Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
123.Sedan Putih


Mobil Reno dan Dimas menelusur sebuah jalan sepi yang tampak berkilau karena basah sehabis hujan. Lampu jalan yang berwarna kuning menerpa permukaan aspal, mencetak bayangan pohon-pohon yang berjajar di tepi jalan. Mereka memasuki kawasan permukiman yang padat, tetapi sepi.


“Benarkah supermarket itu ada di jalan ini?” bisik Dimas.


“Iya benar. Aku hapal. Di foto tadi, terlihat di sebelah supermarket ada penjual bunga. Kurasa satu-satunya supermarket yang bersebelahan dengan penjual bunga ada di jalan ini. Masih agak ke depan letaknya,” kata Reno dengan yakin.


Mobil mereka terus menyusur, hingga sampai di depan sebuah supermarket sepi yang sudah tutup. Sepi sekali di sana, tak ada seorang pun terlihat. Mobil mereka berhenti di tepi jalan. Mereka mengamati supermarket itu dengan saksama.


“Ini supermarketnya!” ucap Reno.


“Kamu yakin? Tapi kok sepi sekali?”


“Ini sudah lebih jam sebelas malam. Tentu sudah tutup jam segini. Tapi kok nggak ada tanda terjadi apa-apa ya di sekitar sini? Kelihatannya semua normal.” Reno mulai sangsi.


“Coba kita susuri jalan ini. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk lain. Aku khawatir pengirim pesan itu hanya mempermainkan kita, padahal dia beraksi di tempat lain. Masa kita dijebak oleh penjahat? Kan nggak lucu!” ujar Dimas.


“Oke, kalau begitu kita susuri saja jalan ini!”


Reno menjalankan mobil sampai beberapa meter ke depan. Semuanya tampak normal, tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan. Tetapi tiba-tiba mata Reno menangkap sesuatu di trotoar.


“Dim! Kamu lihat nggak itu!” Reno menunjuk bungkusan plastik yang isinya berceceran di jalan.


Reno segera menghentikan mobil. Keduanya keluar untuk memeriksa bungkusan plastik putih itu. Sepertinya ada seseorang yang baru saja berbelanja, kemudian menjatuhkan plastik belanjaannya begitu saja. Mereka melihat satu bungkus keripik kentang yang masih utuh, dua buah es krim yang mulai meleleh, dan beberapa makanan ringan yang lain.


“Apakah mungkin ada seseorang yang berbelanja kemudian membuang barang belanjaannya begitu saja?” tanya Dimas.


“Ini mencurigakan. Aku khawatir di sini baru saja ada kejadian. Sayangnya sepi sekali di sini, nggak ada yang bisa ditanyai. Siapa kira-kira ikan besar yang dimaksud pengirim pesan itu? Aku tahu seseorang dalam bahaya, tetapi kita nggak tahu sama sekali siapa dia,” ucap Reno.


Drrrtt ... drrrtt.


Tiba-tiba ponsel Reno bergetar. Dilihatnya sebuah pesan datang lagi dari pengirim misterius. Ia segera melihat isi pesan, yang ternyata foto seorang gadis dengan mulut disumpal sapu tangan, duduk di jok belakang sebuah mobil. Gadis itu tampak tak berdaya dengan rambut berantakan. Sebuah kalimat tertulis di bawah foto itu.


Ikan besar telah masuk perangkap. Kini dia bersamaku.


Jantung Reno berdegup kencang melihat foto itu. Ia tidak mengenal siapa gadis yang disekap. Ia menoleh ke arah Dimas dengan gelisah.


“Sial! Dia telah menangkap seorang gadis dengan menggunakan mobil!” ucap Reno.


“Astaga! Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita tahu dia ada di mana?” Dimas terlihat panik.


“Aku akan hubungi kantor untuk menggerakan anggota kepolisian agar berpatroli dan menutup perbatasan kota, takutnya dia kabur!” ucap Reno.


Polisi itu segera masuk ke dalam mobil, mencoba berkomunikasi dengan kantor pusat dengan menggunakan radio. Dia memerintahkan semua anggota polisi untuk bersiaga dan menelusur semua sudut kota, karena seorang gadis telah diculik. Ia meminta semua satuan kepolisian dari semua kecamatan untuk bersiaga, dan memeriksa wilayah masing-masing.


“Ayo, Dim! Kita periksa sekitar tempat ini!”


Reno segera mengajak Dimas untuk kembali menelusuri jalan sampai ke ujung. Di ujung jalan, terlihat sebuah pangkalan ojek yang sepi. Hanya seorang tukang ojek yang duduk terkantuk-kantuk sambil menunggu penumpang di sana.


“Coba tanya ke tukang ojek itu, siapa tahu dia tahu ada sesuatu yang aneh!” perintah Reno.


Mereka turun menghampiri si tukang ojek untuk menanyakan apakah ada kejanggalan di sekitar tempat itu. Tukang ojek itu terlihat takut-takut melihat dua orang polisi menghampiri, khawatir dia berbuat salah.


“Maaf, Pak. Kami dari kepolisian. Sebenarnya sedang mencari seseorang yang hilang di sekitar sini. Apakah Bapak melihat ada kejadian aneh ... atau mungkin sesuatu yang mencurigakan, seperti mobil atau kendaraan lain yang lewat sini atau apa gitu,” tanya Reno.


“Waduh, sepertinya sepi sekali sih malam ini, Pak. Tadi saya memang lihat sebuah mobil sedan warna putih atau warna apa ya? Lewat sini dengan lampu depan mati. Hanya mobil itu saja Pak yang saya lihat, tak ada kendaraan lain. Saya sampai heran, saya kira mobil hantu.”


Bapak itu bercerita takut-takut.


