Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
156. Rumah Belanda


Minibus putih itu meluncur menuju pinggiran kota yang mulai sepi, melewati jalanan yang meliuk di punggung perbukitan. Penumpang di dalamnya tak berniat mengobrol, masing-masing larut dalam pikiran masing-masing.


Adinda yang duduk di dekat jendela, melayangkan pandangan keluar. Ia tidak tahu kemana kendaraan ini akan membawanya. Ia hanya ingin cepat sampai, merebahkan diri di ranjang, melemaskan otot kaki yang mulai kaku.


“Masih lama nggak ya?” tanya Lena yang duduk di sampingnya.


Rupanya ia mulai tak sabar. Adinda menggeleng, sembari matanya terus menatap arah luar. Yang mereka lewati hanya deretan pepohonan, dan sesekali beberapa rumah-rumah kecil.


Minibus itu dikemudikan oleh seorang polisi, sedangkan di belakang minibus, mobil Reno dan Dimas mengawal dari belakang.


“Pak, bisa nggak kita berhenti sebentar? Udah nggak tahan nih ....”


Tiba-tiba Ferdy yang duduk di kursi belakang bersuara. Dari kaca spion atas, pengemudi minibus melihat sekilas ke arah Ferdy. Ia melihat Ferdy yang meringis, seperti menahan sesuatu.


“Kita akan berhenti di SPBU depan sekalian isi bensin,” ucap polisi itu.


Setelah beberapa ratus meter, mobil itu memasuki sebuah SPBU yang sepi. Tak ada satu kendaraan pun yang mengisi bahan bakar di sana. Walaupun demikian, SPBU masih tetap beroperasi. Seorang petugas berseragam putih merah melayani mereka dengan tanpa senyum.


Ferdy setengah berlari menuju kamar mandi, diikuti yang lain juga. Mumpung singgah di SPBU mereka menyempatkan diri untuk buang air kecil, atau sekedar membasuh muka. Lena mencuci muka di wastafel dalam toilet wanita bersama Miranti di sebelahnya.


“Kemana ya kira-kira polisi itu akan membawa kita?” tanya Miranti.


“Entahlah, mungkin ke suatu villa misterius atau rumah tua, atau hotel mungkin,” jawab Lena sambil memoles bibirnya dengan lipstik berwarna natural.


“Semoga tempatnya nggak bikin bosan!” ucap Miranti.


“Jangan berharap banyak ya Mir! Yang pasti tempat yang akan kita tinggali nggak bakalan ada kolam renang, air panas, atau mungkin tempat nongkrong. Yang ada, apa pun yang kita lakukan akan diawasi CCTV. Bener-bener mimpi buruk nggak sih? Mending aku di kamar aja, nggak usah keluar-keluar! Toh ponsel juga disita. Mau internetan juga nggak bisa. Duh!” keluh Lena.


“Iya juga sih. Padahal hidup kita nggak bisa lepas dari internet. Aku yang terbiasa belanja online pasti akan sangat bosan,” ucap Miranti menambahkan.


“Mir, kamu lihat ada yang mencurigakan nggak sih?” tanya Lena.


“Mencurigakan bagaimana?” Miranti mulai penasaran.


“Kamu lihat gelagat Alex nggak sih? Kok aku ngerasa dia misterius gitu ya?”


“Misterius gimana?”


“Dia itu seperti gelisah yang nggak jelas. Matanya jelalatan kesana-kemari. Jangan-jangan dia yang bikin ulah selama ini,” tebak Lena.


“Masa sih? Semoga saja nggak deh. Mungkin dia terlihat culun, tapi kurasa dia itu cerdas. Entahlah. Aku nggak berani berspekulasi apa-apa mengenai dia.”


Tiba-tiba, Adinda masuk ke dalam toilet dengan paras agak pucat.


“Kalian punya obat mabuk nggak?” tanya Adinda.


“Obat mabuk? Sejak kapan kamu mabuk kendaraan?” tanya Lena dengan heran.


“Aku sepertinya masuk angin. Nggak biasanya juga sih kayak gini. Tadi aku belum sarapan juga, jadi perut berasa mual,” ucap Adinda.


“Aku ada minyak kayu putih di tas. Ntar olesin di leher, siapa tahu reda mualnya. Aku ambilin dulu ya!”


Tanpa menunggu perintah dua kali, Miranti kembali ke dalam mobil untuk mengambil minyak kayu putih yang ia simpan dalam tas. Ia melihat semua penumpang mobil turun untuk beristirahat sejenak, kecuali Alex. Pria muda itu terlihat diam. Paras cemas tergambar nyata di wajahnya.


“Kamu nggak turun, Lex?” tegur Miranti.


“Oh, nggak!” jawab Alex pendek.


“Kamu nggak apa-apa kan? Kok kelihatan tegang banget?”


“Nggak. Nggak apa-apa kok!”


