
Hardi terpana melihat Toni yang tergeletak di depannya. Ia memeriksa kondisinya, ternyata ia hanya pingsan. Ia melihat ada seperrcik darah di bagian kepala Toni. Tak jauh dari tempat Toni ada sebuah ranting kayu yang cukup besar. Rupanya wanita itu memukul bagian kepala belakang Toni dengan cukup kuat, sampai polisi itu tak sadarkan diri. Hardi berusaha menyadarkan Toni dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi rekannya itu belum bangun.
"Ton ... Ton sadar! Ton!" ucap Hardi.
Brremmm!
Belum lagi ia berhasil membuat Toni sadar, ia melihat mobil yang ditumpangi tadi sudah dalam keadaan menyala mesinnya. Dilihatnya, Rianti sudah berada di dalam mobil sambil melambaikan tangan ke arah Hardi. Ia juga tersenyum, seolah menertawakan Hardi. Segera ia membawa mobil itu pergi dari lokasi tepi hutan dengan kecepatan cukup tinggi, menuju arah kota.
"Astaga!"
Segera saja Hardi mengambil ponsel yang di sakunya, segera menghubungi Reno. Ia harus memberitahukan kejadian ini kepada Reno, agar polisi itu segera bertindak. Ia kelihatan tak sabar, karena mobil sudah melaju ke arah kota. Ia khawatir, Rianti akan mengincar korban yang belum sempat ia selesaikan di rumah isolasi. Saat ini korban terlemah adalah Ollan. Mungkin Rianti sedang menuju ke sana.
Sementara, suasana di rumah isolasi terasa sangat tenteram sepeninggal Rianti. Mereka merayakan ditangkapnya Rianti dengan acara minum kopi bersama-sama. Namun Henry tidak ikut, ia memilih untuk menenangkan diri di kamar. Bagaimanapun, ia merasa terpukul, sekaligus tak menduga kalau Rianti adala aktor utama di balik serentetan pembunuhan artis belakangan ini. Ia sama sekali tak pernah membayangkan bahwa selama ini ia tinggal bertahun-tahun dengan seorang pembunuh berdarah dingin.
Telepon Reno bergetar saat ia mengobrol dengan penghuni rumah isolasi di beranda depan. Walau larut malam, mereka masih belum ngantuk, karena masih asyik mengobrol tentang Rianti yang selama ini tidak menampakkan kalau dia seorang pembunuh. Bahkan, dia berperan seolah-olah tersakiti oleh ulah suaminya. Laura mersa sangat gembira dengan ditangkapnya Rianti. Rasa takutnya sirna seketika.
Reno segera mengangkat panggilan Hardi tesebut. Firasatnya tak enak, karena seharusnya Hardi sudah sampai di kota. Lalu mengapa polisi itu menelepon di malam buta begini?
"Iya, Har. Ada apa?" tanya Reno cepat.
"Gawat! Gawat Pak! Ri-rianti kabur. Ia berhasil mencuri mobil, kemudian pergi ke arah kota. Bahkan dia sempat memukul Toni," ucap Hardi terdengar terburu-buru.
"Astaga! Kamu di mana sekarang? Biar aku ke sana!" tanya Reno.
"Sa-saya juga kurang tahu, Pak. Kami di pinggir hutan, gelap sekali di sini. Tadi Rianti pura-pura buang air kecil, tetapi ternyata ia berhasil memperdaya kami, Pak" Hardi bercerita.
"Aduh, gimana kalian ini? Oke ... oke! Aku akan hubungi kepolisian kota secepatnya agar segera memburu Rianti. Kalian sabar dulu di tempat itu, nanti akan dijemput. Oke?"
"Baik, Pak!"
Reno segera bertindak cepat. Ia langsung menghubungi polisi di wilayah kota agar waspada. Ia sadar, Rianti tidak bisa dianggap remeh. Ia bisa saja berbuat nekat untuk melancarkan aksinya. Reno memerintahkan beberapa orang polisi untuk mengamankan apartemen Ollan, apartemen Faishal, dan berjaga di sekitar rumah sakit tempat Widya dirawat. Reno tak mau lengah, dan memberi celah kepada Rianti untuk menyusup dan berbuat nekat lagi. Korban-korban yang masih hidup harus segera diamankan.
Selain kepolisian, Reno juga menghubungi Faishal secara pribadi. Faishal segera mengamankan apartemennya dengan kunci otomatis. Semenjak beberapa peristiwa pembunuhan yang terjadi, Faishal mulai memperketat akses ke apartemen. Ia merasa trauma dengan apa yang terjadi di villa. Apalagi, kejadian itu sampai merenggut nyawa Melani.
