
Di pusat kota, dekat dengan bangunan pasar dan mal, sebuah apotek berlantai dua berdiri dengan megah. Setiap hari apotek itu ramai dikunjungi konsumen yang ingin membeli obat-obatan, karena di situ menyediakan obat dengan harga sedikit lebih murah, dan pelayanannya yang ramah. Seorang penjaga apotek yang paling populer di situ adalah Ferdyan Hadinata, atau lebih akrab dipanggil Ferdy. Selain ganteng, dia juga ramah dengan para pengunjung.
Malam telah cukup larut, jarum jam merapat di angka sepuluh. Terlihat Ferdy masih melayani pembeli dengan cekatan, sambil menebar senyum yang memesona. Semua menyukai pribadi Ferdy yang ramah dan suka bercanda. Salah satunya dalah Vera, rekan satu kerja yang manis berlesung pipi.
“Hari ini kamu shift malam ya, Fer?” tanya Vera sambil merapikan tas pribadinya.
“Iya Ver. Kenapa, mau nemenin?” Ferdy balik bertanya.
Apotek tempat Ferdy bekerja adalah apotek yang melayani 24 jam, sehingga tak heran Ferdy kadang harus shift sampai pagi. Ia terbiasa bergadang.
“Nggak lah. Aku kan penakut orangnya. Kalau shift malam serem banget tau. Kalau kamu kan udah biasa berteman sama makhluk halus,” ucap Vera sambil tersenyum.
Ferdy tak menjawab. Ia sedang fokus merapikan resep-resep dokter yang berceceran di atas meja. Untuk obat-obat antibiotik, diperlukan resep dokter, karena biasanya ada audit berkala dari Dinas Kesehatan.
“Ya udah, aku pulang dulu ya. Hati-hati loh kerja sendirian!” goda Vera.
“Tenang aja! Udah biasa kok!”
Vera segera meninggalkan Ferdy. Suasana apotek agak sepi, tidak seperti biasanya. Ferdy memutar musik untuk menghilangkan rasa sepi dan kantuk. Malam ini tak seperti biasa, terasa dingin. Ia menatap jalanan di depan apotek yang mulai sepi juga. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang. Bahkan penjual sate yang biasa mangkal di seberang jalan juga tak kelihatan. Mungkin dia lagi libur.
Ferdy memutar siaran radio yang melantunkan lagu-lagu romatis pengantar tidur. Selain membuat perasaan lebih baik, lagu-lagu tersebut juga membangkitkan mood-nya. Sebelum ia duduk kembali, ia menyempatkan untuk pergi ke ruang belakang untuk mengecek pintu dan jendela. Gedung apotek itu dilengkapi dengan dapur, kamar mandi, dan ruang praktik dokter di lantai atas.
Jarum jam makin cepat bergeser melewati angka 12, pertanda sudah masuk dini hari. Seorang wanita muda berbaju seksi tiba-tiba memasuki apotek dengan tergesa. Dandanannya menor, dengan rambut dicat pirang. Secara usia, dia jelas lebih tua daripada Ferdy. Riasan yang tebal menutupi lubang-lubang bekas jerawat dan keriput di mukanya.
“Mas, pengaman satu ya!” pinta wanita berbaju seksi tersebut.
Ferdy segera paham dengan apa yang dimaksud wanita ini. Memang kadang ada saja yang mencari pengaman yang biasa dipakai pria, lewat tengah malam begini.
“Lagi ada job ya Tante?” tanya Ferdy, sambil mengambilkan satu kotak pengaman berasa buah yang diletakkan dalam etalase toko.
“Dih, anak kecil mau tahu saja!” ucap wanita itu sambil tersenyum genit.
Setelah mendapat apa yang dimaksud, wanita itu segera keluar, tetapi baru beberapa langkah, ia masuk lagi dengan wajah cemas.
“Mas, habis ini mending ditutup saja apoteknya,” kata si Tante.
“Kenapa memangnya Tante?”
“Aku tadi melihat di seberang jalan ada orang melihat apotek ini terus. Mencurigakan banget. Jangan-jangan orang jahat. Mending tutup saja deh!” nasihat wanita itu.
