
Pagi mulai menyapa kastil dan sekitarnya. Sinar mentari yang hangat menerobos dedaunan, menembus jendela-jendela kaca, memaksa para penghuninya untuk segera memulai aktivitas pagi. Tadi malam, adalah malam yang sangat melelahkan dan panjang bagi para penghuni, setelah serentetan kejadian mengejutkan terjadi. Kini di awal hari yang hangat, saat embun-embun masih enggan beranjak dari rerumputan, para penghuni sudah memulai kesibukannya masing-masing, berusaha melupakan kejadian kelam yang terjadi semalam.
Sejak sebelum matahari terbit, Mariah sudah tak sabar ingin meninggalkan kastil tua itu. Ia sudah mengemasi semua pakaian dan perlengkapannya dalam kopor-kopor besar. Bahkan ia sudah mandi sejak dini hari tadi. Tampilannya begitu cantik, dengan riasan yang natural dan sederhana, memakai blus warna cerah dan topi lebar. Ia terlihat sangat berbeda pagi itu. Ia berdiri gelisah, mondar-mandir sambil menunggu yang lain di beranda depan.
"Kau sudah siap untuk pergi rupanya," sapa Ammar yang masih menikmati kopi paginya, sambil menghirup udara yang masih berlimpah oksigennya.
"Tak ada hal yang baik tersisa di kastil ini, Ammar. Semua pasti juga berpikir sama denganku. Biarlah segala kenangan buruk di kastil ini terkubur selamanya. Kuharap tak ada lagi yang berkunjung ke tempat terkutuk ini," ucap Mariah.
"Oke, aku akan bersiap dalam 15 menit, sambil menunggu Dimas dan Reno. Lagipula, penghuni yang lain juga masih belum siap. Bahkan kupikir, mereka bahkan belum beranjak dari tempat tidur. Tak perlu terlalu terburu-buru Mariah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Si biang kerok sudah terkurung di bawah sana. Kita nikmati hari terakhir di kastil ini dengan bergembira," kata Ammar.
Mariah hanya tersenyum sedikit. Bagaimanapun, ia merasa gelisah. Ia ingin segera beranjak dari tempat jahanam ini. Sementara, para penghuni lain rupanya juga tengah bersiap-siap di dalam kamar mereka masing-masing. Mereka berkemas, hendak meninggalkan kastil pagi ini juga.
Pasangan Edwin dan Rosita, satu-satunya pasangan yang masih lengkap selain Mariah dan Ammar, sudah mulai keluar kamar dengan kopor-kopor bawaannya. Paras mereka terlihat cerah, seolah berusaha melupakan segala kekelaman yang terjadi di kastil ini sebelumnya. Mereka langsung menuju beranda depan, sembari menunggu yang lain.
"Kau tahu apa rencanaku setelah ini, Ros?" tanya Edwin kepada Rosita, saat menyusur koridor menuju beranda depan.
"Apa?" tanya Rosita.
"Tentu saja liburan. Kita akan liburan ke tempat yang sunyi dan jauh dari segala kebisingan yang ada. Tapi bukan ke tempat seperti kastil sialan ini. Aku ingin merasakan deburan ombak dan pasir putih, mungkin seperti Maldives atau tempat yang lebih sunyi," ucap Edwin.
"Aku akan ikut kemana pun kau membawaku pergi, Ed!"
Keduanya melangkah dengan perasaan bahagia. Di ruang makan, mereka bertemu dengan Lily dan Maya yang juga tampak sudah siap dengan barang bawaannya. Mereka telah siap meninggalkan kastil yang membawa mimpi buruk berkepanjangan.
"Kalian terlihat cantik pagi ini," puji Rosita kepada kedua temannya.
Lily dan Maya tersenyum cerah. Mereka berdua memang tampil cantik pagi itu, tak seperti biasanya, seolah merayakan hari kebebasan dari belenggu nafsu jahat yang selama ini menghantui.
"Oya, mana Stella? Dia nggak bergabung dengan kalian?" tanya Rosita lagi.
