Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
231. Gusar


Reno segera mendiskusikan penemuan paket berisi pesan misterius itu dengan Dimas. Mereka segera mengadakan pertemuan tertutup di kantor. Reno menyerahkan secarik kertas itu kepada Dimas, membiarkan polisi muda itu untuk menganalisis isinya. Dimas mengamati isi tulisan dalam kertas itu, kemudian menggelengkan kepala.


"Aku masih belum punya gambaran apa pun. Isi tulisan ini masih begitu sulit untuk dijelaskan," ucap Dimas.


"Yang jelas, Hermaphorodite yang dimaksud di sini sudah pasti Ollan. Dia gagal membunuh Ollan dan mungkin mengincar korban lainnya secara acak, yang mungkin masih ada hubungannya dengan Daniel Prawira," ucap Reno.


"Ya, kamu benar. Tetapi kita tetap tidak bisa menyimpulkan secara serampangan, karena yang tertulis di sini hanya simbolik. Ratu Kegelapan? Siapa yang dimaksud dengan Ratu Kegelapan? Bukankah itu simbol kejahatan atau mungkin melambangkan seseorang? Ia akan binasa dalam waktu dua hari. Waktunya semakin sempit. Kita masih bisa mengulur waktu saat percobaan pembunuhan terhadap Ollan. Tapi ini? Dua hari. Ini adalah waktu yang teramat singkat untuk mengungkap identitas korban yang akan dijadikan sasaran pembunuhan. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dimas.


"Kita jelas tidak mungkin menebak-nebak, tetapi harus memastikan siapa sebenarnya yang diincar si pembunuh ini. Ingat! Di sini tertulis 'Ratu'. Ini berarti sasarannya kali ini bisa jadi seorang perempuan. Tetapi perempuan yang mana?" tanya Reno.


Dimas mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sembari berpikir. Suasana hening sekejap, ketika tiba-tiba Niken masuk ke dalam ruangan mereka.


"Hai semua! Aku hari ini melihat keadaan Ollan, dan dapat kupastikan bahwa dia dalam keadaan baik!" ucap Niken.


"Astaga! Siapa yang menyuruhmu kesana?" Reno terhenyak.


"Bukankah pihak kepolisian yang bertanggungjawab mengamankan dia?" tanya Niken.


"Astaga, Niken!" Reno hanya menghela napas.


Dimas hanya terdiam, melirik Niken yang masih merasa bingung. Reno kemudian manggut-manggut.


"Dimas! Pindahkan Ollan hari ini juga!" perintah Reno kepada Dimas.


"Loh, kenapa?" tanya Niken.


"Niken, asal kamu tahu ya! Kami memilih tempat persembunyian Ollan itu bukan tanpa alasan. Kami memindahkan ke sana saat tengah malam dan memastikan tidak ada seorang pun tahu, di kawasan yang padat penduduk agar tak mencurigakan. Kedatanganmu di sana siang-siang bisa saja memancing seseorang untuk mengincar dari awal. Itu sebabnya posisi Ollan dalam bahaya, karena si pembunuh ini masih mengincar Ollan, dan sekarang dia sudah mengincar korban baru yang kami belum ketahui. Jadi Dimas akan memindahkan lokasi rahasia yang hanya kami berdua yang tahu, maaf, bahkan kamu pun tidak boleh tempat rahasia itu!" tandas Reno.


"Maaf ... tapi niatku baik. Aku hanya .... "


Niat baik saja tidak cukup, Niken! Tetapi harus menggunakan otak dalam setiap tindakan!"


Reno mulai tak bisa mengontrol emosinya, sehingga Niken merasa bersalah. Dimas tak berkata apa pun. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada wanita muda itu. Namun, dari awal Niken sudah menunjukkan rasa percaya diri yang berlebih bahkan cenderung jumawa, jadi mungkin ini akan menjadikan pelajaran baginya. Kecerobohannya saat mengawal Anita, membuat gadis itu tewas terbunuh.


"Tidak bisakah aku saja yang mengamankan Ollan? Aku akan menebus kembali kesalahanku saat aku mengawal Anita. Aku janji, aku akan mengamankan Ollan dengan baik, walau harus mengorbankan nyawaku," ucap Niken.


"Tidak, Niken! Bukan kami tidak percaya padamu, tetapi tugas ini berbahaya. Bukan hanya Ollan yang terancam keselamatannya, tetapi dirimu juga. Kami tak mau kehilangan personel lagi, seperti saat kami kehilangan Fani. Tugas ini harus dikerjakan oleh seseorang yang benar-benar punya pengalaman dan .... "


"Jadi kalian menganggap aku tak berpengalaman?" potong Niken.


