Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXXVIII. A Rose Bouquet


Malam masih menyisakan pengap sejak menghilangnya dr.Dwi. Michael dan Hans masih berkutat di halaman belakang, berdiri saling mencurigai. Hal yang sangat wajar di saat seperti ini, tak ada yang bisa dipercaya.


Michael terbahak melihat paras Hans berubah pasi. Kecurigaan yang dalam benar-benar tergambar. Karena malam makin larut, dua pria itu kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam kastil. Sampai detik ini, mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan dr.Dwi.


“Apakah dokter itu bernasib sama dengan yang lain?” tanya Hans.


“Entahlah!” jawab Michael pendek. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


“Kuharap dia baik-baik saja. Tak bisa kubayangkan jika dokter itu ikut dihabisi. Maka bukan tidak mungkin Ammar juga menjadi sasaran. Atau mungkin pembunuhnya mempunyai rencana lain?”


“Kurasa tidak semudah itu menaklukkan Ammar. Dia adalah polisi sangat berpengalaman. Dia dapat mendeteksi kebohongan yang tersembunyi dalam wajah. Jadi jangan coba-coba berbohong di hadapannya!”


Mereka berjalan menuju kastil yang sunyi. Angin bertiup agak kencang, menghembus hawa dingin yang makin mencengkeram. Rasa takut bercampur cemas kini singgah di tiap penghuni. Detik terus bergulir menebar kecemasan.


“Ada yang sedang kamu pikirkan?” tanya Hans.


“Mungkin. Aku sedang memikirkan pembunuhan selanjutnya. Kurasa aku tahu apa yang akan terjadi. Semua ini sudah tertulis dalam novelku. Semua rangkaian pembunuhna yang telah terjadi di kastil itu sama dengan yang pernah aku tulis. Ada seorang jenius gila yang mecoba menduplikasiku,” ujar Michael.


“Kamu menulis novel yang sama dengan kejadian di sini? Oh Tuhan, ini benar-benar gila. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pembunuhan seperti apa?”


Michael menghentikan langkahnya, menatap Hans dalam-dalam seraya menggeleng.


“Pembunuhan berikutnya akan terdengar sedikit kejam.”


“Apa maksudmu?”


“Sekarang kamu bisa membayangkan keadaan orang yang mati perlahan karena seluruh badannya diikat, kemudian disiram bensin dan dibakar hidup-hidup!”


“Astaga! Kegilaan macam apa itu?”


“Aku harap itu tidak terjadi,” gumam Michael.


***


Pagi menyapa kawasan kastil tua dengan menghadirkan mantari yang tampak sombong bertahta di angkasa. Sinarnya yang keemasan menyusup ke dalam jendela sebuah kamar di lantai dua. Adrianna menggeliat malas, karena tadi malam ia merasa kurang tidur. Tak dijumpainya Tiara yang saat ini tinggal sekamar dengannya.


Mungkin dia sedang olahraga pagi, gumamnya.


Belum sempat beranjak dari pembaringan, suara ketukan pintu mengagetkan. Sebenarnya ia malas untuk bangkit, tetapi mau tidak mau ia harus berdiri dan membuka pintu. Ia terperanjat melihat sosok Ammar Marutami menatapnya tajam. Adrianna buru-buru merapatkan kimono tidurnya, sambil mengembangkan senyum.


“Hari masih sangat pagi, Pak Polisi. Apakah kamu akan menginterogasiku?” tanya Adrianna.


“Ada sedikit yang ingin kutanyakan padamu, Adrianna. Mungkin kamu bisa berpakaian lebih layak dan menemuiku di ruang tengah. Aku menunggumu,” kata Ammar.


“Lima menit lagi aku akan ada di sana.”


Adrianna segera bersiap memenuhi panggilan Ammar. Ia merasa agak gugup, karena khawatir polisi itu akan mencecar pertanyaan. Padahal ia telah diwawancara beberapa waktu lalu, atau mungkin ada yang terlewat?


Ia memakai blus berwarna ungu pucat berpadu dengan rok hitam. Rambutnya yang indah ia tata rapi, dan paras juga telah terpoles riasan tipis. Matanya yang sipit memicing, berharap agar segera menghindar dari pertanyaan-pertanyaan menyudutkan. Ia duduk dengan percaya diri, menyilangkan kaki dengan anggun, berusaha menyembunyikan kegugupan.


“Aku mendapat laporan tentang kehilangan parfum beberapa waktu lalu. Tentu saja ini agak menggelikan di saat seperti ini ada yang main-main dengan parfum.Tak lama berselang kamu menemukan parfum itu di lemari Maira, sehingga kamu menduga dialah pencurinya ....”


