Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
213. Jamuan


Malam mulai datang menyelimuti kota. Kota yang dulu sepi itu, kini mulai menggeliat. Warganya mulai beraktivitas normal. Musik-musik mulai diputar di sejumlah cafe, dan irama yang lebih rancak dapat didengar di diskotik-diskotik di penjuru kota. Pendek kata, mereka tak mau larut dalam ketakutan, karena nafsu mereka untuk bersenang-senang kian menggelegak.


Suasana ceria juga terlihat di Paragon Restaurant, sebuah resto yang ternama di kota. Di salah satu sudutnya yang sudah didekor dengan nuansa ungu sudah siap menyambut para tamu undangan yang mayoritas para artis. Govind Punjabi, si penyelenggara acara belum menampakkan diri. Dia hanya menyuruh Riky untuk datang duluan di acara itu untuk menyambut para tamu.


Sejatinya, makan malam itu bukan makan malam biasa, tetapi mereka akan membahas pekerjaan yang sedikit terbengkalai. Walaupun begitu, para artis yang tiba selalu saja memamerkan penampilan terbaiknya. Mereka tak mau terlihat biasa saja, jadi mereka pasti akan mengenakan busana terbaik dari desainer terkenal, dan juga pernak-pernik aksesoris yang gemerlap.


Seperti biasa, Riky sudah siap menyambut tiga puluh menit sebelumnya. Ia mondar-mandir dengan gelisah. Sambil melongok ke arah pintu depan restoran. Ada beberapa tamu datang, tetapi bukan termasuk undangan.


Tak lama, Widya hadir di tempat itu. Wanita berkacamata itu kali ini tampil agak berbeda. Biasanya ia tampil cuek dengan kemeja dan celana panjang, kini ia memakai gaun hitam, kelihatan elegan dengan rambut tergerai. Ia lebih cantik dari biasanya, sehingga Riky hampir tak bisa mengenalinya.


“Baru aku yang pertama datang?” tanya Widya.


“Ya, kamu adalah yang pertama datang. Itu wajar, karena kamu harus bantuin aku di sini,” jawab Riky.


Widya tersenyum. Ia mengambil tempat di samping Riky, kemudian memeriksa semua hiasan di atas meja hidangan. Bunga-bunga warna ungu sudah tersusun artistik. Ia tidak berani lagi mengutak-atik semua susunan itu.


Beberapa menit berselang, satu-persatu tamu mulai berdatangan. Yang datang pertama adalah pasangan suami istri Henry dan Rianti Tobing. Seperti biasa, pasangan yang cukup terkenal itu tampil sangat menarik. Terutama Rianti, tampilannya selalu glamour dan gemerlap. Sementara, di belakangnya ada manajer Ollan yang selalu setia mengekor.


Setelah rombongan Henry sekeluarga, disusul berturut-turut oleh Renita Martin, Laura Carmellita, dan Faishal Hadibrata. Mereka segera mengambil tempat yang ditentukan. Beberapa artis pendukung dan kru film juga diundang, sehingga suasana menjadi semarak. Basa-basi pun segera dimulai.


Guntur Dirgantara datang tergesa dengan rambut agak berantakan. Ia segera meminta maaf pada Riky. Ia mengatakan bahwa ia ketiduran, sehingga harus terburu-buru datang ke undangan itu.


“Siapa yang belum hadir, sudah semua kan?” bisik Widya.


“Anita Wijaya, dan tentu saja Pak Govind. Kalau Pak Govind sudah pasti datang paling akhir. Jadi kita tunggu Anita saja,” ucap Riky sambil melihat ke arah jam tangannya.


Yang ditunggu-tunggu telah tiba. Anita Wijaya akhirnya muncul dengan tampilan sedikit seksi, mengenakan gaun bergaya kemben, dan rok yang berbelah hingga ke paha. Dia terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya.


“Aku sudah telat?” tanya Anita pada Riky.


“Hampir .... “


Segera ia bergabung dengan tamu undangan lain yang sudah duduk di tempat yang disediakan, yakni meja-meja bundar yang tak terlalu besar. Sementara hidangan diletakkan di meja terpisah yang lebih besar.


Tak jauh dari tempat jamuan makan malam, terlihat Niken yang duduk sendiri di sudut ruangan restoran sambil mengawasi jalannya jamuan makan malam itu. Tatapannya tak lepas dari Anita, sambil berharap agar gadis yang menjadi tanggungjawabnya itu baik-baik saja hingga akhir acara.


