang padaku kemarin," kata Mariah seraya duduk di kursi kayu yang didesain secara artistik.


"Surat apa?" tanya Ammar sambil menyendok bubur di hadapannya.


"Surat dari sahabat semasa SMA ku. Namanya Lily. Kami sudah lama tidak kontak, tiba-tiba saja dia mengirim surat izin permohonan peminjaman kastil untuk suatu keperluan," kata Mariah.


"Keperluan apa?" tanya Ammar lagi.


Ammar tahu bahwa kastil tua adalah tempat tragedi yang banyak menjadi buah bibir khalayak luas. Kini kastil itu  memang dibuka untuk masyarakat umum sebagai tempat wisata. Bahkan ada beberapa orang yang akdang menyewa untuk menginap selama beberapa hari di sana. Mereka tidak peduli bahwa kastil tua yang terletak di tengah kebun teh itu pernah menjadi saksi bisu serentetan pembunuhan berantai di sana. Bahkan, peristiwa itu seakan malah menjadi daya tarik untuk berkunjung ke sana. Lagipula, tak jauh dari kastil terdapat air terjun yang indah, sehingga kastil tua makin sering dikunjungi wisatawan.


Setelah Anggara Laksono, si pemilik kastil tewas terbunuh, otomastis hak waris diserahkan kepada Mariah Alray, keponakannya. Anggara Laksono tak mempunyai keluarga lain selain Mariah Alray. Kastil tua itu  sempat rusak parah karena terbakar setelah Tiara Laksmi membakar kastil pada tragedi yang terjadi dua tahun lalu. Kini Mariah telah melakukan renovasi besar-besaran agar kastil tua itu tak tampak menyeramkan. Di halaman depan. taman bunga yang cantik siap menyambut tamu. Selain itu, bagian interior juga ditambah dengan fasilitas lain, tetapi tidak mengubah kesan kuno yang ada pada kastil. agar nilai sejarah pada kastil tidak menghilang.


Mariah membuka kastil kepada siapa saja yang ingin melihat-lihat, atau bermalam dalam kastil, tetapi dengan syarat mereka harus menanggung sendiri akomodasi, mengingat jarak ke kota sekitar dua jam, tentu untuk mendapatkan makanan tak bisa bolak-balik. Namun, hal itu tak menyurutkan niat orang-orang yang mencintai petualangan untuk mencoba sensasi bermalam di kastil tua barang dua atau tiga hari.


Seperti pagi ini, Mariah mendapat surat permintaan peminjaman dari Lily, teman semasa SMA. Ia berniat meminjam kastil selama satu pekan untuk acara reuni dengan beberapa teman SMA nya. Mariah juga turut diundang dalam acara reuni itu.


"Lily bilang, ia akan mengadakan reuni di kastil, sambil membawa pasangan masing-masing. Total ada 11 orang yang akan diundang. Mereka akan tinggal di kastil selama satu pekan. Menurutmu apakah itu menarik?" tanya Mariah meminta pendapat.


Ammar hanya menghela napas. Ia masih trauma dengan segala kengerian yang pernah terjadi di kastil itu. Apalagi, ia mendapat kecelakaan parah di kastil yang sempat membuat kakinya cedera. Ia masih bisa merasakan desiran drah dan degupan jantung yang berpacu lebih kencang saat berada dalam kastil.


"Kamu mau ikut acara reuni itu?" tanya Ammar.


"Aku ingin sekali bertemu mereka. Sudah belasan tahun kami berpisah, tentu akan sangat menyenangkan bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Lily sangat dekat denganku saat SMA dulu. Aku juga sangat merindukannya. Mungkin ide reuni ini adalah hal yang baik," ucap Mariah.


"Tetapi mengapa harus di kastil tua? Tidak adakah tempat lain yang lebih layak?"


"Menurutmu kastil itu tidak layak?"


