Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
198. Bantahan


Raymond sudah mengeluarkan mobil sampai di depan gang bersama Arland, ketika mereka melihat seorang gadis menghampiri. Raymond buru-buru menepikan mobil, ketika gadis itu melambaikan tangannya.


“Nayya? Kok kamu ada di sini?” tanya Raymond sambil melonggokkan kepala keluar jendela mobil.


“Iya Bang! Tadi malam aku berpikir keras di kamar. Aku berpikir bahwa seharusnya kita tidak boleh menyembunyikan semua ini. Kita harus menghentikan si pembunuh itu agar tak ada korban lagi. Jadi aku kesini untuk meminta Abang untuk segera menghentikannya, atau aku terpaksa akan meminta bantuan polisi untuk menangkap pembunuh itu!”


Gadis itu tak lain adalah Nayya. Ia sengaja hendak menemui Raymond, karena ia merasa cemas dan merasa bersalah kalau menyimpan rahasia identitas si pelaku pembunuhan sendirian.


“Wah, kebetulan kalo gitu. Kamu boleh ikut dengan kami sekarang, Nay!” ucap Raymond sambil membuka pintu samping mobil, mempersilakan Nayya untuk naik.


“Kita mau kemana, Bang?” tanya Nayya dengan heran.


“Sesuai dengan apa yang kamu minta, Nay. Hari ini kita akan menangkap pembunuhnya langsung. Tak usah minta bantuan polisi, aku sendiri yang akan meringkusnya. Kamu tahu, saat ini Badi sedang dalam bahaya, jadi kita akan jemput Badi dan habisi manusia pembunuh itu,” kata Raymond.


“Tapi ... tapi memangnya Abang sudah tahu keberadaan sosok pembunuh itu? Apa yang terjadi dengan Bang Badi?” Nayya merasa ragu.


“Nanti aku jelaskan, Nay. Aku sudah tahu keberadaan si pembunuh itu. Dia sedang diisolasi bersama tersangka lain. Kita akan buat kejutan buat si pembunuh itu. Silakan kau putuskan, kau mau ikut atau tidak?” tawar Raymond.


Sebenarnya Nayya masih merasa bingung, tetapi ia berpikir sejenak. Ia memutuskan untuk ikut bersama mereka, karena sejujurnya ia juga ingin tahu bagaimana reaksi si pembunuh itu ketika melihat dia masih hidup.


“Oke Bang! Aku ikut!”


Nayya segera masuk ke dalam mobil usang itu. Raymond segera melarikan mobil ke arah pinggiran kota dengan cepat. Ia tidak ingin terlambat barang sedikit pun sampai di rumah isolasi. Ia mengkhawatirkan keadaan Badi.


***


Para penghuni rumah sudah duduk melingkar menunggu Reno dan Dimas mengucapkan satu kata yang teramat berarti. Satu kata yang ditunggu-tunggu oleh para penghuni. Sebelum mengucap kata itu, Reno berdiri dari tempat duduknya, seraya berjalan mondar-mandir. Ia seperti gelisah.


“Di dunia ini ada banyak orang pintar. Sayangnya, tidak semua orang pintar mempunyai hati. Ada beberapa orang pintar yang bahkan perasaannya telah mati, hanya mengedepankan nafsu hewaniah belaka. Yah, tetapi kita tidak boleh lupa dengan satu peribahasa yang pernah aku pelajari saat aku masih sekolah. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Serapi apapun kejahatan, pasti akan terbongkar juga. Kejahatan ini memang sistematis dan penuh rencana, namun selalu ada celah di baliknya. Benar begitu, Alex?” tanya Reno seraya menatap tajam ke arah Alex.


Pria muda itu sontak tergagap. Ia tidak menyangka kalau Reno akan memberi pertanyaan tiba-tiba.


“Eh, iya ... iya. Aku setuju,” jawab Alex.


“Apakah menurutmu seorang yang jenius cenderung pendiam dan menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri? Kami mencatat bahwa dirimu adalah salah satu mahasiswa terbaik di kampus. Jadi bagaimana menurutmu?” Reno kembali bertanya.


Alex menjadi semakin bingung, ia tidak menyangka kalau Reno akan menanyai hal-hal yang menyangkut dirinya.


“Menurutku ... tidak begitu. Jenius selalu tidak berarti pendiam. Kurasa seseorang akan dianggap jenius apabila ilmu yang ia punya bisa dimanfaatkan untuk orang banyak!” jawab Alex.


“Jawaban bagus, Alex. Maka aku pun akan menyebutmu dengan Albert Einstein, karena kecerdasanmu. Namun, kadang cerdas saja tidak cukup. Kecerdasan emosional yang tidak matang akan membuat seseorang merasa cemas dan tidak mudah bergaul dalam hidupnya. Ujung-ujungnya, mereka berubah menjadi pribadi yang pendendam apabila kecewa dengan seseorang. Dan parahnya, mereka bisa menjadi .... psikopat!” terang Reno.


Reno kemudian manatap tajam satu-persatu dari penghuni rumah isolasi itu. Ia menghentikan tatapannya pada Lena, sehingga gadis itu jadi salah tingkah. Ia hanya bisa menunduk menghindari tatapan polisi itu.