"Kurasa masih bersiap di kamarnya. Mungkin sebentar lagi akan menyusul," jawab Lily.
Rosita hanya manggut-manggut. Tak lama, mereka melangkah bersama menuju beranda depan, bergabung dengan Ammar dan Mariah yang sudah lebih dulu menunggu di sana. Sementara di halaman depan, Juned sedang menyiapkan mobil-mobil yang hendak digunakan untuk kembali ke kota.
Di dalam kamar lain, Niken sedang menyisir rambut di depan meja rias, sementara Dimas menunggui di belakangnya dengan tak sabar. Polisi wanita itu kelihatan pulih dari segala yang dialaminya. Parasnya terlihat lebih segar, bahkan ia memoles wajahnya dengan riasan agak tebal, lain dari biasa.
"Kupikir aku akan mati dikastil ini," ucap Niken sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.
"Riwayatmu belum tamat, Niken. Kamu beruntung Juned bisa menyelamatkanmu. Apalagi gara-gara itu, Jeremy tewas ditikam oleh Nadine. Kau harusnya berterima kasih kepada orang seperti Juned, yang pangkatnya jauh di bawahmu. Bukan malah mencelakainya. Kamu harus mempertanggungjawabkan segala yang pernah kamu lakukan," sahut Dimas sambil menyilangkan tangan di depan dadanya yang bidang.
"Memangnya apa yang telah aku lakukan? Aku sama sekali nggak ngerti apa yang kamu bilang!"
Niken meletakkan lipstik di meja rias, sembari memalingkan muka ke arah Dimas. Polisi berwajah tampan itu mendekati Niken. kemudian meraih tangan Niken, mengusapnya dengan lembut, kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya.
Klik!
Sebuah borgol membelenggu tangan Niken, sehingga polisi wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukan Dimas padanya. Ia berpikir kalau Dimas sedang bercanda.
"Apa-apaan ini, Dimas? Kamu sedang berfantasi liar?" ucap Niken dengan senyum menggoda.
Dimas balas tersenyum, tetapi ia menggeleng cepat seraya berkata,"Jangan berharap lebih, Niken. Jangan pula berpura-pura bodoh. Saat ini kamu harus mempertanggungjawabkan atas perbuatan jahat yang telah kamu lakukan pada Ramdhan. Segala bukti yang memberatkanmu sudah kami kantongi, dan tentu saja kamu nggak bisa mengelak. Jadi tak perlu banyak bicara, ikuti saja proses hukumnya, agar hukumanmu tak bertambah berat. Bagaimana?"
"Astaga! Kamu jangan sembarangan! Memangnya apa yang kulakukan pada Ramdhan?" tanya Niken dengan gusar.
"Nanti saja, akan kujelaskan di kantor polisi saat penyelidikan. Sementara ini, persiapkan dirimu dengan baik untuk menghadapi persidangan. Kuingatkan, hukuman untuk pembunuhan berencana itu berat, jadi mungkin kau harus menyiapkan mental sedari sekarang," terang Dimas.
"Memangnya Ramdhan mati? Kamu jangan sembarangan Dimas! Aku bisa menuntutmu karena ini!" teriak Niken.
"Nanti kita buktikan di persidangan siapa yang sembarangan, Niken. Sekarang aku akan mengemasi barang-barangmu dan kita akan segera pergi meninggalkan kastil ini. Kita tunggu dulu para penghuni lain untuk berangkat duluan. Bagaimanapun aku tetap menjaga harga dirimu sebagai seorang penegak hukum. Aku nggak mau melihat mereka melihatmu keluar dalam keadaan terborgol," kata Dimas.
"Ini sama sekali nggak benar. Kamu salah!" elak Niken sambil berusaha melepas borgol yang membelenggu tangannya.
"Nanti kami akan tunjukkan bukti-buktinya Niken. Sudahlah, mending kau diam dan jangan banyak bergerak. Sebentar lagi kita ke pergi ke depan, menunggu Reno terlebih dahulu," kata Dimas.
