
Malam selalu datang, walau kadang kehadirannya tak dinanti. Ada beberapa orang yang benci kegelapan, karena gelap identik dengan nuansa seram dan jahat. Di dalam sebuah rumah mewah berlantai tiga, Rianti Tobing membaringkan diri di atas kasur kelas premium yang nyaman. Namun, ia tidak bisa menikmati nyamannya kasur itu. Batinnya terasa sepi. Rumah mewah itu terasa bagai sebuah sangkar emas baginya. Apalagi ketika sang suami tidak ada di rumah, dan nyaris tak peduli akan dirinya. Ia hanya menghabiskan malam sendirian di kamar yang sunyi.
Ia menatap ke arah foto pernikahan yang diletakkan di samping ranjang. Foto itu adalah momen bisu yang seolah bercerita banyak hal. Ia tidak yakin, apakah rasa yang ada sekarang ini masih sama dengan rasa ketika awal-awal menikah. Rianti hanya menghela napas, sembari melayangkan pandangan ke arah jam dinding yang merapat ke angka 12 malam. Kamarnya terasa semakin dingin.
Tiba-tiba ia mendengar suara seperti piring dan sendok di ruang makan. Ia heran, siapa yang berada di ruang makan tengah malam begini? Ia bangkit untuk memastikannya. Ia keluar kamar, melangkah menuju ruang makan yang letaknya memang sangat dekat dengan kamarnya. Ia melihat seorang pria yang sedang makan di meja makan. Tentu saja pria itu sangat dikenalnya.
“Hen .... “ bisik Rianti.
Sayangnya pria yang ternyata Henry Tobing itu tak menggubris kehadiran istrinya. Ia tengah lahap menikmati makanan yang ia beli dari luar. Rianti segera mengambil tempat di depannya.
“Kamu pulang?” tanya Rianti.
Henry menghentikan suapannya, kemudian menatap wajah istrinya sekejap.
“Tidak boleh?” tanya Henry.
“Bu-bukan seperti itu. Aku hanya heran ternyata kamu masih ingat jalan pulang. Dari mana saja kamu?” tanya Rianti.
“Itu nggak penting kurasa. Yang penting aku pulang kan? Toh ini rumahku. Rumah yang kubeli dari hasil jerih-payahku selama ini. Aku berhak menikmati apapun yang ada di rumah ini, dengan atau tanpa sepertujuanmu!” ketus Henry.
“Aku ... aku tidak ada masalah dengan itu, Hen. Kamu tahu nggak sih kalau aku selama ini mengkhawatirkanmu? Kamu paham nggak sih perasaanku? Aku menelepon semua teman-temanmu, tetapi mereka semua tidak tahu keberadaanmu. Aku bingung!” ucap Rianti.
“Dengar Rianti! Aku bukan anak kecil yang harus lapor kemana pun aku harus pergi. Aku bisa jaga diri, jadi kamu nggak usah khawatir, aku baik-baik saja. Aku juga tahu tadi siang kamu ke salon bareng Ollan kan? Toh kamu juga tidak suka kalau aku memata-mataimu. Kamu jangan sok suci Rianti. Aku juga tahu masa lalumu yang memalukan itu. Jadi jangan coba-coba mendikte hidupku!” tandas Henry.
“Iya, aku memang bukan wanita suci, Hen. Tapi apakah aku pantas mendapat perlakuan tidak adil darimu? Terang-terangan kamu berselingkuh dengan Laura di hadapan mataku! Apa itu bukan sesuatu yang adil? Itu sangat menyakitkan, Hen!”
“Aku tidak berselingkuh dengan Laura!” tegas Henry.
“Kamu tidak usah mengelak, karena aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dan banyak saksi mengatakan padaku. Termasuk hari ini. Kamu tidak datang ke pemakaman Pak Daniel karena sedang berada di rumah Laura kan? Iya kan?” desak Rianti.
Henry tidak menjawab. Ia tidak menampik perkataan istrinya, karena kenyataannya ia memang berada di kediaaman Laura. Hanya saja, ia tidak mau mengakui. Namun, ia heran bagaimana bisa istrinya tahu kalau ia sedang berada di rumah Laura.
