Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
241.Penjagaan


Ollan tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dia akan tinggal di sebuah kamar sempit, pengap, dan berbau seperti ini. Tadi malam, ia tak bisa tidur karena kondisi yang tidak nyaman ini. Namun, ia tak dapat menolak, karena semua ini demi kebaikannya. Ia sadar, bahwa nyawanya terancam. Ia tidak tahu mengapa ada orang yang menginginkan kematiannya. Ia merasa sedih, duduk termenung di kamar yang pengap itu.


Pintu kamar terbuka, kemudian seorang pria garang melongokkan kepala dari balik pintu.


"Kau tidak makan?" tanya pria garang itu.


"Eh, iya  Bang. Nanti saja saya makan. Masih kenyang, tak biasa makan pagi," ucap Ollan.


"Hmm, atau jangan-jangan kau tak suka makanan di sini!"


"Eh, nggak Bang! Bukan begitu. Aku memang nggak begitu lapar. Nanti aku juga makan kok," ucap Ollan takut-takut.


Pria garang itu mendengkus, kemudian menutup kembali pintu kamar. Ollan mendesah lega. Sebenarnya ia tidak ingin diganggu, tetapi ia juga tak bisa berbuat seenaknya sendiri. Ia di sini hanya menumpang, dan para pria garang itu bertugas melindunginya. Tentunya, hal itu bukan sesuatu yang buruk.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia memeriksa segera, walau merasa khawatir. Ia sengaja mengganti nomor agar sebagian orang saja yang tahu, tetapi panggilan itu berasal dari nomor yang tak dikenalnya. Ia ragu-ragu hendak mengangkat panggilan itu.


Karena rasa penasaran, ia mengangkat panggilan itu.


"Halo .... " sapa Ollan takut-takut.


"Lan, ini aku, Henry!" ucap suara di seberang.


"Bang Hen? Dari mana Bang Hen tahu nomorku?" bisik Ollan. Ia takut suara percakapannya terdengar sampai di luar.


"Itu nggak penting. Kamu pikir kamu bisa lepas dari aku? Nggak akan, Lan! Aku ... aku mau minta maaf, Lan. Aku kemarin terlalu emosi. Dan sekarang, aku benar-benar kelimpungan. Jadwalku berantakan nggak ada yang ngatur. Kerjaanku semua kacau. Belum lagi masalahku dengan Rianti. Aku mohon, kembalilah kerja denganku ya Lan," ucap Henry.


Ollan menghela napas. Sebenarnya ia masih merasa kesal dengan Henry yang marah -marah kepadanya tempo hari. Namun, di satu sisi ia juga merasa iba kepada Henry, mengingat Henry juga banyak berjasa dalam hidupnya. Ia tidak bisa menolak permintaan Henry.


"Sepertinya aku nggak bisa kemana-mana, Bang," ucap Ollan dengan sedih.


"Nggak bisa kemana-mana? Emang kamu di mana?"


"Maaf, Bang. Aku nggak bisa pergi kemana-mana karena  sedang berada di suatu tempat yang dirahasiakan. Abang tahu sendiri bahwa ada seseorang yang berusaha membunuhku. Nyawaku terancam, dan saat ini aku nggak bisa percaya siapa pun. Aku harus tinggal di tempat ini, sampai polisi berhasil memecahkan kasus ini," kata Ollan.


"Kamu disembunyikan polisi?"


"Iya Bang. Tapi menurutku, semua itu demi kebaikanku. Mereka tidak mau jatuh korban baru. Untuk itu, aku harus tetap berada di sini," terang Ollan.


"Yang jelas bukan aku yang mau bunuh kamu, Lan! Aku datangi saja kamu dan aku janji akan rahasiakan tempatmu. Bagaimana?" tawar Henry.


"Tidak Bang, jangan! Ini terlalu berbahaya. Jangankan orang lain. Polisi saja hanya beberapa yang tahu tempat ini. Kata polisi itu, yang kita hadapi ini adalah pembunuh yang berbahaya jadi nggak boleh anggap remeh. Aku nggak bisa kasi tahu tempat ini pada Abang. Maaf ya Bang!"


"Astaga! Kok kamu segitunya, Lan. Polisi itu cuman  nakut-nakutin kamu. Tenang saja, kamu bakalan aman kok. Nggak usah takut., aku akan beri keamanan maksimal untukmu!"


Ollan mendadak galau. Di satu sisi, ia ingin bebas dari tempat asing ini, tetapi di sisi lain ia mengkhawatirkan keselamatannya. Ia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia sangat percaya bahwa Henry bukan pelaku percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Namun, ia juga tak mau ambil risiko begitu saja.


"Nasi gorengmu dingin! Lekas di makan!"


Tiba-tiba ia mendengar suara lantang dari balik pintu. Ollan terhenyak. Buru-buru ia matikan panggilan dari Henry sebelum ia memberikan jawaban pasti pada Henry. Teleponnya kembali bergetar, Henry kembali memanggil-manggilnya, tetapi ia tak menggubris. Ia segera keluar kamar menuju dapur, untuk mengambil jatah nasi gorengnya.


