
Berita pembunuhan seolah tak bisa diredam. Seperti biasa, berita itu langsung menjalar, viral tak terkendali, bagai api yang membakar dedaunan kering. Berita yang lagi-lagi cukup mengagetkan khalayak, walau sebenarnya korban bukan dari kalangan selebriti. Namun, publik mengenal Melani adalah kekasih dari Faishal, sang aktor terkenal. Rupanya, sepasang kekasih itu memang sudah diincar sang pembunuh, walau pada akhirnya hanya seorang saja yang menjadi korban.
Terkait lokasi pembunuhan, sontak Villa yang berwarna kuning pucat itu menjadi bahan pembicaraan publik. Villa itu tercatat dua kali menjadi lokasi pembunuhan, walau pembunuhan yang pertama mengalami kegagalan. Kembali Henry Tobing dimintai keterangan terkait peristiwa ini. Aktor itu dipanggil, padahal ia tengah sibuk mencari Ollan yang tiba-tiba menghilang dari rumahnya. Terpaksa ia datang ke kantor polisi, langsung menemui Reno di ruangannya, sedangkan Rianti datang sepuluh menit kemudian.
Mereka duduk di hadapan Reno, mendengarkan dengan saksama keterangan Reno mengenai kronologis peristiwa yang terjadi semalam. Pasangan suami istri mendengarkan, duduk agak berjauhan. Sekilas, mereka tampak bukan seperti pasangan suami istri, karena saling menjaga jarak.
"Jadi apakah kalian mengetahui bahwa pasangan Faishal-Melani ini akan menginap di villa kalian?" tanya Reno.
"Ya, tentu saja, malam sebelumnya Faishal memang menelepon saya kalau mau pinjam villa. Saya pikir daripada villa itu tidak ada yang menempati dan merawat, ya silakan saja. Mereka tinggal menyiapkan keperluan harian. Faishal bilang kalau akan pakai villa mungkin hanya tiga hari. saya bilang mengapa tidak satu minggu sekalian, ternyata Faishal ada kerjaan yang harus dia selesaikan juga. Jadi ya gitu. Kami bertemu sebentar untuk menyerahkan kunci villa, setelah itu saya tidak bertemu dengan mereka lagi."
Henry memberi keterangan, setelah itu menoleh ke arah Rianti. Istrinya itu hanya mendengar keterangan sang suami dengan manggut-manggut.
"Kalau Rianti tahu villa itu akan dipakai oleh Faishal?" tanya Reno.
"Iya, saya tahu sih Pak. Tetapi tahunya bukan dari Henry. banyak artis-artis lain yang tahu kok, karena Melani memberi tahu salah seorang temannya, yang kebetulan berteman dengan kami pula. Malam kemarin kami sedang mempersiapkan doa bersama untuk Renita, jadi mereka pada tahu kalau Faishal dan Melani akan menginap di villa. Tapi saya sih nggak begitu peduli Pak, karena saya malam itu juga sibuk menyiapkan acara doa bersama. Jadi, berita pembunuhan Faishal dan pacarnya di villa itu terus terang sangat mengejutkan," ucap Rianti.
"Apakah Bang Henry pernah memberi tahu orang lain kalau Faishal dan Melani berada di villa itu?" tanya Reno.
"Tidak sih, Pak. Sebenarnya saya malam itu juga berada di tempat lain, ngopi bersama teman-teman. Jadi malahan saya nggak kepikiran tentang Faishal. Sama sekali nggak nyangka juga kalau Faishal dihabisi di tempat itu. Ini sangat mengerikan. Sepertinya villa itu harus ditutup saja, jangan sampai ada orang lain yang menempatinya," kata Henry.
"Baiklah. Karena kasus ini mulai serius dan melibatkan banyak pihak, maka aku memutuskan untuk mengisolasi kalian semua. Untuk tempat dan waktunya akan saya informasikan menyusul, tetapi yang pasti dalam jangka waktu yang nggak terlalu lama. Kalau kalian punya skedul pekerjaan, silakan segera diselesaikan atau dikomunikasikan. Langkah ini perlu kami ambil untuk mengantisipasi jatuhnya korban lagi," ucap Reno.
