
Pria berwajah garang itu itu berdiri sambil menatap tajam ke arah Ollan. Padahal Ollan sama sekali tak pernah berpikir akan bertemu dengan pria itu lagi. Ia lupa, bahwa pria berwajah garang itu mempunyai jaringan yang luas, sehingga kepergian Ollan bisa dilacak dengan mudah.
"Kamu pikir kamu akan bisa dengan mudah melarikan diri dari Raymond Brothers? Di lubang semut pun, pasti akan kami temukan dirimu!" ucap si pria garang yang tak lain adalah pentolan dari Raymond Brothers.
Saat itu, Raymond ditemani oleh dua personel Raymond Brothers yang lain. Mereka sudah menunggu di dalam mobil, siap membawa Ollan.
"Aku tidak mau kembali ke sana!" tolak Ollan
"Kamu sudah meremehkan nama kami, selaku anggota Raymond Brothers. Kami sudah memegang amanah dari kepolisian untuk mengamankan dirimu. Kami tidak mau gagal. Kamu jangan bersikap bodoh! Kau tak sadar kalau di luar tidak aman. Pembunuh itu bisa mengincar nyawamu kapan saja. Namun, kalau kau memilih mati konyol, silakan saja kau jalan-jalan di luar, dan aku akan sangat senang bisa melihat dirimu dalam kantung mayat! !" ucap Raymond.
Ollan hanya terdiam, tak ingin berkata apa-apa. ia sepenuhnya sadar kalau yang dilakukan Raymond adalah untuk melindungi dirinya, walau ia berpikir cara itu sedikit ekstrem. Ia hanya bisa pasrah ketika Raymond membawanya kembali ke Kampung Hitam. Ollan merasa kampung itu seolah penjara baginya. Jiwanya meronta, karena menganggap apa yang ada di kampung itu semua tidak lah sejalan dengan pikirannya. Kampung itu dipenuhi hal-hal yang jauh dari kemewahan. Hal itu lah yang membuat dirinya susah untuk menyesuaikan diri.
Mobil Raymond melaju menembus kegelapan malam menuju Kampung Hitam. Pria garang itu sebenarnya merasa malu kalau sampai tugas dari kepolisian untuk mengamankan Ollan sampai gagal. Raymond tak mengenal gagal. Hal itu akan merusak reputasi Raymond Brothers. Selama beberapa hari belakangan ia terus melacak keberadaan Ollan, hingga akhirnya ia tahu kalau Ollan berada di rumah Henry Tobing.
"Keputusan yang sangat bodoh kalau mencoba kabur dari kami. Jangankan dirimu, bahkan Ferdy. si pembunuh berantai itu pun berhasil kami lacak. Kamu tak akan bisa kemana-mana setelah ini!" ucap Raymond.
Paras Ollan hanya bisa cemberut. Ia sudah membayangkan akan kembali tidur di atas ranjang butut tiap hari. sarapan apa adanya, dan terkurung dalam rumah yang pengap. Tentu hal itu sangat jauh berbeda dengan kediaman Henry Tobing yang bergelimang kemewahan. Ia menyesal, mengapa ia harus keluar rumah malam ini?
"Aku penasaran, mengapa ada orang yang mengincar kematianmu? Memangnya apa yang kamu perbuat?" tanya Raymond sambil terus fokus menyetir mobil.
"Aku tidak melakukan apa-apa!" jawab Ollan cepat.
"Hmm, apa ini ada kaitannya dengan kasus yang lagi viral saat ini? Pembunuhan para artis? Sedangkan yang aku tahu, kamu sama sekali bukan artis kan? Kamu hanya manajer Henry Tobing, aktor terkenal itu. Mungkin pembunuh itu sedang khilaf, kalau sampai mengincar nyawamu!" sungging Raymond.
"Aku tidak mau berkomentar apa pun tentang ini. Maaf!" jawab Ollan dengan ketus.
Raymond tertawa mendengar itu.Ia tidak ingin bertanya-tanya lagi. Mobil mereka sudah memasuki kawasan Kampung Hitam. Ollan merasa ini semua bagai sebuah mimpi yang berulang. Ia merasa dicampakkan kembali ke suasana yang sama sekali tidak disukainya.
"Lebih baik kau langsung tidur! Ini sudah hampir dini hari! Kalau kau butuh sesuatu bilang saja, dan nggak usah main kabur. Tapi ingat! Jangan sekali-sekali menipu!" pesan Raymond serius.
Ollan tidak menjawab apa-apa. Ia kembali merasakan kamar pengap yang khusus disediakan untuknya. Raymond bahkan mengunci dirinya dari luar, karena khawatir dia akan kabur lagi. Perasaan Ollan makin kecut. Malam itu, ia tidak bisa tidur hingga dini hari menjelang. Nyamuk berdengung-dengung di sekitar telinganya, sehingga ia harus berkali-kali menepukkan tangannya. Ia merasa sangat jengkel dengan semua yang terjadi.