Sepuluh menit berlalu cepat, para tamu masih asyik mengobrol menunggu kehadiran si penyelenggara yakni Govind Punjabi yang tak kunjung tiba. Beberapa tamu sudah mulai gelisah, dan tentu saja merasa lapar, karena sudah melewati jam makan malam.


Paras Riky berubah cemas, kemudian menghampiri Widya yang sedang mengobrol bersama Guntur di dekat meja hidangan.


“Kenapa Rik? Kok jam segini Pak Govind belum datang juga?” tanya Widya dengan bingung.


“Baru saja pesan dari Pak Govind masuk, katanya beliau mendadak tak bisa datang ke acara makan malam ini, karena malam ini juga ia harus pergi ke Perancis menghadiri sebuah festival film di sana. Undangan dari panitia juga mendadak, jadi ia juga mendadak perginya. Ia bilang, tidak apa-apa diteruskan saja jamuan makan malamnya. Untuk pembicaraan selanjutnya, akan ditunda sampai beliau pulang dari Perancis,” kata Riky.


“Wah bakalan lama lagi dong!” keluh Widya.


“Yah sabar lah! Lagian aku juga pengen rehat sebentar dari rutinitas di film. Aku lelah, Wid!” ucap Riky.


Atas kesepekatan mereka bertiga, ketidakhadiran itu segera diumumkan oleh Riky kepada seluruh tamu undangan yang hadir di sana, disertai permohonan maaf dari Govind Punjabi. Semua tamu undangan menghela napas, agak kecewa. Namun mereka tak bisa menyalahkan Govind Punjabi, karena mereka sadar begitulah kehidupan dunia hiburan. Jadwal bisa muncul mendadak dan berubah tiba-tiba. Apalagi mereka sadar, bahwa Govind Punjabi adalah produser ternama dan jadwalnya sudah pasti padat.


Pada akhirnya, mereka menikmati makan malam tanpa kehadiran Govind Punjabi. Mereka hanya saling mengobrol santai, tak membicaraka hal-hal serius. Terlihat Riky membawa sebuah bungkusan beraroma tajam, kemudian menyerahkan pada Anita Wijaya yang saat itu sedang bercanda bersama Ollan dan Henry Tobing di sebuah meja. Rupanya bungkusan itu berisi buah durian yang dikirim oleh seorang kurir tadi siang untuk diserahkan pada Anita.


“Apa ini?”


Anita menerima bungkusan berisi durian itu dengan sedikit heran. Tercium aroma tajam dari durian dalam bungkusan itu. Sejenak pikirannya teringat akan isi tulisan yang berada di dalam buket bunga yang ditujukan untuk dirinya.


“Dari siapa?” tanya Anita curiga.


“Nggak tau juga. Kurir juga nggak bilang dari siapa. Aku hanya nyampein aja sih!” kata Riky.


“Makasih ya Mas!”


Anita kemudian menerima bungkusan itu dengan cemas. Inikah buah tropis yang dimaksud itu? Setahu dia, memang buah durian berharga lebih mahal daripada buah lainnya. Ia mungkin akan segera membuang buah ini, takut kalau ada apa-apa dengan buah ini.


“Apa sih itu? Durian ya?” tanya Ollan yang penasaran.


“Oh, iya. Kamu mau, Lan? Kalau kamu mau, buat kamu aja deh!” ucap Anita.


“Nggak terlalu sih. Kalau kamu mau ambil saja buat kamu, Lan. Nggak apa-apa kok!”


“Wah serius kamu, Nit. Makasih ya!”


Ollan menerima pemberian buah durian itu dari Anita dengan gembira. Sementara, Rianti yang selesai mengobrol dengan para artis wanita lain, ikut bergabung pula bersama mereka.


“Kok aku mencium aroma durian ya?” tanya Rianti.


“Aku doong ... dapat hadiah dari Anita. Ia tidak suka durian, jadi dikasi ke aku,” ucap Ollan tertawa senang.


“Wah, memangnya dari mana dapat buah durian, Nit?” tanya Rianti.


“Oh, ada yang ngasih sih Mbak. Cuman nggak tau dari mana. Aku kurang suka, jadi kuberikan saja kepada Ollan. Kan aku tahu kalau Ollan sudah pasti suka durian,” ucap Anita.


Rianti manggut-manggut. Wanita itu melirik ke arah suaminya yang sejak tadi diam. Ia tahu bahwa suaminya sedang mencuri-curi pandang ke arah Laura Carmellita. Ia mendengkus kesal.