“Pasti Ollan yang memberitahumu ....”
Henry berkata sambul menatap tajam wajah istrinya. Rianti menganggguk perlahan. Memang, pada saat ia ke salon bersama Ollan, pria gemulai itu banyak bercerita tentang Henry, termasuk rasa penasaran Henry pada Laura. Itulah yang membuat Rianti makin cemburu.
“Kurang ajar si Ollan!” geram Henry.
“Dia jujur dan tidak salah. Kamu yang salah!”
“Aku akan beri pelajaran si Banci itu!”
Henry semakin geram. Ia melupakan makanan yang sedang dihadapinya, kemudian beranjak meninggalkan ruang makan dengan tergesa. Ia sedang dihinggapi perasaan gusar dan marah.
***
Setelah pemakaman Daniel Prawira, kantor Daniel mulai dibersihkan. Riky dan Widya langsung membersihkan ruangan yang dipenuhi buku-buku dan dokumen-dokumen tentang film. Beberapa arsip penting masih tertumpuk di atas meja, kemudian Widya menyimpannya dalam sebuah kardus. Beberapa hari tak ditempati, kantor terlihat sedikit berdebu, sehingga Widya dan Riky mengenakan masker.
“Ini akan menjadi kenangan yang selalu dirindukan,” kata Widya.
“Kamu merindukannya?” tanya Riky.
“Ya, tentu saja. Kamu tidak?” Widya balik bertanya.
Riky hanya tersenyum sinis sambil menggeleng. Ia menumpuk buku-buku yang di dalam rak, kemudian menyusun kembali.
“Kupikir kamu adalah seseorang yang senang akan kematian Pak Daniel,” kata Riky.
“Senang? Tentu tidak, Rik. Aku nggak sejahat itu lah! Kok kamu bisa bicara seperti itu?”
“Yah, aku melihat sendiri kadang Pak Daniel marah kepadamu, dan pernah aku melihatmu keluar dari toilet sambil menangis karena dimarahi oleh dia. Dan sebenarnya, kamu sedikit cemburu dengan Anita, karena kedekatan mereka berdua kan?” tuduh Riky.
“Sejujurnya aku merasa aman dan merdeka setelah Pak Daniel meninggal. Kita semua tahu bahwa sutradara tua itu sangat perfeksionis dan otoriter. Dia selalu mau apa pun berdasarkan pikirannya sendiri, tanpa mau menerima masukan orang lain. Setelah ini semua, aku akan beralih ke sutradara lain yang bisa menghargai aku,” ucap Riky.
“Nah, sekarang justru kamu yang diuntungkan dengan kematian Pak Daniel!” cibir Widya.
“Jangan munafik, Wid! Kita semua diuntungkan dengan kematian Pak Daniel, walau setelah ini proyek film-nya tertunda. Kamu mau bekerja dalam tekanan terus-menerus? Kalau aku sih ogah ya Wid. Namun aku kan tak bisa menghindar, karena kita sudah terikat kontrak. Padahal, tahun lalu sebuah rumah produksi lain sudah melamarku untuk penggarapan film yang epik. Sekarang, dengan meninggalnya Pak Daniel aku jadi sedikit lebih bebas bergerak!” kata Riky.
“Iya sih. Sebenernya Mbak Laura pernah menawariku untuk menjadi salah satu penata rias dalam sebuah produksi sinetron yang akan tayang dalam waktu dekat. Gajinya nggak sebesar di film, tetapi proyek film ini kan berhenti. Jadi kurasa aku akan ambil tawaran dari Mbak Laura itu!” ucap Widya.
“Nag gitu dong! Rezeki kita nggak hanya di rumah produksi ini. Sampai sekarang pun kita belum tahu siapa yang akan menggantikan Pak Daniel. Jadi mending kita berusaha sendiri daripada nggak ada kejelasan kan?”
