
Setelah memeriksa kamar Gilda, Dimas turun ke bawah untuk menemui Pak Paiman di ujung tangga bawah. Ia mencemaskan Gilda karena wanita itu menghilang dari kamar. Pikiran buruk seketika merasuki pikiran Dimas. Di saat seperti ini bukan tidak mungkin segala sesuatu bisa terjadi. Ia hendak mencari Gilda, tetapi ia tidak bertemu dengan Pak Paiman. Padahal, ia tadi meminta agar Pak Paiman menunggu sebentar.
“Pak ... Pak Paiman?” ucap Dimas.
Sejenak Dimas bingung. Kemana pula Pak Paiman? Ia semakin merasa cemas dengan semua yang terjadi. Ia menyusur kembali lantai satu melewati lorong ruangan yang sepi. Tiba-tiba didengarnya langkah kaki tergesa menuju ke arahnya.
Untunglah, suara langkah kaki itu adalah milik Pak Paiman. Pria itu parasnya tampak cemas. Ia hendak menceritakan sesuatu kepada Dimas.
“Ada apa, Pak? Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Dimas.
“Tadi ... tadi saya melihat sekelebat bayangan di halaman belakang dan ada suara aneh, jadi saya kesana untuk memeriksa,” ucap Pak Paiman terbata-bata.
“Lalu apa yang Bapak lihat?” tanya Dimas penasaran.
“Saya ... saya tidak melihat apa-apa. Saya mendengar suara gemerisik seperti suara benda diseret, tetapi begitu saya periksa, tidak ada apa-apa,” kata Pak Paiman.
“Hmm, bukankah gangguan seperti itu kadang terjadi, Pak?”
“Tidak, Pak! Ini suaranya jelas sekali. Ini tidak biasa. Saya khawatir ada sesuatu yang buruk terjadi malam ini. Jadi saya segera kesini untuk segera melapor kepada Bapak!”
Dimas manggut-manggut mendengar keterangan Pak Paiman. Ia segera berinisiatif untuk memeriksa sendiri keadan di halaman belakang rumah. Ia melangkah segera ke sana, diikuti Pak Paiman di belakangnya. Halaman belakang rumah memang terlihat senyap, dengan bunyi serangga yang berderik-derik. Dimas menajamkan pandangan berkeliling, tetapi tak menemukan sesuatu yang aneh di sekitar sana.
“Seperti tak ada apa-apa di sini .... “
Dimas bergumam. Ia menyorotkan senter ke sudut-sudut halaman belakang rumah yang sepi, tetapi yang hanya lihat hanya semak dan pepohonan. Seekor burung hantu terbang ketika Dimas tak sengaja menyorotkan cahaya ke arah atas pohon.
“Saya dengar begitu jelas suara itu dari halaman belakang sini,” kata Pak Paiman.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki lain dari arah kamar mandi. Kedua pria itu segera mengecek untuk mengetahui siapa yang berada di kamar mandi malam-malam begini. Ternyata, mereka melihat sosok Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Alex! Apa yang kamu lakukan?” tanya Dimas.
“Eh, maaf ... maaf, Pak! Saya kalau malam begini selalu terasa ingin pipis....”
Alex berkata dengan tanpa rasa bersalah, sambil menggaruk rambut dan menguap beberapa kali.
“Cepat kembali ke kamarmu, Lex. Kan sudah kubilang untuk mengunci pintu. Sangat berbahaya di luar kamar malam-malam begini,” saran Dimas.
“Tapi saya memang kebelet, Pak. Masa nggak boleh ke kamar mandi?” tanya Alex.
“Udah kamu kembali saja segera, jangan lupa kunci kamar!”
Alex tidak membantah lagi. Ia segera masuk ke dalam rumah. Dimas mengehela napas. Ia mulai merasa lelah dengan semua ini. Menurutnya, ia mulai mengidap paranoid berlebihan, dan prasangka buruk selalu hadir di pikirannya. Ia berharap malam ini tidak ada kejadian apa-apa.
“Sepertinya kita harus istirahat, Pak. Kita udah terlalu banyak bekerja dari pagi. Aku sudah sangat lelah,” gumam Dimas.
“Kalau Pak Dimas lelah boleh istirahat dulu. Kalau saya memang sudah biasa begadang, Pak. Saya akan berkeliling sebentar di sekitar sini. Kita nggak boleh lengah. Nanti kalau saya sudah lelah, akan saya bangunkan Pak Dimas untuk menggantikan saya bertugas,” kata Pak Paiman.
