Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
114. Tebak-tebakan.


Berita pembunuhan Alma secara masif disiarkan oleh berbagai saluran di televisi. Gilda Anwar secara terang-terangan menyiarkan berita dari rumah Alma menjelang pemakaman, dengan mewawancarai ibunda Alma. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya meneteskan air mata. Putrinya dibunuh saat mengantarkan beliau berobat ke rumah sakit.


“Pemirsa, saat ini saya sedang berada di rumah kediaman Alma, korban pembunuhan yang ditemukan kemarin di ruang parkir bawah tanah sebuah rumah sakit. Terlihat suasana mulai ramai di sini, menjelang pemakaman. Saya juga berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan ibunda korban, yakni Ibu Hartini ....”


Klik!


Lena mematikan televisi dengan cepat, hingga membuat Rasty dan Miranti merasa gusar. Kedua temannya itu tengah asyik menyimak siaran televisi di rumah Rasty selepas pulang kuliah.


“Yah! Kok dimatiin sih?” protes Miranti.


“Bosan! Tiap hari yang diberitakan pembunuhan Alma terus! Para reporter itu nyadar nggak sih? Pemberitaan pembunuhan itu akan menyakiti keluarga korban. Dasar!” keluh Lena.


“Jadi kita datang nih di pemakamannya?” tanya Rasty.


“Sebenarnya aku ada agenda lain yang lebih penting, tetapi oke lah kalau kalian ke sana, aku ikut!” kata Lena.


“Ajakin Dinda nggak!” tanya Rasty.


“Boleh. Walau sebenernya agak males aja kalau Dinda ikutan. Dia kan gampang khawatir. Ntar kalau sudah begitu, dia bikin cerita aneh-aneh. Bukannya kasi semangat, eh malah bikin khawatir kan?” ucap Lena.


“Eh, Ras! Kamu ingat nggak waktu kita makan mi ayam di kantin beberapa hari lalu. Waktu itu kan Alma cerita dia mendapat paket misterius berupa sepatu Jenny. Dan ternyata kamu juga dapat paket sepatu itu. Besoknya Alma kan dibunuh. Jangan-jangan habis ini dirimu!” ucap Miranti setengah bercanda.


“Kampret lo! Sembarangan aja kalo ngomong! Aku nggak mau mati muda. Kematian Jenny aja sudah buat aku takut, ini lagi ditambah kematian Alma. Bikin hidup jadi nggak tenang!” keluh Rasty.


“Ini belum ada apa-apanya. Setelah ini, polisi akan mengejar-ngejar kita, menyeret ke kantor polisi untuk diinterogasi. Bisa jadi tersangkanya adalah kamu, kamu, atau aku!” ujar Lena sambil menunjuk ke arah Rasty dan Miranti.


“Bukan aku lah! Ngapain juga aku bunuh-bunuh orang?” sangkal Rasty.


“Hei, mana ada sih maling ngaku? Yang ada maling teriak maling itu banyak. Bisa jadi di antara kita lah yang jadi penebar teror dan pembunuh. Motifnya sih nggak tau. Firasatku mengatakan kalau pembunuhnya adalah laki-laki. Tapi nggak tau juga sih?” ujar Lena.


“Kok aku malah berpikir pelakunya cewek ya?” sahut Miranti.


“Alasannya?”


“Yang terbunuh kan Jenny dan Alma. Semua juga tahu reputasi kedua gadis itu. Sering gonta-ganti pacar lah, sok cantik lah, sok artis, belagu, dan macem-macem. Kali aja ada cewek yang pernah tersakiti dengan ulah mereka, lalu membalas dendam. Bisa jadi kan?” Miranti mencoba menganalisis.


“Masuk akal juga sih. Aku setuju dengan pendapat Miranti,” ucap Rasty.


“Ya,ya,ya ... masuk akal juga. Tapi cowok masuk akal juga kan? Daripada kita nebak-nebak siapa yang membunuh mereka, mending biar polisi aja yang urus. Kan yang menangani kasus ini Detektif Reno dan Dimas, yang berhasil mengungkap kasus kastil tua. Aku yakin mereka bisa menangani kasus ini dengan baik!” kata Lena.


“Wah, siap-siap nih yang ngerasa jadi pembunuh!” kata Miranti.


“Udah ah, nggak usah bicarain itu lagi. Mending kita siap-siap ke pemakaman. Ingat! Jangan dandan menor. Ini kita mau ke makam, bukan ke mal!” Rasty mengingatkan.


Tiba-tiba ponsel Rasty bergetar. Sebuah panngilan masuk dari Adinda. Rasty buru-buru mengangkat.