"Niken! Maksudku adalah, biar tugas ini dilaksanakan oleh Dimas, Kami tidak meragukan pengalamanmu.Sungguh. Tapi kamu baru di kota ini, dan tentu Dimas akan lebih tahu tentang seluk-beluk kota, lagipula dia seorang pria, jadi ..."


"Oh, jadi kalian sekarang kalian memandang gender juga ya!"


Niken semakin emosi. Reno kemudian memilih diam. Ia merasa malas untuk berdebat dengan seorang wanita. Ya, salah satu pantangan bagi Reno adalah berdebat dengan wanita. ia cenderung mengalah untuk urusan ini, apalagi untuk urusan rumah tangga. Namun saat ini ia tidak sedang berhadapan dengan urusan rumah tangga. Saat ini mereka tengah menghadapi urusan yang melibatkan nyawa seseorang. Reno tampak teguh dengan pendiriannya. Niken tampak kecewa dengan keputusan Reno, kemudian keluar dari kantor Reno sambil membanting pintu.


"Begitulah perempuan .... " gumam Reno.


Dimas tersenyum sedikit, kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.


"Aku akan mengamankan Ollan sekarang!"


***


Ollan merasa bosan berada di kamar sepanjang hari. Suasana luar yang hingar-bingar membuatnya tergoda kembali untuk merasakan manisnya dunia hiburan. Sepanjang hari ia hanya merasakan rebahan, kemudian keluar sebentar di teras, tak ada yang bisa dilakukan. Ia adalah tipe orang yang agak sulit untuk memulai dengan orang baru, terutama untuk orang yang tidak mempunyai minat sama. Tak mungkin ia memaksakan diri nongkrong dengan bapak-bapak di warung depan.


Dahulu, setiap pekan ia menghabiskan waktu bersama para sahabatnya untuk sekedar cuci mata di Mall atau nonton bioskop. Namun, sekarang, ia merasa terpenjara dalam kamar kos sempit di tengah kampung. Sungguh, ia tergelitik untuk merasakan udara kebebasan di luar sana.


Ia memainkan ponsel, kemudian menghubungi salah seorang teman untuk bisa menjemputnya di kos nya yang baru. Ia sadar, bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi ia sudah tak tahan lagi. Lagipula ia berjanji untuk lebih berhati-hati, dan tidak akan lama-lama berada di luar. Ia ingin minum kopi saja di luar.


"Tunggu dalam waktu 30 menit!" balas teman Ollan.


Ollan tersenyum senang. Pada akhirnya, ia bisa menikmati udara luar. Ia bersiap-siap untuk pergi jalan sebentar dengan teman. Ia ingin memanfaatkan waktu sebentar untuk melihat keramaian kota. Ia bersiap, menyisir rambut, dan membersihkan muka dengan pelembab, sambil bernyanyi-nyanyi kecil, seolah melupakan segala trauma yang ia alami.


***


Faishal Hadibrata segera naik ke studio film, langsung masuk ke dalam ruang kerja Guntur yang sedang sibuk menyiapkan naskah untuk proyek film terbaru. Paras Faishal tampak merah karena menahan amarah. Tentu saja kedatangan Faishal yang begitu tiba-tiba membuat Guntur heran, apalagi aktor itu dalam keadaan gusar.


"Mana Riky?" tanya Faishal.


"Riky ... katanya hari ini dia ada meeting dengan sutradara baru, Bang. Mau persiapan film baru atau gimana gitu," ucap Guntur.


"Kurang ajar si Riky!"


Guntur tak menanggapi apa pun. Kalau dilihat dari paras aktor itu, sepertinya ia menyimpan kemarahan mendalam pada Riky. Guntur hanya terdiam, tanpa berniat turut campur.Ia pura-pura melanjutkan menulis di depan laptop-nya.


"Kalau penting telepon saja, Bang!" saran Guntur.


"Aku sudah menelepon dari pagi dan dia sengaja tak mengangkat. Awas saja kalau ketemu!" ucap Faishal Hadibrata semakin gusar. Guntur makin penasaran, ada apa masalah apa sebenarnya antara Faishal dengan Riky?


Faishal berlalu tanpa pamit dari kantor Guntur dengan langkah tergesa, tanpa mempedulikan sapaan dari karyawan lain. Bahkan Widya yang melihat kejadian itu juga heran melihat kegusaran Faishal. Wanita itu masuk ke dalam kantor Riky dengan penasaran.


"Kenapa Bang Faishal?"


"Nggak tau tuh. Mungkin ada masalah dengan Riky. Rasain tuh!"


Widya manggut-manggut, kemudian berlalu dari kantor Guntur.


***