“Pak Paiman akan bertugas sendiri?” tanya Dimas.
“Nggak apa-apa kok, Pak. Kan kemarin-kemarin juga begitu. Bapak istirahat saja. Saya akan baik-baik saja malam ini,” ucap Pak Paiman.
Sebenarnya Dimas tidak begitu tega membiarkan Pak Paiman bertugas sendiri malam ini. Ia masih teringat saat Pak Paiman pernag terpergok sosok misterius beberapa waktu lalu. Namun, ia merasa seluruh tulang-tulangnya dilucuti. Ia merasa sangat lelah hari ini. Banyak yang harus ia urus mulai dari pagi.
“Oke, Pak! Ingat untuk selalu waspada ya. Kalau butuh apa-apa, ketuk saja pintu kamar saya. Semoga malam ini tidak ada apa-apa,” ucap Dimas.
Namun, baru beberapa langkah Dimas meninggalkan Pak Paiman, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan seorang pria dalam rumah. Tanpa menunggu komando, keduanya segera berlari ke arah sumber suara yang sepertinya berasal dari kamar penghuni pria di lantai satu.
Mereka tiba di wilayah kamar penghuni pria, mendapati Alex yang yang tampak pucat dan takut. Dimas langsung bertindak sigap. Ia masuk ke dalam kamar Alex, mendapati isi lemari yang berserakan di lantai, beserta sebuah poster Albert Einstein yang digunting-gunting berserakan di lantai.
“Seseorang menyusup kamar saat saya di kamar mandi .... “
Alex berkata dengan gugup. Ia merasa cemas, karena seseorang mengetahui bahwa ia mengidolakan Albert Einstein, dan sekarang ia mendapati poster bergambar ilmuwan terkenal itu digunting-gunting kecil, berserak memenuhi lantai kamar.
“Kamu tidak kunci pintu tadi saat ke kamar mandi?” tanya Dimas.
“Aku lupa .... “
“Jangan ceroboh, Alex! Ini kamu masih untung hanya poster yang digunting-gunting. Bagaimana kalau isi perutmu yang digunting-gunting? Di situasi seperti ini kamu harus waspada!” ucap Dimas dengan tegas.
“Ma-maafkan aku, Pak. Aku tadi ngantuk sekali, jadi sama sekali tidak kepikiran untuk mengunci pintu. Jadi gimana ini?”
“Oke ... oke. Kita tidak tahu siapa pelaku dari semua perbuatan ini. Namun, posisimu terancam. Kikira sosok pembunuh itu sedang mengincar nyawamu. Sekarang lekaslah tidur dan kunci pintu! Sekali lagi, kunci pintu! Jangan bertindak ceroboh. Kamu bisa saja mati karena kesalahanmu sendiri! Biarkan saja sisa-sisa poster itu berserak di sana. Besok aku akan memfotonya, untuk dijadikan barang bukti. Sekarang istirahatlah!” perintah Dimas.
“Ba- baik, Pak. Terima kasih,” ucap Alex.
Alex segera masuk ke dalam kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu setelah mendengar pesan dari Dimas. Polisi itu semakin cemas. Ia merasa bahwa ada orang yang berkeliaran di malam buta seperti ini. Segera ia mengecek sekali lagi kamar-kamar penghuni di situ. Ia kembali berusaha mengecek kamar Ferdy yang bersebelahan dengan kamar Alex. Ia ketuk pintu kamar Ferdy, karena pintu dalam keadaan terkunci.
Setelah beberapa kali diketuk, Ferdy membuka pintu. Ia tampak terkejut dengan kehadiran Dimas di depan pintu.
“Kamu belum tidur?” Dimas balik bertanya.
“Oh, saya tadi tertidur, kemudian mendengar suara ketukan pintu, jadi saya buka,” ucap Ferdy.
“Berhati-hatilah malam ini dan jangan lupa kunci pintu, karena ada penyusup yang berkeliaran di rumah ini,” pesan Dimas.
Ferdy mengangguk sambil tersenyum. Dimas meninggalkan kamar Ferdy, kemudian kembali beranjak ke kamar-kamar lantai dua. Sementara, Pak Paiman dengan setia mengikuti langkahnya. Dimas melihat deretan kamar-kamar yang lengang. Sepertinya memang tak akan terjadi apa-apa malam ini.
