Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
132. Kabur


Langkah kaki sosok itu semakin mendekat. Nayya menutup mata erat-erat, sembari menutup mulut dengan tangan. Kaki bersepatu kets itu sangat dekat, tiba-tiba dengan gerakan cepat seraut wajah melongok di depan Nayya sambil menyeringai.


“Kamu nggak akan bisa lolos!” ucap sosok itu.


Pupus sudah harapan Nayya. Ia tak dapat kemana-mana lagi, bahkan pasrah saat tangan sosok itu meraih kakinya, kemudian menarik keluar dari bawah ranjang dengan paksa. Ia tak bisa meronta lagi, apalagi dilihatnya sosok itu menggenggam sebilah belati yang masih bernoda darah. Pikiran Nayya langsung tertuju pada Tari.


Sosok itu mendorongnya keluar kamar. Jantung Nayya serasa berhenti saat melihat jasad Tari tergeletak bersimbah darah di luar kamar. Ia sama sekali tidak menyangka kalau wanita muda itu akan tewas mengenaskan karena melindungi dirinya. Tak berlama-lama, Nayya terus didorong sampai ke dapur. Kali ini sosok itu memilih pintu belakang sebagai jalan keluar, karena halaman belakang langsung berbatasan dengan kebun pisang yang tak terawat dan sepi.


Semuanya seolah berpihak pada sang pembunuh. Tak ada seorang pun terlihat di kebun pisang. Ia tak berani berteriak minta tolong, karena belati itu dilekatkan di punggung Nayya. Ia hanya pasrah mengikuti perintah sosok biadab itu. Nayya harus menerjang semak dan rumput, hingga sampai di pinggir jalan raya, tempat sedan putih diparkir.


Sosok itu memerintahkan untuk merunduk sebelum menuju mobil, menunggu situasi aman. Mereka merunduk di balik serumpun semak dekat pohon pisang. Suasana jalan tak begitu ramai, kalau pun mereka jalan rasanya tak ada seorang pun yang peduli.


Sosok itu kembali memerintahkan Nayya untuk berjalan ke arah mobil. Setelah masuk, sosok itu segera menghidupkan mesin. Dia berpikir bahwa mereka harus segera meninggalkan Kampung Hitam. Cepat atau lambat, peristiwa pembunuhan Tari akan segera menjadi berita utama. Sosok itu memilih menyingkir dari sana.


“Dirimu penyebab malapetaka sebenarnya! Gara-gara kamu wanita itu tewas!” ucap sosok itu sambil menyetir.


Nayya tak berkata apa-apa. Pikirannya kacau. Ia hanya ingin segera lolos dari cengkeraman manusia tak punya hati nurani ini.


“Aku akan pindahkan kamu ke tempat lain!”


Kali ini mobil putih itu menuju sebuah apartemen berlantai dua puluh di pusat kota. Sosok itu berpikir, apartemen akan jauh lebih aman daripada Kampung Hitam.


***


Seorang anak perempuan berteriak melihat jasad Tari tergeletak bersimbah darah di dalam rumah. Ia sangat takut, kemudian berlari ke luar. Warga sekitar rumah itu heran dengan teriakan melengking di siang bolong itu. Si anak perempuan hanya sesenggukan menahan tangis, sambil tangannya menunjuk ke arah rumah Tari.


Beberapa warga segera menghambur ke sana, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka terkejut melihat pemandangan mengerikan tersebut. Sontak suasana menjadi ribut. Walaupun kematian adalah hal biasa di Kampung Hitam, tetapi kematian kali ini terbilang tak biasa. Siapa yang tak kenal Tari? Dia adalah keluarga dari Raymond Brothers yang terkenal itu.


Keributan di gang itu juga terasa di rumah tempat Gilda dan Wandi menumpang kencing. Saat orang berbondong menuju tempat kejadian, Gilda segera memberi isyarat pada Wandi.


“Ayo kita lihat apa yang terjadi di sana!” perintah Gilda.


Pemilik rumah sepertinya juga tak ada, sehingga Gilda dan Wandi segera mengikuti ke mana orang-orang berkerumun. Sadar akan mendapat berita bagus, Gilda meminta Wandi untuk mengambil kamera dan peralatan siaran. Mereka hendak meliput kejadian yang sedang berlangsung.