“Ras, kalau kamu ke pemakaman Alma, aku barengan ya! Nanti jemputin aku!” ucap Adinda di seberang.


“Oh iya, Din. Ini kami lagi siap-siap. Setengah jam lagi ya!” kata Rasty.


Rasty menutup telepon seraya berkata pada Lena dan Miranti.


“Akhirnya tuan putri jadi ikut!”


***


“Foto siapa?” tanya Dimas.


“Jenny Veronica. Cantik kan? Aku download dari akun media sosialnya. Dia gadis yang cukup eksis dan banyak teman. Tapi mungkin hal itu juga yang membuat dia terbunuh.”


Reno menunjukkan foto itu kepada Dimas.


“Yah, dia memang cantik. Satu fakta baru bahwa Jenny dan Alma kuliah di kampus yang sama!” Dimas menambahkan.


“Apakah itu berarti pembunuhnya adalah salah seorang teman kuliahnya?” tanya Reno.


“Terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu. Bisa iya bisa nggak. Aku khawatir ini akan menjadi semacam pembunuhan berantai yang melibatkan mahasiswa. Kurasa antara Jenny dan Alma ini ada keterkaitan, bukan hanya mereka kuliah di tempat yang sama, tetapi deskripsi keduanya hampir sama. Cantik, muda, dan sering tampil di media sosial.”


Dimas mencoba menganilisis.


Reno segera menyalakan komputer layar datar di mejanya, kemudian mengakses ke media sosial Facebook. Ia membuka akun Jenny untuk ditunjukkan kepada Dimas.


“Lihat ini, Dim! Status terakhirnya tertanggal 30 Desember, dua hari menjelang tahun baru. Di situ Jenny menulis ‘Yea ... finally berpesta juga dengan Beib Rudi Septian!’ Mungkin yang dimaksud adalah pesta tahun baru, karena menjelang pergantian tahun kan?” kata Reno.


“Iya kurasa yang dimaksud adalah pesta tahun baru. Nenek Jenny mengatakan ia terakhir berbicara dengan Jenny tanggal 31 Desember siang. Setelah itu, ia keluar bersama teman-temannya, tetapi sayang nenek Jenny tidak hapal dengan teman yang dimaksud,” ucap Dimas.


Reno masih menelusuri foto-foto yang banyak diunggah di akun Jenny. Terlihat di situ, Jenny terlihat mesra dengan beberapa teman pria. Mereka tidak bisa memastikan apakah pria itu kekasihnya atau bukan.


“Kurasa Jenny ini punya banyak pacar. Ia sering foto mesra dengan banyak pria,” ucap Reno.


“Coba kamu lihat akun Rudi Septian. Nama itu yang terakhir ditandai oleh Jenny di akunnya,” saran Dimas.


Reno mengarahkan kursor untuk mengeklik akun Rudi Septian. Sayangnya akun itu bersifat pribadi, sehingga mereka tak dapat melacak lebih jauh. Mereka hanya bisa melihat foto profil Rudi yang kelihatan gaul dan trendy, menarik para gadis yang ingin mengenal lebih jauh.


“Sepertinya kita harus bicara langsung dengan Rudi Septian ini. Mungkin dia tahu keberadaan Jenny terakhir kali. Foto profilnya berbicara kalau pria muda ini banyak disukai gadis-gadis juga. Siapa tahu kita bisa mendapat info penting dari dia,” usul Dimas.


“Ide bagus. Kita lacak dulu alamat dan data dari profil ini, baru kita berangkat ke sana. Sebenarnya akun Jenny ini sudah banyak bercerita tentang masa lalunya. Cuman aku belum sempat melihat akun milik Alma, karena dia menggunakan nama lain di akun pribadinya,” ujar Reno.


“Nggak apa-apa, Ren. Mending kita fokus di kasus Jenny dulu. Firasatku mengatakan kedua kasus ini memiliki keterkaitan.”


“Baiklah. Semoga petualangan kali ini cukup menyenangkan.”


Tiba-tiba ponsel Reno bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ia membaca pesan itu dengan saksama.


Mari bermain-main tebak-tebakan Pak! Siapa yang mati setelah Jenny dan Alma?


“Sial! Pembunuh itu mengirimiku pesan. Cepat lacak nomornya!” ujar Reno cepat.


Ia berusaha menghubungi nomor itu, tetapi langsung tidak aktif.


“Kurasa pembunuh ini juga pintar. Dia tidak akan membiarkan nomornya dilacak begitu saja.”


“Kali ini lawan kita tidak hanya berbahaya, tapi juga pintar!” gumam Reno.


***