Acara makan malam berjalan hanya seperti pesta biasa, tak ada sesuatu yang spesial. Masing-masing tamu hanya makan dan mengobrol, karena tak ada yang penting untuk diibicarakan.


Dari sisi meja lain, Niken juga merasa heran karena Govind Punjabi tak hadir dalam jamuan itu. Diam-diam, ia menghubungi Anita melalui pesan pendek, menanyakan keberadaan Govind Punjabi. Anita menjawab bahwa produser berdarah India itu tak jadi hadir karena harus menghadiri sebuah festival film di Perancis.


Niken sedikit gelisah. Memang, sampai detik ini tak ada hal mencurigakan terlihat. Namun, firasatnya mengatakan bahwa ada seseorang yang berencana jahat malam ini, memanfaatkan situasi makan malam ini. Sepuluh menit sebelumnya, Reno menanyakan bagaimana keadaan restoran, apakah semuanya aman. Niken mengabarkan, sejauh ini situasi masih aman terkendali.


Semuanya memang terlihat lancar, bahkan sampai acara makan malam selesai. Satu-persatu mereka undur diri. Seperti biasa, Riky, Widya, dan Guntur selalu paling akhir karena mereka harus memastikan semua berjalan dengan baik.


“Hati-hati ya kalian semua!” pesan Riky, sebelum mereka bertiga berpisah.


“Langsung pulang ya Rik!” Widya menanggapi.


Di depan restoran, Henry, Rianti dan Ollan berjalan menuju tempat parkir sambil mengobrol.


“Kamu boleh pulang dulu sama Ollan, aku mau ke supermarket membeli beberapa kebutuhan. Nanti aku menyusul. Awas jaga tuh mata! Jangan jelalatan!” ucap Rianti pada Henry.


“Kecemburuanmu itu sama sekali nggak beralasan!” keluh Henry.


“Sangat beralasan, Hen. Jangan dikira aku nggak tahu ya!”


Mereka berjalan menuju tempat parkir. Kali ini Rianti menggunakan jasa taksi untuk berbelanja. Memang sudah biasa seperti itu. ia merasa malas apabila berbelanja ditemani suami, karena pria cenderung tak sabar dan suka terburu-buru. Apalagi kalau ada Ollan. Dia selalu banyak bicara, walaupun di tempat umum. Ia lebih baik berbelanja sendiri.


Sementara, Faishal Hadibrata tampak terburu-buru pergi dengan alasan sudah janji dengan teman-temannya berpesta di sebuah klub malam. Ia sudah berjalan duluan ke tempat parkir.


Demikian pula Renita dan Laura juga sudah berjalan duluan ke tempat parkir.


Di sisi lain tempat parkir, Anita menunggu dengan cemas kehadiran Niken. Mereka memang tidak satu mobil, tetapi ia merasa lebih aman apabila mobil Niken melaju di belakang mobilnya. Anita sebeneranya jarang memakai mobil, lebih suka menggunakan taksi karena ia memang baru saja bisa menyetir. Namun malam ini, ia terpaksa menggunakan mobil karena berencana akan pulang ke apartemen Niken demi keamanan.


“Di mana, Kak?”


Pada akhirnya Anita menelepon Niken karena sudah sepuluh menit ia menunggu di dalam mobil. Anita merasa cemas. Ia masih ingat serentetan teror yang diterimanya belakangan ini. Ia berharap, Niken segera datang ke tempat parkir itu. Namun, Niken hanya membalas sebuah pesan singkat.


Tunggu sebentar. Aku masih di toilet.


Anita mendengkus. Tempat parkir itu sangat sepi dan agak gelap karena akses penerangan tidak banyak. Ia berusaha menghilangkan rasa takut dengan memutar musik dari radio mobil. Namun, belum sempat ia memutar, tiba-tiba ia mendengar seperti ada yang memanggil namanya.


“Nit!”


Anita melayangkan pandangan ke arah sekitar, melihat seseorang yang ia kenal tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Anita agak lega karena ada teman selagi ia menunggu Niken. Ia keluar dari mobil, melangkah ke orang itu, namun tiba-tiba di luar dugaan.


Duuuk!


Sosok itu mengeluarkan sebuah benda tumpul seperti tongkat dan memukulkan ke kepala Anita. Gadis belia itu tak sempat menghindar. Matanya berkunang-kunang. Ia kehilangan kesadaran, tak ingat apa-apa lagi!


***


.