
Anita hanya pasrah ketika sosok yang dikenalnya itu tiba-tiba mengeluarkan sapu tangan merah dari balik kantong celananya. Kemudian dengan cepat sosok itu mengikatkan sapu tangan menutupi mata Anita, hingga gadis itu tak bisa melihat sekitar.
“Ap-apa yang hendak kamu lakukan?” tanya Anita penuh ketakutan.
Dunia sekitar Anita kini terlihat gelap, karena pandangannya tertutup oleh sapu tangan. Ia hanya mendengar benda-benda bergerak di sekitarnya, termasuk langkah-langkah sosok itu yang berjalan di sekitar pondok. Selain itu, ia cukup jelas mendengar suara serangga perkebunan menjerit-jerit menusuk hati. Perasaan Anita semakin kalut. Ia yakin, mungkin ia tak akan selamat malam ini. Ia hanya bisa berharap dan berdoa dalam hati, agar ia bisa melewati itu semua.
“Kamu harus mati malam ini juga, Anita!”
“Aku tidak mau mati. Kumohon! Mengapa kamu lakukan itu padaku? Apa salahku?” tangis Anita.
“Jangan pura-pura menjadi gadis lugu dan tak berdosa Anita. Aku tahu kedokmu. Kamu pura-pura mendekati Pak Daniel karena menginginkan harta darinya. Nah, sekarang kukabulkan keinginanmu itu, Nikmatilah kebun durian ini sampai akhir hayatmu!”
“Kau ... kau sudah gila! Aku tidak ada maksud seperti itu. Aku hanya .... “
“Cukup! Percuma kau beralasan, Anita! Semua orang juga tahu bahwa kau adalah bintang kesayangan Daniel Prawira. Nah, sekarang si tua itu sudah mati. Kini giliranmu, dan berikutnya tentu ada orang lain yang akan menyusul kematianmu! Ini akan menjadi kisah yang sangat epik, ketika sang sutradara mati beserta orang kesayangannya hahaha!"
Anita hanya terdiam. Sepertinya memang saat ini yang bisa ia lakukan hanya diam. Sosok itu sudah gelap mata dan tak mau mendengar penjelasan apapun dari dirinya.
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara raungan sirene mobil polisi. Sosok itu tampak gugup. Ia mempercepat pekerjaannya. Rencananya akan gagal total apabila polisi berhasil sampai di tempat ini.
“Tolooong!” teriak Anita dalam rasa takutnya.
“Diam! Diam kau! Mereka tak akan bisa menolongmu!” perintah sosok itu.
“Tolooong! Toloong!”
Perintah itu terabaikan. Anita tak peduli. Apa pun ia lakukan agar ia bisa lolos dari tempat ini. Ia tahu, bahwa mungkin ia tak akan selamat, tetapi paling tidak akan berusaha sekuat tenaga. Sosok itu menjadi geram mendengar teriakan Anita. Ia melayangkan pukulan ke pelipis gadis itu.
Plaak!
“Gadis bodoh! Bukankah tadi kamu kusuruh diam?”
Plaaak!
Sekali lagi sebuah pukulan mengenai pelipis. Gadis itu meringis kesakitan, kemudian terdiam. Pukulan yang lumayan keras itu membuat kesadarannya menghilang. Sosok itu makin beringas.
Ia tengah merangkai sebuah tali tambang yang ada di pondok itu, kemudian ia ikatkan di badan dan leher Anita yang masih dalam keadaan tak sadar.
Dalam keadaan mata masih tertutup, tubuh Anita diseret secara paksa dengan tali tambang. Gadis belia itu meraskan tubuhnya terasa perih, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia sama sekali tak dapat melihat apa pun di sekitarnya. Ia hanya merasakan bahwa sosok itu membawanya agak jauh dari pondok ke lokasi yang banyak pohon dan rumput.
Sosok itu mengikat tali tambang ke sebuah pohon durian besar yang tumbuh tinggi menjulang. Sepertinya ia menguasai teknik tali-temali dengan baik, dan teknik katrol. bagaimanapun, ia bisa menarik tubuh seseorang dengan mudah ke atas pohon. Ia melakukan itu dengan cepat dan nyaris tanpa salah. Sosok itu sangat menguasai ilmu pertahanan di alam dengan sangat baik.