Rumah tempat kejadian perkara dipadati para tetangga, tetapi tak ada seorang pun yang mau memanggil polisi. Mereka hanya melihat jasad Tari yang tewas secara mengenaskan itu.


Gilda penasaran dengan apa yang terjadi. Agak susah ia menerobos masuk ke dalam, karena banyak orang berjejal di depan pintu.


Setelah melihat apa yang terjadi, ia meminta Wandi untuk menyalakan kamera. Di antara kerumunan manusia, ia memulai siaran.


“Pemirsa, beberapa menit lalu, seperti yang Anda lihat di layar kaca, telah terjadi sebuah peristiwa pembunuhan di Kampung Hitam. Seorang wanita muda ditemukan tewas di dalam rumahnya. Belum diketahui pasti siapa pelaku pembunuhan ini, ataupun motif yang mendasari. Wanita ini diketahui cukup populer di Kampung Hitam, karena merupakan kerabat dekat dari Raymond Brothers yang terkenal itu,” ucap Gilda.


Reno baru saja mencomot sebuah donat ketika berita itu ditayangkan di televisi. Sontak ia meletakkan kembali donatnya. Ia panggil Dimas yang sedang mengobrol bersama rekan polisi lain.


“Dim! Ayo kita ke Kampung Hitam! Kita ada kerjaan di sana!” ucap Reno.


“Pembunuhan lain terjadi di sana. Seperti biasa, Gilda sudah memberitakan terlebih dahulu berita itu. Sungguh beruntung perempuan itu!”


“Gilda? Astaga!”


Mereka segera masuk ke dalam mobil, meluncur menuju tempat kejadian perkara. Reno berpikir bahwa peristiwa pembunuhan ini mungkin ada kaitannya dengan pembunuhan sebelumnya, mengingat ada rumor mengatakan bahwa sedan putih terparkir di sekitar Kampung Hitam.


***


Drrrt ... drrrt ... drrt!


Ponsel Adinda bergetar saat ia baru saja duduk di sebuah bangku di taman kota yang berhiaskan air mancur di tengah-tengahnya. Ia memeriksa siapa yang melakukan panggilan telepon. Rupanya dari Lena.


“Kamu di mana, Din?” tanya Lena.


“Aku ... aku di taman kota, Len. Ada apa?”


“Kamu denger berita nggak? Barusan terjadi pembunuhan lagi di Kampung Hitam. Ada rumor mengatakan kalau pembunuhnya menggunakan mobil putih. Kamu waspada ya? Sepertinya ini ada hubungannya dengan pembunuhan Jenny dan Alma. Menurut kabar, Nayya diculik dengan mobil putih juga.”


“Mobil putih? Rasty kan pakai mobil putih hari ini, Len?” ucap Adinda.


“Yakin kamu? Bukankah hari Rasty nggak kelihatan di kampus?”


“Dia tadi barengin aku pakai mobil putih. Len. Katanya itu mobil Papa nya. Kok jadi takut aku. Jangan-jangan ....”


“Wah! Ngeri juga. Aku baru saja telepon Rasty, ponselnya tidak aktif. Jangan-jangan.”


“Wah jangan berpikiran buruk dulu lah Len. Selama ini Rasty baik sama aku, nggak mungkin dia sampai sejahat itu,” ujar Adinda.


“Din, kita ke Kampung Hitam yuk!”


“Ngapain?”


“Kita cari info aja di sana. Aku penasaran dengan kejadian ini. Firasatku mengatakan bahwa akan ada korban lagi yang saling terkait. Kita tanya-tanya aja ke sana. Siapa tahu dapat info, biar kita dapat gambaran juga siapa sih yang udah bikin kacau kota ini,” kata Lena.


“Kurang kerjaan banget, Len. Mending kita duduk saja di depan TV, dan menyimak berita-berita dari sana. Lagian aku di sini juga lagi nunggu seseorang,” ucap Adinda.


“Seseorang? Hmm. Curiga aku. Siapa sih? Kepo aku!”


“Ah udahlah! Sampai nanti!”


Adinda menutup panggilan itu. Saat ini ia memang menunggu Ferdy. Mereka sudah membuat janji untuk bertemu di taman kota, untuk selanjutnya ke kantor polisi. Mereka hendak membeberkan fakta-fakta yang terjadi seputar malam tahun baru di rumah Gerry. Sayangnya, hari sudah menjelang sore, Ferdy tak kunjung bersua, sehingga Adinda merasa bosan.


***