“Memang dia pencurinya!” potong Adrianna.


“Aku belum selesai, Adrianna. Tunggulah aku menjelaskan! Sesungguhnya, kupikir pencuri parfum itu sedang bercanda dan ingin mengalihkan perhatian dari kasus ini. Tetapi beberapa hari kemudian aku menyadari bahwa parfum yang hilang itu telah digunakan seseorang untuk di bawah ruang bawah tanah. Aromanya sangat kuat!”


“Astaga! Mengapa parfum itu bisa sampai di sana? Aku tak pernah kesana. Pasti ada yang sengaja memakai di tempat itu. Maira yang melakukan ini semua!”


“Jangan berkesimpulan dulu. Kamu tahu, di ruang bawah tanah itu aku menyimpan jasad yang akan diperiksa lebih lanjut, termasuk jasad Rania. Tetapi kemarin aku kehilangan salah satunya. Aku tidak tahu manusia jenis apa yang gemar mengumpulkan sisa tubuh orang mati. Tak ada jejak yang ditinggalkan, kecuali aroma parfum yang hilang itu,” terang Ammar.


“Bagaimana kamu mengenali aroma parfum itu adalah parfumku?”


“Mudah saja. Kamu pernah memakai parfum itu saat kita berjalan-jalan di kebun teh, kemudian menemukan jasad Karina. Bagaimana mungkin aku melupakan aroma parfum lembut itu?”


Adrianna tersipu. Ia yakin, perkataan Ammar bukan untuk menggodanya. Paras Ammar terlihat serius seolah menelanjanginya. Sebisa mungkin, ia berusaha bersikap tenang.


“Jadi apa maksud aku dipanggil kesini?” tanya Adrianna.


“Hanya untuk memastikan bahwa kamu benar-benar kehilangan parfum itu, dan bukan sekedar rekayasa, kemudian melemparkan kesalahan pada pihak lain. Itu saja!”


Mendengar perkataan Ammar, emosi Adrianna menggelegak. Ia merasa sangat tersinggung dituduh merekayasa kehilangan parfum. Ia berdiri menatap tajam Ammar Marutami.


“Kamu pikir aku mengarang cerita ini?”


“Maafkan aku, Adrianna. Pahamilah bahwa semua yang ada di kastil ini adalah tersangka yang akan melakukan taktik apapun untuk menghilangkan jejak. Aku sebagai penyidik berhak untuk menduga apa pun yang mungkin. Jangan tersinggung.”


“Baiklah. Aku mengerti. Tetapi aku sungguh tidak merekayasa kehilangan parfum itu karena sama sekali tidak ada untungnya buatku. Maaf, pembicaraan ini selesai. Tiba-tiba saja aku kehilangan minat. Maaf, aku kembali ke kamar. Semoga harimu menyenangkan!”


Adrianna segera berlalu dari hadapan Ammar, menyisakan aroma parfum yang sama dengan yang ada di ruang bawah tanah.


Ammar menghela napas. Ia berhasil memantik emosi wanita muda itu. Sejenak ia merasa sendirian, karena tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai pertimbangan. Menghilangnya dr.Dwi membuatnya khawatir. Ia berharap agar dokter itu akan ditemukan dalam keadaan bernyawa.


***


Cornellio Syam tertegun di depan pintu kamarnya. Sebuah buket bunga mawar tergeletak di depan pintu, tanpa tahu siapa yang sengaja meletakkan di situ. Perlahan ia pungut, kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar.


Siapa yang menaruh buket bunga itu? Penggemar rahasia atau siapa...?


Ia mencium kelopak mawar yang diikat rapi dengan pita berwarna merah menyala. Aromanya masih segar. Bunga ini baru saja dipetik. Mungkin dari taman di halaman samping kastil. Ia tak pernah mendapat kiriman bunga dari siapa pun sebelumnya. Kiriman ini sedikit mengejutkannya.


Belum lagi ia menyadari siapa pengirim bunga, ia mendapati sebuah kartu ucapan dengan tulisan tangan yang sangat rapi.


‘Bunga adalah perwujudan cinta suci. Kekagumanku padamu hanya bisa terucapkan lewat rangkaian bunga ini. Temui aku di gudang belakang malam ini pukul sebelas, akan kuungkap segala pesona yang ada-Pemuja Rahasia’


“Siapa ini? Haruskah aku memenuhi undangannya?”


***