Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XCVII. Fighting for Life


Gelap masih menyelimuti seluruh penjuru kastil. Sebagian penghuni masih berada di ruang tengah dengan perasaan was-was. Ammar dan Reno terdiam, tetapi tetap waspada. Suasana senyap, hanya suara jangkrik berderik di luar sana. Detak jam juga terdengar jelas. Mereka menunggu usaha Dimas dan Hans yang membawa misi penting.


Dimas dan Hans telah menyusuri lorong gelap dengan berbekal sebuah korek api untuk pencahayaan. Hans memegang korek api di tangan dengan gemetar, sementara Dimas berjalan di belakangnya dengan sikap waspada. Mereka memasuki ruang makan yang gelap.


Hans mendekati meja makan tepat bersamaan dengan korek di tangannya mati.


“Ah, sial!” gumamnya.


Kembali ia nyalakan segera korek api di tangan, tetapi sayang agak macet, sehingga membutuhkan waktu berkali-kali. Sebelum korek menyala, sebuah bayangan hitam berkelebat dalam kegelapan, mendorong tubuh Hans hingga terjerembab di lantai. Korek di tangannya terlepas entah kemana. Bayangan hitam itu bergumul di lantai dengan Hans, berusaha melumpuhkan si penulis berwajah dingin.


Sementara, Dimas dalam keadaan bingung luar biasa. Ia mengacungkan senjata ke arah dua orang yang tengah bergumul di lantai itu, tetapi ia tak dapat menembak. Gelap membutakan mata, sehingga ia khawatir tembakannya akan melukai Hans.


“Tembak saja! Tembak saja orang ini!” perintah Hans.


“Aku ... aku nggak bisa melihat dengan jelas, Hans!” ucap Dimas.


Hans melawan sosok yang tak jelas terlihat itu dengan satu tendangan telak di perutnya.


“Aaahh!” jerit sosok itu.


“Astaga, dia perempuan!” ucap Hans.


Sosok itu terdorong, mengenai meja kecil dengan pajangan guci China, sehingga guci jatuh pecah berkeping-keping. Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Dimas.


“Door!”


Ia menembakkan pistol ke arah sosok penyerang Hans. Sayangnya karena gelap, tembakan itu hanya mengenai lengan si penyerang. Merasa tersudut, penyerang itu segera ambil langkah seribu masuk ke dalam kastil menuju ruang baca.


Door! Door!


Dimas kembali meletuskan tembakan ke arah sosok berjubah, sayangnya hanya mengenai ruang kosong. Sosok itu menghilang ditelan kegelapan kastil!


“Hans ... Hans! Kamu nggak apa-apa?” tanya Dimas.


“Aku nggak apa-apa. Mengapa nggak kamu kejar dia?”


“Aku nggak tahu seluk-beluk kastil ini. Jelas aku kalah medan. Tapi kupastikan dia terluka. Dia nggak akan bisa kemana-mana!” ucap Dimas.


“Oke. Oke. Ayo kita segera bergerak!”


Hans segera mengambil lilin di atas meja, menyalakan dengan korek api batang yang ada di sana. Secercah cahaya kini menyinari ruang makan.


“Kini kita ke misi selanjutnya, mengambil senter di kamar Ammar. Aku tahu letak kamarnya, tetapi kita harus tetap hati-hati,” ujar Hans.


“Hmm. Kamu punya gambaran siapa yang menyerangmu?”


“Dia seorang perempuan, tetapi sangat kuat. Aku merasakan energi yang begitu besar. Gelap sekali, sehingga aku tidak yakin siapa orang itu. Lebih baik itu kita bahas nanti, kita segera ke kamar Ammar!”


Mereka berdua segera berjalan ke kamar Ammar. Namun, langkah mereka terhenti ketika bertemu sesosok bayangan hitam yang juga tengah berjalan waspada di sepanjang lorong.


“Angkat tangan! Jangan bergerak!” perintah Dimas sambil mengacungkan pistol ke arah bayangan hitam itu.


“Siapa orang itu?” tanya Hans berusaha menajamkan penglihatan.


***


Suara tembakan Dimas terdengar pula di ruang tengah. Semua menahan napas, takut hal buruk telah terjadi.


“Kurasa itu suara tembakan pistol Dimas. Tiga kali letusan,” gumam Reno.


“Entahlah, kuharap mereka akan baik-baik saja. Banyak yang harus aku selesaikan. Dimas mengatakan padaku bahwa di ruang bawah tanah ada dua orang yang harus diselamatkan, tetapi sejauh ini kondisi mereka aman, jadi Dimas membiarkan mereka berlindung di sana,” urai Reno.