Niken sama sekali tak bisa berkutik. Ia ingin membantah, tetapi ia bingung juga harus berkata apa. Ia hanya bisa diam, tak bisa mengelak lagi. Tak lama, Reno masuk pula ke dalam kamar Niken. Reno memberi isyarat pada Dimas untuk segera bersiap. Mereka juga hendak meninggalkan kastil pagi itu juga, menunggu semuanya siap.
Sementara di beranda depan para penghuni kastil sudah mulai sibuk memasukkan segala barang ke dalam mobil, dibantu oleh Juned. Stella juga telah bergabung bersama rombongan itu, tetapi ia lebih banyak diam. Di sisi lain, terlihat Maya yang tampak gelisah, melayangkan pandangan ke sana kemari, karena tak melihat keberadaan Ryan.
"Mana Ryan?" bisik Lily pada Maya, sambil memasukkan kopornya di bagasi mobil.
Maya hanya bisa menggeleng. Sejak tadi malam, ia tak melihat keberadaan Ryan lagi. Ia khawatir kalau-kalau Ryan sudah meninggalkan kastil terlebih dahulu, Namun, itu jelas tidak mungkin karena mobil masih dalam keadaan lengkap, seperti saat mereka pertama tiba di kastil. Tidak mungkin Ryan meninggalkan kastil dengan berjalan kaki.
Krieet!
Ryan membuka pintu bilik, mendapati dalam kegelapan, sosok Nadine yang tersungkur dalam keadaan lemah, tanpa suara. Kondisinya sangat kacau dan menyedihkan. Ryan tahu Nadine masih hidup, karena wanita itu masih bisa mengangkat kepalanya saat melihat kehadiran Ryan.
"To-tolong aku Ryan. Kumohon. Aku menderita sekali di sini. Kumohon tolonglah aku," pinta Nadine dengan suara lemah nyaris tak terdengar.
Ryan merasa iba melihat kondisi Nadine yang seperti itu. Ia tampak lemah, dan dari lukanya masih mengucurkan darah berwarna kehitaman. Ia berpikir Nadine mungkin tak lama lagi akan mati. Ia hanya menghela napas, menahan rasa iba yang membuncah di dadanya.
"Aku akan tolong kamu, Nadine. Aku akan tolong kamu lepas dari penderitaan ini," bisik Ryan.
"Be-benarkah? Ryan .... "
Nadine tampak gembira mendengar ucapan Ryan. Pria itu segera duduk berjongkok, memeluk Nadine yang tampak gembira. Nadine tersenyum senang, memeluk Ryan dengan erat. Ryan hanya terdiam sambil menghela napas. Dari dalam sakunya, Ryan mengeluarkan sebilah pisau dapur, kemudian dengan sedih ia menancapkan pisau itu ke dada dan perut Nadine berkali-kali.
Jleb!
Jleb!
Ryan bergumam,"Istirahatlah dalam damai, Nadine!"
"K-kau .... "
Nadine sama sekali tak menyangka Ryan akan menusuknya seperti itu. Ia hanya membelalakkan mata, sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah. Tak lama kemudian, ia roboh ke lantai, dengan mata terbuka. Nyawanya melayang saat itu juga. Rya berdiri, mengelap pisau dapur itu dengan selembar saputangan untuk menghilangkan bekas darah yang menempel. Sebelum ia pergi, ia menutup mata Nadine yang membelalak, kemudian melangkah keluar bilik, menutup pintu bilik, membiarkan jasad Nadine terbaring di dalam bilik yang pengap dan dingin itu.
***
Iring-iringan kendaraan mulai keluar satu-persatu dari kastil, meninggalkan bangunan megah yang menyimpan cerita-cerita kelam itu. Mobil-mobil itu siap menuju kota, memulai kisah baru, menimbun kisah yang mereka lalui di dalam kastil. Mereka telah lega, pada akhirnya mereka terbebas dari segala mimpi buruk yang terjadi.
Di iring-iringan paling belakang, ada mobil Dimas dan Reno, yang sedang membawa Niken yang masih dalam keadaan terborgol tangannya. Mereka juga lega pada akhirnya, mereka mampu menuntaskan kasus ini dengan baik, walau beberapa nyawa tak berdosa melayang karenanya.
