
Antony menyusuri jalan setapak yang membelah hutan. Suasana sunyi langsung menyergap, sehingga ia meningkatkan kewaspadaannya. Setiap gemerisik semak atau daun kering, membuat ia mengehentikan langkah untuk memeriksa. Ia bernapas lega saat suara-suara aneh itu berasal dari binatang-binatang hutan. Ia baru saja menemukan benang yang diceritakan oleh Melly. Benang itu membuatnya semakin yakin, bahwa memang ada orang lain yang mengintai keberadaan mereka.
Di dekat benang itu ia melihat ada ceceran darah yang hampir mengering. Walau tidak banyak, tetap saja itu membuatnya khawatir. Ia mengikuti arah ceceran darah itu sampai masuk lebih ke hutan yang lebih dalam.
Sejenak ia menyadari, bahwa beberapa meter di hadapannya ada sebuah pondok kayu yang tertutup semak dan pohon. Kecurigaannya makin memuncak. Ia berharap agar bisa menemukan Ringo di tempat itu.
Ia memeriksa sekeliling sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam pondok. Setelah yakin aman, ia mulai masuk melalui pintu yang ternyata tidak dikunci, karena memang telah rusak. Ruangan yang kotor dan pengap langsung terlihat. Ia bersika waspada, takut kalau-kalau ada seseorang yang menunggunya. Ia mengeluarkan parang untuk berjaga-jaga.
Antony masuk ke dalam bilik pertama. Tak ada siapa pun di sana. Ia menghela napas lega. Demikian juga saat melihat bilik kedua. Ia hanya melihat bekas-bekas mengerikan yang mungkin terjadi di masa lalu. Sayangnya ia tak peduli dengan itu. Ia lebih berkonsentrasi untuk menemukan Ringo terlebih dahulu. Perlahan, ia masuk ke dalam bilik ketiga. Ada sebuah peti mati usang di sana. Antony merasa tegang. Instingnya mulai bermain, khawatir akan terjadi hal-hal buruk.
Duk ... duk ... duk!
Tiba-tiba ia mendengar suara seperti ketukan dari arah peti mati. Bahkan peti juga bergoyang sedikit. Sontak bulu kuduk Antony meremang. Ia tidak takut hantu atau semacamnya, tetapi apa yang dilihatnya sangat nyata. Peti mati itu seolah ada penghuninya. Ia berusaha menggunakan akal sehatnya, dan mengumpulkan segenap keberanian untuk membuka peti mati itu.
Perlahan ia buka, dan terkejut melihat apa yang ada di dalam peti mati itu!
***
Suara jeritan itu berasal dari ruang bawah tanah. Mariah berteriak karena diseret dengan paksa oleh sosok berjubah hitam menuju sebuah bilik kosong. Mariah merasakan tubuhnya dihempaskan ke lantai yang dingin.
“Perempuan bodoh! Sudah kubilang jangan bersuara. Teriakanmu akan memancing orang yang di atas menuju kemari!” ucap sosok itu.
“Aku harap mereka akan lebih cepat kemari dan meringkusmu!” kata Mariah lantang.
“Tak semudah itu! Aku akan ajari kamu untuk mendengarkan perintahku. Karena kamu melanggar, maka terpaksa aku akan tutup mulutmu!”
Sosok itu mengambil sesobek lakban, kemudian menempelkan di mulut Mariah, hingga wanita itu tak bisa bicara apa-apa lagi. Kaki dan tangannya kembali diikat, sehingga ia tak bisa bergerak.
“Aku akan membiarakanmu dulu, sebelum aku kembali untuk mengambil matamu. Diamlah! Semakin memberontak maka kamu akan lebih terasa sakit. Sebentar lagi ada orang turun kesini. Aku yakin itu. Jangan membuat suara apa pun, atau akan membunuhmu lebih cepat!” gertak sosok berjubah.
Sosok itu bersikap waspada, mengintip dari jeruji pintu besi, untuk mengamati siapa yang datang.
Sementara di atas sana, Dimas dan Elina sudah bersiap masuk ke dalam ruang bawah tanah, walau ada perasaan ragu. Mereka berdua berdiri di atas tingkap yang menghubungkan dapur dan ruang bawah tanah.
“Kamu yakin masuk ke dalam sini?” tanya Dimas, sambil melongokkan kepala ke dalam ruang bawah tanah.
“Iya, suara itu berasal dari dalam sini. Sayangnya aku kurang berani kalau masuk sendirian. Aku belum pernah menelusuri lebih dalam, mungkin kita harus memanggil pacarku dulu untuk menunjukkan jalan,” ujar Elina dengan ragu-ragu.