Alex sontak terkejut bukan kepalang, tetapi kemudian bernapas lega. Sedang para penghuni lain semakin tegang.


“Yang paling mungkin di sini adalah ... Ferdy!”


Satu kata disebut, sontak semua mata tertuju ke arah Ferdy. Mendengar namanya disebut, pria muda itu tak terlihat panik. Ia berdiri sambil tesenyum.


“Maaf, Pak. Izinkan saya berbicara. Kurasa itu adalah analisa yang sangat kacau. Ya, memang ada beberapa gadis yang dekat dengan saya. Tetapi Jenny dan Alma tak masuk dalam kriteria saya. Alma adalah pacar dari sepupu saya sendiri, Gerry. Saya tidak mungkin memacari pacar sepupu saya sendiri,” ucap Ferdy seraya tersenyum tanpa rasa bersalah.


“Sepupu? Yang benar saja, Ferdy! Kamu tidak pernah menjadi sepupu Gerry. Saat remaja kamu sering membuat ulah, tetapi keluarga selalu Gerry memaafkanmu. Mereka orang baik. Bahkan ketika mereka hendak menguliahkanmu, kamu menolak dengan alasan ingin segera bekerja. Oleh karena itu kamu mengambil sekolah kejuruan jurusan farmasi. Jadi apa pembelaanmu?” cecar Reno.


“Itu informasi tidak benar! Pak Reno jangan mengarang cerita sembarangan. Ayah saya dan ayah Gerry bersaudara. Kami benar-benar bersepupu .... “


“Baiklah, aku pegang ucapanmu Ferdy. Anggaplah kamu sepupu Gerry. It’s okay. Tapi bagaimana dengan foto-foto lamamu yang tiba-tiba berada di akun media sosial milik Jenny dan Nayya? Apakah itu suatu kebetulan? Waktu aku cek akun mereka ternyata sudah diblokir. Kamu mengenal mereka sejak lama kan? Lalu bagaimana pula kamu menjelaskan keterlibatan teman sekerjamu yang bernama Vera saat meminjam mobil? Kamu peralat Vera untuk memenuhi ambisimu kan?” Reno terus mencecar.


“Aku ... aku sama sekali tidak paham dengan semua ini. Ini semua tidak benar!” Ferdy terus mengelak.


“Jadi bagaimana pembelaanmu?”


“Kalian tahu, bahwa aku juga mendapat teror yang sama dengan yang lain. Malam itu aku melihat seseorang mengintaiku di apotek, dan aku juga mendapat pesan-pesan teror yang kutunjukkan pada Adinda. Iya kan Din?” Ferdy menoleh ke arah Adinda.


“I-iya, Pak. Ferdy memang mendapat pesan ancaman pembunuhan dari seseorang, Saya melihatnya sendiri,” bela Adinda.


“Terus?” tanya Reno lagi.


“Bahkan saya juga mendapat kiriman sebuah dompet misterius, mungkin milik Jenny atau siapa aku juga tidak tahu. Sama seperti Rasty dan Alma yang mendapat kiriman sepatu Jenny!” Ferdy membela diri.


“Oke ... oke! Maaf Ferdy, kami harus mematahkan argumenmu. Kami melacak paket yang diterima oleh Rasty dan Alma, semuanya berasal dari ekspedisi yang sama. Ternyata semua barang itu dikirim di hari yang sama tanpa menggunakan nama pengirim yang jelas. Demikian juga dompet yang kamu terima itu. Kamu mengirim ke alamatmu sendiri, dan Vera yang menerima paket itu. Demikian juga pesan-pesan misterius itu juga berasal dari nomor kamu yang lain dan kamu kirim ke nomormu sendiri. Untuk meyakinkan bahwa kamu nggak bohong, kamu sengaja menunjukkan pesan itu kepada Adinda agar tak dicurigai. Kamu berbuat seolah-olah juga korban dari teror itu, bahkan kamu secara licik menuduh Rudi sebagai pelaku, dan berpura-pura berbuat bak malaikat di depan semua orang. Orang yang kamu lihat malam itu memang seorang gelandangan, tetapi kamu mengarang cerita tentang seorang yanf mengintaimu. Ada sanggahan?” tuduh Reno.


“Itu tidak benar! Ini fitnah. Yang melakukan semua ini adalah Gerry. Ya, aku pastikan itu, Dia sangat marah ketika Alma berselingkuh ... ini pasti ulah Gerry!” ucap Ferdy.


“Itu tidak benar, Pak! Ferdy yang menjadi dalang semua ini. Dia menculikku dan Nayya, meyekap kami dalam apartemen, kemudian menjatuhkan mobilku ke dalam jurang. Itulah yang terjadi. Sudah pasti Ferdy lah pelaku dari semua kekacauan ini!”


Tiba-tiba dari dalam ruang tengah, muncul Gerry. Semua terkejut melihat kehadiran Gerry yang muncul tiba-tiba. Dimas baru menyadari, jadi ini tamu istimewa yang dibawa oleh Reno. Gerry adalah kartu mati bagi Ferdy.


“Ge-gerry?” ucap Ferdy terbata-bata.


“Kenapa? Kau kaget aku masih hidup?”


Semua terdiam. Mereka kini berhadap-hadapan. Reno sengaja menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya.


***