"Bukan begitu, Mariah. Maaf kalau itu membuatmu tersinggung. Kastil itu ... kau tahu sendiri di kastil itu pernah terjadi berbagai kejadian mengerikan. Lagipula akses ke kota sangat jauh. Tentu ini akan menjadi reuni yang sangat merepotkan," kata Ammar.


"Mereka paham itu dan aku sudah terangkan kepada Lily soal itu. Lily bilang, ia menyulkai petualangan, dan teman-teman yang diundang juga sudah setuju dengan kondisi yang ada. Jadi semua nggak ada masalah. Kalau kamu tak mau, tak apa. Biar aku saja yang datang ke acara reuni itu. Hanya sepekan saja, Sayang. Kan kita jarang liburan juga. Ini kesempatanku untuk bersenang-senang dengan kawan," pinta Mariah.


Ammar terdiam sejenak. Ditatapnya mata istrinya yang seolah memohon kepadanya. ia tak punya pilihan yang lebih baik. Ia masih ingat ketika Mariah juga disekap dalam ruang bawah tanah yang gelap dan pengap, tetapi mengapa Mariah seolah tak jera dengan itu?


***


Hari yang ditentukan pun tiba. Sehari sebelum acara reuni berlangsung, Ammar dan Mariah telah tiba di kastil terlebih dahulu untuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh penghuni dalam waktu sepekan ke depan. Mariah bahkan memperkerjakan tiga orang untuk membersihkan semua ruang yang ada di dalam kastil, mulai dari beranda depan, belakang, hingga area kolam renang. Selain itu, Mariah juga telah menyiapkan bahan makanan untuk kebutuhan satu pekan. Rencananya, kastil akan ditutup untuk pengunjung umum selama jangka waktu sepekan. Hal ini dilakukan untuk menjaga privasi penghuni kastil nantinya.


Sejak awal menjejakkan kaki di area kastil. Ammar sudah merasakan aroma kengerian yang tersimpan dalam kastil. Ia masih bisa merasakan suasana yang begitu muram dan mencekam. Ammar masih mengingat paras Tiara Laksmi, sosok pembunuh erantai yang mneyeringai dan mengancam. Sebagai seorang cenayang, tentu Mariah juga bisa merasakan itu. Bahkan dari dalam ruang bawah tanah, ia masih bisa mendengar tangisan pilu. Namun, Mariah tak mau merusak suasana. Ia merahasiakan hal itu dari suaminya.


"Kastil ini tak banyak berubah, meskipun kau telah merombaknya," gumam Ammar Marutami.


"Aku hanya merombaknya sedikit. Aku tak mau merusak keaslian dari kastil ini. kastilini dibangun sejak zaman kolonial. Tentu di dalamnya banyak menyimpan sejarah. Keaslian dari kastil ini harus tetap dipertahankan. termasuk lukisan itu."


Mariah menunjuk sebuah lukisan besar yang tergantung di dinidng. Sebuah lukisan yang menggambarkan seorang wanita bergaun putih, dengan sorot mata misterius. Ammar masih ingat lukisan itu. Wanita bergaun putih yang berada dalam lukisan adalah sosok Anastasia Pratiwi, istri dari sosok Anggara Laksono, si pemilik kastil yang juga paman dari Mariah.


"Perempuan yang cantik bukan?" ucap Mariah.


"Dan misterius," sambung Ammar.


"Dia adalah bibiku," gumam Mariah.


Ammar hanya manggut-manggut. Sesunguhnya, terlalu banyak rahasia terpendam dalam kasti ini. Sampai saat ini pun, ia masih merasakan kengerian yang teramat sangat. Semua perabotan di dalamnya mencerminkan bahwa kastil ini memang sudah teramat kuno. Mungkin hanya orang-orang bernyali tinggi yang mau tinggal di dalamnya. Namun, rencana reuni ini membuatnya sedikit khawatir. Ia berharap agar semua baik-baik saja sampai sepekan ke depan.


***