Anita merasakan tali semakin mencekik lehernya, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Perlahan, ia merasakan tubuhnya terangkat ke atas. Ia tak dapat berteriak atau berkata apa-apa lagi. Lehernya tercekik tali yang diikat di leher. Sebelum tubuhnya terangkat tinggi, ia marasakan sosok itu memasukkan selembar kertas yang diremas-remas berbentuk bulat ke dalam mulutnya.
“Aarggh .... “
Ia tercekik. Aliran napasnya seolah berhenti ia hanya merasakan kesakitan dan nyeri yang amat sangat. Air mata mengalir hangat menuruni pipi.Tubuhnya kini tergantung di sebuah dahan pohon durian. Kaki-kakinya menggapai-gapai mencari pijakan apa saja, tetapi ia hanya merasakan udara kosong. Ia merasakan dunia sekitarnya semakin gelap. Tubuhnya menggelepar, dan beberapa menit kemudian ia tak bisa merasakan apa-apa lagi. Tubuhnya diam tak bergerak, tetapi masih bergoyang-goyang karena tergantung di dahan pohon durian.
Sosok itu melihat detik-detik mengerikan itu dengan senyum puas. Sementara raungan sirene mobil polisi semakin jelas terdengar. Ia memalingkan muka, saatnya ia pergi dari tempat itu. Ia segera membersihkan bukti-bukti kejahatan atau apa pun yang mungkin bisa dijadikan alat bukti. Ia tak mau tertangkap begitu saja. Ia biarkan mobil Anita yang terparkir di depan pondok. Sebelum ia benar-benar pergi, ia menuliskan sebuah tulisan besar di dinding pondok dengan menggunakan kapur. Ia berharap agar polisi bisa membaca tulisan itu. Setelah semua beres, ia menyelinap pergi menembus perkebunan durian yang gelap. Ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
Tujuannya adalah jalan raya, mungkin dia akan menumpang mobil atau naik taksi secara online. Namun, dalam kondisi malam begini mungkin tak ada taksi atau kendaraan melintas. Ia terus menyusuri kebun. Untuk sementara, ia harus menjauhi jalan raya. Tidak mungkin polisi akan membiarkan dia pergi begitu saja. ia harus menjauh sejauh mungkin dari pondok.
Dalam kegelapan malam, ia terus berjalan, tak peduli kakinya terasa letih dan tertusuk tumbuhan berduri yang banyak tumbuh di kebun durian yang luas itu
Tiba-tiba telinganya mendengar suara air mengalir. Ia menduga bahwa ia dekat dengan aliran sungai. Ia mencari suara air tersebut. Memang, tak jauh di depannya mengalir sebuah sungai kecil yang tak begitu lebar. Ia berpikir, harus menyeberang sungai itu.
***
Mobil-mobil polisi yang memburu keberadaan sedan silver itu berhenti di tepi jalan raya karena kehilangan jejak. Beberapa polisi turun, sambil menyorot senter ke arah perkebunan yang gelap. Reno juga telah sampai ke tempat itu, kemudian disusul Niken yang datang belakangan.
“Kita masuk ke dalam saja sebagian, sementara beberapa mobil tetap berjaga di sekitar jalan ini!” perintah Reno.
“Aku akan ikut masuk!” ucap Niken.
“Ya, kamu ikut mobilku saja. Kita akan masuk ke dalam kebun durian itu. Sepertinya jejak ban mobil ini memang mengarah ke dalam kebun. Semoga kita bisa menemukan petunjuk di sana!” ucap Reno.
Semua segera menyetujui perintah Reno tersebut. Sebagian polisi tetap waspada di pintu masuk kebun yang berupa jalan setapak. Sedangkan yang masuk tiga mobil masuk ke dalam areal kebun, termasuk mobil yang ditumpangi Reno dan Niken.
Sebelum mereka masuk kebun, senter Reno menyorot ke arah sebuah plang papan kayu yang telah lapuk bertuliskan ‘Kebun Milik Daniel Prawira’. Ia sontak terkejut. Kini ia semakin bertambah yakin bahwa mobil yang mereka incar pasti masuk ke dalam, karena mungkin ini masih dada hubungannya dengan kasus sebelumnya, yakni pembunuhan Daniel Prawira.
