Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
305. De Javu!


Kematian Lidya dengan cara mengenaskan membuat para penghuni direjam rasa takut. Mereka hanya bisa terdiam, tak bisa berspekulasi apa-apa. Mereka juga tak membayangan kalau si pembunuh berada di antara mereka. Sepertinya tak ada yang aneh. Keseharian mereka diisi dengan banyak candaan seolah tak ada sekam tersimpan di antara mereka. Namun, mengapa harus ada yang terbunuh?


Kegiatan reuni yang harusnya digunakan untuk bersenang-senang, seolah berubah menjadi mimpi buruk yang menakutkan. Apalagi Lidya dibunuh dengan cara teramat sadis, tanpa belas kasih. Tubuh wanita itu tercabik-cabik dengan sebuah parang. Tentu hal itu sangat mengerikan.


Sementara, keadaan Aditya masih terpukul, tak ingin diajak bicara. Ia masih berada dalam kamarnya sendiri untuk menenangkan diri. Yang lain memilih berkumpul di ruang depan, sambil kasak-kusuk. Topik seputar pembunuhan Lidya menjadi bahasan utama yang menarik untuk diperbincangkan.


“Siapa yang berbuat sekeji itu?” gumam Ryan.


“Siapa pun itu, pasti mempunyai motif terselubung, entah itu cemburu, sakit hati, atau lain hal. Aku sama sekali nggak punya bayangan apa pun. Kita belum 24 jam berada di tempat ini, dan tiba-tiba dikejutkan dengan kejadian mengerikan ini. Sebaiknya kita waspada. Aku curiga jangan-jangan .... “


Edwin berbicara serius, kemudian mengalihkan pandangan ke kiri dan ke kanan. menatap curiga beberapa orang yang ada di tempat itu.


“Jangan-jangan apa, Ed! Jangan main fitnah kalau belum ada bukti. Masa iya pelakunya salah satu dari kita?” bantah Ryan.


“Kalau bukan salah satu dari kita, menurutmu ada orang lain di kastil ini? Kamu pikir ada orang gila yang menunggu kedatangan kita, lalu menghabisi kita satu-persatu tanpa alasan yang jelas seperti di film-film? Payah kamu! Terlalu banyak nonton film Hollywood ya jadi seperti ini!” ucap Edwin.


Ryan terdiam. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia melirik ke arah istrinya yang tampak ketakutan.Nadine, perempuan cantik itu tampak panik sambil menggelengkan kepala.


“Aku ... aku ingin pulang. Aku hanya ingin pulang. Persetan dengan acara reuni ini. Aku tidak mau berada di sini,” keluh Nadine dengan paras ketakutan.


"Nggak semudah itu, Nadine. Kita sudah terjebak di sini sejak awal. Sepertinya, kita ini adalah ikan-ikan yang berhasil dihalau untuk memasuki perangkap jaring. Kalau sudah begini, kita nggak akan bisa keluar. Yang penting kita saling menguatkan dan saling bersama." Ryan berusaha menenangkan sambil memegang pundak istrinya.


"Jadi kita hanya diam di sini dan duduk menunggu mati? Aku merasakan ini adalah sebuah jebakan buat kita semua. Aku nggak peduli dengan reuni sialan ini. Aku hanya ingin pulang!" protes Nadine lagi.


"Tenanglah, Nadine. Kondisnya nggak seperti yang kau bayangkan. Seperti yang Edwin bilang, ini bukan film. Tak ada yang akan dibunuh lagi. Begitu mayat Lidya dibawa ke kota, maka semua akan baik-baik saja. Aku juga berharap kita akan segera keluar dari tempat ini," kata Ryan.


"Kalian pikir akan semudah itu keluar dari sini? Nggak akan. Kalian  nggak usah panik. Pembunuhan Lidya sepertinya memang sudah direncanakan. Kalian tau juga kan gaya Lidya yang congkak dan sok pamer itu. Pantas saja ada yang ingin dia mati. Sudahlah, jangan sampai kematian Lidya ini menggagalkan rencana kita untuk bersenang-senang. Besok, aku mau ke air terjun. Terserah, kalau kalian nggak ikut. Aku ke tempat ini untuk bersenang-senang, bukan untuk ketakutan. Kita serahkan saja semua pada suami Mariah. Dia kan polisi hebat!" kicau Rosita.


"Aku setuju banget dengan pendapat Rosita. Kita nggak usah terlalu takut. Biarlah kematian Lidya ditangani oleh yeng berwenang, dan kita melanjutkan acara kita untuk bersenang-senang. Bagaimanapun acara reuni ini sudah kita rencanakan bertahun-tahun, dan nggak boleh terganggu dengan kematian Lidya ini," sambung Lily.