Ferdy penasaran dengan apa yang dilihat oleh wanita seksi itu. Setelah ia pergi, Ferdy pergi ke beranda luar aoptek, untuk memastikan bahwa kondisi apotek benar-benar aman. Ia melihat ke arah seberang jalan. Toko kue yang ada di sana telah tutup, demikian juga toko-toko di sebelahnya. Ia berusaha menajamkan pandangan, mencari tahu apa yang dikatakan wanita tadi.
Ia kembali masuk dan duduk kembali menghadapi tumpukan resep-resep. Belum lagi ia menyentuh resep itu, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, dan terbaca jelas. Perasaannya tak enak seketika. Biasanya ia berani menghadapi segala sesuatu di apotek ini. Kali ini, mendadak ia merinding.
“Fer, kamu aman kan?”
Demikian bunyi pesan yang terbaca di ponselnya. Pengirim pesan itu adalah Gerry, sepupunya. Mengapa pula Gerry mengirim pesan seperti itu, seolah-olah ada sesuatu yang membuat tidak aman? Jantungnya berdegup tiba-tiba. Ia tidak membalas pesan dari Gerry.
“Ingat! Jangan bicara dengan siapa pun!”
Pesan dari Gerry kembali masuk, tetapi Ferdy tetap mengabaikan.
Kembali ia beranjak ke beranda depan untuk melihat sosok misterius di seberang jalan. Ia mengamati benar-benar, ternyata hanya gelandangan yang kebetulan lewat. Syukurlah. Ia merasa lega. Semenjak peristiwa itu, ia sering dibuat takut dengan pikirannya sendiri. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin agar malam cepat berlalu, berganti pagi.
***
Adinda sedang sendirian di kamar kost. Hari sudah mulai larut, tetapi ia masih membuka-buka buku diktat kuliah yang tebalnya beratus-ratus halaman. Tak ada satu pun yang masuk ke dalam otaknya, seolah materi yang ia baca menguap begitu saja.
Waktu berlalu cepat. Ia menguap dua kali, seolah alarm bahwa dia harus segera tidur. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia keluar dari kamar menuju dapur. Biasanya untuk mengurangi kecemasan, ia membuat kopi. Ia berharap ada teman kost yang masih membuka mata, tetapi sepertinya semua sudah pulas tertidur.
Ting ... ting!
Ia mendengar di luar sana, tiang listrik dipukul dua kali, menandakan sudah pukul dua pagi. Cepat sekali waktu berlalu. Perasaan tadi ia mulai belajar jam sepuluh malam, tahu-tahu sudah pukul dua. Ia urungkan membuat kopi, bisa-bisa ia tidak tidur hingga pagi. Padahal ia besok ada kuliah pagi. Ia segera kembali ke kamar dengan perasaan tidak menentu.
Ponsel yang ia taruh di atas meja bergetar. Siapa mengirim pesan dini hari begini? Adinda mengecek si pengirim pesan. Ternyata pesan dari Ferdy.
“Kamu udah tidur, Din?”
Demikian bunyi pesan itu. Semenjak berkenalan dengan Ferdy di pesta tahun baru di rumah Gerry, hubungan keduanya menjadi lebih akrab. Walau mereka tidak saling bertemu, tetapi sering berkomunikasi dengan menggunakan pesan singkat.
Adinda tidak berniat membalas pesan itu, sebab ia sudah merasa ngantuk. Kalau ia balas pesan dari Ferdy, maka ia bisa tidur sampai pagi. Ia abaikan pesan dari Ferdy, kemudian menyemprot ruangan dengan obat nyamuk semprot.
Ia sudah mau beranjak tidur ketika ponselnya bergetar lagi. Sebenarnya ia tidak ingin melihat pesan itu, tetapi penasaran juga. Ia raih ponsel, dan ia buka kotak pesannya.
“Din, kamu aman kan?”
Kembali ia baca pesan dari Ferdy. Mengapa Ferdy mengirim pesan itu kepadanya? Apa yang terjadi padanya? Rasa khawatir menyergap. Ia berharap agar Ferdy baik-baik saja.
***