“Kita istirahat saja malam ini, Pak. Ini sudah menjelang dini hari. Kurasa pelaku pembunuhan itu akan berpikir juga untuk melakukan tindak kejahatan di jam seperti ini. Lebih baik kita istirahat untuk menyiapkan stamina besok pagi. Hari kita akan masih sangat panjang, Pak!” kata Dimas.
“Bagaimana dengan Mbak Gilda? Apa sudah ada di dalam kamarnya?”
Dimas menggeleng, seraya berkata,”Pak Paiman tidak perlu mencemaskan Gilda. Dia memang kadang begitu. Menghilang, dan tiba-tiba muncul. Tetapi memang ada yang sedikit aneh di kamarnya .... “
“Aneh bagaimana, Pak?”
“Aku menemukan rokok di kamarnya. Setahuku, Gilda sangat alergi dengan rokok. Aku curiga jangan-jangan .... “ Perkataan Dimas terhenti.
“Astaga! Bagaimana kalau penyusup itu berbuat jahat terhadap Mbak Gilda, Pak?” cemas Pak Paiman.
“Baik, kalau begitu mari kita cari ke seluruh penjuru rumah dan halaman untuk mencari keberadaan Gilda. Jangan sampai penghuni lain tahu Pak, nanti akan menimbukan kepanikan. Kita cari saja di sekitar rumah!”
Keduanya segera menyusur semua area di sekitar rumah. Namun sepertinya tak ada yang aneh. Di dalam rumah, semua tampak aman dan tak ada yang mencurigakan. Lagipula, kalau Gilda memang ada di dalam rumah, pasti mereka sudah tahu. Di sekitar halaman pun juga sama. Semuanya tampak tak ada yang aneh.
“Mana lagi tempat yang belum kita periksa?” tanya Dimas kepada Pak Paiman.
“Gudang, Pak. Bangunan gudang terletak agak ke belakang. Saya biasa menyimpan alat-alat berkebun di dalam gudang, serta barang-barang bekas lainnya. Kemarin beberapa barang juga hilang dari gudang. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk di dalam gudang sana,” kata Pak Paiman.
Mereka sepakat untuk segera menuju gudang, memastikan bahwa di area gudang juga baik-baik saja. Bangunan gudang itu cukup besar, dengan atap yang terlihat lapuk. Dindingnya juga kotor karena berlumut. Bangunan itu memiliki sebuah pintu, tetapi pintu gudang dalam keadaan terkunci.
“Pintunya dikunci ... lebih tepatnya digembok!” kata Pak Paiman sambil mengamati gembok yang tergantung di pintu.
“Biasanya memang digembok seperti ini?” tanya Dimas.
“Nggak Pak. Kunci gudang ini rusak, jadi tak bisa dikunci. Saya juga heran kok tiba-tiba ada gembok di sini. Atau mungkin istri saya yang memasang gembok? Kemarin kan saya sempat mengeluh ke istri tentang hilangnya barang di gudang. Mungkin dipasang gembok baru di sini,” kata Pak Paiman.
“Iya, nanti ditanyakan ke Bu Mariyati, apakah dia yang memasang kunci gembok di pintu ini. Kurasa malam ini semua cukup dulu, Pak. Aku yakin, Gilda keluar entah kemana, tapi nggak mungkin juga kalau kabur. Gembok gerbang depan sudah diganti kan? Semoga besok dia sudah kembali. Aku kenal Gilda, Pak, Dia memang kadang suka aneh. Lebih baik kita kembali ke rumah dan beristirahat. Tidak baik kita berlama-lama di luar rumah, sebab kemungkinan si pembunuh itu akan beraksi di dalam,” ucap Dimas.
“Baik Pak. Saya langsung pulang saja ya!”
“Iya Pak. Terima kasih sudah menemani saya patroli malam ini,” kata Dimas.
***
Malam berlalu cepat, berganti pagi. Matahari baru saja menampakkan cahaya di ufuk timur, seolah memaksa penghuni untuk bangun dari mimpi panjangnya. Rasty membuka mata, merasakan sinar matahari yang hangat menerpa wajahnya. Buru-buru ia melihat ke arah jam beker yang berada di atas meja rias. Rupanya hampir pukul tujuh. Ia kesiangan bangun hari ini.