"Oke ... oke aku setuju juga, tapi kita nggak boleh lengah juga. Kita memerlukan perlindungan diri, kalau-kalau ada hal buruk yang terjadi pada kita. Bersenang-senang boleh, tapi nggak boleh lalai juga. Gimana pun, pelaku pembunuhan ini pasti berada di sekitar kita. Kita harus tetap waspada." Farrel menambahkan.


"Yang penting kita santai saja lah. Nggak usah terlalu dibesar-besarkan. Yang mati biar saja mati, yang hidup ya kita lanjutkan hidup kita. Semudah itu kok. Iya kan Sayang?"


Jeremy berkomentar juga, setelah beberapa lama terdiam. Ia seperti tidak bereaksi dengan kejadian yang telah terjadi. Demikian pula Stella. Pasangan itu terlihat paling tidak terpengaruh dengan kematian Lidya, asyik dengan dunianya sendiri. Paras muka mereka begitu dingin, tanpa emosi apa pun.


Tiba-tiba dari dalam ruang tengah, Ammar Marutami mendatangi sekumpulan orang yang berada di ruang depan sambil memasang tampang serius. Semua yang berada di situ sontak terdiam. Mereka tahu, bahwa kehadiran Ammar Marutami pasti akan menyampaikan sesuatu yang serius.


"Kami besok mau ke air terjun, Pak. Boleh kan?" tanya Rosita.


"Hmm, siapa yang jadi penunjuk jalannya? Apakah ada yang pernah berkunjung ke sana?" tanya Ammar.


"Biar aku yang bertanggungjawab, Pak. Aku yang merencanakan reuni ini, maka biar aku yang memimpin!" jawab Lily.


"Baiklah, silakan kalian pergi ke air terjun, dengan pengawalan!"


***


Mariah pergi ke kota dengan mengendarai mobil, walau pikirannya sangat kacau. Ia tidak habis pikir, mengapa sampai ada pembunuhan dalam kastilnya. Ia sudah merasa trauma dengan kejadian pembunuhan yang terjadi sebelumnya. Selama beberapa lama ia berusaha mengembalikan reputasi kastil, agar orang tak takut berkunjung ke sana. Namun, menagapa ada lagi kejadian seperti ini. Masih tersimpan rasa takut yang mengendap dalam hati.  Bagaimana tidak? Ia sempat disekap dalam ruang bawah tanah, dan diancam untuk dipotong lidahnya. Ia selalu bergidik apabila membayangkan hal itu.


Untuk menghilangkan rasa tegang, ia berusaha memutar musik dari pemutar musik mobilnya. namun, rupanya alunan musik itu tak mengurangi ketegangan yang dirasakan. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, agar segera sampai di kota lebih cepat. Ia khawatir, apabila meninggalkan suaminya seorang diri di kastil, akan berbahaya. Suaminya belum sepenuhnya pulih dari cedera kaki yang dialami. Hal buruk bisa saja terjadi pada Ammar kapan saja.


Tetiba dari spion mobil yang berada di atas, ia melihat bungkusan koran yang berbercak darah, yang diletakkan di jok tengah. Perasaan Mariah menjadi tidak enak. Mengapa ada sesuatu yang dibungkus di situ? Ia tidak ingin ada apa-apa. Segera saja ia menepikan mobil, di tepi kebun teh yang sepi. Ia turun untuk mengambil bungkusan koran yang berada di jok tengah mobil. Ia buka perlahan, karena penasaran dengan isinya. Rupanya bungkusan koran itu berisi dua buah gelang tangan yang terbuat dari emas. Mariah kenal dengan gelang ini, karena di gelang itu terukir nama LIDYA  dan ADIT dengan jelas. Mariah merasa bergidik. Mengapa si pembunuh itu meletakkan gelang ini di mobilnya? Apakah ada pesan khusus yang hendak disampaikan?


Rupanya di bungkusan itu juga terdapat kertas yang dilipat kecil, seperti ada tulisan di dalamnya. Ia buka kertas itu perlahan, dengan perasaan tak menentu. Sebuah tulisan yang ditulis dengan menggunakan darah, tampak terbaca di kertas itu.


DE JAVU!


Apa maksud tulisan De Javu ini? Bukankah De Javu bisa diartikan pengulangan kejadian yang sama yang telah terjadi di masa lampau? Apa ini artinya akan ada peristiwa pembunuhan berikutnya? Mariah tercekat. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia segera masuk ke mobil dan segera pergi ke kota untuk menyampaikan informasi ini kepada Reno dan Dimas. Ia yakin, suaminya tak bisa menangani kasus ini sendiri. Ia tak boleh terlambat.


***