“Cepat! Kita harus masuk kebun ini!” perintah Reno.
Tiga mobil langsung melaju menembus perkebunan yang gelap itu melewati jalan setapak kecil yang masih berupa tanah itu.
Sirine dimatikan, sehingga tak menimbulkan suara gaduh. Mereka tak sabar untuk menemukan mobil sedan silver yang diburu itu.
Setelah menembus perkebunan beberapa lama, tak jauh di depan mereka melihat sebuah pondok kayu usang dan sebuah mobil silver. Reno dan Niken yang berada paling depan langsung menghentikan mobil agak jauh dari situ.
“Kita parkir mobil di sini saja, dan kita intai apa yang ada di dalam pondok itu. Sepertinya itu memang mobil Anita. Platnya tak begitu terlihat dari sini, tetapi sepertinya itu memang mobil Anita,” kata Reno.
“Ya, benar Pak! Itu memang mobil Anita. Aku sangat mengenali mobil itu,” bisik Niken.
Dua mobil lain yang berada di belakang mobil Reno juga berhenti. Sebagian berjaga di sekitar mobil, dan sebagian ikut Reno mengintai situasi di dalam pondok. Suasana gelap dan sepi, Reno mengendap mendekati pondok. Dari balik semak-semak, Reno mengisyaratkan untuk diam, sambil mengawasi sekitar. Tak ada tanda-tanda kehidupan di pondok itu.
Reno menyiapkan senjata, mendekati mobil Anita, kemudian membuka pintunya perlahan, sambil menodongkan pistol ke dalam mobil. Sayangnya di dalam mobil juga kosong. Tak ada siapa pun di sana. Reno mememerintahkan anak buahnya untuk menyebar, mengepung pondok. Setelah mereka tersebar ke seluruh penjuru, perlahan mereka mendekat.
Niken merasakan ketegangan luar biasa. Ia merasa degup jantungnya berdegup lebih kencang. Saat ia memasuki halaman pondok yang penuh dengan tumpukan barang-barang bekas, ia merasa seperti ada aura jahat. Reno merangsak ke dalam pondok kecil itu, namun tak mendapatkan apapun. Ia arahkan senter ke arah sekitar pondok untuk memastikan.
“Di dalam sini tak ada siapa-siapa! Kemana mereka pergi?” gumam Reno.
“Kurasa kalau pun mereka pergi tentu belum jauh, Pak. Mesin mobil masih panas. Tentu mereka baru saja tiba di tempat ini dan berada di suatu tempat,” ucap Niken.
“Rasanya tidak mungkin kalau mereka makin masuk ke dalam kebun yang gelap itu. Sepengetahuanku, kebun ini akan tembus dengan hutan kota dan kompleks pergudangan di pinggir kota. Namun, tentu saja medannya akan sulit ditempuh, apalagi di malam yang gelap seperti ini. Firasatku, mereka tak jauh dari tempat ini. Mereka sepertinya tahu bahwa polisi akan datang ke sini, dan mungkin mereka saat ini sedang mengawasi kita,” ujar Reno.
“Tapi ... tapi di mana mereka?”
Mata Reno menangkap sebuah tulisan besar di dinding kayu yang ditulis dengan kapur.
YOU’RE LATE!
“Astaga! Kita harus temukan Anita segera!” ucap Reno.
Niken menatap berkeliling dengan tatapan putus asa. Yang terlihat hanya pohon-pohon dengan buah durian yang menggantung.
Namun, tiba-tiba seorang polisi berlari tergopoh mendekati Reno dan Niken. Parasnya tampak pucat, seperti melihat hantu.
“Ada apa?” tanya Reno.
“Gawat, Pak! Gawat!” ucap polisi itu dengan panik.
“Tenang! Tenang! Ada apa?” tanya Reno.
Polisi itu menunjuk arah belakang rumah tanpa berkata apa-apa. Reno dan Niken merasa ada yang tidak beres. Mereka segera berlari ke belakang pondok untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah pemandangan mengejutkan berada di depan mata. Mereka melihat jasad seorang gadis belia tergantung di dahan pohon durian dengan mata tertutup sapu tangan merah dan mulut tersumpal kertas!
***