Dimas dan Ammar yang mengetahui kaburnya Rianti, juga terkejut. Segera Dimas mempunyai inisiatif untuk menjemput Hadi dan Toni, sekaligus pergi ke kota malam ini juga untuk mengamankan kondisi kota. Sementara, semua penghuni rumah isolasi akan dijemput besok pagi dengan kendaraan khusus yang telah disiapkan dari kepolisian. Mereka belum sepenuhnya aman, kalau si psikopat itu masih berkeliaran.
***
Ia terbangun ketika mendengar ponselnya berbunyi. Rupanya Reno menelepon Ollan untuk mengingatkan bahwa saat ini mungkin ia dalam bahaya. Rianti yang berhasil kabur, kemungkinan akan menuju apartemen Ollan, karena selain akses masuknya mudah, Ollan dianggap yang terlemah, yang hanya bisa panik dan menjerit apabila mendapat ancaman.
"Masa sih, Pak? Rianti? Aduh, masa Bu Rianti? Nggak percaya aku, Pak. Masa Bu Rianti jadi tersangka pembunuhan itu?" jawab Ollan.
"Maaf Ollan, aku tidak bisa membeberkan fakta dan bukti-bukti di telepon, yang jelas kamu harus waspada, karena saat kepolisian masih belum siap ke tempatmu.Mungkin saat ini Rianti bahkan sudah berada dekat apartemenmu!" ucap Reno.
"Ih, Pak Reno bikin takut aja deh!"
"Sekali lagi, Ollan. Ini bukan candaan atau isapan jempol. Kalau kamu nggak mau berakhir dalam kantung mayat, kamu harus waspada! Udah itu saja. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Kerjaanku juga banyak. Aku harus segera ke kota juga!" ucap Reno.
Ollan ingin menanggapi lebih banyak, tetapi Reno sudah mematikan telepon. Hatinya berdesir tiba-tiba. Ia masih belum percaya kalau Rianti adalah dalang dibalik semua peristiwa pembunuhan yang terjadi, bahkan yang sudah mencoba membunuhnya dua kali. Ia bingung, karena saat ini Rianti mungkin sedang menuju apartemennya.
Tok ... tok ... tok!
Belum lagi ia selesai berpikir, ia mendengar pintu apartemen sudah diketuk. Hampir saja ia terlonjak saking kagetnya. Perasaannya bimbang, apakah ia harus membuka pintu atau malah mengabaikannya? Ia mencari akal sambil mondar-mandir, sementara pintu terus diketuk. Pada akhirnya, karena ia semakin direjam rasa panik, ia mengambil sebilah pisau dapur di dapur, ia selipkan di balik baju, sebagai pertahanan diri apabila terjadi apa-apa.
Ia masih merasa bimbang dengan apa yang harus dilakukan, sampai pada akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu. Ia mendapati sosok wanita dengan paras lelah berdiri di depan pintu, tersenyum lebar padanya. Ollan hanya membalas dengan senyum kecil. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya apa yang dikatakan Pak Reno benar. Saat ini Rianti tengah berdiri di hadapan pintu. Sungguh tak wajar, Rianti bertamu di malam buta seperti ini.
"Aku tidak boleh panik. Aku harus tenang. Jangan panik, Ollan. Jangan panik!" gumamnya dalam hati.
Rianti masih berdiri di depan pintu, menatap tajam ke arah Ollan. Pria kemayu itu segera berpikir bahwa ia harus mengulur waktu agar Rianti tak pergi sampai polisi datang ke apartemennya. Ia langsung membalas senyum Rianti.
"Eh, Bu Rianti. Mari masuk Bu. Tumben malam-malam begini berkunjung. Sama Bang Hen atau sendiri?" ucap Ollan dengan suara bergetar,. Ia sedang berjuang melawan rasa takutnya.
Rianti tak menjawab. Ia langsung melangkah masuk ke dalam apartemen Ollan sambil melayangkan pendangan berkeliling.
"Apartemenmu tambah menarik, Lan. Kamu mengecat kembali dindingnya?" tanya Rianti.
Ollan tahu itu pertanyaan basa-basi, tetapi Ollan segera mengiyakannnya, sembari terus waspada. ia tidak boleh lengah sampai polisi benar-benar tiba ke apartemennya. Ia harus berpikir keras, bagaimana caranya agar Rianti ini tidak kabur sampai kehadiran polisi. Di samping itu, ia juga harus waspada agar tetap selamat dari incaran Rianti.
***