“Mobil warna putih? Bapak tahu mungkin merek mobil atau jenisnya gitu?”


“Nggak sih, Pak. Saya mah nggak apal jenis-jenis mobil. Yang jelas mobil itu sedan berwarna putih, itu saja yang saya ingat. Kacanya gelap, dengan lampu depan dimatikan,” kata si tukang ojek.


“Bapak ingat mobil itu pergi ke arah mana?” Reno terus bertanya.


“Mobil itu saya lihat tadi berbelok ke kanan, sepertinya arah hutan ya? Tapi setelah itu saya nggak tahu Pak.”


“Hmm. Baiklah, Pak. Terima kasih informasinya,” ujar Reno.


“Sudah kuduga, mobil itu pasti sedang menuju tempat sepi,” kata Reno.


“Jadi kita akan memburu mobil itu sampai ke hutan kota?” tanya Dimas.


“Kita jalan aja sambil mengawasi kanan-kiri. Siapa tahu kita beruntung menemukan mobil itu di pinggir jalan,” jawab Reno.


Dimas menyalakan radio mobil, memantau laporan-laporan dari polisi lain, kalau-kalau menemukan petunjuk lain. Dimas juga menginformasikan bahwa saat ini mereka tengah memburu sebuah mobil sedan putih yang melaju ke arah hutan kota.


Mereka melaju selama kurang lebih sepuluh menit, ketika Dimas melihat sebuah sedan berwarna putih diparkir di pinggir jalan dekat pergudangan kosong. Suasana pergudangan itu sangat sepi, karena jauh dari permukiman warga. Di sebelah kompleks gudang, terdapat hutan kecil yang ditumbuhi banyak pohon tinggi.


“Mobil itu mencurigakan!” bisik Dimas.


“Mari kita lihat!”


Keduanya memarkir mobil di belakang sedan putih, kemudian turun dengan tetap waspada. Di tangan Dimas tergenggam senter untuk melihat dalam mobil yang terlihat gelap. Setelah mendekati mobil, Reno mengetuk-ngetuk kacanya. Ia melihat ada bayangan manusia di dalamnya.


“Tolong yang di dalam buka pintunya!” perintah Reno.


Dimas menyorotkan lampu senter ke arah dalam mobil. Perintah Reno sepertinya tak digubris. Sosok manusia di dalam mobil itu tak mau membuka pintu.


“Buka! Atau terpaksa kami dobrak!” ancam Reno lagi.


Setelah diancam, barulah pintu mobil terbuka. Ternyata yang keluar sungguh di luar dugaan. Dua orang remaja belasan tahun keluar dari dalam mobil dengan malu-malu. Satu orang anak laki-laki memakai kaos oblong dan celana pendek, dan seorang lagi anak perempuan dengan rambut berantakan, dengan baju yang dikancing asal-asalan. Bahkan Reno masih melihat beberapa tanda kemerahan di bagian leher si anak perempuan!


“Astaga! Apa yang kalian di dalam mobil?” tanya Reno dengan geram.


Kedua anak itu hanya menunduk malu-malu, tak berani berkata apa pun. Paras mereka ketakutan, karena tertangkap basah oleh polisi.


“Coba lihat identitas kalian!” perintah Dimas.


Mereka mengeluarkan dompet dan menyerahkan dua buah kartu pelajar. Dimas mengamati kartu pelajar itu dengan penuh perhatian. Ia merasa gemas, tetapi dalam hati ingin tertawa juga. Ia miris dengan pergaulan anak muda zaman sekarang.


“Kartu ini saya bawa. Besok silakan diambil di kantor polisi bersama orang tua kalian untuk menandatangani surat pernyataan. Sekarang, kalian langsung pulang dan jangan mampir kemana-mana!” ucap Dimas.


“Jangan Pak! Nanti orang tua kami marah ... Please, Pak!” Si anak perempuan merengek hampir menangis.


“Itu bukan urusan kami! Kan kalian emang salah! Sekarang kalian harus pulang, atau kalau tidak, silakan ikut saja ke kantor polisi untuk menginap di sel. Besok akan kami telponkan orang tua kalian untuk menjemput. Bagaimana?”


“Nggak ... nggak, Pak. Kami akan pulang sekarang!” ucap anak laki-laki itu dengan cepat.


“Jangan diulangi lagi! Kalian itu masih muda. Harusnya fokus sekolah, belum waktunya melakukan perbuatan ini, apalagi di tempat sepi seperti ini. Bagaimana kalau ternyata bukan kami yang memergoki kalian? Tetapi penjahat, terus merampok kalian misalnya?” ucap Dimas.


“Iya, Pak. Kami minta maaf! Kami nggak akan mengulangi, ” ucap anak laki-laki itu takut-takut, sementara si anak perempuan hanya menunduk.


“Udah pulang sana! Kalau kalian ulang lagi, maka kami nggak akan segan-segan penjarakan kalian!”


Tanpa membantah, dua remaja itu kembali masuk mobil, kemudian meninggalkan Reno dan Dimas yang masih merasa gusar.


“Sial! Ternyata anak-anak lagi mesum!” gerutu Reno.


“Jadi ke mana mobil itu pergi?”


“Firasatku sih pasti ke hutan kalau nggak sekitar sini. Mau lari ke mana lagi?”


“Apakah kita akan ke hutan untuk memastikan?”


“Tunggu. Aku akan minta bantuan unit lain!”


Reno segera mengabarkan posisi mereka melalui radio mobil. Mereka hendak menyisir wilayah hutan, kalau-kalau mobil itu pergi ke sana. Masalahnya, saat ini mereka sedang berkejaran dengan waktu. Pembunuh itu bisa saja nekat menghabisi korban kapan saja.


***