Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
375. Ke Ruang Baca


Matahari siang perlahan bergeser ke langit barat. Namun, cuaca tidak begitu panas karena matahari kadang tertutup awan yang berarak-arak menjelajah langit. Suasana hutan tetap lengang tanpa keciap burung. Angin kadang bertiup lembut, kadang seolah tak bertiup. Cuaca terasa sangat gerah dan lembap.


Ryan merasa sangat bosan berada di dekat tenda darurat itu. Dari tadi ia hanya mondar-mandir tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia ingin pergi meninggalkan tempat itu, tetapi sama sekali tak tahu harus pergi kemana. Ia hanya melihat pohon-pohon yang tumbuh menjulang di sekitarnya. Semua terlihat asing. Alih-alih menemukan jalan pulang, yang ada ia nanti malah tersesat.


Perut sebenarnya terasa lapar. Namun, yang ada situ hanya buah-buahan hutan yang masam dan sisa daging tadi pagi. Ia urung untuk mengambilnya. Tak ada tanda-tanda bahwa sosok berbaju hitam itu akan kembali. Sampai saat ini ia masih bingung, siapa sosok yang membawanya ke tenda darurat ini, dan apa maksudnya? Kalau dia memang punya niat jahat terhadapnya, mengapa ia tidak dihabisi dari kemarin?


Kembali ia keluarkan kalung dengan liontin berbentuk hati yang dikantonginya. Ia buka liontin itu, mendapati kembali foto di dalamnya. Wajah dalam foto itu sungguh tak asing.


"Mengapa kamu melakukan ini? Ada rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi?" gumam Ryan.


Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin sosok itu takkan kembali lagi ke sini. Sepertinya ia memang harus berusaha sendiri agar bisa kembali ke kastil. Ryan mulai menganalisis, mengandalkan ilmu yang ia miliki. Yang pertama ia perhatikan adalah letak matahari yang mulai condong ke barat. Ia teringat bahwa kastil selama ini ia tempati menghadap ke timur. Ia tahu karena biasa berjemur, mencari sinar matahari pagi di halaman samping kastil.


"Jadi hutan ini berada di sebelah barat kastil. Kalau aku berjalan lurus ke timur, membelakangi matahari, mungkin aku akan sampai ke kastil. Mengapa tidak kucoba?" gumam Ryan.


Berbekal keberanian dan modal nekat, akhirnya Ryan memutuskan untuk kembali ke kastil dengan arah membelakangi matahari. Dalam pikirannya, ia harus berjalan ke arah timur agar sampai ke kastil, atau paling tidak lokasi yang berdekatan dengan kastil. Andai saja sampai di air terjun, itu pun sudah cukup, karena ia hafal jalan menuju kastil apabila telah sampai di air terjun.


Ia melangkah menerobos semak yang tumbuh lebat. Tak ada jalan setapak yang terlihat. Sepertinya kawasan hutan ini memang jarang dikunjungi orang. Ia harus tetap waspada, karena ia khawatir semak yang ia terobos dihuni binatang berbahaya seperti ular, atau ada lubang di baliknya. Ia berusaha mencari jalur-jalur yang terlihat aman. Andai saja ada jalan setapak, pasti ia akan mengikutinya.


Semakin ke timur, kawasan hutan semakin terlihat terbuka, dan pohon sudah tak serapat sebelumnya. Sinar matahari menerobos pucuk-pucuk daun, sehingga Ryan tak merasa terlalu panas. Hanya saja ia tetap merasa gerah, karena energinya digunakan untuk berjalan menjelajah hutan. Setelah agak lama berjalan, sayup-sayup Ryan bisa mendengar suara gemuruh yang mirip suara air. Segera ia memasang telinganya lekat-lekat untuk bisa mendengarkan dengan baik. Sesaat kemudian, ia tampak kegirangan.


"Air terjun!"