“Tawanan di ruang bawah tanah? Siapa?” tanya Ammar penasaran.


“Seorang dokter dan seorang gadis. Hanya Dimas tak menyebutkan namanya,” ucap Reno.


“Astaga! Itu pasti dr. Dwi. Aku tahu dia pasti masih hidup. Elina pernah menemukan foto dr. Dwi yang sedang disekap. Aku yakin itu pasti dia!” ujar Ammar.


“Siapa gadis itu? Apakah Elina?” tanya Aldo.


“Sayang Dimas tak megatakan. Setelah ini aku akan cek ke ruang bawah tanah. Kurasa mereka dalam keadaan aman.” Reno berusaha menenangkan.


“Setelah ini aku akan segera pulang. Ini adalah mimpi buruk! Aku mau pulang!” ucap Arvan dengan gugup. Ia mulai tertekan dengan kondisi kastil yang kacau.


“Kamu akan pulang, tenang saja!” Reno menepuk bahu Arvan


Semua kembali terdiam. Perasaan was-was masih mereka rasakan. Mereka ingin malam segera berlalu. Kegelapan membuat mereka dicekam rasa takut.


***


Dokter Dwi dan Elina masuk ke dalam sebuah bilik yang tak terkunci, sembari merunduk di balik meja tua. Dokter itu mengisyaratkan agar Elina tak bersuara. Mereka mengintip, siapa yang masuk ke dalam ruang bawah tanah.


Tak berapa lama, mereka melihat sorot cahaya senter. Langkah kaki makin dekat. Dari tempat persembunyian, mereka melihat sesosok manusia berjubah hitam menyekap seorang wanita jangkung yang dilakban mulutnya, sementara ia ditodong juga dengan sebilah benda tajam.


“Astaga, bukankan itu Adrianna,” bisik Elina


“Iya. Itu memang Adrianna. Psikopat itu berhasil menangkapnya,” ucap dr. Dwi.


“Apa yang kita lakukan, Dokter?” tanya Elina.


“Kamu tetap di sini dulu. Aku akan menyergap dari belakang sebelum psikopat itu sadar. Setelah itu, kamu tolong Adrianna, bawa pergi dari sini. Apakah kamu bisa?”


Elina ragu-ragu untuk menjawab. Sejujurnya dia takut, apalagi menghadapi psikopat gila yang bersenjata. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus melawan, atau mati! Ia mengangguk.


“Baiklah! Jangan buat suara sedikit pun. Aku akan mengendap dari belakang!”


Sosok berjubah itu menyusur lorong perlahan. Dokter Dwi memanfaatkan kegelapan lorong, sehingga ia tidak mudah diketahui. Ia berjalan sepelan mungkin, agar tak menimbulkan suara. Begitu dekat, ia langsung menyergap, membuat gerakan memiting. Sontak sosok berjubah hitam itu terkejut, ia berbalik, menendang dr. Dwi tepat di perut.


Buuk!


Dokter Dwi mundur beberapa langkah ke belakang. Sementara Adrianna seperti terpaku melihat kejadian itu. Ia tak tahu harus berbuat apa.


“Cepat lari!” perintah dr. Dwi pada Adrianna.


Wanita itu segera beraksi, setengah berlari menjauhi sosok berjubah dan dr. Dwi yang kini saling berhadapan. Adrianna disambut oleh Elina yang sedari tadi sudah siaga. Mereka bergerak menjauh, walau suasana gelap.


“Oh, beruntung sekali kau hadir saat ini, Dokter. Aku hendak membuat perhitungan atas kematian Ibuku. Rupanya kau kesini untuk mengantar maut!” seringai sosok itu.


“Jangan jumawa! Aku kesini untuk meng hentikan segala kejahatanmu. Ini adalah akhir dari semua aksi brutalmu!”


Sosok itu tertawa terkekeh. Ia memainkan senjata tajam di tangannya, waspada dengan gerakan dr. Dwi. Dokter itu sadar bahwa saat ini ia tidak bersenjata, salah langkah bisa berarti fatal. Ia tengah mencari cara untuk melumpuhkan sosok berjubah di depannya.


Suasana masih sangat gelap. Dr. Dwi melihat kilatan benda tajam yang dibawa sosok itu di tangan kanan, sementara tangan kiri masih menggengam senter. Tiba-tiba, dengan gerakan cepat sosok itu mengarahkan senter ke mata dr. Dwi, sehingga untuk sejenak dokter itu kehilangan konsentrasi.


Sosok itu menerjang maju, menghunjamkan senjata tajamnya tepat ke dada dr. Dwi!


***