Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
129. Perlawanan


Braak!


Pintu ruangan itu terbuka. Sosok berpakaian hitam itu masuk sambil membawa sebuah bungkusan makanan dan sebotol air mineral. Matanya menatap Nayya yang masih duduk di sebuah kursi dengan paras cemas. Dilihatnya bungkusan nasi yang tergeletak sejak pagi, tidak tersentuh. Rupanya Nayya memilih untuk tidak memakan makanannya. Hanya air mineral dalam botol yang terlihat berkurang.


“Kamu tidak makan?” tanya sosok itu.


Nayya terdiam. Ia hanya menggeleng lemah. Bibirnya terlihat pucat. Matanya menatap kosong ke arah sosok yang sedang mengunci pintu kembali.


“Aku nggak ingin kamu mati kelaparan. Jangan menyiksa diri seperti itu. Tak ada makanan enak di sini seperti di rumahmu, tetapi kamu harus makan,” ucap sosok itu.


Ia mengulurkan bungkus makanan itu, tetap Nayya hanya bergeming.


“Mengapa tidak kau bunuh aku sekalian?”


“Belum waktunya, Sayang. Jangan khawatir, nanti akan tiba waktumu untuk menyusul Jenny dan Alma. Jangan buru-buru. Dugaanku ternyata benar, sejauh ini tidak seorang pun peduli dengan kehilanganmu. Hanya orang tuamu saja. Teman-temanmu? Mereka brengsek!”


Nayya tak ingin berkata apa pun. Ia hanya menatap sosok itu dengan tatapan kesal.


“Sekarang makanlah!”


Nayya masih terdiam, tak dipedulikan perintah itu. Sosok itu terlihat marah, segera ia buka makanan di bungkusan, kemudian ia suapkan secara paksa ke mulut Nayya dengan menggunakan tangan. Akibatnya, nasi berceceran kemana-mana.


“Makan! Aku bilang makan!”


Nayya semakin ketakutan. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengisi perutnya siang itu. Namun, sosok itu terlihat beringas. Ia mulai menjumput nasi dalam bungkusan dengan berat hati, kemudian memasukkan ke dalam mulut dengan perlahan.


“Gadis pintar!” seringai sosok itu.


Ia menatap ke arah luar jendela. Siang itu, gang di depan rumah tak seramai biasanya, karena sinar matahari yang memancar benderang. Banyak orang memilih tinggal di dalam rumah.


“Sungguh panas siang ini bukan?” tanya sosok berpakaian hitam sambil terus mengamati aktivitas di luar sana.


Tak ada jawaban. Suasana menjadi senyap. Sosok itu membalikkan badan. Betapa terkejutnya ketika ia melihat Nayya sudah tidak duduk di kursi kayu.


"Kamu di mana, Nayya?"


Ia melangkah waspada menuju ke dalam ruangan. Di sana hanya dapur dan kamar mandi. Ia yakin, Nayya sedang bersembunyi di salah satu ruangan itu.


“Jangan main-main denganku. Keluarlah! Tak ada tempat persembunyian di ruangan ini. Keluarlah gadis nakal!” ucap sosok itu sambil terus berjalan waspada.


Ia menuju ke arah dapur yang terlihat berantakan. Agak gelap di tempat itu karena tak ada jendela, sehingga sinar matahari tak bisa masuk ke dalam.


Duuuk!


“Aaargh!”


Sosok itu merasakan nyeri yang luar biasa di kepala. Ia merasakan benturan benda keras di kepala. Sebuah botol kaca bekas minuman keras mendarat di kepala. Ia terhuyung, matanya berkunang-kunang seolah kehilangan kesadaran. Dalam pandangan yang tak begitu jelas, ia melihat Nayya masih membawa botol kaca itu.


Ia ingin menyergap gadis itu, tetapi Nayya buru-buru mengambil langkah seribu ke ruangan depan. Ia bergerak cepat ke arah pintu. Untungnya, kunci masih tergantung, sehingga ia bisa keluar dengan leluasa keluar dari rumah kumuh itu!


***


“Aku belum punya berita baru, Gilda. Jangan desak aku untuk membocorkan rahasia lebih banyak. Aku nggak enak sama Reno. Kamu minta saja sama Fani,” ucap Dimas.


“Fani sekarang bungkam! Dia nggak mau memberi tahu lagi berita-berita di kepolisian. Kamu nyadar nggak sih, betapa sulitnya mencari berita. Aku nggak mau menyiarkan berita-berita sampah. Ayolah, Dim! Kita kan pernah dekat. Kasi tau aku siapa calon tersangka dalam kasus ini!” desak Gilda.


“Aku sudah katakan padamu, aku nggak bisa Gilda! Ini menyangkut karir dan reputasiku di kepolisian. Jika mereka tahu aku membocorkan rahasia kepadamu, maka karirku akan tamat. Kamu mau lihat aku seperti itu?” tanya Dimas.


