
Suara erangan itu datang dari salah satu bilik dari lorong gelap yang membentang panjang. Semua bersikap waspada, bertanya-tanya suara siapakah yang terdengar itu? Nada suara erangan penuh putus asa.
“Aku akan periksa lorong kiri! Kalian tinggal di sini!” perintah Michael pada Adrianna dan Tiara.
“Aku nggak mau di sini. Mending aku ikut kamu, Michael!” ujar Adrianna.
“Baiklah. Tapi tetap hati-hati ya! Persiapkan linggis kalian!”
Ketiganya mengendap menyusur lorong gelap. Michael berjalan paling depan, sedangkan Adrianna dan Tiara membuntut di belakang. Michael kembali menajamkan pendengaran , kemudian terdengar lagi suara ketukan pintu baja berulang-ulang.
“Suara itu berasal dari bilik depan...,” bisik Michael.
Kedua wanita itu tak menjawab. Paras mereka tampak takut dan cemas. Mereka pasrah, hanya mengikuti langkah Michael. Beberapa saat kemudian, langkah Michael terhenti di depan sebuah bilik. Ia mengisyaratkan pada dua wanita itu untuk waspada.
“Sepertinya ada seseorang dalam bilik ini,” ujar Michael. Ia berusaha mengintip dari balik jeruji yang ada di pintu baja. Michael melihat ada sosok terbaring di dalamnya, tetapi tidak jelas bagaimana rupa wajahnya.
“Kamu yakin?” tanya Tiara.
Michael mengetuk pintu bilik yang terbuat dari baja. Terdengar suara sahutan dari dalam bilik.
“Si-siapa itu?”
“Siapa di dalam?” tanya Michael.
“Michael? Apakah itu kamu?” terdengar suara lagi.
“Iya ini aku. Siapa di dalam?” tanya Michael lagi.
“Oh, terima kasih Tuhan! Aku Cornellio! Tolong aku Michael! Seseorang mengurungku dalam bilik ini sejak tadi malam. Tolonglah aku!” ujar Cornellio dari dalam bilik.
“Baik, Cornellio! Aku akan berusaha mengeluarkanmu dari situ. Bertahanlah!” ucap Michael.
Michael merenung sejenak, berpikir suatu cara agar bisa mengeluarkan Cornellio dari dalam bilik tersebut. Pintu bilik terpasang gembok, sama dengan gembok yang ia lihat sebelumnya di ujung lorong.
“Aku akan membuka gembok pintu ini dengan linggis!” ucap Michael.
“Ini menakutkan! Bagaimana mungkin Cornellio bisa berkeliaran di dalam sini” kata Tiara.
“Entahlah. Nanti kita tanyai dia setelah kita bertemu dia,” ujar Michael.
Beberapa saat kemudian, Michael berusaha membuka gembok dengan linggis yang dibawanya. Sedikit susah, namun akhirnya gembok itu lepas dari engselnya. Pintu bilik terbuka! Sosok Cornellio terlihat terbaring pucat di dalam bilik, dengan pistol tergenggam di tangan. Michael dengan sigap menolong Cornellio yang tampak lemah.
Sebenarnya, banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan, tetapi Michael memberi isyarat agar mereka membawa Cornellio ke atas terlebih dahulu. Michael memapah Cornellio dengan susah payah, apalagi kondisi lorong yang gelap dan lembap. Adrianna menjadi penunjuk jalan, sedangkan Tiara tetap waspada di bagian belakang.
Setelah sampai di atas, tubuh Cornellio segera dibaringkan ke kamarnya. Tiara mengambilkan segelas air, dalam waktu singkat Cornellio menenggaknya. Pria itu berusaha bersandar, tetapi kepalanya terasa pening. Sepertinya ia terlihat trauma dengan kejadian yang menimpa. Dua kali ia lolos dari percobaan pembunuhan, tentunya bukan sesuatu yang mudah untuk dilupakan. Cornellio merasa, ia seperti diberi kesempatan hidup kedua. Ia tak berharap, tak ada percobaan pembunuhan ketiga setelah ini.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael.
Cornellio mengangguk.
“Kalau kamu butuh waktu untuk istirahat, istirahat saja. Kita bisa mengobrol tentang hal ini nanti saja,” kata Michael.
“Tidak! Tidak! Kumohon jangan tinggalkan aku sedetik pun. Aku benar-benar tak ingin sendirian dalam kastil ini. Tadi malam aku turun ke bawah karena aku melihat tingkap terbuka. Kemudian aku menemukan lorong gelap itu. Sesuatu yang amat mengejutkan sempat kulihat ....” Ucapan Cornellio tehenti.