"Tinggal satu tugasku setelah ini," ucap Dimas yang duduk di sebelah Reno yang sedang mengemudi.
"Hmmm, apa itu?" tanya Reno.
"Memenjarakan Gilda Anwar! Aku sudah menyiapkan dakwaan-dakwaan padanya karena pemyebaran berita bohong dan pencemaran nama baik. Kalau reporter itu kita biarkan berkeliaran terus, maka dia akan terus membuat kita repot, dan terus menyiarkan berita-berita bohong," ucap Dimas.
"Hmm, ide yang baik. Namun aku agak sangsi. Kau sanggup melakukan itu pada Gilda?" tanya Reno.
"Mengapa tidak?" jawab Dimas dengan tertawa.
Reno tersenyum mendengar jawaban Dimas. Mobil itu meluncur menuju kota, menyusul mobil-mobil lain yang telah duluan melaju dengan kecepatan sedang.
***
Sebulan setelah kejadian mengerikan itu, berbagai media mulai meliput peristiwa pembunuhan di kastil tua jilid dua. Secara resmi, pihak kepolisian memberikan konferensi pers di hadapan para wartawan di aula kantor polisi. Reno, selaku wakil kepolisian memberikan laporan secara terperinci mengenai kejadian di kastil, namun ia tidak menceritakan hal sesungguhnya saat wartawan mencecar dengan pertanyaan mengenai keberadaan tersangka.
"Yang dapat kami informasikan, bahwa tersangka sudah meninggal, dan kami tidak dapat menemukan jasadnya karena ia memilih terjun dari air terjun, setelah kami berhasil menembaknya. Jasadnya telah hanyut dalam derasnya sungai, atau mungkin hancur menghantam bebatuan, sehingga tidak bisa kami evakuasi. Itu saja yang bisa kami sampaikan!"
Namun, para wartawan seperti tidak puas dengan jawaban itu. Mereka terus bertanya bertubi-tubi. Reno tak mempedulikan lagi. Ia turun dari podium, langsung masuk ke dalam kantor. Ia masuk ke dalam ruangannya, mengambil segelas air dan menenggaknya hingga tandas.
Tak lama, Dimas muncul dengan senyum lebar, seraya bercerita," Aku sudah ke Channel-9 untuk mencari keberadaan Gilda. Ternyata ia sudah dipecat dari stasiun televisi itu beberapa minggu lalu. Aku berusaha menghubungi lewat nomor pribadi, tetapi tak ada satu pun nomor Gilda yang aktif, Bahkan aku mendatangi kediamannya, ternyata juga kosong. Mungkin ia telah pergi meninggalkan kota ini."
"Baguslah, Dim. Sudahlah, lupakan saja Gilda. Biar dia menjalani kehidupan barunya. Biar dia memetik buah dari segala kesalahannya di masa lalu," ucap Reno.
Dimas mengangguk. Apa yang dikatakan Reno benar. Lebih baik ia fokus dengan yang ada sekarang. Kasus pembunuhan di kastil tua telah resmi ditutup, dan mereka berencana mengambil cuti beberapa waktu untuk memulihkan pikiran dari serentetan kasus-kasus yang menyita tenaga, dan merampas kehidupan pribadi mereka. Saat ini, Mereka berharap kota akan kembali aman, tak ada lagi kasus berat yang pelik yang akan mereka hadapi.
***
THE END
Notes.
Penghargaan dan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman yang telah mengikuti novel Pembunuhan di Kastil Tua dari awal hingga akhir. Tak terasa sudah hampir 400 episode. Terima kasih atas segala dukungan, kritik, dan saran. Saya memutuskan untuk rehat sejenak dari kasus ini hehe. Mungkin kalau pun berlanjut, maka akan dilanjut dengan judul berbeda. Semoga dalam waktu dekat novel Pembunuhan di Kastil Tua dapat dinikmati dalam bentuk cetak. Atas nama author, mohon maaf apabila ada kesalahan. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini, saya ada karena kalian. Love you all!
Salam,
Jo Whylant.