Beberapa saat kemudian, setelah para penumpang mobil menyelesaikan keperluan masing-masing, mobil siap berangkat lagi. Mereka sedikit lega, karena berhasil mengurangi ketegangan yang ada.


“Siapa yang belum naik?” tanya Rasty.


“Ferdy sama Miranti kayaknya,” jawab Lena, seraya membuang pandangan berkeliling.


“Lama banget sih!” dengkus Rasty.


Setelah semua penumpang lengkap, mobil kembali melaju meninggalkan SPBU yang sepi itu. Beberapa kilometer ke depan, setelah melewati kebun-kebun yang sepi, mobil berhenti di jalan. Terlihat sebuah gang kecil tak beraspal berada di pinggir jalan, menuju ke suatu tempat.


“Kita semua turun di sini. Siapkan barang-barang kalian!” perintah polisi itu.


“Nggak salah nih Pak! Kok nggak kelihatan tempat isolasinya?” tanya Miranti sambil melayangkan pandangan ke sekitar, tetapi yang terlihat hanya pepohonan.


“Kita akan berjalan dulu satu kilometer, baru kita akan menemukan tempatnya,” ujar polisi itu lagi.


Tak lama, Reno dan Dimas juga telah sampai ke tepi jalan di mana mereka berhenti. Tanpa banyak protes, mereka segera merapikan barang bawaan. Walaupun dalam hati, mereka sangat berat dan enggan untuk pergi ke tempat isolasi yang terpencil seperti ini.


“Mendadak perasaanku nggak enak,” bisik Lena kepada Rasty.


“Sudahlah. Orang kita semua kok yang ngrasain. Nanti lama-kelamaan juga akan terbiasa,” ucap Rasty.


Mereka berjalan masuk ke dalam jalan tak beraspal yang lumayan sempit, dengan dipandu oleh petugas yang mengemudi tadi. Jalan itu dikelilingi banyak pohon yang menjulang. Suara burung berkicau terdengar di sana-sini. Di sisi jalan, banyak ditumbuhi rerumputan yang masih basah karena embun.


“Kita lihat! Berapa lama kita akan bisa bertahan di sini?” Alex menambahkan.


“Sebulan pun aku kuat kayaknya. Ini kan mirip-mirip tempat wisata di area perbukitan. Kurasa tempat ini cukup nyaman aja kok,” kata Rasty.


“Masalahnya apakah kamu masih bisa bertahan hidup selama satu bulan?”


Rasty terdiam. Mungkin perkataan Alex ada benarnya. Sungguh tak terbayangkan, mereka akan dikurung dengan seorang pembunuh yang bisa beraksi kapan saja.


“Kalian tenang saja! Ini semua hanya permainan. Kalian pernah nonton film The Hunger Games? Mereka saling membunuh, sampai tersisa satu orang pemenang. Inipun akan begitu. Kurasa aku nggak akan segan-segan membunuh kalau jiwaku sendiri terancam. Aku benar-benar geregetan dengan semua ini.”


Rudi menerangakan. Antara cemas dan khawatir. Jalan yang mereka lalui kini menanjak. Sepertinya mereka akan menuju ke puncak bukit. Jalanan sedikit licin dan berlumpur, sehingga sepatu-sepatu mereka menjadi kotor.


“Aku heran. Kok ada sih orang membangun rumah di tempat terpencil seperti ini? Apa enaknya coba?” tanya Lena.


“Mungkin ini semacam tempat peristirahatan atau entahlah. Aku sendiri juga tidak paham. Tapi apapun itu, semoga cukup nyaman untuk ditinggali. Kuharap tersambung dengan jaringan listrik,” timpal Ferdy.


“Semoga perjuangan yang kita lakukan ini sepadan, pembunuh dapat segera ditemukan, dan kita bisa terbebas dari mimpi buruk yang tidak berkesudahan ini,” ucap Adinda.


“Auw!”


Tiba-tiba terdengar suara Miranti. Ia duduk sambil memegangi kakinya. Wajahnya meringis, seperti menahan sakit.


“Kamu kenapa, Mir?” tanya Lena.


“Kakiku terkilir sepertinya ....”


“Aduh! Ada-ada saja sih!” geram Rudi.


Dimas dan Reno yang berjalan di belakang segera sigap memberi pertolongan. Ia mengurut kaki Miranti, dan memapah Miranti yang kesulitan berjalan.


“Kalian duluan saja, biar kami yang mengurus teman kalian!” perintah Reno.


Rombongan itu kembali berjalan menyusuri jalan kecil itu, sampai pada akhirnya berhenti pada di depan sebuah rumah besar berarsitektur Belanda. Rumah itu mempunyai dua lantai, berkesan angker, dan menyeramkan. Semua anggota rombongan menahan napas. Mereka akan dikurung beberapa hari di tempat ini. Mimpi buruk baru saja akan dimulai.


***