“Aku melihat ... melihat Mariah. Kalian masih ingat kan? Istrinya Ammar. Dia disekap dalam di bilik yang sama dengan aku disekap. Aku nggak mungkin membiarkan wanita itu dalam bahaya. Kemudian aku naik ke atas untuk mengambil pistol untuk menyelamatkan Mariah. Sayangnya si pembunuh itu sudah memindahkan entah kemana. Waktu aku hendak masuk ke dalam bilik, tiba-tiba bilik ditutup dari luar. Aku terperangkap di dalam bilik!” terang Cornellio.
“Mariah? Bukannya dia ada di kota?” tanya Adrianna.
“Pantas aku menemukan tas Mariah di halaman depan. Rupanya hal buruk menimpa wanita itu,” gumam Tiara.
“Apakah kamu sempat melihat sosok yang menguncimu dalam bilik?” tanya Michael.
“Tidak. Dia menggunakan jubah hitam. Lagipula di dalam sana cukup gelap. Bagaimana aku bisa mengenali wajah sosok berjubah itu? Yang jelas sosok itu terlihat tenang, seperti sudah sangat berpengalaman dalam melakukan kejahatan. Kita semua dalam bahaya, Michael!” ucap Cornellio.
“Iya aku sadar itu, Cornell. Aku akan berusaha mencari Mariah. Mungkin Ammar juga berhasil diculik oleh pembunuh itu,” ujar Michael.
“Maafkan aku karena merahasiakan ini dari kalian, karena Ammar tak ingin membuat kepanikan. Sebenarnya dia sedang pergi ke kota untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena di sini tidak ada akses internet atau apa pun yang berguna untuk penyelidikan. Dia bilang, jalan satu-satunya dia harus ke kota terdekat untuk menuntaskan kasus ini. Dia pergi tadi malam. Katanya dia tak akan lama di kota, dan akan segera kembali.”
“Astaga! Bagaimana mungkin dalam situasi genting seperti ini, ia meninggalkan kastil? Berarti dia belum tahu kalau Mariah disekap di bawah sana? Ini gawat sekali!” pekik Adrianna.
“Kalian tenang! Ammar pergi bukan tanpa alasan. Aku akan berusaha menggantikan dia selama dia tidak ada di sini.” Michael berusaha menenangkan kepanikan Adrianna.
“Apa kamu yakin, Michael? Sejujurnya aku juga sangat takut. Kastil ini semakin tidak aman,” lirih Tiara.
“Aku akan berusaha semampuku!”
***
Mobil yang dikendarai Antony telah sampai di lokasi kejadian. Kedatangan mereka disambut kegembiraan oleh Melly yang sedari tadi merasa bosan. Sementara di bawah jurang sana, Ringo dan Ben juga menunggu penuh harap. Antony segera menunjuk mobil yang ringsek di dasar jurang.
“Lihat mobil itu! Beruntung sekali penumpangnya masih hidup!” ujar Antony.
“Tunggu. Aku seperti pernah melihat mobil itu. Tapi aku entah di mana?” gumam Hans.
“Mari kita turun untuk memastikannya....”
Hans dan Antony segera menuruni lereng yang licin. Semak belukar mereka terjang, kadang menjerat kaki. Matahari kian meninggi, tetapi tak menyurutkan semangat Antony dan Hans. Sementara di bibir tebing, Sonya dan Melly menatap mereka dengan tatapan penuh harap.
“Siapa pria berwajah dingin itu?” tanya Melly.
“Kamu nggak akan percaya! Dia adalah Hans Christopher! Penulis idolaku. Ini sungguh seperti mimpi. Dari dulu aku suka novel karangan dia, kini bertemu langsung dalam dunia nyata. Sungguh tak dapat kubayangkan,” ucap Sonya dengan paras bahagia.
“Oya? Wah kamu sangat beruntung, Sonya. Tau nggak! Aku sempat melihat wajah Hans tadi. Kukira dia ini sosok mata keranjang. Terlihat dari cara dia menatapmu, seolah ingin sekali menidurimu,” seringai Melly.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan, Mel! Jangan samakan aku dengan dirimu yang mau tidur dengan siapa saja!” ucap Sonya dengan kesal.
“Sialan kamu, Sonya!” rutuk Melly.
Dua pria yang menuruni tebing telah sampai di dasar jurang, segera menemui Ringo dan Ben. Tanpa menunggu waktu lama, mereka hendak membawa Ammar ke atas.
“Astaga! Aku kenal pria ini!” pekik Hans, ketika melihat sosok Ammar yang terkulai lemas di atas rerumputan.
***