Gilda terdiam sambil mendengkus. Ia tidak ingin menyalahkan mantan pacarnya itu. Tuntutan karier di dunia penyiaran membuatnya kadang merasa tertekan. Kota ini tidak selalu menyediakan berita-berita hangat dan aktual. Ia harus menjelajah segala penjuru kota untuk berburu berita. Sifatnya yang perfeksionis, selalu menginginkan berita-berita aktual, bukan berita isapan jempol.


“Kamu benar-benar ingin sebuah berita aktual?” tanya Dimas lagi.


“Sebenarnya iya! Tetapi kurasa aku tak akan mendapat berita apa pun hari ini. Apa yang terjadi dengan kota ini sebenarnya? Apakah sedang dikutuk atau bagaimana? Makin lama makin sepi. Seolah tak ada kehidupan! ”


“Kudengar ada pameran mobil mewah di balai kota. Mengapa kamu tidak coba liput? Bukankah itu kehidupan yang sebenarnya?"


“Apa kamu gila, Dimas! Spesifikasiku hanya berita-berita kriminal, dan kamu minta aku untuk meliput pameran mobil? Aku sangat tersinggung, Dimas! Kamu sedang mengolokku?” Gilda mulai geram.


“Maaf, Gilda! Aku nggak ada maksud untuk ....”


“Ah sudahlah! Lebih baik aku pergi dan mencari berita sendiri. Nggak ada gunanya mengharapkan orang sepertimu!”


Wanita muda itu terlihat gusar, sembari meninggalkan Dimas. Polisi itu menghela napas. Dari dalam sakunya, ia mengeluarkan sebentuk jam tangan mewah yang harganya mungkin puluhan juta. Ia amati dengan teliti jam tangan itu. Matanya menangkap dua buah huruf ditorehkan di bagian belakang.


“Huruf A dan G? Apakah ini semacam inisial pemilik jam tangan ini?”


Dimas mulai bertanya dalam hati. Ia berpikir, huruf G mungkin melambangkan nama Gerry. Sedang huruf A? Bisa Alma atau siapa saja, atau bahkan nama lain. Dimas tak dapat menebak lebih jauh. Ia memasukkan kembali jam tangan itu di sakunya. Teka-teki pembunuhan ini masih gelap. Tersangkanya bisa siapa saja.


Tiba-tiba teleponnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari Reno.


“Kamu di mana Dim?” tanya Reno.


“Aku lagi di Cafe Ursula, menunggu makan siang dan menenangkan pikiran. Ada apa, Ren?” tanya Dimas.


“Coba kamu lihat siaran TV. Sepertinya semua saluran sudah menyiarkan tentang hilangnya Nayya, padahal polisi belum mengeluarkan keterangan secara resmi. Bahkan ada satu saluran TV yang melacak jejak menghilangnya Nayya dengan spekulasi-spekulasi rekaan mereka sendiri.”


“Mereka boleh berspekulasi apa pun, tetapi kita harus melangkah lebih cepat, Ren.”


“Para reporter itu sudah mirip detektif, bertanya kepada siapa saja yang mungkin menjadi saksi. Ada seorang saksi yang tak mau disebutkan namanya, melihat mobil putih dengan penumpang mencurigakan menuju Kampung Hitam. Entah berita itu benar atau tidak.”


“Kampung Hitam? Itu kan kampungnya para penjahat. Banyak maling dan gembong narkoba tinggal di sana. Tapi kupikir masuk akal juga kalau pelaku pembunuhan itu memilih Kampung Hitam sebagai tempat sembunyi. Otomatis tempat itu terlindung dan jauh dari jangkauan. Sepertinya kita harus menyisir tempat itu juga.”


“Kemungkinannya kecil, Dim. Ada ribuan mobil sedan putih di kota ini. Mengandalkan saksi mata yang belum jelas, bisa jadi salah, dan membuang waktu kita. Padahal pelaku pembunuhan itu terus bergerak, dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan mengincar korban baru.”


“Jadi apa yang harus kita lakukan?”


“Aku ada rencana untuk mengundang para mahasiswa yang datang ke pesta tahun baru itu secara bersamaan, untuk melihat reaksi mereka. Aku ingin tahu, apakah memang pelakunya satu di antara mereka atau bukan, atau malah orang lain. Kita akan undang mereka di Guesthouse milik kepolisian, kita ajak ngobrol-ngobrol saja tanpa tekanan, dan biarkan mereka mengungkapkan jati diri masing-masing tanpa paksaan. Bagaimana menurutmu?” tanya Reno.


“Ide yang menarik, Ren. Aku yakin, apabila pembunuhnya ada di antara mereka, akan sedikit memperlambat aksinya. Kita tinggal kirim undangan, dan lihat apa yang terjadi!”


***