“Bisa kamu panggilkan dia sebentar?” pinta Dimas.
“Tentu. Tunggulah sebentar!”
Elina bergegas pergi ke dalam, sementara Dimas mencoba masuk ke dalam ruang bawah tanah. Suasana pengap dan sedikit menakutkan. Ia menatap berkeliling. Ia merasa, memang ada sisa-sisa kekerasan di masa lampau dalam ruang bawah tanah ini. Ia ingin melangkah lebih dalam, tetapi lebih baik menunggu seseorang yang bisa menunjukkan jalan.
Beberapa menit kemudian, Elina kembali dari dalam kastil tetapi ia sendirian saja. Wajahnya tampak cemas.
“Maaf, aku nggak bisa menemukan dia di kamarnya. Sudah kucari, tetapi tidak ketemu. Sepertinya kita harus masuk dan menelusuri ruang bawah tanah ini sendiri,” ujar Elina.
“Baiklah. Kamu nggak usah ikut apabila tidak berani. Biar aku saja. Aku punya senjata dan sudah biasa dalam situasi seperti ini. Kamu tunggu di atas saja!” kata Dimas.
“Anda yakin baik-baik saja?” tanya Elina.
“Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir!”
Elina mengangguk. Dimas memberanikan diri untuk masuk, walau perasaannya tidak enak. Ia sudah beberapa kali menangani kasus kriminal, tetapi untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah seperti ini, ia baru saja mengalami. Apalagi ia melihat ini bukan ruang bawah tanah biasa. Situasinya sangat berbeda.
Semakin ke dalam, kesunyian semakin terasa. Dimas mengeluarkan pistol dan menajamkan pendengaran kalau-kalau mendengar suara-suara aneh. Ia melihat sepertinya lorong di depannya buntu, sehingga ia berpaling ke sebuah bilik yang pintunya rusak. Ada banyak bilik di tempat itu, sehingga agak menyulitkan Dimas untuk memilih.
Ia memasuki sebuah bilik yang menghubungkan dengan lorong panjang yang gelap. Di sepanjang sisinya banyak pintu bilik berjajar yang terbuat dari baja. Dimas merasa takjub.
“Ruangan apa ini? Seperti penjara di zaman kuno ...,” gumamnya.
Ia merasa merinding. Suasana makin senyap. Ia bisa mendengar langkah kakinya, dan suara tetesan air dari pipa-pipa saluran air.
“Suara itu menghilang. Apakah aku salah dengar?”
Ia sempat melongok ke salah satu bilik yang berjeruji besi, tetapi di dalam sana terlalu gelap. Kemudian ia berpikir, mungkin harus mengajak Reno untuk menyelidiki lebih jauh. Bukannya ia tidak berani, tetapi penting untuk tetap selamat. Apalagi ruangan bawah ini sangat asing baginya. Ia memutuskan untuk kembali ke atas. Perasaannya tak nyaman. Ia berbalik arah hendak kembali ke atas.
Klaaang!
Tiba-tiba terdengar seperti suara pipa besi yang jatuh ke lantai. Secara reflek, Dimas mengacungkan senjata ke depan. Suara itu seperti tak jauh. Tak mungkin tikus atau binatang lain. Suaranya sangat jelas, seperti pipa yang sengaja dibanting.
Dari tempatnya, ia melihat sesosok bayangan hitam berdiri tegak agak jauh di depan. Tak begitu jelas, karena gelap. Dimas tak bisa memastikan.
“Jangan bergerak! Aku bersenjata!” ancam Dimas.
Sosok yang berdiri diam itu tiba-tiba melangkah pergi meninggalkan Dimas, sehingga Dimas perlahan mengikuti.
“Berhenti!” perintah Dimas.
Sayangnya perintah itu tak digubris. Sosok hitam itu terus berjalan menjauh, kemudian menghilang di kegelapan lorong. Dimas menghentikan langkahnya.
“Kemana perginya dia?” gumamnya.
Jantungnya berdetak keras. Ia sama sekali tak punya bayangan tentang sosok yang dilihatnya, karena suasana memang gelap. Ia juga tidak bisa memastikan apakah sosok itu berniat jahat atu tidak. Tangannya gemetar. Ia berhenti sesaat, ragu untuk masuk lebih dalam. Apalagi dilihatnya, lorong itu mempunyai percabangan. Apakah ia harus melangkah lebih jauh?
***