***
Suara cuitan burung di pepohonan membangunkan Faishal dari tidur panjangnya. Hari masih agak gelap, sehingga aktor itu malas untuk bangun. Dilihatnya bahwa Melani tak berada di sampingnya. Kemana ia pergi sepagi ini? Ia membuka matanya lebih lebar. Di meja samping tempat tidur telah tersedia segelas susu, telur rebus, dan sepiring nasi goreng. Aromanya yang nikmat, membuat perutnya terasa lapar. Rupanya Melani sudah menyiapkan sarapan untuknya. Namun, kemana dia sekarang?
Ia baru ingat, kalau Melani berencana berjalan-jalan di sekitar villa pagi ini. Namun mengapa ia tak membangunkannya? Padahal ia ingin juga ikut berjalan-jalan. Buru-buru ia beranjak, mencuci muka di toilet. dan merapikan rambut sejenak. Ia hanya memandang sarapannya dengan lesu, karena merasa tak bersemangat apabila makan sendirian.
Ia melihat dua cangkir kopi di meja ruang tengah itu. Aroma kopi sangat menggelitik hidungnya, sayangnya kopi sudah agak dingin. Ia berpikir, mungkin Melani sudah menyiapkan semua sebelum pergi berjalan-jalan. Aroma kopi yang teramat harum, membuatnya segera mereguk kenikmatan kopi itu.
"Hmmm ...."
Gumamnya sambil menghirup kopi. Sesaat kemudian ia merasa ada yang aneh dengan rasa kopi itu, karena rasanya yang terlampau manis. Bukankah Melani tahu kalau ia tidak suka rasa kopi yang terlalu manis seperti ini? Jadi mengapa kopi ini sangat manis? Ia hanya minum beberapa teguk saja, kemudian meletakkan kembali cangkir kopi itu.
Hampir lima belas menit ia menunggu. tetapi Melani tak kunjung datang. Perutnya merasa lapar, ia masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil sarapan yang telah disiapkan untuknya. Ia membawa sarapan itu ke ruang tengah, untuk dimakan di sana. Nasi goreng yang berada di atas piring itu terlihat sangat menggoda. Ia menyuap sesendok nasi, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Rasa nasi goreng ini sungguh sedap. Ia tak tahu kalau Melani bisa masak nasi goreng selezat ini. Ia kembali menyuap nasi goreng itu ke dalam mulut.
Namun, baru beberapa kali menyuap, ia merasa kepalanya sangat berat. Entah mengapa rasa kantuk tak tertahankan. Ia menguap beberapa kali. Rasa kantuk ini sangat luar biasa, bahkan ia tak kuasa menahan rasa itu. Matanya seolah lengket dan tak bisa dibuka. Ia merasa sangat lemah, sehingga harus menyandarkan diri di sofa. Nasi goreng pun tak bisa ia habiskan. Ia terkulai, karena sayup-sayup pandangan matanya terasa kabur. rasa kantuk yang mendalam itu seolah membuatnya otaknya tak bisa berpikir jernih. Sayup-sayup, ia melihat sesosok bayangan hitam di hadapannya. Ia berharap yang di depannya itu adalah Melani.
"Mel," gumam Faishal lemah.
Namun sayangnya, sosok yang baru datang itu bukan lah Melani.
***
Semenjak Niken menghilang, kantor kepolisian makin sibuk. Konsentrasi Reno jadi terpecah, antara menemukan Niken atau mengamankan korban berikutnya. Untuk itu, ia memanggil Dimas untuk menemuinya pagi-pagi sekali. Bahkan saat itu Dimas baru saja selesai mandi, saat Reno menelepon.
Dimas segera bergegas menemui Reno di ruangannya. Paras Reno terlihat serius dan kusut, karena banyak yang harus ia selesaikan. Ia segera menyuruh Dimas untuk duduk.
"Aku sudah menemukan identitas wanita muda yang bersama Faishal. Hari ini aku akan lacak keberadaannya. Kau nggak perlu khawatir, aku akan lakukan ini sendiri, dan kamu punya tugas sendiri," ucap Reno.
"Tugas apa itu?" tanya Dimas.
"Buatlah tim kecil, dan pimpin lah personel untuk melakukan pencarian terhadap Niken dan Rani. Kurasa Niken masih hidup, dan belum jauh-jauh dari kota ini. Sementara aku akan fokus untuk melindungi Faishal dan gadis ini," ucap Reno.
"Baik. Kau fokus saja pada kasus itu, aku akan berusaha temukan Niken dan Rani. Kita harus tetap saling terhubung dan berkoordinasi, karena mungkin ada info-info yang saling berkaitan," kata Dimas.
"Oke, mari kita segera bergerak pagi ini, dan jangan ditunda. Waktu kita teramat sempit, karena hari ini adalah hari terakhir sebelum pasangan itu akan dibunuh. Semoga berhasil!"
"Siap! Kamu juga ya!"
***