***


Dimas segera mengambil sekotak peralatan yang berada di lemari perkakas di dekat dapur, beserta sebuah lampu penerang yang agak besar. Kotak peralatan itu harus segera diberikan kepada Ammar untuk memperbaiki jaringan listrik yang disabotase oleh sosok tak dikenal.  Rencananya, ia tak kembali turun ke bawah tanah, tetapi akan membantu Reno untuk mengamankan para penghuni lain yang sedang di ruang makan. Ia akan meminta bantuan Juned untuk mengawal Ammar yang sedang berjuang di bawah sana. memperbaiki jaringan listrik.


Setelah mengambil kotak peralatan itu, ia pergi menemui Juned yang sedang menunggui Niken. Juned sedang duduk di samping ranjang Niken, sedangkan Niken masih terbaring. Sepertinya wanita itu belum sadarkan diri.


"Dia sudah siuman?"


Juned hanya menggeleng. Ia agak terkejut melihat kedatangan Dimas yang tiba-tiba. Ia sudah membuatkan segelas teh hangat, tetapi Niken belum sadar, sehingga ia meletakkan teh itu di atas meja dekat ranjang Niken.


"Tapi ... bagaimana dengan Niken? Siapa yang menjaga dia?" tanya Juned.


"Dia akan baik-baik saja. Dia memang tak sadarkan diri, tetapi aku yakin dia akan baik-baik saja. ia hanya lelah saja. Pasti akan segera pulih. tak usah terlalu kau khawatirkan dia. Niken seorang polisi, pasti bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya," terang Dimas.


Juned tak berani membantah lagi. Setelah ia menerima kotak peralatan dan lampu dari Dimas, ia segera keluar kamar, menuju ruang bawah tanah untuk membantu Ammar yang sedang berjuang memperbaiki instalasi listrik. Dimas juga tak tinggal diam. Ia tahu kalau sekitar ruang makan dalam keadaan gelap gulita karena sumber cahaya hanya diperoleh dari listrik. Ia segera menuju ke ruang makan untuk memastikan bahwa kondisi di sana aman.


Sementara, kepanikan melanda di koridor dekat ruang makan, karena lampu senter ponsel yang dipegang Reno mendadak mati karena daya batrei telah habis. Ia menghentikan langkahnya, sementara para penghuni kastil yang sedang digiring ke ruang baca terlihat panik.


"Jangan ada yang bergerak! Jangan ada yang bergerak!" perintah Reno.


Semua terdiam dengan paras cemas. Suasananya sangat tegang, seperti menunggu hal buruk yang akan terjadi. Bersamaan itu, rupanya Dimas telah sampai di sana. Ia terkejut melihat ruang makan sudah dalam keadaan kosong. Dimas memegang sebuah senter untuk menerangi sekitar.


"Reno! Di mana kalian?" tanya Dimas.


Begitu mendengar suara Dimas, Reno sedikit lega. Ia membalas panggilan Dimas segera.


"Dimas! Aku di koridor! Segera ke sini!"


Dimas segera menuju koridor, mendapati Reno bersama para penghuni kastil yang lain. Koridor yang tak seberapa luas itu terlihat sangat gelap, karena tak ada pencahayaan dari luar. Dimas mengecek wajah para penghuni kastil satu-persatu dengan cahaya senter yang dipegangnya. Ia mendesah lega karena jumlah mereka masih lengkap.


"Kami akan pindah ke ruang baca," ucap Reno.


"Ya, kita pindah ke sana saja, sambil menunggu Bang Ammar memperbaiki jaringan listriknya. Aku akan segera ungkap apa yang sebenarnya kita hadapi, agar kita bisa segera menangkap siapa pelaku dari semua ini. Kita nggak boleh kalah cepat, karena di bawah kastil ada orang lain yang mengacau. Aku khawatir, ada pesekongkolan jahat dalam kasus ini," ucap Dimas dengan suara pelan, agar yang lain tak mendengar.


"Baik, mari kita ungkap segera siapa pelakunya!"


***