***


Faishal tersentak. Ia tak menyangka kalau ada yang mengetuk pintu kamar hotel. Ia segera memberi isyarat pada Melani untuk tidak bersuara. Ia yakin, yang mengetuk pintu adalah Riky. Sejenak kemudian ia tampak sedikit bingung, tapi buru-buru ia segera bertindak.


"Dia datang! lakukan peranmu dengan baik!"


Setelah berkata seperti itu, Faishal bergegas masuk ke dalam lemar pakaian. Ia akan mengamati semua dari dalam lemari. Melani bangkit, kemudian merapikan pakaiannya. walau parasnya terlihat agak gugup.Ia buka pintu, mendapati Riky yang sudah berdiri di sana sambil tersenyum.


Melani tersenyum hambar. Ia mempersilakan Riky masuk dengan tanpa bersuara. Melani merasa sedikit tegang dengan kejadian yang baru saja terjadi. Riky sedikit heran dengan perubahan paras Melani. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Sempat terlihat dua buah gelas yang terisi air di atas meja.


"Kamu baru saja menerima teman?" tanya Riky curiga.


"Oh, iya. Sebenarnya adikku baru saja pulang. Kamu ... kamu mau minum sesuatu? Aku akan pesankan minum pada resepsionis agar mengantar ke kamar ini," ucap Melani sedikit gugup.


"Makasih, Mel. Aku baru saja minum. Jadi ... hal penting apa yang hendak kamu bicarakan?" tanya Riky.


Melani tersenyum sejenak, ia seperti berpikir. Sebenarnya ia sendiri merasa bingung harus memulai dari mana. Ia tahu, saat ini Faishal tengah mengintipnya dari balik lemari. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Entah mengapa, tiba-tiba muncul rasa penolakan karena ia tidak tega terhadap Riky. ia menarik napas dalam-dalam.


"Mel ... kamu nggak apa-apa kan?" tanya Riky yang mulai curiga karena melihat perubahan Melani yang sedikit bingung.


"Eh ... aku ... aku tak apa-apa. Hanya sedikit lelah," ucap Melani.


"Jadi apa yang hendak kamu bicarakan denganku?" tanya Riky.


Melani menggeleng cepat, ia kini benar-benar bingung harus berkata apa. Tiba-tiba terlintas perlakuan kasar Faishal terhadapnya. Ia segera berpikir, bahwa ia tidak boleh menuruti begitu saja perkataan Faishal. Ia harus melawan.


"Aku ... aku tidak akan bicarakan apa-apa denganmu, Rik!" ucap Melani sambil melirik ke arah lemari pakaian.


Riky makin khawatir dengan kondisi Melani yang aneh. Apalagi dilihatnya Melani sebentar-bentar melihat ke arah lemari pakaian, seperti ada seseorang yang ada di dalam sana.


Apa ada orang lain di sini?" gumam Riky pelan.


Melani menggeleng cepat, kemudian dengan matanya ia mengisyaratkan agar Riky keluar dari kamar itu segera. Butuh waktu beberapa menit, sampai Riky menyadari arti isyarat mata Melani. Namun, sebenarnya Riky bingung dengan apa yang terjadi. Ia tak mau mengambil risiko apa pun. Setelah memahami bahasa isyarat dari Melani, ia melangkah pergi keluar dari kamar.


"Tunggu!" sebuah suara melarang Riky untuk pergi.


***


 Mengawasi aktivitas seseorang adalah hal yang sangat membosankan. Paling tidak, itulah yang dirasakan Niken saat mengamati aktivitas Renita. Selepas ia makan di restoran kecil, Renita kembali menghabiskan waktu di sebuah salon ternama untuk memoles mukanya. Niken mendengkus, tetapi tak bisa ia pergi juga. Ia takut akan mengulang kesalahan yang sama, saat lengah mengawal Anita. Padahal, waktu itu ia hanya pergi selama sepuluh menit. Namun, sepuluh menit itulah yang digunakan si pembunuh untuk beraksi..


Bunyi ponsel Niken berbunyi melantunkan sebuah lagu Jamaica ketika ia sedang membeli segelas minuman Boba di pinggir jalan.


"Gimana sejauh ini? Apakah aman?" Terdengar suara dari seberang, jelas itu suara Reno.


"Saat ini saya sedang mengawasi Renita. Dia mampir ke sebuah salon jadi saya pantau terus. Sejauh ini aman Pak!" ucap Niken.


"Oke, kamu harus pulang dengan selamat!"


:"Siap Pak"


Renita sendiri merasa tak terlalu terpengaruh dengan keberadaan Niken. Ia tetep beraktivitas seperti biasa,


Hari menjelang malam, ketika Renita hendak menyudahi segala aktivitasnya. Sekilas ia melirik mobil milik Niken sambil tersenyum. Renita melangkah segera ke arah mobil Niken.


"Aku akan baik-baik saja, Bu! Ibu nggak usah khawatir. Lebih baik Ibu pulang," katanya pada Niken.


"Tidak. Sampai memastikan bahwa kamu aman dalam penjagaanku!" ucap Niken tegas.


"Kalau begitu, ikuti saja aku sampai puas Bu Polisi!" cibirnya.


***