Mereka melanjutkan merapikan ruangan itu, sambil membersihkan laci-laci dan lemari yang berisi barang-barang yang mungkin sudah tidak dipakai. Widya mengangkat beberapa buku tebal, kemudian menyusun di kardus. Tiba-tiba, dari dalam sebuah buku jatuh selembar foto usang. Sebuah foto close-up seorang gadis kecil berambut pendek dengan jepit merah di rambut.
“Rik ... foto siapa ini?” Widya menunjukkan foto itu kepada Riky.
“Nggak tahu! Tapi ... kalau dilihat-lihat mirip dirimu loh, Wid!” jawab Riky pendek sambil menerima foto, kemudian menatap paras Widya.
“Ah, ya nggak lah! Beda tau!”
“Kan aku bilang mirip, bukan sama!”
“Setahuku, Pak Daniel kan tidak mempunyai anak perempuan. Jadi ini siapa?” tanya Widya.
“Ah sudahlah! Ngapain kita ngurusin itu Wid. Itu kan bisa siapa saja. Bisa keponakannya, bisa juga orang lain atau malah tetangganya. Ngapain sih kita pusing? Ini bukan urusan kita! Foto ini biar aku yang simpan. Siapa tahu ada yang menanyakan!”
Riky memasukkan foto itu ke dalam saku bajunya. Widya tak berkata apa-apa, karena ia memang tak ada urusan dengan foto itu. Mereka masih melanjutkan membersihkan ruangan Daniel Prawira, ketika Guntur tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
“Rajin amat kalian!” kata Guntur.
“Jangan hanya ngomong. Bantuin juga dong!” kata Widya.
“Ah, lagi cape aku. Oya, tahu nggak hari ini seorang produser film menawari aku untuk menjadi penulis cerita film baru yang akan digarap beberapa bulan ke depan. Wah, ini sudah lama aku tunggu-tunggu! Kesempatan ini tak kulewatkan begitu saja. Aku sudah lelah menunggu kepastian di rumah produksi ini. Jadi aku akan ambil kesempatan itu!” ucap Guntur dengan nada senang.
“Kubilang juga apa! Nanti satu-persatu kru film akan pergi meninggalkan rumah produksi ini karena tidak ada kejelasan di sini. Bagus aja sih!” sambut Riky.
“Malam ini ngopi yuk! Kita rayakan kebebasan ini, dan kita sambut pekerjaan baru kita tanpa .... “
Guntur menghentikan kalimatnya, karena menyadari ia keceplosan hendak mengucap sebuah kata.
“Tanpa apa Gun?” tanya Widya.
“Eh ... nggak! Maksudku, mari kita rayakan saja kebebasan kita malam ini,” ucap Guntur sambil tersenyum kecut.
“Pasti dia mau bilang kita akan merayakan kebebasan tanpa Pak Daniel!” seringai Riky.
Guntur hanya diam. Memang, yang dikatakan Riky itu benar. Ia merasa selama ini karirnya kurang berkembang karena masih terikat kontrak dengan proyek film Daniel. Ia merasa kurang bisa mengekspresikan diri, sehingga ia hanya berkutat dengan rutinitas yang sama tiap hari.
“Nanti malam lihat ya, apakah aku bisa gabung dengan kalian atau tidak, karena kebetulan aku ada jadwal lain malam ini. Kita lihat saja, semoga aku bisa hadir di undanganmu ya Gun! Walau mungkin telat!” kata Riky.
“Emang kamu ada agenda apa, Rik? Tumben banget. Udah kayak artis aja kamu!” kata Widya.
“Rahasia dong!”
“Oke, nanti aku kabari lagi ya. Aku hanya pengen ngobrol-ngobrol aja kok. Siapa tahu ada proyek bagus, nanti kuinfo pada kalian. Kita tidak bisa mengandalkan rezeki di satu tempat yang sama. Kita harus kreatif. Nanti kita diskusikan masalah ini!” kata Guntur.
Riky dan Widya mengangguk. Paras Riky, seperti biasa tampak cemas, sama seperti saat dihujani banyak pekerjaan. Ya, Riky selalu terlihat gugup apabila sedang sibuk. Ia terlihat tidak tenang, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya.
***