Henry dan Rianti terlihat gelisah mendengar ucapan Reno. Henry sudah terikat kontrak beberapa proyek dan acara TV, sehingga ia harus menyusun ulang jadwalnya. Padahal, di satu sisi ia juga bingung karena Ollan kembali menghilang. Ia sudah hubungi Ollan, tetapi kali ini tidak bisa tersambung. Sementara Rianti juga merasa tak nyaman, karena ia juga terlibat banyak kegiatan di luar seperti penggalangan dana atau acara amal dengan artis-artis lain. Kalau diisolasi, otomatis banyak jadwal yang gagal tanpa kehadiran dirinya. Rianti memang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan keartisan, walau bukan seorang artis.
"Kami tahu kalian banyak aktivitas, tetapi dengan isolasi ini kalian akan segera tahu, siapa sebenarnya dalang di balik kasus yang sedang terjadi ini. Kalau kalian keberatan, maka kami akan menilai keberatan kalian itu suatu penolakan. Biasanya penolakan itu disertai alasan. Semoga alasan kalian masuk akal kalau kalian menolak program isolasi ini," ucap Reno.
"Kami akan melaksanakan itu Pak," ucap Henry sambil menoleh ke arah Rianti. Wanita itu hanya mengangguk sambil menunduk.
Setelah wawancara dengan pasangan Henry-Rianti, Reno kembali memeriksa botol plastik yang ditemukan mengapung di bath-tub, tempat jasad Melani ditemukan. Botol bahkan masih terlihat berbercak-bercak darah. Perlahan ia buka tutupnya, untuk mengeluarkan selembar kertas yang ia yakini berisi teka-teki baru. Sungguh, perasaannya tak nyaman membaca teka-teki ini. Ia kemudian menggeleng, kemudian memasukkan lagi kertas itu ke dalam botol dan menutupnya kembali.
"Biar Dimas yang memecahkan teka-teki ini," gumamnya.
***
"Aku ingin bertemu Melani!" ucapan Faishal sambil duduk di atas sofa.
"Maaf, untuk sementara tidak bisa, Pak. Kondisi Anda masih belum siap untuk bertemu dia. Jadi kami sarankan agar Anda menenangkan dan memulihkan diri terlebih dahulu. Kami ingin Pak Faishal tetap di apartemen, karena mungkin kondisi di luar kurang aman," kata seorang petugas polisi.
"Jadi kapan aku bisa bertemu dengan Melani?" desak Faishal.
"Kami belum pastikan, Pak. Silakan istirahat dan jangan banyak berpikir tentang Melani," ucap polisi itu.
Faishal terdiam. Ia masih belum bisa menerima perkataan polisi itu. Bagaimana ia tidak berpikir tentang Melani? Wanita muda itu mengandung anaknya, dan sebentar lagi akan dinikahinya. Tidak mungkin ia bersikap cuek terhadap Melani. Di pikirannya sekarang terbayang-bayang wajah Melani. Ia khawatir hal buruk terjadi pada Melani. Ia sungguh menyesal dengan segala perlakuan kasar yang pernah ia lakukan pada Melani.
Polisi itu mengembalikan semua benda-benda pribadi milik Faishal dan Melani yang tertinggal di villa. Faishal melihat semua benda-benda itu dengan perasaan sedih, karena semua membangkitkan kenangan. Sungguh, ia hanya ingin bersenang-senang, tetapi tidak menyangka kalau semuanya harus berakhir dengan mimpi buruk seperti ini.
Dilihatnya boneka beruang warna pink milik Melani. Rasanya ia ingin menangis. Lalu dilihatnya pula sebentuk cincin yang ia hadiahkan pada Melani sebelumnya. Bahkan Melani belum memakai cincin itu, dan ia sudah keburu tewas. Mata Faishal berkaca-kaca. Ia mencium cincin itu.
"Di mana kau Mel. Di mana? Aku rindu kamu," gumam Faishal.
Tiba-tiba ia mendengar suara ponsel berbunyi nyaring. Ia segera mencari ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Sebenarnya ia tak ingin menerima pesan dari siapa pun, tetapi ia tetap membaca pesan itu. Rupanya dari sebuah nomor tak dikenal. Sebuah pesan singkat ia baca.
"Apa kamu ingin bertemu dengan Melani? Aku bisa menunjukkannya padamu caranya."
Demikian bunyi pesan itu. Faishal mengernyitkan dahi. Siapa pengirim pesan ini. Ia langsung balas pesan itu.
"Ya, aku ingin bertemu Melani. Tolong bantu aku Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Melani?"
"Caranya adalah, kau harus mati dulu, untuk menjumpai kekasihmu untuk membusuk di neraka!"
***