Sesungguhnya Rasty sangat menanti hari ini, karena para polisi itu sudah berjanji akan menguak segenap rahasia yang selama ini menjadi teka-teki. Sebenarnya ia juga merasa sangat bahagia, karena Dimas mengatakan padanya bahwa dia sudah lepas dari status tersangka. Namun, di balik kebahagiaan itu masih terselip rasa kesedihan karena ia mengingat keadaan Rudi di rumah sakit. Ia berharap agar laki-laki muda itu bisa diselamatkan nyawanya.
Setelah mandi dan berganti baju, ia bergegas menuju ruang makan. Ada beberapa penghuni rumah yang sudah siap di meja makan. Hari ini, Dimas menunda semua jadwal pagi. Kalau biasanya ada olahraga pagi dan kegiatan lain, khusus hari ini Dimas meniadakannya. Rupanya ia tengah bersiap menunggu Reno. Mereka berdua hendak mengungkap rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
Rasty duduk menghadap meja makan yang sudah terhidang nasi uduk dan lauk-pauknya. Hari ini Bu Mariyati sudah memasak seperti biasa. Ia sengaja bangun pagi-pagi, memastikan semua jenis bahan makanan yang dimasak telah aman. Peristiwa racun yang berada di minuman Rudi membuat Bu Mariyati semakin waspada dengan kemungkinan penyusup yang hendak berbuat tidak baik.
Satu-persatu penghuni rumah isolasi berdatangan ke meja makan. Demikian pula Dimas. Sambil menunggu penghuni lain, Dimas melayangkan pandangan berkeliling. Dilihatnya penghuni rumah isolasi itu hampir lengkap. Ada Rasty di seberang meja, Adinda dan Lena yang tengah mengobrol sambil berbisik, Ferdy yang tampak bosan sambil mengetuk-ngetuk jari ke meja, dan Alex yang terlihat lesu. Mungkin tadi malam ia kurang tidur, sehingga matanya terlihat memerah.
Di bagian sisi meja lain terlihat pula Wandi yang mulai gelisah karena Gilda tidak kunjung turun ke meja makan. Dimas dapat menangkap kegelisahan Wandi. Ia bertanya pada pria itu.
“Kemana Gilda?” tanya Dimas.
“Saya juga tidak tahu, Pak. Biasanya dia datang tepat waktu, tetapi mengapa sekarang terlambat?” tanya Wandi.
“Tadi malam, aku sempat mengecek kamar Gilda, dan memang tidak ada Gilda di sana. Kupikir dia sedang pergi ke suatu tempat. Aku dan pak Paiman sudah mencari ke mana-mana, tetapi tidak berhasil menemukan keberadaan Gilda. Apa dia tidak bilang sesuatu padamu, Wandi?” tanya Dimas.
“Tidak, Pak! Memang dia kalau ada apa-apa selalu bilang ke saya. Tetapi, kali ini dia tidak bilang apa pun. Memang sih dia agak tidak betah tinggal di rumah isolasi ini karean ia tak sabar ingin meliput beberapa berita. Saya kok khawatir dia kabur .... “ ucap Wandi.
“Kabur? Aku melihat kok tidak begitu. Barang-barang Gilda masih lengkap di kamarnya. Kalau dia kabur, paling tidak dia membawa barang berharga. Aku masih menemukan dompet Gilda dalam laci. Masa iya dia kabur tanpa membawa dompet?” ucap Dimas.
Wandi terdiam. Ia khawatir kalau-kalau ada hal buruk terjadi pada rekan kerjanya itu. Dimas diam-diam merasa cemas juga, tetapi ia sudah berusaha mencari tadi malam, walaupun tidak membuahkan hasil. Sementara, penghuni lain tampak antusias mendengar percakapan antara Dimas dan Wandi. Mereka juga bertanya-tanya, kemana Gilda sebenarnya berada?
Dari arah dapur, Pak Paiman tergopoh dengan muka panik.
“Ada apa, Pak?”
“Kata ... kata istri saya, bukan dia yang memasang gembok di gudang, Pak. Jadi siapa yang masang gembok baru itu?”
“Tenang Pak, nanti kita periksa setelah makan. Yang penting kita isi perut dulu, lalu kita selidiki lagi kasus ini. Oke? Pak Paiman tenang saja dan jangan panik!”
***